Di Balik Keindahan Kota Reog Ponorogo

DSC_4465---Jika kita mendengar sebuah tempat bernama Ponorogo, tentunya siapapun membayangkan tentang kesenian Reognya.Bahkan Reog Ponorogo sudah terkenal hingga kemancanegara. Selain Reog, ada juga pesantren yang sudah dikenal dimata internasional yaitu Pondok Pesantren modern Gontor di Kabupaten Ponorogo.

Namun, reputasi internasional yg telah dimiliki kota Ponorogo seakan tidak bisa menutupi kenyataan yang menyedihkan. Dibalik pesona kekayaan budayanya yang memiliki gelar nasional maupun internasional, Ponorogo memiliki fakta lain yang fenomenal, yaitu terdapatnya sebuah desa dimana warganya banyak mengalami keterbelakangan mental (down syndrome / tuna grahita ) atau Orang Dengan Kecacatan ( ODK ).

 Selain itu terdapat pula warga yang mengalami cacat fisik dan sakit jiwa.Sehingga ada yang menyebutnya dengan istilah kampung berkebutuhan khusus, kampung dengan keterbelakangna mental.Bahkan kini desa –desa tersebut dilabeli sebagai “ Kampung Idiot“.

Tragis dan menyedihkan, namun begitulah kondisi yang terjadi di Indonesia setelah 69 th merdeka. “ Kampung Idiot” bukanlah hal yang baru, mereka ada sejak puluhan tahun yang lalu. Dan mereka hidup berdampingan dengan warga normal lainnya.Namun, menghilangkan predikat tersebut tidaklah mudah.

Dulu, wilayah ini hidup terisolir dan hidup dibawah garis kemiskinan.Kekurangan gizi merupakan faktor utama yang dialami penduduk desa.Kadar air tanah mengandung zat besi, berkapur dan kekurangan yodium.Sehingga makanan dan minuman yang dikonsumsi warga secara terus menerus tidak mengandung gizi yang bagus.

Tercatat terdapat sekitar 530 warga mengalami kondisi memprihatinkan tersebut yang tersebar di 5 Desa yakni Desa Dayakan Kecamatan Badegan, Desa Sidoharjo dan Desa Krebet Kecamatan Jambon, Desa Karangpatihan serta Pandak di Kecamatan Balong. Dan yang terbanyak terdapat di Kecamatan Jambon, sekitar 300 warganya mengalami keterbelakangan mental. ODK tersebut pada umumnya berusia produktif hingga 30 tahun, bahkan diantara mereka ada juga yang berumur balita hingga di atas 40 tahun. Sampai saat ini, “ Kampung Idiot “ masih saja ada.

Selain itu masih banyak pula warga ODK yang tidak mampu berbuat apa – apa untuk dirinya sendiri hingga mereka terlihat tidak terawat, bahkan untuk berkomunikasi saja sulit. Belum lagi kondisi ekonominya yang serba kekurangan, membuat keluarganya tidak bisa menunggui para ODK sepanjang hari, karena harus bekerja.Menurut data dan informasi jumlah ODK pada tiap tahunnya memang berkurang, namun kurangnya jumlah tersebut bukan semata – mata karena mereka “ sembuh “ tapi ajal yang sudah tiba. Kabar baiknya, banyak keturunan baru warga tersebut terlahir dengan normal.Ini karena mereka sudah mendapatkan asupan pangan yang sehat.

MENILIK RUMAH KASIH SAYANG KECAMATAN JAMBON PONOROGO

Desa Krebet Kecamatan Jambon merupakan sebuah Desa di Ponorogo yang warganya paling banyak mengalami keterbelakangan mental atau disebut Orang dengan Kebutuhan Khusus ( ODK ) Karena permasalahan tersebut, hinga saat ini julukan “ Kampong Idiot” masih melekat di masyarakat.

Keprihatinan dan kepedulian terhadap banyaknya warga ODK mengundang beberapa pihak untuk memberikan simpati, dukungan, serta bantuan.Tak terkecuali, Dr. Salim Segaf Al Jufri yang menjabat sebagai menetri sosial turut prihatin menyaksikan kondisi dilapangan. Maka, pada bulan juli 2011 kementrian sosial mendirikan rumah kasih sayang ( RKS ).

Pendirian RKS tersebut juga merupakan salah satu upaya pemerintah dalam mewujudkan amanat undang – undang nomor 19 tahun 2011 tentang pengesahan konvensi hak – hak penyandang disabilitas.

Menurut informasi, RKS merupakan organisasi sosial percontohan nasional yang didirikan sebagai upaya pemberdayaan dan rehabilitasi social dalam menangani ODK di Kabupaten Ponorogo.Upaya inilah yang sampai saat ini masih bisa di lakukan sebagai wujud keperdulian pemerintah dan masyarakat.RKS terletak 10 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Ponorogo tepatnya di Desa Krebet Kecamatan Jambon. Banguna berukuran 7,5 m x 12,5 m tiap harinya di gunakan untuk menjalankan program – program pemerintah seperti bimbingan sosial, keterampilan, bimbingan agama, kesehatan, rehabilitasi social berbasis keluarga, serta fisioterapi, serta dapur untuk memasak.

Dalam menjalankan program tersebut selain dari pihak pemerintah Kab. Ponorogo dan perangkat desa ada juga sejumlah orsos yang di kerahkan sebagai pendamping program yaitu karang taruna, pekerja sosial masyarakat ( PSM ), juga relawan yang di rekrut dari beberapa warga setempat.

Memasuki tahun ke – 4, sudah banyak kemajuan yang di capai. Hal ini tidak terlepas dari kerja keras dan kesabaran para pengurus, realawan, orsos yang tidak putus asa dalam menjalankan program tersebut.

Kegiatan demi kegiatan dapat dilakukan dengan baik, misalnya pada hari minggu pagi pukul 08.00 s/d 12.00 dengan melibatkan para pendamping dan ODK di lakukan bimbingan keterampilan di RKS berupa pembuatan keset, kerajinan bunga, gantungan kunci, jepitan dan bando rambut, bros jilbab, sulak dari bahan rafia, anyaman parcel, serta tempat tisu. keterampilan tersebut diberikan pada ODK yang masih mampu dibina dan di berdayakan.

Ada pula kegiatan rehabilitasi sosial bebasis keluarga ( RSBH ) dengan melakukan kunjungan rutin ke rumah para ODK. Fokus kegiatan ini adalah memberikan pengarahan terhadap keluarga non ODK, untuk membina dan melatih ODK dalam menjalani kehidupan sehari – harinya seperti gosok gigi, mandi, perawatan diri, serta membersihkan lingkungan rumahnya.

Selain itu, kegiatan perbaikan gizi yang diberikan pada ODK untuk kehidupan sehari – hari berupa beras, minyak, gula dsb rutin diberikan tipa bulan.Dulu, bahan – bahan tersebut di olah di RKS dan dibagikan kepada para ODK secara matang tiap hari.Namun, karena keterbatasan waktu, tenaga, dengan jumlah makanan yang banyak, serta tempat ODK yang jauh, maka saat ini dibagikan dalam bentuk mentah dan bisa diolah sendiri oaleh keluarga ODK.

Kegiatan lainnya, adalah pemberdayaan ekonomi berupa bantuan kambing dan ayam yang diberikan pada ODK dan keluarganya.Meski jumlahnya tidak banyak, pengurus RKS memberanikan diri untuk mencoba memperdayakan ekonomi ODK berserta keluarganya.

Dalam meningkatkan program tersebut, diperlukan keterlibatan masyarakat secara luas untuk membina para ODK. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kegiatan rehabilitasi bersumberdaya masyarakat ( RBM ). Posyandu merupakan kegiatan RBM yang sudah berjalan 3 tahun.

Melengkapi peran serta masyarakat terdapat pula forum komunikasi keluarga anak dengan kecacatan ( FKKADK ) dalam menjalankan gerakan sosial dan sudah memiliki akte notaris untuk memperkuat legalitasnya. Forum ini dibentuk untuk memudahkan koordinasi dalam menjalankan program – program tersebut.Semua di pusatkan di RKS.

RUMAH KASIH SAYANG CETAK ODK MANDIRI DAN KREATIF

Suasana kekeluargaan terasa hangat di Rumah Kasih Sayang ( RKS ) Desa Krebet Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo. Di rumah itu beberapa warga, dan pengurus RKS sedang berkumpul untuk memberikan bimbingan kepada beberapa ODK.

Meski memiliki banyak kekurangan, para pengurus yang terdiri dari relawan sosial sangat sabar, tekun, serta telaten dalam melatih para ODK.Saat itu, mereka diberikan pelatihan kerajinan membuat keset dari kain, dan membuat bunga.

Dari pelatihan tersebut, sudah banyak warga yang tidak menggantungkan hidupnya kepada orang lain khususnya pada Pemerintah. Meski hanya puluhan ODK yang bisa diberi pelatihan, setidaknya wajah “ KampungIdiot “ bisa tercover dengan kemandirian.

Salah satu ODK bernama Satu (28) yang mengalami kecacatan ganda, yakni tunga rungu dan tuna wicara begitu serius membuat kerajinan tangan berupa keset. Meski lahir tidak sempurna, Satu, dengan jari jemarinya, bisa menyelesaikan 1 keset dalam satu jam.Bahkan satu hari Satu mampu membuat 3 keset.1 keset bisa dihargai Rp. 15.000.

Kepiawaian Satu tidak muncul begitu saja, semua itu berkat bimbingan semua pihak yang peduli terhadap kondisi para ODK di RKS. Dan kini, image negatifbagi para ODK yakni hanya bergantung pada orang lain bahkan pada pemerintah sudah tak lagi terlihat.

Meski begitu, kewajiban Pemerintah dalam menangani permasalahan sosial tersebut tidak bisa dilupakan begitu saja.Dulu, Pemerintah pusat membangun RKS dan memberikan banyak bantuan kepada para ODK. Namun, tidak begitu lagi saat ini.

Dalam memberikan bantuan sosial, Pemerintah hendaknya tidak selalu berupa makanan, atau bantuan dana, tapi bisa juga berupa bantuan teknis yang sebagaimana sudah terlaksana yaitu bantuan pelatihan untuk kemandirian warga ODK. Meningkatkan aspek kemandirian melalui pelatihan dianggap lebih merangsang kepedulian warga terhadap para ODK, dan bagi ODK sendiri bisa lebih semangat berproduktif dalam kehidupan sehari – harinya.

Dalam hal ini, tidak hanya menjadi tugas dari Dinas Sosial semata, harusnya Dinas – dinas terkait lainnya bisa ikut berperan serta dalam meningkatkan kesejahtreaan mereka. Tentunya jika ada usulan dan ide, hendaknya dikoordinasi yang baik, dan dikomunikasikan yang baik pula. Jika Pemkab. Ponorogo serius, cita – cita kesejahteraan akan tercapai. (bn)

Beri rating artikel ini!

Tinggalkan Balasan