KAMPUS KHUSUS UNTUK MAHASISWA ISTIMEWA

Dari balik pagar putih rumah bertembok merah marun itu tersembul sebuah spanduk bertulisan “Rumah Kampus”. Inilah kampus khusus untuk lulusan jenjang sekolah menengah atas dari lingkungan sekolah luar biasa.

Rumah Kampus berlokasi di Jalan Kramat Asam Raya Nomor 16, Kelapa Mas, Utan Kayu. Kini ada 12 mahasiswa menuntut ilmu di kampus ini. Semuanya laki-laki. Usia mereka 25 sampai 38 tahun, bukan belasan seperti anak kuliahan pada umumnya.

Kampus ini berdiri sejak Maret 2008. Idenya berawal jauh dari penolakan sejumlah sekolah dasar terhadap anak Endang Rahayu yang tunagrahita dan memakai kursi roda.”SD saja ditolak, apalagi nanti di universitas,? kata Endang dalam sebuah wawancara, beberapa waktu yang lalu. Kekhawatiran Endang menjadi kenyataan ketika perguruan tinggi pun menolak anaknya.

Sejak itulah Endang mencoba merajut mimpi, membangun universitas untuk anak-anak dengan keterbatasan. Karena uang untuk menyewa gedung tak ada, Endang menyulap rumah tipe 56 milik orang tuanya menjadi Rumah Kampus.?Walau di rumah, suasananya dan mata pelajarannya seperti di kampus,? ujarnya.

Ikhwanuddin adalah dosen matematika dan komputer di Rumah Kampus. Pelajaran matematika yang ia ajarkan disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, mengenal mata uang untuk urusan jual-beli.”Di sini enggak diajarkan perhitungan yang rumit.Yang penting konsepnya, lebih aplikasi,”kata Ikhwanuddin.

Tak mudah mengajarkan matematika, juga soal uang, kepada anak-anak istimewa yang punya kemampuan intelektual berbedabeda ini. Biasanya, dalam satu kelas, mereka dibagi menjadi tiga kelompok sesuai dengan kemampuan masing-masing. Butuh kesabaran untuk mengajar mereka.

Toh, ada juga mahasiswa yang tergolong menonjol. Rendy Tengger,misalnya. Dia sampai disebut “master matematika”oleh temantemannya. Sebagai anak tunagrahita, Rendy bisa menghitung bilangan hingga puluhan ribu. Karena itu, ia kerap mendapat materi yang tingkat kesulitannya lebih tinggi dibanding untuk teman-temannya.

Ikhwanuddin juga mengajar kelas komputer. Tiap kelas komputer dibatasi untuk empat sampai lima mahasiswa, sesuai dengan jumlah komputer yang tersedia, yaitu empat unit. Hasilnya? ?Mereka sudah pada bisa bikin blog,?kata Ikhwanuddin.

Mahasiswa di Rumah Kampus juga belajar seluk-beluk perikanan. Dosennya didatangkan langsung dari Institut Pertanian Bogor. Dengan alat peraga dua akuarium, para mahasiswa belajar cara pemeliharaan ikan, dari memberi makan ikan sampai membersihkan akuarium.

Sejak 2009, IPB menyelenggarakan program diploma di Rumah Kampus. Menurut Endang, mata pelajaran inti program itu meliputi budidaya ikan, budidaya tanaman hias, dan pengolahan pangan. Di luar itu, masih ada mata kuliah umum, seperti komputer, matematika, akuntansi sederhana, wirausaha, manajemen perusahaan, etika pengembangan diri, dan bahasa Inggris.”Setiap Jumat suka ada dosen tamu,”ujar Endang.

Dengan segala keterbatasan, Endang optimistis lulusan Rumah Kampus bisa berkarya setelah kuliah. Buktinya, ada satu lulusan yang direkrut Percetakan Negara Republik Indonesia. Endang berharap ada lebih banyak lagi perusahaan menjalin kerja sama.

AYU POERNAMANINGRUM (KBR68H)

From: Koran Digital <korandigital@gmail.com>

Beri rating artikel ini!
Tag:

Tinggalkan Balasan