MEMBANGUN MENTALITAS DAN KARAKTER BANGSA

Membangun sebuah mentalitas dan karakter yang baiktidak mudah. Harus dimulai ketika seorang anak manusia ini masih sangat muda. Dibutuhkan waktu yang lama, tahunan dan bahkan seumur hidup untuk bisa membuat orang melihat kita dan mempercayai kita sebagai sosok manusia yang bukan murahan dan dapat dipercaya (amanah). Sekali saja mentalitas luhur yang sudah dibangun dengan susah payah itu dilanggar, maka kita akan kehilangan kepercayaan yang sudah diberikanoleh orang lain dan masyarakat kepada kita. Seperti kata pepatah😕 SEKALI LANCUNG KEUJIAN SEUMUR HIDUP TAK PERCAYA!?, Sebab jika orang sudah kurang atau tidakmempercayai kita, maka susah untuk berbalik dan jadi percaya seperti semula. Tetapi jika seseorang sudah menaruh percaya maka hubungan interpersonal kita dengan mereka akan sangat nyaman sekali.

Berbicara tentang mentalitas bangsa kita bukanlah kelompok manusia yangmendapatkan predikat yang baik dari bangsa lain (dunia internasional)Bisa saja ini sebuah generalisasi yang absurd namun tetap saja sudah menjadi stigma negatip bagi kita. Kita sudah terlanjur mendapatkan cap sebagai bangsa dengan mentalitas dan tingkat kejujuran yang sangat buruk . Indeks persepsi tentang korupsi yangt terjadi di negeritercinta yang bernama Indonesia ini tergolong paling tinggi di dunia. Alias salah satu bangsa yang terkorup di dunia.Malaysia negeri serumpun kita punya angka indeks tentang persepsi korupsi ini pada tataran yang sudah ?lumayan?, meskipun masih jauh dibawah kedudukan Singapura sebagai Negara yang nyaris?NIR KORUPSI?. (meskipun Singapura terkenal sebagai tempat pelarian yang aman bagi para koruptor kelas kakap Indonesia). Mengapa orang Indonesia begitu menginjakkan kakinya ke Singapura makaseluruh sikap dan tingkah lakunya berubah menjadi taat hukum ?Tetapi sebaliknya jangankan orang Indonesia , konon expatriate (tenaga asing) yang bekerja di Indonesia meskipun mereka bekerja di perusahaan multi nasional yang katanya menegakkan Good Corporate Govenancejustru begitu menginjakkan kaki di bumi Indonesia langsung kontanatau secara perlahan tapi pasti terjangkit penyakit korupsi?Meskipun hampir setiap hari kita dengan pidato dan khotbah tentang kejujuran dan bagaimana menjadi amanah, akan tetapicontoh dalam perbuatan,tindakan yang nyata dalam kehidupansngatlahlangka. Mentalitas luhur dan kejujuranmenjadi sesuatuyang aneh . Padahal seharusnya itu jadi lifestyle, tapi karena jarangnya didapat yang model begituan, makanya orang bisa terheran-heran kalau ada orang yang mengamalkan dalam kehidupan di Indonesia.. Kalau di luar negeri yang sudahmapan sistem social dan system hukumnya hal itu sangat biasa, hampir semua orang melakukannya. Kunci mobil tergeletak di dalam mobil, tidak ada yang nyuri; rumah tidak digembok, nggak ada yang masuk, makanan digeletakin, nggak ada yang mungut; uang jatuh di jalan, malah pada takut ngambil.

Berikut sebuah kisah yang diceritakan oleh seseorang dari pengalamannya pribadi yang menggambarkan bahwa pada hakikatnya masih banyak orang-orang dengan mentalitas baik . Bahkan contoh ini adalahdari anak-anak yang masih belum menginjak dewasa yangt jauh dari tradisi keterpelajaran dan dating dari keluaraga yang secara social ekonomi marjinal. Namun mereka benar-benar ada. Oleh karena itusebut saja mereka adalah : ? MANUSIA INDONESIA SUPER!?

Pada tanggal 6 Februari 2008, tanpa sengaja saya bertemu dua manusia super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberangan Setia Budi, dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.

Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan ?Terima kasih Oom!?. Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mereaksinya dengan mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.

Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki-laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki-laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan.

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta.

?Terima kasih ya mbak. Semuanya dua ribu lima ratus rupiah!? Tukas mereka. Tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah. ?Maaf, nggak ada kembaliannya ..ada uang pas nggak mbak?? Mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter. ?Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?? Suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah. ?Nggak punya, tukas saya!? Lalu tak lama si wanita berkata ?ambil saja kembaliannya, dik!? Sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang ?sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja!?, Namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. ?maaf mbak, Cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan!? Akhirnya uang itu diterima oleh si wanita karena sikecil pergi meninggalkannya.

Tinggalah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar ?Oom, bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek!? ?Eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih!? Saya kasih uang itu ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, ?Nanti dulu Oom, biar ditukar dulu ..sebentar? ?Nggak apa apa, itu buat kalian? lanjut saya. ?Jangan ..jangan Oom, itu uang Oom sama mbak yang tadi juga? anak itu bersikeras ?Sudah ..saya Ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas!? Saya berusaha mem-bargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya. ?Ini deh Oom, kalau kelamaan, maaf. ya.? ia memberi saya delapan pack tissue ?Buat apa?? saya terbengong. ?Habis teman saya lama sih Oom, maaf, tukar pakai tissue aja dulu? Walau dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah. ?Terima kasih Oom! ?..mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan ?Duit mbak tadi gimana…?? suara kecil yang lain menyahut ?lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin?? percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.

YA ALLAH ,YA ROBBI ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang Tissue. Dua anak kecil yang bahkan belum baligh, memiliki kemuliaan diumur mereka yang begitu belia. YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO! ( harfiahnya:?Engkau hanya semulia yang kau kerjakan?)

Kalau kita artikan dengan lebih kontekstual adalah: ?KEMULIAAN HIDUP YANG KITA PEROLEH BUKANLAH KARENA GELAR, PANGKAT, JABATAN, KEDUDUKAN , KEKAYAAN DAN KEKUASAAN YANG KAU SANDANG (MELEKAT PADA DIRI KITA) AKAN TETAPI AKAN DITENTUKAN OLEH PERBUATAN APA YANG KITA KERJAKAN DALAM RANGKAIAN PANJANG KEHIDUPAN KITA!?

Saya membandingkan dengan diri kita yang berada pada strata sosial ekonomi yang jauh lebih tinggi dari anak-anak kecil kurus, kusam dan dekil penjaja tissue.Kita telah menjadi kufur dunia.Tanpa kita sadari kita telah hidup dalam keserakahan. Allah telah memberikan begitu banyak rizki kepadam kita, namun kita tetap merasa dalam keadaan kekurangan.Kita tak pernah ingin sedikitpun berkurangharta kita dan berbagi dengan merka yangmiskin dan sangat membutuhkan untuk menyambung kehidupan. Meski dari pemahaman agama yang kita telah dengar seribu kali bahwa dalam rizki kita itu sebetulnya ada milik orang lain.

?Usia memang tidak menjamin kita menjadi bijaksana, kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak.? Ungkapan yang terkenal adalah yang perlu kita renungkan lebih dalam lagiadalah : ?MENJADI TUA ITU PASTI; TETAPI MENJADI BIJAK ADALAH PILIHAN DAN KEPUTUSAN BESAR DALAM KEHIDUPAN!?

Dari kisah ini pada hakikatnya kita sebagai bangsa Indonesia masih harus pinya optimisme untuk membangun pribadi manusia Indonesia dan bangsa Indonesia untuk memiliki mentalitas yang tinggi dankarakter yang baik dan kuat manakalamasing-masing kiata memulai dengan diri, keluarga dan lingkungan kehidupan masing-masing. Kita ajarkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda anak dan cucu kita dengan memberikan contoh dalam tindakan dan perbuatan nyata. Kita harus mengurangi tingkat keserakahan kita sampai kepada tingkat yang terrendah. Seiring dengan berkurangnya kekufuran kita kepada duniamakabelajar keras untuk mensyukuri rizki dan nikmat yang diberikan oleh Allah Swtdan kemudian ?memaksa diri dengan ikhlas?untuk berbagi dengan mereka yang kurang beruntung. Insyaallah kita akan menjadibagian dari manusia Indonesia Super dengan mentalitas dan karakter yangn terpuji.

Ternyatadikalangan bangsa Indonesia khususnya diantara anak-anak kecil yang hidup dalamkondisi marjinalmasih ditemukan karakter yang begitu mulia. Coba kita bandingkan dengan berita-berita di media masa yang menceriterakan para elite bangsa negeri ini yang sibuk korupsi untuk memperkaya diri tanpa hati nurani. Rusaknya negeriini bukan karena mereka yang miskin tetapi justru sebaliknya disebabkanoleh ulah serakah mereka yang kaya tetapi punya karakter miskin dan menganggap harta dunia segala galanya.

(Dikutip dari internet dengan modifikasi oleh Tjuk K Sukiadi)

Beri rating artikel ini!
Tag:

Tinggalkan Balasan