Usia tua tidak harus mati gaya, justru menginspirasi kaum milenia

Berkarya tidak ada batas usia, masing masing orang punya pilihan apa yang akan ditekuni di saat tua. Istilah Wayan Sutiari Mastoer, Pensiun tidak berarti berhenti dari segalanya, justru memulai pekerjaan yang berbeda dari sebelumnya, sementara RA Soendari Jonosoepoetro lebih menekankan pada Hidup ayem tentrem ya harus di rintis sendiri. Kalau bisanya hanya mengeluh saja, tidak akan mengupas apalagi menyelesaikan masalah, malahan jadi orang yang cuma bisanya ngresulo (mengeluh). Dan inilah alasannya mengapa RA Soendari Jonosoepoetro, Hj Wayan Sutiari Mastoer, Thea Susetia Kusumo, K Djuwito, Moertiti dan Moerdiningsih serta Wilhelmina Jacoba Patty tidak berhenti menulis, merangkai, merajut, melukis justru malah lebih semangat setelah lanjut usia. Hebatnya meskipun mereka tidak pernah bertemu satu sama lain tetapi mereka kompak, tidak pernah komersial terhadap karya karya yang di hasilkan, justru banyak yang diberikan dengan cuma cuma.

 

RA Soendari Jonosoepoetro (88 tahun)

 

Masih tetap cantik dan penampilannya selalu terjaga rapi walaupun di rumah saja, karena menurut beliau rapi itu penting tidak peduli orang menilai atau melihat. Ibu 11putra ini masih rajin mengisi TTS dan menulis “Dengan menulis akan mengeluarkan apa yang di rasakan dan yang dialami” tuturnya . Tulisantulisan  berupa mutiara kata sudah dibukukan bahkan sempat menjadi inspirasi motivator Sumarno Sudarso sebagai bagian dari buku buku yang di terbitkannya.

 

Beberapa tulisan sederhana namun  mengandung pesan luar biasa seperti “Usahakan hidup selalu senang, hati nurani di tata sendiri, caranya ya kamu sendiri yang tahu. Banggalah punya anak jangan kesal punya anak. Bertuturlah yang bagus terhadap siapa saja. Berfikir positif otomatis sering tersenyum manis, ojo golek salahe wong.” (jangan mencari salah orang lain) instropeksilah.

 

Uniknya setiap tulisan selalu bertema, seperti ‘WATAK’ berisikan :

Life is not about who you are but how you are to others.

Seneng gawe rahayuning liyan, nyenengake para kadang (suka membuat orang lain bahagia, menyenangkan saudara dan teman).

Sikap RAMAH dan PERHATIAN walaupun tampaknyasepele namun menunjukkan KARAKTER positif.

SABAR dan mau MENDENGARKAN perkataan orang yang lebih tua perlu di pupuk untuk membentuk pribadi yang lebih matang.

 

Sebelum benar benar menjadi motivator lewat tulisan, Eyang 29 cucu ini pernah menjadi  catering langganan 5 Bank ternama di Surabaya termasuk Bank Indonesia “Karena untuk mencukupi kebutuhan 11 anak yang harus sekolah dan mengikuti les bahasa asing, les tari dan les piano, pokoknya tidak ada anak  yang nganggur. Makanya  setelah lulus  kuliah mereka akan bekerja dengan senang hati”. Dan semua putranya dilibatkan, di beritugas membantu pada saat ada pesanan di beberapa bank tersebut meskipun ada 2 koki, 3 asisten koki, dan pembantu 7. Dalam mendidik ke 11 putranya pun Soendari menerapkan, putra no 1 mengasuh adiknya yang no 3, putra no 2 mengasuh adiknya yang no 4 sehingga mereka sudah belajar menjadi orang tua dengan tidak terpaksa. Usahakan hidup kita senang, caranya? Kamu sendiri yang tahu. Enjoy the beauty of having a big family, tidak itu saja Soendari juga tidak segan dan malu sering pindah pindah rumah karena dari rumah yang besar menjadi yang lebih kecil akan mendapatkan sisa uang yang bisa di gunakan untuk pendidikan putra putranya.

 

Soendari muda ternyata seorang penari serimpi, kalau pentas wayang orang biasanya berperan sebagai Abimanyu, pernah juga sebagai Arjuno. “Ayah saya mempunyai karawitan sendiri,  Hanggana Raras nama kelompoknya. Karena kantor ayah saya aulanya luas, jadi kalau usai kantor kami berlatih sepuasnya”

 

Sukses menghantar ke 11 putranya mejadi orang sukses dan nurut pada orang tua, resep Soendari adalah sering sowan pada kerabat sepuh, putra putranya sering ngumpul sampai sekarang “Saya bilang, anak tidak minta di lahirkan jadi kewajiban ibulah untuk ngopeni, ibu selalu ada saat anak membuat PR, dalam berbahasa asingpun ibulah yang harus memberi contoh dan  ibulah yang membentuk watak”. Goresan goresan Soendari menjadi sebuah buku dan souvenir bagi tamu tamu yang datang saat merayakan ulang tahunnya yang ke 85. Sebagian juga di jadikan hadiah kepada cucu, cicit atau kerabat yang datang bertandang di  Jl  Komering Surabaya kediaman Soendari.

 

Hj Wayan Sutiari Mastoer (81tahun)

 

Pendiri Semi Indah Dried Flowers Surabaya dan penerima Kalpataru Kategori Perintis Lingkungan tahun 2006. Pada dasarnya saya suka bunga dan mencintai keindahan alam , hijaunya daun birunya laut birunya langit. Setelah saya pensiun dari sebuah Bank Pemerintah pada tahun 1994, saya jalan jalan keliling bersama suami saya, nah dari situlah berubah pandangan saya seiring dengan tambahnya usia yang semakin tua, saya semakin mengagumi keindahan alam sebagai suatu anugerah, sebagai keberkahan Allah yag luar biasa dan akhirnya saya tidak saja melihat keindahan itu, tidak saja yang kita lihat dengan pandangan mata saja tetapi saya lihat  dedaunan,  pepohonan  yang sudah rontok, sudah menjadi limbah sampah, disitu saya juga masih melihat keindahannya. Jadi akhirnyasaya mengambil kesimpulan bahwa segala sesuatu yang di ciptakan Allah di muka bumi mempunyai keindahan walaupun sudah berupa sampah yang tidak dilihat sebelah mata oleh orang.  Kita manusia hanya mengupas sedikit kulitnya karena sampah itu sebenarnya sudah indah jadi keindah atau potensi indah yang di anugerahkan Allah di gabung dengan energy manusia maka akan menghasilkan yang luar biasa. Sampah sampah itu saya bersihkan yang warna alamisaya abadikan alaminya kemudian yang perlu di warnai, saya beri warna jadilah bermacam macam bunga, saya sendiri heran,  saya kan latar belakangnya bankir hanya menghitung cek, uang,  giro, bilyet kok bisa ke sini. Kalau tidak karena Allah yang mengatur.

 

Saya menekuni bunga kering ini sebagai pengejawantahan dari kekaguman saya akan kabesaranNya dan  sebagai ucapan terima kasih saya  kepada Allah yang memberikan hidup kepada saya walaupun dalam waktu yang sangat singkat. Jadi saya semakin menekuni, semakin menekuni.Kalau tidak karena tuntunan Allah tidak mungkin seorang pensiun Bank mau memungut sampah ditengah jalan di lihat orang, sisik ikan yang berlendir masih ada darahnya saya bersihkan dan seperti bin salabim menjadi sesuatu yang indah.Tadinya semua menertawakan karena pensiun ya pensiun saja, tetapi bagi saya pensiun justru memulai pekerjaan yang berbeda.

 

Saat ini saya belum melihat anak anak muda mau membuat kerajinan dari sampah daun maupun bunga,  mereka terlalu sibuk dengan gadgetnya. Memang banyak anak anak mulai Sekolah Dasar sampai mahasiswa belajar pada saya dan mereka tekun memperhatikan dan bisa membuat seperti yang saya ajarkan, tetapi hanya sekedar saat itu saja.Saya belum melihat anak anak muda yang benar benar menekuni. Seni bunga kering ini sebenarnya di luar negri potensinya sangat luar biasa karena antik dan unik. Sangat berbeda dengan Jepang karena memiliki khas Indonesia. Harapan saya, ya anak anak muda melanjutkan handy craft, menekuni tidak setengah setengah karena banyak sekali keuntungannya,bisa menjadi income, bisa jadi devisa termasuk Mencintai Alam dan Mengurangi Limbah Sampah.

 

 

Thea Susetia Kusuma (84 tahun)

 

Terbiasa mejadi perempuan aktif sebagai dosen di Universitas Negeri Surabaya dan  tiba tiba harus bed rest cukup lama karena osteoporosis, membuat Thea gelisah dan bingung akan melakukan apa di saat terbaring. Mau melukis, Thea tidak piawai menggoreskan cat di kanvas, merajut membuat taplak  pernah di lakukan tetapi bertahun tahun tidak selesai sampai warna benang rajut di toko sudah tidak ada yang jual lagi akhirnya mencoba menulis. Dan jadilah sebuah buku berjudul “Jalan yang telah kulalui” mengisahkan tentang kehidupan Thea sendiri di selesaikan dalam waktu beberapa bulan saja,” Tidak lama karena  sebenarnya ide itu sudah ada di kepala hanya tinggal menuangkan saja pada sebuah tulisan.  Setelah buku selesai di tulis,Thea memberanikan diriuntuk memberi hasil tulisannya pada Rektor Unesa, “Saya baru nulis pak, mau baca?” pak Rektor bertanya“ Oh ya, kalau beli dimana?”saya jawab, “tidak saya jual”. Setelah dibaca, pak Rektopun mengatakan tulisanThea bagus dan akhirnya pak Rektor menulis di buku Thea sebagai Pengantar. Selain pak Rektor Thea pun juga berbagi buku kepada teman temannya. Alhamdulillah sambutan teman teman baik, berarti yaa bukusaya  bolehlah” kenangnya sambil tertawa.

 

Saat mulai sakit dan menulis, Thea sudah berusia 76 tahun sekitar bulan Oktober dan tulisan selesai pas Thea berusia 77 tahun pada tanggal 3 Desember 2012.  Akhirnya buku pertama Thea di cetak oleh mantan mahasiswanya yang sudah menjadi Profesor patungan dengan kawan kawannya. Setelah buku pertama selesai di susul buku berjudul “Endang” yang menggambarkan sosok perempuan Jawa Timur, harus menanggung kesulitan hidup keluarga karena suaminya di penjara dan di”pulangkan” karena dianggap menjadi motor gerakan organisasi terlarang  tahun 65. Menurut Thea buku keduanya cukup lama prosesnya  penyelesaiannyaselain ide ide belum terkumpul juga perlu banyak referensi membaca buku buku pembanding agar tidak menimbulkan anggapan baru bahwa Thea berpihak pada satu golongan. “Karena keterbatasan pengetahuan saya terhadap konflik saat itu, sehingga ada teman yang meminjamkan buku bukunya supaya tulisan saya balance. Nama Endang itu kan sebenarnya di tempat kita banyak yang bernama Endang, jadi terserah  pembaca mau Endang yang mana dan menurut saya, sebenarnya perempuan Indonesia saat itu banyak yang mengalami nasib seperti Endang. Tetapi ya sudahlah supaya orang tidak salah paham dengan tulisan saya, akhirnya berimbang dan terbit dengan selamat “

 

Bulan Nopember 2016 tulisan yang ketiga selesai saat Thea berusia 80 tahun, berkisah  tentang suaminya yang sudah meninggal sejak tahun 1996. “Yang ketiga ini saya buat novel dan namanya sengaja saya samarkan seakan akan bukan suami saya  tetapi banyak yang tahu kalau itu kisah suami saya. anak buah suami saya bilang kalau kisah ini ada, orangnya juga ada.. ha ha ha…tetapi saya  mohon pada penata letak sampul agar fotonya tidak fullgar di pajang di cover tulisannya”  “Memang dulu yang di kenal sebagai penulis itu kan suami saya, tetapi dia tidak pernah ngarang buku malah saya yang sebelumnya tidak terfikir untuk menulis malah buat buku, jalannya hidup ini yaa,  kok tahu tahu begitu. ya saya gembira bahwa saya akhirnya bisa menulis tentang dia juga ”tambah Thea.

 

Ibu empat putra,empat  cucu  dan lima buyut ini pada tanggal 3 desember 2018 genap berusia 84 tahun ini selalu gembira, tertawa renyah dan semangat setiap bercerita tentang apapun, seakan tidak memperdulikan saat itu awan gelap yang menggelayut di langit menunggu jatuh dengan deras mengguyur kediamannya di Perumahan Dosen Unesa, Ketintang Surabaya.

 

Thea menyayangkan anak anak sekarang sangat lemah dalam minat menulis, “Jangankan anak anak sekarang,di jurusan bahasa Inggris Unesa sayalah satu satunya yang menulis.  Saya tidak peduli orang menganggap apa tentang tulisan saya, yang penting bagi saya tetap menulis dan mengungkapkan, mengeluarkan  yang ada di benak saya” kata Thea menutup pertemuan di sore itu.

 

K Djuwito (88 Tahun)

 

Sebagai perempuan yang lahir dan besar di sebuah desa di Kabupaten Blitar, tidak heran kalau beberapa lukisan Kamsiyah Djuwarno berhubungan dengan alam yang natural seperti tema sungai, fauna, flora, lautan, pasar , sawah dan K Djuwito tidak pernah kehabisan pengamatan tentang alam pada sisi yang lain. Segala cara di tempuh untuk menambah ketrampilan dan memperluas wawasan sebagai pelukis, diantaranya membaca literature, mengunjungi pameran dan tidak segan ikut seminar, ikut pameran bersama dan masuk organisasi pelukis Keluarga Gemar Melukis“ Tahun 1960 sewaktu saya berumur 30 tahun saya sempat belajar melukis pada naturalis Nurdin BS, belajarnya hanya beberapa bulantetapi menjadi modal utama untuk mengembangkan diri secara otodidak” jelas K Djuwito.

 

Sebagai istri seorang PNS K Djuwito harus mengikuti irama kerja sang suami, “Saat suami bertugas di  Padang Sumatera Barat, saya menekuni lukis. Alamnya sungguh luar biasa Indahnya. Danau, lembah, tebing, laut terutama Ngarai Sianok.Banyak pendatang yang meninggalkan Sumatera Barat dan mereka mencari cari kenang kenangan lukisan pemandangan alam. Saya jadi professional, entah sudah berapa buah Ngarai Sianok yang telah saya lukis.” kenangnya

 

Setelah dari Padang, pindah ke Surabaya, sempat dua tahun di Bali dan juga Jakarta. Tampaknya Madura termasuk menjadi pulau yang berkesan  “Alamnya masih asli, pantainya bersih melingkari pulau dan perahu perahunelayan bercat warna warni sangat menarik. Penampilan unik penduduk yang energik dalam mempertahankan hidup di tanah yang gersang itu suatu tampilan yang Human Interest yang menarik untuk saya lukis“.

 

Setelah anak anak mulai lulus kuliah dan sang suami pensiun tahun 1987 itulah saatnya K D juwito memutuskan menjadi pelukis.” Saya benar benar mulai menjalani profesi sebagai pelukis. Painting is a never ending process of learning. Saya belajar kepada siapa saja, saya tidak malu belajar pada pelukis pelukis muda dengan menunggui mereka sedang melukis”  Sempat pameran di Budapest tahun 2004 dengan tema East and West on My Canvas merupakan hasil lukisan yang di kumpulkan selama perjalanan mengunjungi Australia dan Negara Negara Eropa, pusat seni dan budaya, beberapa kali pernah tinggal di Melbourne, Roma, Paris dan Budapest.

Bagi K Djuwito, Alam adalah gurunya dan akan segera mencetak lukisan dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris “Kalau saya sekarang di sebut sebagai pelukis natural, ini adalah hasil sebuah proses belajar, kemampuan pribadi dan lingkungan. Hasil maksimal yang bisa saya capai. Sebentar lagi saya akan mencetak lukisan sepertinya  sayalah satu satunya perempuan yang mencetak lukisan dengan dua bahasa. Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.”

 

Wilhelmina Jacoba Patty (88 tahun)

 

Merajut selain untuk kegiatan senggang, juga sebagai terapi bagi Wilhelmina,  sejak tahun 81 mulai rajin merajut dan hasilnya selalu di berikan teman teman di geraja, majelis majelis gereja, menantu, cucu dan  kerabatnya. kalaupun ada yang pesan Wilhelmina atau lebih akrab di sapa oma Patty, tidak pernah bisa menentukan harganya, terserah pembelinya  mau kasih harga berapa,” Saya tidak bisa memberi harga, takut mahal karena penilaian orang macam macam.  Bagi saya yang penting asal orang senang,  saya juga senang.  karena sekarang sudah jarang  rajutan itu.tetapilama lama saya berfikir perlu juga uang untuk  beli bahan. Pikiran saya mulai berkembang setelah ikut pameran di BKKKS Provinsi Jawa Timur pada hari Lansia, sekarang  anak anak saya mulai menghitung bahannya seperti benang habis berapa, transpornya berapa. Itu saja. Kalau tenaga tidak perlu karena saya suka merajut.saya masih belanja sendiri bahan bahannya ”Katanya.

 

Saat remaja di tahun 1947 oma Patty pernah menjadi karyawan kantor telepon (sekarang menjadi TELKOM) di kota Malang dan berpindah ke Surabaya setelah menikah, pada tahun 1951 memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan karena harus menjaga anak anaknya. sejak muda sudah terbiasa banyak kegiatan sampai saat inipun tidak bisa diam“ Kalau diam  mikirnya bisa kemana mana, tentang anak anak, cucu, menantu,pokoknya macam macam.  Jadi sehari hari kalau pagi pagi bersih bersih di luar pagar, kemudian membuat havermouth, terus  bersih bersih dapur untuk yang ringan ringan saja, saya masih suka seterika. Kalau seterika harus sampai tuntas tidak menunda nunda, saya tidak suka. ”kisahnya, sebenarnya dokter sudah melarang Wilhelmina agar tidak banyak kegiatan terutama yang berat berat. “Pernah pecah pembuluh darah, sehingga dokter melarang saya untuk banyak kegiatan terutama yang bungkuk bungkuk apalagi yang berat, tapi saya sering lupa tiba tiba pindahkan pot, hlaa orang kok di suruh diam , ya badan kaku semua “kilahnya sambil tertawa. Ibu tujuh putra ini pada tahun 1981 pernah menjadi  Ibu asrama panti Rehabilitasi di BKKKS Provinsi Jawa Timur se masa ibu Soenandar.

 

Keahliannya merajut sayangnya tidak ada yang meneruskan, ”Semua mulai dari anak anak, menantu, cucu, keponakan sudah saya kasih buku, benang dan haken tetap tidak ada yang bisa. Mereka lebih memilih belajar yang lain, seperti anak saya yang pertama dia membuat sarung bantal dari streamin. Sangat rapih, halus dan telaten, anak saya yang satunya senang buat tumpeng, ya sudahlah tidak apa apa asal mengerjakannya senang dan dari hati.”

Biasanya Wilhelmina merajut di teras saat pagi, kemudian ketika  malam sambil nonton sinetron kembali merajut, “Pernah gara gara sinetron, seru lagi bertengkar bertengkar sampai salah rajut dan sudah  panjang, yaaa  harus bongkar lagi.” kenangnya sambil tertawa.

 

“Sekarang anak anak sudah tercukupi, saya bersyukur anak anak masih melihat saya dan sebentar lagi bulan februari saya merayakan ulang tahun ke 89, saya senang ulang tahun bukan karena umur yang bertambah tetapi suasana kumpul bersama itu yang membuat saya berbahagia, yang penting kesehatan, kekuatan dan kecukupan”.

 

Moertitie (92 tahun)

 

Lahir di Gombong, Jawa Tengah sebagai anak kembar dari pasangan Martosoewarno dan Moertijah, namun sejak usia balita terpaksa terpisah dari kembarannya, Moerdaningsih karena Moertiti diadopsi dan diboyong ke kota Blitar, Jawa Timur oleh seorang Wedana atasan orang tuanya, sementara Moerdiningsih tetap tinggal di Gombong.

 

Di Kota Blitar itulah Moertiti menghabiskan waktu kecilnya sampai remaja, pada saat sekolah di Massage Near School (sekolah Dasar zaman Belanda), beliau mendapat pelajaran kepandaian putrid seperti memasak, merajut, menyulam, merenda dan membuat patron atau pokok pola.

 

Bekal ketrampilan semasa Sekolah Dasar lah yang membuatnya sampai saat ini terus merajut, memotong dan menjahit kain perca. Kain kain perca di perolehnya dari Solo, Jakarta dan seputar Surabaya. Moertiti selalu merasa asyik ketika memilah milah jenis dan motif kain yang datang, saking asyiknya sering lupa waktu istirahat sehingga kelelahan sampai pernah sakit.  Setelah potongan potongan kain dipilah lalu di potong potong kecil, kalau sudah terkumpul banyak, mulailah perca perca itu dirangkai. Jemari lentik itu memang sudah tak selincah dulu, tapi sejumlah taplak renda dan selimut perca yang menghiasi rumah keenam putra-putri, cucu dan cicitnya berkisah dengan sendirinya dari tangan siapa benda-benda cantik itu tercipta. Saat ini diantara keenam putra putrinya ada, Sugeng Wahyudianto (Duddy) putra kedua dan Sri Wahyu Restuningsih (Yayuk) putra ketiga yang meneruskan Quilting bahkan mbak Pur asisten rumah tangga pun ikut kena virus menjahit kain perca menjadi barang berharga. Ide idenya tidak pernah padam, esok rencananya Moertiti akan membuat taplak meja yang tidak di jahit melainkan di padukan dengan rajut. “Apik paling yo,  rajutannya langsung di gandeng saja biar tidak putus “ angannya.

 

“Apapun yang diberikan Gusti Allah harus kita syukuri, harus sabar dan menerima apa yang digariskan Tuhan,” begitu nasihatnya kepada siapapun yang menanyainya tentang rahasia tetap sehat dan bugar di usiasenja. “Saya juga menikmati bahagianya menyaksikan semua anak-anak berhasil menjadi sarjana, indahnya ikut membesarkan cucu, mengambil pensiun setiap bulan dan menyisihkannya untuk derma. Ketika jaman cari makan saja susah, saya berusaha tetap sabar. Tidak mempertanyakan, Tuhan, kenapa hidup saya begini atau kenapa siitu hidup lebih cukup. Ketika untuk membayar sekolah anak saja belum karuan ada, saya yakin Gusti Pangeran pasti maringi, yang penting kita nyuwun….Sabar, syukur dan selalu mengingat-Nya, itu saja kunci untuk selalu sehat dan bahagia. Maka dari itu sebagai anak anak muda jangan sampai nganggur, pergunakan waktu yang ada untuk apa saja. Misalnya membuat baju baju bayi, itu kan bisa di jual atau untuk kado apalagi untuk yang belum menikah, harus kreatif“ pesan Moertitie.

Tag:

Tinggalkan Balasan