BK3S || BK3S JATIM || BKKKS || BKKKS JATIM || SOSIAL
Berita

BK3S DAN DNIKS SAFARI BENCANA

Sampai dengan akhir Maret, bencana akibat curah hujan yang tinggi masih tetap terjadi. Bencanapun hampir merata disetiap wilayah Jawa Timur. Terkait dengan hal tersebut BK3S Jatim bersama DNIKS menyalurkan bantuan ke Pasuruan, Bondowoso dan Situbondo.Musim penghujan tahun ini membuat berbagai wilayah panen bencana. Kapasitas Bengawan Solo seakan sudah tidak sanggup lagi untuk menerima. Akibatnya, wilayah yang dilalui aliran sungai terpanjang di Jawa ini terendam. Tuban, Bojonegoro dan Lamongan terendam bahkan sempat lumpuh. Sampai akhir maret masih terus berlangsung banjir ? surut dan terendam lagi.

Sementara didaerah ketinggian dan lereng-lereng juga tidak luput dari bencana. Letak daerah yang tergolong tinggi ternyata bukan berarti lepas dari bencana. Curah hujan yang tinggi ditunjang rusaknya alam membuat ketahanan alam berkurang. Akibatnya banjir bandang dan tanah longsorpun menjadi ancaman. Tak pelak bencana pada 2002 terulang di Bondowoso dan Situbondo.

Sungai-sungai yang biasanya ramah untuk menunjang penghidupan berubah garang dan bergolak. Air bahpun menghantam daerah-daerah yang dilaluinya. Pasuruan misalnya sempat disapu air bah walaupun hanya sesaat. Tapi akibat dari itu, tak ubahnya tsunami kecil. Salah satu yang terhantam tsunami kecil dan selama ini luput dari ekspos media adalah PRSBK Pasuruan.

UPT Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur ini berantakan dan sempat lumpuh. Pagar yang mengelilingi dan berbatasan dengan Sungai Gondang Rejo roboh terhantam air bah. ?Hanya dalam waktu 15 menit, air sudah setinggi dada. Saat itu kami semua berada dikantor karena ada lembur. Saya sendiri belum sempat melepas mukena setelah sholat magrib. Tiba-tiba ada suara bergemuruh dan airpun datang begitu cepatnya. Sehingga semua data dan peralatan kantor tidak bisa diselamatkan,? papar Maesaroh mengenang peristiwa 30 Januari lalu yang hingga kini masih membuatnya traoma.

Ketika BK3S Jatim datang pada 16 Pebruari lalu, kondisi panti yang menampung gelandangan dan pengemis ini masih nampak berantakan. Saat itu buku-buku dan berbagai arsip ditumpuk diluar ruang agar terkena panas. Begitu pula berbagai peralatan elektronik. Sehingga pemandangan tak ubahnya pasar loak. Akibatnya operasional pantipun belum bisa berjalan normal.

?Kami mencoba bangkit dari akibat bencana air bah ini. Walaupun dengan tertatih-tatih kami tetap berusaha agar panti ini bisa berjalan normal. Karena bagaimanapun pelayanan pada kelayan tetap harus berjalan, walau dengan segala keterbatasan,? ujar Budi Yuwono, SH, MM, Kepala PRSBK Pasuruan saat menyambut kedatangan rombongan BK3S Jatim yang juga disertai Wahyu Setyowati, Sekjen DNIKS.

Pada kesempatan tersebut, DNIKS menyerahkan bantuan Rp 10 juta. Sedang dari BK3S menyerahkan bantuan Rp 2,5 juta dan sembako. ?Mohon maaf, baru sekarang kami bisa bergerak. Terus terang ketika awal kejadian kami kebingungan. Karena begitu banyak bencana diberbagai daerah. Dan ini melebihi kapasitas Jatim. Begitu pula kemampuan kami sangat terbatas. Ini memang bencana yang terparah menimpa Jawa Timur,? kata Tjuk K Sukiadi, Ketua BK3S Jatim dalam acara penyerahan bantuan.

Setelah dari Pasuruan, rombongan BK3S Jatim melanjutkan perjalanan ke Bondowoso. Diwilayah ini terdapat 339 rumah rusak berat dan 527 rusak ringan tanpa ada korban jiwa. Hal ini terjadi karena warga nampaknya sudah punya pengalaman bagaimana menghadapi bencana. Tidak hanya banjir bandang yang menimpa tapi juga tanah longsor dan angin puyuh. Banjir bandang akibat bergolaknya Sungai Sampean menerpa 4 kecamatan yaitu Prajekan, Botolinggo, Pakem dan Taman Krocok. Disamping banjir bandang, di Kecamatan Pakem juga tertimpa tanah lonsor. Sedang angin puyuh terjadi di Kecamatan Wonosari, Prajekan dan Jambesari.

Begitu luas dan besarnya dampak dari bencana yang terjadi di Kabupaten Bondowoso, tentu saja BK3S Jatim tidak bisa menjangkau seluruhnya. Untuk itu bantuan diarahkan ke Desa Cangkring Kecamatan Prajekan. Untuk desa ini BK3S Jatim menyerahkan bantuan sebanyak 200 paket sembako. Tapi itupun tidak bisa langsung diserahkan ke desa tersebut saat itu juga. Karena Desa Cangkringan saat itu masih terisolasi dan tidak bisa dimasuki mobil.

Pada saat diterjang banjir bandang pada Pebruari lalu, Desa Cangkringan terputus dari daerah sekitarnya. Satu ? satunya jembatan yang bisa dilalui mobil, hanyut terbawa arus. Sementara di jembatan yang satunya lagi tidak ada yang berani melewati karena derasnya arus sungai. Setelah sungai mulai normal kondisinya, hanya jembatan tersebut yang bisa dilalui untuk menyalurkan bantuan. Tapi itupun hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Dengan demikian mobil milik warga Cangkringan juga tak bisa keluar dari desa.

?Traoma peristiwa 2002 belum hilang, sudah datang bencana lagi. Jalan-jalan belum juga diperbaiki, sudah diperparah lagi kondisinya dengan bencana kali ini. Bahkan hingga kini kami masih kesulitan untuk masak karena peralatan dapur kita banyak yang tak bisa dipakai. Sehingga kami masih sangat bergantung pada bantuan nasi bungkus,? ujar salah seorang guru SDN Cangkringan.

SDN Cangkringan yang punya 200 siswa ini, kehilangan 2 gedungnya. Bahkan saat BK3S Jatim datang, kegiatan belajar mengajar belum bisa dilangsungkan. Onggokan sampah yang terdiri dari lumpur dan kayu-kayu masih nampak di halaman. Sementara warga masih banyak yang sibuk membersihkan rumahnya dari lumpur. Tapi disisi lain saat itu, desa ini juga menjadi wisata bencana. Desa ini menjadi ramai lalu lalang mereka yang ingin menyaksikan langsung dampak dari keganasan Sungai Sampean.

Tak jauh beda dengan Bondowoso, Situbondo juga demikian. Bahkan kota ini sempat lumpuh akibat banjir bandang. ?Bencana ini pengulangan 2002, tapi nampaknya lebih parah saat ini. Memang kejadiannya tidak berlangsung lama hanya sekitar 2 jam, air sudah surut kembali. Tapi seperti terlihat, hingga saat ini lumpur masih menumpuk dijalan. Kehidupan juga masih belum normal, sehingga bantuan darurat masih terus dilakukan dengan mengirim nasi bungkus,? ujar Ny. Ridho Ismunarso, Ketua K3S Situbondo ditengah kesibukannya menyiapkan bantuan nasi bungkus pada korban bencana banjir bandang.

Seperti yang terlihat di Jl Merak Kelurahan Patokan – Kecamatan Situbondo. Di jalan yang tak jauh dari Pendopo Kabupaten itu masih terlihat alat-alat berat dan truk membersihkan jalan dari lumpur. Debupun nampak beterbangan ketika angin bertiup atau ada kendaraan lewat. Tapi kondisi itu tidak menyurutkan semangat istri bupati Situbondo untuk ikut membagikan bantuan bersama anggota PKK dan Dharma Wanita Kabupaten Situbondo.

?Anggota PKK dan Dharma Wanita saya gerakan untuk membantu pndataan dan penyaluran bantuan. Karena kalau yang bergerak PNS nanti akan mengganggu pekerjaannya. Itulah sebabnya lebih baik ibu-ibunya yang kita gerakan. Disinilah memang dibutuhkan jiwa sosial dan petualang. Bagi mereka yang tidak punya jiwa tersebut, kami sarankan lebih baik tidak usah ikut. Kami turun ke lapangan atas nama Pemkab, itulah sebabnya kami sengaja mengenakan seragam PKK,? tukas istri bupati Situbondo.

Dalam sehari PKK dan Dharma Wanita yang dipimpin langsung Ny Ridho membagikan 600 nasi bungkus. Nasi tersebut dimasak dirumah masing-masing anggota PKK ataupun Dharma Wanita. Lalu dikumpulkan di pendopo dan didistribusikan kepada korban bencana banjir bandang. Hal ini dilakukan hingga masa tanggap darurat berlansung. Karena setelah itu para korban sudah mampu memasak sendiri. Sehingga bantuan yang diberikan lebih tepat berupa sembako. Seperti juga di Bondowoso, di Situbondo ini, BK3S Jatim menyalurkan 200 paket sembako. (gt)

Related posts

PEMBERIAN TALI ASIH KE SLB AMARILIS

admin01

PERMOHONAN DUKUNGAN

bk3s

MEMPERTANYAKAN KEPAHLAWANAN

bk3s