BK3S || BK3S JATIM || BKKKS || BKKKS JATIM || SOSIAL
Berita

PERAN KELUARGA PADA AWAL MILLENIUM 3

Prakata : Berbicara tentang pendidikan keluarga tidak dapat dipisahkan dari peran-peran keluarga lainnya yang berkaitan dengan profil keluarga. Melukiskan profil keluarga dalam masyarakat Indonesia memerlukan waktu dan perhatian khusus, mengingat keragaman etnis dan budaya masyarakat Indonesia itu sendiri, ada yang sudah dalam tahap modern, tahap transisi dan ada yang masih dalam tahap tradisional.

PERAN KELUARGA PADA AWAL MILENIUM 3


I.Pendahuluan

Tulisan ini pernah disampaikan pada seminar keluarga Tahun 2000 (sebagai persiapan memasuki millenium ke 3) yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Wijaya Kusuma pada tanggal 27 Maret 1989. Pada hemat penulis thema seminar tersebut tetap masih valid dan kontemporer ketika kita sudah menapaki millennium 3 hampir delapan tahun berjalan ini. Hal ini menjadi lebih tepat dengan tambahan pada peran pendidikan terutama yang terjadi pada tahun 2003, lahirnya undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional di mana keluarga ditetapkan sebagai salah satu lembaga pendidikan anak usia dinni yang tergolong dalam jalur pendidikan informal.

Berbicara tentang pendidikan keluarga tidak dapat dipisahkan dari peran-peran keluarga lainnya yang berkaitan dengan profil keluarga. Melukiskan profil keluarga dalam masyarakat Indonesia memerlukan waktu dan perhatian khusus, mengingat keragaman etnis dan budaya masyarakat Indonesia itu sendiri, ada yang sudah dalam tahap modern, tahap transisi dan ada yang masih dalam tahap tradisional.

Untuk membicarakan keluarga terlebih dahulu dilihat segi perkawinan yang merupakan jembatan untuk bertumbuhnya keluarga. Kemudian membicarakan tentang status dan perannya, peran ayah, peran ibu dan peran anak-anak. Dan variabel-variabel yang mempengaruhi peran-peran tersebut adalah gerakan emansipasi wanita, ekonomi, pendidikan dan pertambahan penduduk.

Untuk membicarakan status dan peran keluarga terlebih dahulu digambarkan tentang fungsi keluarga seperti berikut :

  1. Reproduksi, yaitu mengembangkan keturunan.
  2. Ekonomi, yaitu sebagai lembaga ekonomi, baik sebagai produsen maupun sebagai konsumen.
  3. Kultural, yaitu melangsungkan dan mengembangkan kebudayaan.
  4. Edukasi, yaitu mendidik anak atau mengembangkan anak menjadi warga masyarakat dan warga kebudayaan.

Bagaimana pembagian peran diantara ayah, ibu serta anak-anak dalam melaksanakan fungsi tersebut pada dewasa ini dan pada millenium ke 3. Pengamatan akan dibatasi pada masyarakat Indonesia dan itupun baru sedikit yang dapat dijamah.

II.Profil Keluarga Dewasa Ini

Pada masa lampau perkawinan, pemilihan jodoh dan upacara, dipikirkan dan dilaksanakan oleh kedua orang tua. Anak tidak saling pilih, kadang-kadang juga tidak kenal mengenal, dan hampir seluruhnya tanpa cinta, seperti apa yang diamati oleh penulis. Dasar-dasar pemilihan jodoh dalam masyarakat jawa biasa diceritakan dengan istilah : Bibit yang berkaitan keturunan atau heridty : Bobot yang berkaitan dengan tingkah laku atau behavior dan Bebet yang berkaitan dengan kemampuan ekonomi.

Perkawinan pada masa sekarang terutama pemilihan jodoh, baik pemikiran maupun pelaksanaan dilaksanakan oleh anak. Calon pengantin telah bergaul terlebih dahulu, saling kenal mengenal, bercinta, bersepakat untuk menyusun keluarga. Keikutsertaan kedua orang tua pada tingkat merestui atau terpaksa menyetujui. Dasar pemikiran lama entah seluruhnya entah sebagaian masih terpakai dan ada juga yang menambah, untuk pemuda terpelajar, dengan gagasan-gagasan baru seperti : Integrasi Nasional jika mereka berasal dari etnis yang berbeda. Sedang mengenai upacara perkawinan masih dipikirkan dan dilaksanakan orang tua. Dan upacara itu sendiri mengalami penyerdehanaan, karena terbatasnya kemampuan biaya, akan tetapi asensi adat dan agama masih melekat didalamnya.

Bagaimana denga peran-peran mereka setelah keluarga terbangun. Perempuan baik mereka yang bekerja di dalam rumah maupun yang bekerja diluar rumah, masih tetap berperan dalam reproduksi. Sebagaian besar dari mereka masih tetap berperan dalam reproduksi. Sebagaian besar dari mereka sudah melaksanakan penjarangan dan pembatasan kehamilan karena mereka sudah memahami manfaatnya baik dari segi kesehatan maupun ekonomi.

Mengenai peran dalam ekonomi dapat digambarkan seperti berikut. Pada lapisan bawah perempuan sudah sejak lampau, jadi bukan sekarang saja, sebagaian tersebar berperan dalam kegiatan ekonomi di luar rumah. Dalam sektor agraris peran perempuan sangat besar dari dulu hingga sekarang. Pada masa sekarang perempuan dari lapisan bawah berperan pula pada sektor industri yang berkembang. Perempuan dan laki-laki bahu membahu dalam mencari rezeki di luar rumah.

Sedang pada lapisan menengah dan lapisan atas, hanya sebagaian kecil dari perempuan yang bekerja di luar rumah. Laki-laki lebih berperan dalam kegiatan ekonomi diluar rumah. Perlu diketahui pula bahwa dari kedua lapisan ini pula muncul gerakan wanita dalam berbagai macam bidang seperti kesejahteraan sosial, keagamaan, pendidikan, ekonomi, politik dan lain-lain.

Mengenai peran dalam kultural baik laki-laki maupun perempuan dari ketiga lapisan masyarakat, dengan segala keterbatasannya masih melaksanakannya. Ketigalapisan masih berperan dalam memelihara dan mengembangkan budaya etnisnya di samping sebagaian, entah kecil entah besar dari lapisan menengah dan lapisan atas, yang memelihara dan mengembangkan kebudayaan nasional.

Sedang mengenai peran pengasuhan anak atau sosialisasi anak, dalam konsep masih merupakan peran perempuan bagi ketiga lapisan. Namun dalam praktek, seperti kita dapat amati pada lapisan bawah, anak-anak mereka yang ditinggal oleh ibu bapaknya, diasuh oleh kakak-kakaknya yang masih kecil, atau oleh neneknya, kadang-kadang dititipkan kepada tetangganya. Penitipan anak sudah ada benihnya sejak dulu pada masyarakat pertanian. Pergaulan anak pada lapisan menengah dan lapisan atas, baik dari keluarga yang perempuannya bekerja diluar rumah maupun yang tidak, sebagian besar dari mereka menyerahkan kepada pembantu rumah tangga atau kepada baby sister. Gejala ini merupakan peluang bagi usaha yang punya minat mengasuh anak. Kelompok bermain (play group) dan taman kanak-kanak muali berkembang. Sebagian besar keluarga dari lapisan menengah dan atas sudah sejak dini menyerahkan pengasuhan anak kepada orang lain atau kepada lembaga lain. Apakah hasil asuhan ini sesuai dengan harapan mereka? Wallahualam.

Berdasarkan uraian tentang peran-peran itu marilah kita lihat dulu tentang konsep dasar keluarga. Sebagaimana diketahui bahwa keluarga dibentuk dan dikembangkan atas dasar ikatan biologis, ekonomi, kultural dan psikologi : cinta. Keempat dasar ikatan itu secara integrated seharusnya terpelihara dan berkembang. Kerekatan dalam salah satu dasar ikatan sering merupakan persoalan yang cukup rawan bagi keluarga. Apalagi jika keretakan itu terjadi pada dasar ikatan psikologi : cinta. Kemudian permasalahannya : apakah cinta itu masih sempat terbagi pada keluarga lapisan bawah, lapisan menengah dan lapisan atas yang perannya sudah saya coba uraikan dimuka.

III.Profil Keluarga Indonesia pada awal Millenium ke 3

Dari saat ini, tahun 1989, awal millenium ke 3 itu tidak bakal lama datang, hanya tinggal 10 tahun. Perubahan sosial, dalam hal ini termasuk perubahan keluarga, berjalan secara evolutif. Menurut perkiraan penulis selama 10 Tahun itu nilai-nilai keluarga belum banyak berubah atau sedikit saja yang berubah. Variabel-variabel yang mempengaruhi keluarga yaitu ekonomi, pendidikan dan pertambahan penduduk selama 10 tahun dapat diperkirakan seperti berikut. Pertambahan penduduk adalah variabel yang dominan : jika pada tahun 1989 penduduk Indonesia 150 juta, diperkirakan pada awal millenium ke 3 akan berjumlah sekitar 200 juta. Diharapkan pertumbuhan dan pelayanan ekonomi tidak mengganggu kehidupan penduduk yang berjumlah 200 juta atau lebih itu sehingga mereka yang berada pada lapisan bawah nasibnya akan lebih baik dari sekarang. Dalam kurun waktu 10 tahun akan terjadi pergeseran sedikit dari sekitar sektor pertanian ke sektor industri dan jasa. Jadi mereka yang hidup di sektor pertanian barangkali masih sekitar 60 %, kurang 10 % dari sekarang (+ 70 %) Variabel pendidikan, diharapkan pada awal millenium ke 3, tingkat terendah pendidikan masyarakat Indonesia adalah Sekolah Dasar. Mereka yang berpendidikan menengah dan atas akan bertambah beberapa persen. Sebagian terbesar tingkat pendidikan masyarakat Indonesia adalah Sekolah Dasar, sebagian kecil Sekolah Menengah dan Tinggi. Gerakan emansipasi wanita sebagai variabel lain yang akan mempengaruhi keluarga akan makin tampak dan kuat pengaruhnya.

Gerakan itu akan berujud kegiatan sebagai wanita lapisan menengah dan atas dalam kesejahteraan sosial, pendidikan, keagamaan, politik dan ekonomi berdasarkan pengaruh variabel-variabel tersebut diperkirakan profil keluarga awal millenium ke 3 akan seperti berikut. Dalam perkawinan, khususnya pemilihan jodoh, makin menguat dilaksanakan anak. Dasar pemilihan bibit, bebet dan bobot dengan berbagai motifikasinya masih relevan dipakai untuk menopang dasar utama yaitu cinta, bisa diperhatikan dan bisa juga tidak. Upacara perkawinan akan makin sederhana oleh karena berbagai pertimbangan dan keterbatasan fasilitas. Sisi adat dalam upacara makin kecil, sedang sisi agama akan tetap seperti sekarang ini. Sisis administrasi makin mencuat, karena makin meningkatnya peran birokrasi dalam kependudukan.

Fungsi dan peran keluarga dapat dijabarkan sebagai berikut. Peran reproduksi akan tetap seperti sekarang. Sebagian kecil ibu yang berhalangan akan menitipkan pada tabung (bayi tabung). Dalam ekonomi, peran perempuan pada lapisan masyarakat atas akan meningkat mengejar peran laki-laki. Peran ekonomi dari perempuan dilaksanakan di dalam dan di luar rumah. Keluarga akan makin sibuk dalam peran ekonomi.

Akibat dari peran ekonomi yang cukup kuat maka peran dalam fungsi kultural melemah. Baik budaya etnis maupun budaya nasional kurang terpelihara apalagi terkembangkan dalam keluarga. Demikian pula peran spesialisasi dari pendidikan semakin melemah. Laki-laki dan perempuan hampir tak sempat mengasuh anak. Penyerahan-penyerahan anak kepada orang lain atau lembaga-lembaga penitipan dan pengasuh anak makin meluas. Apakah PAUD dasar ikatan hubungan keluarga yang bersifat kultural, akan makin melemah, yang masih tetap melekat adalah dasar biologis, ekonomi dan psikologi : cinta. Dalam pertumbuhan dan perkembangan keluarga, cinta itu sendiri mengalami proses erosi, oleh karena kesibukan mereka sendiri yaitu : ayah, ibu dan anak. Frekuensi pertemuan di antara mereka makin kecil. Sebagian mirip terminal, seperti apa yang dapat kita lihat. Berbagai cinta di antara ayah, ibu dan anak semakin menipis. Cinta akan lebih terpendam ketimbang tersalurkan dalam kehidupan. Cinta hanya mencuat dalam sisi biologis, sedang dalam sisi-sisi hubungan sosial lainnya cinta makin melemah. Dalam pemilihan jodohpun cinta tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan sisi-sisi lain terutama dengan sisi biologis dan ekonomis. Andaikan prakiraan proyeksi ini mendekati kebenaran, dapat saja kondisi itu tidak terjadi, seandainya sebelum kedatangan millenium ke 3 sudah ada upaya atau gerakan pencegahan seperti aktifnya biro-biro konsultasi dan penyuluhan perkawinan/keluarga, membesarnya peran pekerjaan sosial dan lain-lain. (Oleh : Machdar Somadisastra)

Referensi

Arif Budiman, Pembagian Kerja Secara Seksual, Jakarta, PT. Gramedia, 1982

Geerts, Hildred, Jawanese Family.

Kingsley Davis, Human Society, The Humanilley Company, New York, 1958

Koentjaraningrat, Masalah-Masalah Pembangunan, Jakarta, LPES, 1982

Related posts

Talk Show di JJFM

admin01

Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2017

admin01

KADARUSLAN – SOLIDARITAS, DEMOKRATIS, KERAKYATAN

bk3s
buka chat
Butuh bantuan?
hi kakak
Ada yang bisa kami bantu?