Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) Surabaya punya cara tersendiri untuk memperingati Hari Anak Nasional tahun ini. Menggandeng Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Jawa Timur, mereka menggelar Berbagi, Berkawan & Berkain Wastra Nusantara.
Acara yang berlangsung di Gedung BKKKS Jatim pada Minggu, 30 Agustus 2026, itu menjadi ruang aman bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk menunjukkan bakat mereka. Ada pertunjukan angklung, tari, lagu, dan fashion show.
Karena penyelenggaranya adalah KCBI, maka busana dan kain Nusantara menjadi perhatian utama. Panitia dan para pengisi acara mempercantik diri mereka dengan wastra Nusantara. Demikian pula para penampil.
Wastra Nusantara pun mendominasi gaya berbusana para hadirin. Hari itu, KCBI dan BKKKS juga mengundang sejumlah komunitas dan organisasi di Kota Pahlawan dalam peringatan Hari Anak Nasional itu. Antara lain, Persatuan Istri Dokter Surabaya dan Persatuan Istri Insinyur.
Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan merupakan tema besar peringatan Hari Anak Nasional 2026. Selaras dengan tema itu KCBI menunjukkan komitmennya untuk menyayangi semua anak, tanpa terkecuali.
Maka, dalam rangkaian acara tersebut, KCBI mengagendakan penyerahan tiga kursi roda bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Ketua KCBI Surabaya Windrati Wiworo mengatakan bahwa kegiatan sosial seperti itu menjadi agenda rutin komunitasnya.
“Awal tahun ini memang ada agenda kami yang tertunda. Tapi, Agustus ini, kami kembali rutin menggelar kegiatan-kegiatan dengan konsep sosial,” katanya.
Minggu itu, anak-anak berkebutuhan khusus yang diundang dalam peringatan Hari Anak Nasional 2026 tersebut juga ambil bagian dalam pementasan. Mereka tampil bersama para pengisi acara lainnya.
Ketua Umum BKKKS Jatim Pinky Saptandari menegaskan bahwa keterlibatan anak-anak berkebutuhan khusus adalah bagian penting dari peringatan Hari Anak Nasional.
Menurutnya, setiap anak memiliki hak untuk berpartisipasi dan mendapatkan ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka. Tidak terkecuali, mereka yang berkebutuhan khusus. “Mereka itu subjek,” ujar Pinky.
Dosen antropologi Universitas Airlangga (Unair) itu mengatakan, asalkan diberi kesempatan yang sama, anak-anak berkebutuhan khusus pun bisa menunjukkan bakat dan kemampuannya dengan baik. Seperti hari itu, mereka bernyanyi, menari, dan berlenggang di panggung dalam fashion show.
Pinky menambahkan bahwa pengenalan budaya Nusantara kepada anak-anak perlu dilakukan sejak dini. Apalagi, kebudayaan membutuhkan regenerasi agar kecintaan terhadap budaya Indonesia terus berlanjut.
Maka, dia mendukung penuh upaya KCBI dalam memperkenalkan dan melestarikan wastra Nusantara. Kolaborasi yang sering KCBI lakukan juga menjadi cara yang efektif untuk menularkan kecintaan terhadap budaya bangsa kepada masyarakat yang lebih luas.
Windrati menjelaskan bahwa KCBI konsisten mengajak anggotanya menggunakan kain dalam berbagai kegiatan komunitas. Kain yang digunakan beragam, mulai tenun, songket, batik hingga lurik.
Wakil Ketua KCBI Surabaya Putu Sulistiani menambahkan, pelestarian wastra dilakukan melalui berbagai aktivitas komunitas. Antara lain lewat kegiatan rutin KCBI seperti Dendang Nusantara, Lenggang Nusantara, line dance, karawitan, angklung, dan fashion show kain tradisional Indonesia.
Putu mengatakan, KCBI biasanya mengajak anak-anak dan mahasiswa untuk mengikuti kegiatan mereka sekaligus mengenalkan cara berkain yang sederhana. “Berkain itu tidak ribet, tidak sukar,” ucapnya.
Roswati, ketua panitia, menyatakan bahwa persiapan kegiatan dilakukan sekitar dua bulan. Sebanyak 24 orang terlibat dalam kepanitiaan, sementara peserta yang terdaftar mencapai hampir 250 orang.
Selain pentas seni anak dan fashion show, rangkaian Berbagi, Berkawan & Berkain Wastra Nusantara juga menghadirkan garage sale dan bazar. Barang-barang yang dijual berasal dari anggota KCBI. Ada pakaian layak pakai, tas, perhiasan, dan makanan.
Dana yang terkumpul dari garage sale dan bazar akan dikelola KCBI untuk membiayai kegiatan sosial rutin komunitas.
Lewat perayaan Hari Anak Nasional 2026 yang dipadukan dengan pengenalan wastra Nusantara, KCBI berharap akan semakin banyak generasi muda yang mencintainya. KCBI juga berjanji untuk terus mengembangkan kolaborasi dengan berbagai komunitas dan organisasi di Surabaya demi melestarikan warisan budaya bangsa.
Sumber : harian.disway.id


