MENGAPA BANYAK SETAN DI LINGKUNGAN HIDUP KITA

Prakata :Lingkungan hidup mempunyai banyak definisi. Para ahli dari berbagai disiplin ilmu mengembangkan definisi sendiri-sendiri sesui dengan paradigma keilmuannya. Oleh karena itu pada tulisan ini dipilih definisi menurut hukum.

MENGAPA BANYAK SETAN DI LINGKUNGAN HIDUP KITA

oleh : Sutopo Wahyu Utomo

Lingkungan hidup mempunyai banyak definisi. Para ahli dari berbagai disiplin ilmu mengembangkan definisi sendiri-sendiri sesui dengan paradigma keilmuannya. Oleh karena itu pada tulisan ini dipilih definisi menurut hukum. Setuju atau tidak setuju orang harus mengukutinya karena merupakan suatu komitmen untuk menjaga kepentingan bersama. Secara yuridis Indonesia telah menuliskan definisi lingkungan hidup pada Undang-undang nomor 4 tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, yaitu sebagai ?suatu kesatuan ruang dengan semua benda, daya dan keadaan, dan makhluk hidup, termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya?. Pengertian yang serupa juga dikemukakan pada UU No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Berdasar definisi di atas serta definisi-definisi lain menurut para ahli, N.H.T. Siahaan merangkum dan selanjutnya mengemukakan unsur-unsur lingkungan hidup sbb :

  1. Semua benda, berupa manusia, hewan, tumbuhan,organisme, tanah, air, udara, rumah, sampah, mobil, angin, dll yang keseluruhannya disebut dengan materi
  2. Daya, disebut juga dengan energi
  3. Keadaan, disebut juga kondisi atau situasi
  4. Perilaku atau tabiat
  5. Ruang, yaitu wadah berbagai komponen berada
  6. Proses interaksi, disebut juga saling mempengaruhi, atau biasa pula disebut dengan jaringan kehidupan.

Idealnya unsur-unsur ini berada pada kondisi yang berkeseimbangan atau keharmonisan pengaruh sehingga terjadi pelestarian secara alami. Manusia dengan segala perilakunya menjadi kunci dalam penciptaaan keseimbangan tersebut karena dialah yang didaulat sebagai kholifah di muka Bumi. Berhasilkah para kholifah di bagian Bumi Nusantara ini dalam menciptakan keseimbangan? Mari kita ikuti kelanjutan tulisan ini.

Bumi, matahari, angin, dan air dengan segala zat yang terkandung didalamnya, adalah empat anugerah utama bagi kehidupan manusia. Bumi ketika didaulat oleh Allah sebagai tempat hidup Adam dan keturunannya merupakan tempat yang aman, nyaman, dan menyejahterakan. Selanjutnya timbul bencana-bencana besar yang melenyapkan sebagian anak cucu Adam baik dalam bentuk air bah, tanah yang retak yang seolah-olah menelan segala sesuatu yang berada di atasnya, laut yang menenggelamkan, kekeringan yang panjang yang berakibat timbulnya kesulitan pangan, maupun badai yang memporakporandakan. Kejadian-kejadian diatas apabila disimak, semuanya didahului oleh perilaku manusia yang ingkar atau tidak menegakkan hukum Allah, sehingga Allah pun memberi peringatan bahwa ?telah terjadi kerusakan di muka Bumi karena tangan manusia?. Selanjutnya Allah juga memberitahu kepada manusia bahwa ?tidak ada musibah tanpa izin Allah? (Surat At Taghaabun ayat 64). Peristiwa-peristiwa tentang bencana dahsyat dapat dilihat pada riwayat nabi-nabi Allah seperti Ibrahim, Nuh, Musa, Ayub, Luth, Yusuf dll.

Mungkin karena kita lupa dengan riwayat-riwayat tsb atau khilaf yang berkepanjangan maka terjadilah kondisi lingkungan hidup di Indonesia seperti dibawah ini :

  1. Tercepat dalam perusakan hutan di dunia. Dalam 10 tahun terakhir hutan di Indonesia yang terdegradasi adalah sebesar 59,6 juta HA. Sedangkan kerugian negara atas pembalakan liar tidak kurang dari Rp. 30 triliun per tahun.
  2. Surga pornografi kedua di dunia (setelah Rusia). Kalau yang menjadi surga pornografi nomor satu adalah Rusia sangat dapat dimaklumi. Mengapa runner up nya adalah Indonesia yang mengapa sebagai penduduk beriman?
  3. Mungkin berkorelasi positif dengan kondisi kedua di atas adanya sinyalemen bahwa remaja (terutama di Jakarta) semakin permisif dengan seks bebas.
  4. Masuk dalam 10 besar negara terkorup di dunia
  5. Kualitas HDI (Human Development Index) nomor 107 dari 177 negara di dunia. Pernyataan ini dapat diartikan sebagai tingkat pendidikan, kesehatan, dan pengangguran di Indonesia masih memprihatinkan.
  6. Korban narkoba/HIV-AIDS terus meningkat. Akhir-akhir ini bahkan disinyalisasikan sebagai produsen sabu-sabu terbesar di dunia ada di Indonesia.
  7. Jumlah penduduk miskin masih tinggi
  8. Sistem pendidikan belum mantap. Dalam kaitannya dengan tulisan ini tampak bahwa arah pendidikan kita belum mencerminkan penciptaan kader-kader bangsa sebagai pemelihara lingkungan hidup. Keadilan generasi jauh dari perwujudan. Jika langkah-langkah perbaikan tidak ditingkatkan, kita hanya akan mewariskan kerusakan lingkungan hidup daripada kesejahteraan kepada generasi penerus
  9. Saling menghancurkan (lupa dengan Perikemanusiaan yang adil dan beradab, serta asas kekeluargaan?). Hal ini dikemukan oleh Michael Porter ketika berkunjung ke Indonesia.
  10. Demokrasi yang berkembang saat ini lebih merefleksikan berlakunya hukum rimba. Hampir semua demonstran pad berbagai kesempaan demo, mengeluarkan ancaman ?jika tuntutannya tidak diperhatikan maka mereka akan datang lagi dengan massa yang lebih besar? (lupa dengan sila kelima Pancasila?)
  11. Kedaluatan diinjak-injak oleh negara tetangga setidaknya terjadi di laut, di perbatasan, dan di pulau-pulau terdepan/terpencil
  12. Kebanggan nasional yang hampir musnah
  13. Lupa dengan jati diri dan budaya luhur sendiri
  14. Suka dengan jalan pintas (contoh sederhananya adalah pemakai jalan)
  15. Suka membuang-buang waktu dan uang (konsumtif).
  16. Krisis energi (ada orang meninggal karena antri minyak tanah)
  17. Krisis air bersih. Di sisi lain lain air melimpah ruah dalam bentuk banjir.
  18. Perdagangan (trafficking) anak yang naik sampai 300 % pada tahun 2006.
  19. Pencemaran lingkungan yang terus meningkat. Negara ini negara tong sampah kata Pak Siswono Yudo Husodo
  20. Bencana alam (dan sosial ) yang hampir tiada henti. Banjir, gempa, air (laut) pasang, tanah longsor, angin puting beliung hingga bulan April 2008 ini tidak pernah lepas sebagai hiasan berita pada media massa
  21. Jumlah penderita gizi buruk mengalami peningkatan. Tahun 2006 jumlah penderita gizi buruk 2,3 juta jiwa, naik 500.000 dibandingkan dengan tahun sebelumnya

(Data di atas dikutip dari berbagai media cetak yang terbit antara tahun 2006 – 2008).

Jika ditambahkan dengan peringatan Bung Karno pada tahun 1952 adanya lima krisis yang dapat membahayakan eksistensi suatu negara yaitu krisis politik, krisis alat-alat kekuasaan negara, krisis cara berpikir, krisis moral, dan krisis gejag (krisis kewibawaan otoritas). Tampaknya kelima krisis tersebut kini tengah melanda bangsa Indonesia. Jadi genaplah 25 macam krisis besar yang terjadi di Indonesia. Jika diasumsikan bahwa tiap-tiap krisis pernah diutus Allah seorang rasul untuk memperbaikinya, maka dapat diasumsikan pula bahwa terdapat 25 macam pelanggaran besar yang dilakukan secara kolektif oleh bangsa Indonesia.

Data dan fakta di atas menggambarkan betapa banyaknya setan yang sukses besar mempengaruhi perilaku manusia Indonesia yang menghasilkan berbagai kerusakan baik materiil maupun moral sehingga berbagai jenis kerusakan yang terjadi di negara kita tercinta ini menjadi sangat kompleks dan berkepanjangan.

Dongeng-dongeng abadi sejak Nabi Adam dan anak cucunya hingga saat ini adalah dongeng tentang seks, perburuan harta dan perebutan kedudukan. Mungkin karena ketiga hal ini adalah tiga atribut kenikmaan tertinggi didunia, maka wajar atau tidak ada salahnya jika sebagian besar orang menjadi pemburu ketiga jenis kenikmatan tersebut. Namun kenyataan menunjukkan bahwa lebih banyak orang yang lupa dengan ketentuan-ketentuan tentang bagaimana seharusnya berhubungan seks, bagaimana hukumnya mengumpulan dan menggunakan harta dan cara mengejar dan kewajiban yang harus dikerjakan jika orang telah memperoleh kedudukan. Ada dua ketentuan umum yang berlaku untuk ketiganya yaitu jangan berlebihan (hindari kemubadziran), dan berlaku berlaku adil. Allah mengatur alam dan kehidupan ini melalui hukum keseimbangan, keadilan dan ketepatan (tidak kurang, tidak lebih dan tidak ada yang sia-sia) atau tiada kemubadziran sedikitpun. Hukum-hukum ini telah banyak dilanggar oleh manusia dalam mengelola Bumi. Keserakahan, kemubadziran dan ketidakadilan berkembang dimana-mana maka tidak heran jika terjadi dimana-mana terjadi ketidakharmonisan antara manusia dan lingkungan hidupnya. Jika adaorang yang mempunyai kekayaan sebesar lebih kurang 50 triliun rupiah berapa zakat/infaq/sodaqoh yang harus dikeluarkan? Mungkin jumlahnya akan cukup untuk mengatasi masalah gizi buruk se Indonesia.

Pemberantasan Kecacatan Majemuk

Kecacatan di sini bukan pengertian kecacatan sebagaimana tercantum dalam Undang-undang RI no. 4 tahun 1997 dan PP no. 43 tahun 1998, tetapi konotasi kecacatan yang dikemukakan oleh J Ingham yang dikutip oleh Barbara Prashnig dalam bukunya The Power of Learning Style, yaitu mereka yang tidak mendapat kesempatan pembelajaran sesuai dengan gaya belajarnya sendiri. Gaya belajar seseorang jika kita simak akan menyangkut pelibatan kondisi-kondisi fisik, emosi, spiritual, dan interaksi sosial dengan lingkungannya. aspek-aspek ini tidak berkembang secara harmonis. Kecacatan yang paling berat adalah berbentuk kematian hati nurani, sehingga secara sosial orang seperti ini tidak memberi manfaat apapun. Betapa banyaknya orang cacat di Indonesia sebagai korban kurikulum dan metodologi belajar dan mengajar yang lebih mengarah pada pengembangan kecerdasan intelektual yang telah dipaksakan selama ini. Para nabi sesungguhnya telah mewariskan model pembelajaran yang utuh, tanpa pemaksaan, dan batasan waktu dan ruang, hanya ada satu batas yang dikemukakan oleh kedua puluh lima nabi, yaitu kewajiban manusia sebagai hamba Allah, hanya menyembah kepada-Nya. Hadiah dari persembahan ini adalah diturnkannyaa rakhmat Allah. Nabi telah mengajarkan pemberantasan kecacatan dalam cara pikir, cara berperasaan dan cara bertindak serta dasar yang melandasi semua cara di atas. Sayangnya masih banyak orang yang mencari dan mengikuti cara-cara yang tidak diwariskan oleh para nabi tersebut.

Jadi kunci untuk mengusir setan di lingkungan hidup bangsa Indonesia dalah mendalami sejarah 25 nabi yang telah diutus Allah untuk memperbaiki akhlak manusia. Intinya adalah mengintegrasikan dan mengimplementasikan ketiga kecerdasan dasar yang dikarunikan Allah kepada manusia, yaitu kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual.

Penulis adalah Pekerja Sosial,
Sekum BKKKS Prop. Jatim

Beri rating artikel ini!
Tag:

Satu Respon

  1. author

    Kiki10 tahun ago

    Isinya is very good lah.tambah terus ya infonya,aku tunggu loh.maju terus bangsaku.

    Balas

Tinggalkan Balasan