BERPIKIR

Descartes pernah menyatakan suatu diktum ?Cogito ergo sum? saya berpikir, sebab itu saya ada. Renungan kali ini mencoba memahami diktum itu; tentunya untuk keperluan praktis bukan untuk perbincangan teoritis Kita mulai saja dari sejarah penciptaan manusia. Ketika manusia akan diciptakan, terjadi dialog sebagaimana dinarasikan dalam Al Qur,an (QS 2: 30-33): ?Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ?Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang khalifah di bumi?. Mereka berkata:: ?Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu seorang yang akan membuat kerusakan padanya dan akan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau??. Tuhan berfirman: ?Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui?. Lalu Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat, lalu berfirman: ?sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!?. Mereka menjawab: ? Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepaada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana . Allah berfirman: ?Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini?. Maka setelah diberirtahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: ?Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungghnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?.

Makna tersirat yang dapat kita petik dari dialog di atas adalah: malaikat telah GR (gede rumongso), mereka mengira bahwa dengan senantiasa bertasbih dan memuji Allah telah menjadikan mereka sebagai makluk yang terbaik. Ternyata tidak! Justru Allah berkehendak memproyeksikan manusia sebagai mahluk-Nya yang terbaik untuk diberi amanah sebagai khalifah di bumi dengan membekali kemampuan berpikir melebihi malaikat. Menjadi jelaslah maksud dictum Descartes bahwa eksistensi manusia terletak pada potensi berpikirnya.

Walaupun manusia berpotensi membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah, tetapi Allah mempunyai agenda yang jauh lebih besar daripada ekses itu.. Manusia digadang-gadang unuk ?mewakili? Allah dalam membina kehidupan di bumi dan sekaligus membuktikan kebesaran-NYA. Manusia dengan potensi berpikirnya, bisa menghasilkan suatu karya sebagai sarana membina kehidupan di bumi ini, dan dalam karya itulah tersibak kebesaran Allah.. Simak misalnya penemuan komputer dan hp, di samping telah membuat kehidupan ini lebih mudah dan efisien, sekaligus dari sini kita bisa mengambil suatu pemahaman atas firman Allah dan kebesaran-NYA, misalnya (QS 3: 133-134): ?Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan?. Surga yang seluas langit dan bumi itu sudah ada, lengkap dengan ?daftar penghuninya? Sangat mudah bagi Allah untuk menampilkan atau menyimpannya, seperti menyimpan data di hardisk, disket, atau flashdisk?! Ketika Nabi Muhammad Saw Isra Mi?raj, surga itu (dan juga neraka) ditampilkan. Perihal hp, bagaimana mungkin kita bisa mengirim sms ke saudara kita yang sedang berhaji, hanya dalam hitungan detik sudah bisa sampai dan tidak salah alamat, padahal jaraknya beribu-ribu km nun jauh di sana dan berada bersama berjuta-juta jamaah yang lain, kalau bukan karena kecanggihan alam raya ciptaan Sang Mahabesar Allah!!! .

Berpikir praktis tidaklah sesulit berpikir teoritis, setiap orang bisa, cukuplah dengan cara memperhatikan dan membandingkan. Memperhatikan adalah pekerjaan pertama, membandingkan-perkerjaan kedua. Sayangnya tak banyak yang melakukan ini. Contoh kasus adalah apa yang dialami oleh para TKI/TKW sebagaimana ditulis oleh Sutopo Wahyu Utomo (SWU) dan Pinky Saptandari (PS). Bila diperhatikan gaji yang mereka terima (yang dianggap besar itu), kemudian dibandingkan dengan biaya hidup yang harus mereka keluarkan, ternyata mereka masih jauh posisinya dari nilai kehidupan layak di Malaysia. Begitu pula yang di Arab Saudi, lebih banyak mengalami nasib malang daripada keberuntungan..Apalagi keinginn mereka untuk naik haji dengan bekerja di sana, masih jauh panggang dari api, bak punguk merindukan bulan. Apakah ini bukan suatu kebodohan?!. Tragisnya, yang membodohi mereka adalah bangsanya sendiri, sebagaimana diungkapkan oleh PS bahwa derita yang mereka alami, yang sangat memilukan dan sekaligus memalukan itu penyebabnya adalah 80 % dari ulah para pelaku dalam negeri. sendiri. Seperti kata Muhammad Iqbal (Jawa Pos, 16 Mei 2009), mereka diekploitasi untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, belum lagi ?diisap darahnya?, dengan berkedok jaminan asuransi, yang harus mereka bayar dengan potongan gaji 5 ? 6 bulan. Maka tak salah kalau SWU berpendapat bahwa pengiriman tenaga kerja ke luar negeri (TKI/TKW) bak menjual kebodohan dan martabat bangsa. Kalau sudah begini, tidakkah Pemerintah berpikir untuk menghentikan saja, atau setidaknya punya keseriusan, bila perlu dengan ?tangan besi? unuk menyingkirkan tikus-tikus yang selalu mengekploitasi TKI untuk kepentingan bisnis semata.

Berpikir merupakan filter, pasangan penyeimbang dan pemoles fitrah manusia lainnya yang bernama ?meniru?. Setiap orang pada dasarnya peniru, Bahkan ketika pertama kali manusia menguburkan jenazah, dia meniru perilaku burung. Meniru penting untuk efisiensi hidup, tapi agar tidak terjerumus pada meniru yang salah, perlu difilter dengan berpikir Tapi tidak semua hal harus dipikir sendiri. Waktu dan energi kita tak kan cukup kalau harus memikirkan semua hal. Kemajuan industri otomotive Jepang aja bukanlah murni hasil berpikir sendiri, tetapi merupakan hasil kreasi yang berbahan dasar meniru yang dirajut dengan berpikir, perpaduan antara orisinal dan imitasi, atau. meniru yang dimodifikasi.. Khusus untuk ibadah, mutlak harus meniru, yakni meniru, Rosulullah, dan tidak boleh dimodifikasi, karena hanya Rosulullah yang punya hak prerogative langsung dari Allah untuk memberikan contoh tauladan dalam mengimplementasikan perintah-perintah-Nya, Nabi diperintah oleh Allah untuk menyampaikan hal ini:?Katakanlah: ?Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu?; dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS 3: 31), Nabi pun bersabda: ?Barangsiapa melakukan amalan yang bukan dari ?perintahku? maka amalan itu ditolak. Dalam beribadah, panduannya sudah jelas: Qur?an dan Hadits. Tapi dibuka pintu lebar-lebar untuk berpikir (berijtihad) apabila ada persoalan yang ?tidak ditemukan? di dalam Qur?an dan Hadits. Allah sangat menghargai orang yang berijtihad sehingga apabila di kemudian hari ternyata ijtihad itu salah (setelah ditemukan ijtihad terbaru yang benar) baginya tetap mendapatkan satu pahala.

Kualitas berpikir sangat menentukan derajat manusia. Kemuliaan dan keselamatan manusia ditentukan oleh kualitas berpikirnya. Kualitas berpikir tidak equivalent dengan kapasitas otak tapi equivalent dengan kebeningan hati. Instrument berpikir bukan hanya otak, tetapi juga telinga, mata, dan hati. Bila hatinya bening, dia akan peka pendengarannya, tajam penglihatannya dan jernih pikirannya, Bila manusia menggunakan ketiga instrument itu dengan sebaik-baiknya, dia akan terangkat lebih mulia daripada malaikat, Tetapi sebaliknya bila dia menyia-nyiakannya, dia akan jatuh pada derajat yang sangat rendah, lebih rendah daripada binatang, dan kelak akan disiksa, sebagaimana firman Allah ?Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan meeka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat) Allah. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.. meeka itu orang-orang yang lalai. (QS 7: 179)

Kuncinya pada hati. Kalau hati kita tertutup, maka pendengaran, penglihatan, dan pikiran kita pun akan tertutup. Penyebab tertutupnya hati adalah perilaku pelanggaran yang keterusan. Allah berfirman: ?Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. (QS 83: 14) Dan Nabi bersabda: ?Seseorang hamba itu bila berbuat dosa, timbullah satu titik hitam dalam hatinya. Bila dia bertobat dari perbuatan itu, hatinya akan kembali mengilat. Namun, bila menambah perbuatannya itu, bertambah pulalah titik hitam tadi. ?Titik hitam itulah yang dimaksud Allah dalam firman-Nya, ?Sekali-kali tidak.; sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka?.

Berpikirlah positif karena berpikir positif merupakan landasan pokok kehidupan. Allah telah memaklumatkan: ?Aku menurut anggapan hamba-Ku?. (Hadits Qutsi). Berpikir positif adalah awal dari pembentukan ahlak mulia. Inti kehidupan adalah membentuk ahlak yang mulia, sebagaimana sabda Nabi: ?Sesungguhnya aku diutus untuk menyempunakan ahlak yang mulia. Taburlah berpikir positif, engkau akan menuai sikap/perilaku positif,.Taburlah perilaku positif, engkau akan menuai kebiasaan positif. pupuklah kebiasaan positif, engkau akan menuai karakter/moral/kepribadian/budi pekerti positif. Itulah ahlak mulia. Wassalam.wr.wb.. (M. Djumadi Ramelan, S.H.)

Beri rating artikel ini!
BERPIKIR,5 / 5 ( 1voting )
Tag:

Tinggalkan Balasan