DITUNGGU DATANGNYA PAHLAWAN BARU

Pada dinding sebuah gedung di Kuala Lumpur terpasang peringatan Mahatir Mochamad, mantan Perdana Menteri Malaysia untuk bangsanya, yaitu bahwa ?Melayu mudah lupa? yang diulang sampai 16 kali dan yang ketujuhbelasnya berupa sebuah ajakan ?jangan mudah lupa lagi, karena perjuangan belum selesai?. Maksudnya jelas agar masyarakat melayu atau lebih tepatnya Bangsa Malaysia tetap mengingat sejarah bangsanya yang dulu menderita, hina, terpecah-pecah, kerdil, terpencil, tidak berdaulat, tidak bebas, serta berdarah-darah. Peringatan yang sama dengan format yang berbeda juga dilemparkan oleh mantan Presiden RI pertama, Bung Karno, ?jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah?. Tentu saja peringatan ini ditujukan kepada Bangsa Indonesia. Hanya sejauh ini belum pernah terlihat dalam dinding gedung pemerintah yang memasang peringatan Bung Karno tersebut. Mungkin dirumah perseorangan yang menjadi pengagum berat proklamator itu ada terpampang foto dan peringatan tersebut. Masa lalu kita sebenarnya tidak jauh beda dengan Malaysia. Bahkan lebih buruk, karena perilaku Belanda dan Inggris terhadap bangsa jajahannya sangat berbeda. Soal jangan meninggalkan sejarah ini sebenarnya jauh-jauh Allah SWT juga sudah memerintahkan kepada mereka yang tergolong orang-orang bertaqwa untuk mengingat selalu riwayat atau perjalanan dan ajaran-ajaran spiritual para nabi-Nya, mulai dari Nabi Adam AS sampai dengan Nabi Muhammad SAW. Betapa banyaknya bangsa yang telah dibinasakan Allah karena melupakan peringatan-peringatan yang diturunkan melalui utusan-Nya. Sejarah dalam kitab suci bukan sekedar sejarah biasa. Ada sebuah makna didalamnya bahwa hal tersebut adalah sebuah tuntunan. Para nabi sesungguhnya juga merupakan pahlawan bangsa pada zamannya. Dengan analogi ini kita juga dapat menganggap bahwa sejarah perjuangan bangsa untuk membebaskan diri dari berbagai belenggu penjajajahan dan penderitaan tersebut juga merupakan pelajaran. Demikian pula kisah tentang raja-raja atau pemimpin yang dzalim juga merupakan sebuah pelajaran yang memberi peringatan bahwa hal tersebut tidak layak untuk ditiru, apalagi dilestarikan. Jadi inti dari peringatan ?jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah? ialah agar kita dapat berlaku bijak, meneladani dan melaksanakan hal-hal yang positif, dan tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh para pelaku sejarah.

Bangsa Indonesia yang serumpun dengan Bangsa Melayu mungkin mempunyai kelakuan yang sama, yaitu mudah lupa. Ada beberapa indikator yang menggambarkan adanya persamaan tersebut yang kini kelupaan kelupaan tersebut semakin tampak jelas. Misalnya Pancasila, tampak semakin jelas dilupakan. Setidak-tidaknya tidak diterapkan secara seksama. Penerapan sila Ketuhanan yang Mahaesa kini dihiasi dengan SMS-SMS ramalan nasib, perjodohan, kecocokan antara hari kelahiran dengan jenis pekerjaan, cerita-cerita khayal tentang alam ghoib, penampakan, dll. Ramalan nasib dan lain-lainnya tersebut, tentu bukan bagian dari ajaran Ketuhanan yang Mahaesa yang intinya adalah iman dan taqwa.

Di TV atau media massa lainnya setiap hari ada berita tentang kekerasan dan sejenisnya yang jauh dari perilaku bangsa yang Berperikemanusiaan yang Adil dan Beradab. Pada kalangan atas ada kejahatan kerah putih. Sedangkan di bawah ada kejahatan kerah biru. Saat ini sudah berkembang pula kejahatan yang mungkin layak disebut sebagai kejahatan ?kerah kumel?. Istilah ini tertujukan pada konotasi adanya kejahatan-kejahatan yang disertai dengan penganiayaan berat, pembunuhan yang dilanjutkan dengan mutilasi, dan pembunuhan yang hampir menjadi ?hobi?. Apa pun istilahnya, semua itu merupakan bentuk yang bertentangan dengan perilaku yang dicita-citakan oleh pengamalan sila Kemanusiaan yang Adil dan beradap.

Persatuan Indonesia kini tercabik-cabik dengan demo anarkhis yang memperjuangkan kepentingan pribadi atau golongan. Rumor tentang propinsi ini dan itu mau memproklamasikan diri kadang-kadang muncul. Sumpah Pemuda yang mendengungkan satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air tampaknya benar-benar harus disosialisasikan secara intensif kembali. Sosialisasi nilai-nilai yang terkandung dalam Sumpah Pemuda kalah jauh intensif dibandingkan reklame rokok. Hasilnya jelas lebih banyak pemuda perokok daripada pemuda pejuang.

Praktek demokrasi liberal juga lebih menonjol daripada demokrasi Pancasila yang berasas musyawarah mufakat. Musyawarah memang masih ada. Namun jauh-jauh sebelum musyawarah penggalangan dukungan agar mendapatkan suara terbanyak sudah dilakukan. Jadi yang terpikirkan dalam demokrasi saat ini adalah bagaimana caranya agar mendapatkan suara terbanyak sehingga menang dalam pemungutan suara. Demokrasi seperti ini tidak ubahnya seperti demokrasi rimba. Siapa kuat dialah yang menang. Lebih-lebih lagi wakil-wakil yang minta dipilih oleh rakyat beberapa tahun yang lalu, kini ada yang berubah status menjadi penghuni lapas. Perubahan status seperti ini jelas bukan merupakan indikator kegigihan dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat yang dulu diminta untuk memilihnya.

Dalam kehidupan perekonomian bangsa, sistem ekonomi yang menurut pakemnya disusun berdasarkan asas kekeluargaan, prakteknya berubah menjadi ekonomi liberal yang berdasarkan mekanisme pasar yang jelas bukan merupakan instrumen untuk mencapai keadilan sosial dalam arti khusus, yaitu memajukan kesejahteraan umum. Namun demikian harus diakui perbaikan ekonomi itu memang pernah ada. Tetapi daya beli rakyat secara umum belum pernah meningkat, meskipun ada perbaikan penghasilan. Yang namanya kenaikan gaji/upah selalu habis dimakan inflasi. Indikasi-indikasi lain yang yang menggambarkan bahwa kehidupan kita semakin jauh dari Pancasila yang merupakan kristalisasi nilai-nilai luhur jiwa Bangsa Indonesia masih banyak lagi.

Rakyat selama ini melalui peringatan Hari Pahlawan 10 November, diajak untuk mengingat-ingat dan mengenang jasa-jasa pahlawan bangsa. Secara spiritual kita semua setuju. Memang demikian seharusnya. Bayangkan jika suatu bangsa tanpa pahlawan. Mungkin seperti sekarang ini jadinya. Kalau saja Allah tidak menurunkan para nabi maka yang terjadi adalah masa jahiliyah yang berkepanjangan mulai dari Khobil hingga saat ini.

Akan tetapi di tengah-tengah ajakan itu tanpa kita sadari telah tumbuh sebuah harapan akan datangnya pahlawan baru yang mampu membawa bangsa ini kembali ke arah cita-cita kemerdekaan yang lebih nyata. Rakyat saat ini menanti-nanti datangnya pahlawan keadilan, pahlawan ekonomi, pahlawan kesejahteraan sosial, dengan suatu harapan dapat menciptakan keadilan sosial yang ditandai dengan perilaku bangsa yang berakhlak mulia, tegaknya hukum, akses yang merata terhadap sistem-sistem sumber pelayanan dengan layanan yang manusiawi, jaminan sosial bagi seluruh rakyat, mengangkat derajad bangsa di tengah-tengah pergaulan dunia internasional, dan lain-lain yang terangkum dalam satu kalimat ?tata tenteram kerta raharja? atau ?baldatun toyyibatun warobun ghofur?.

Kini banyak tokoh-tokoh masa lalu yang mengedapankan diri yang sepertinya sanggup memutus rantai jahiliyah masa kini, dan akan membawa bangsa kearah kondisi ?tata tenteram kerta raharja? atau ?baldatun toyyibatun warobun ghofur?. Sayang masyarakat masih banyak yang belum lupa dengan sejarah tentang sepak terjang politisi abu-abu yang memakai strategi ?serigala berbulu domba?. Rakyat perlu bukti dulu prestasi luar biasa, sehingga layak disebut pahlawan, maka rakyat tidak akan menjadi golput.

Oleh : Sutopo Wahyu Utomo
Penulis adalah Sekum BKKKS Prop. Jatim.

Beri rating artikel ini!

Tinggalkan Balasan