GARUDA INDONESIA LAWAN HARIMAU MALAYSIA

Dipenghujungtahun 2010 ini masyarakat bangsa Indonesia diramaikan oleh hiruk pikuknya pertandingan kejuaraan sepak bola Asia Tenggara. Sepak bola sebenarnya merupakan cabang olah raga yang sangat digemari di Indonesia sejak zaman masa kolonial alias pemerintahan Hindia Belanda. Memang tidak dapat dibandingkan begitu saja antara zaman Hindia Belanda, awal kemerdekaan dan Republik Indonesia masa kini. Namun bias kita simak sebagai ilustrasi bagaimana murid-murid SMP (MULO) dan SMA (AMS) di zaman kolonial sudah begitu piawai dan berkelas dalam bersepak bola. Kita lihat saja pada sosok Maladi yang sempat menjabat sebagai Menteri Penerangan Pemerintahan Bung Karno dan terkenal sebagaipengarang lagudengan judul ?Nyiur Hijau? itu. Ketikamasih berstatus sebagai siswa AMSalmarhum Pak Maladi sudah menjadi keeper (penjaga gawang) yang hebat dan kelas nasional dan bahkan kelas internasional kala itu. Kesebelasan nasional Hindia Belanda ketika itu disegani di Asia dan meruapakan lawan yang lumayan tangguh bagi kesebelasan bangsa-bangsa Eropa.

Teknologi informasiyang belum berkembang masa itu pastilah tidak banyak membantu para pemuda untukbisa belajar dengan meniru para jagoan bola yang terkenal di dunia. Radio saja masih dalam taraf awal dan tidak mudah mengakses siaran internasional, apalagi televisi dan video masih belum muncul dalam impian para inventor teknologi tersebut sekalipun. Tidak ada rekaman yang bisa diamati dan kemudian ditiru seperti halnya kita sekarang dapat melihat langsung bagaimana Pele, Maradona, Beckham, Zidane dan para maha bintang beraksi di lapangan rumput.

Namun sejarah persepakbolaan kaum terjajah di Hindia Belandamembuktikan bahwa anak negeri yang terjajah pada waktu itu punya semangat untuk menembus zamannya. Idealisme kawula muda yang telah membuat mereka belajar dana berlatih sepak bola termasuk membentuk organisasi sepak bolaIndonesia. Menurut jurnalis senior Soebagio IN pembentukan PSSI itu kemudian dapat terlaksana di Yogya pada tanggal 19 – 20 April 1930 dengan tokoh utamanya Ir. Raden Soeratin Sosrosoegondo. Seorang pemuda nasionalis terpelajar yang sangat gandrung sepak bola dan lulusan Fakultas Tenik di Jerman. Umumnya pemuda – pemuda Indonesiakala itu (termasuk yang keturunan Tionghoa dan Arab)berusaha berlatih dan meningkatkan kemahiran bermain bola dengan sepenuh hati untuk mengatasiperlakuan diskriminasi dari orang – orang Belanda baik yang asli maupun yang Indo. Karena para pemain ?inlanders? pada waktu itu dianggap tidak punya ketrampilan yang memadai dan ditambah lagi dengan implementasi ?diskriminasi kulit putih/bangsa penjajah atas bangsa jajahan? maka mereka yang merasa lebih tinggi dan lebih hebattidak pernahmemberi kesempatan bermain bersama kepada kelompok yang dianggap inferior.

Berkat kerajinan, ketekunandan semangat berlatih yang menggelora maka kualitas pemain dan permainan para pemuda bumi putera akahirnya bisa menyamai dan bahkan melebihi kelompok Belanda penjajah dan Indo. Akhirnya golongan pemain sepakbola inlander diterima untuk bermain bersama. HAL INI TENTU SANGAT BERBEDA DENGAN KONDISI PERSEPAK BOLAAN INDONESIA DIBAWAH PSSI MASA KINI. Karena kualitas pemain lokal nasional hampir tak pernah maju maju maka ditempuhlah jalan pintas yaitu mengimpor pemain asing?kelas 3 dan kelas 4? dan atau pemain asing yang sudah menua (usia diatas 30 tahun) dengan kemampuan yang sudah melewati masa puncaknya. Perserikatan sepak bola tingkat Kabupaten di tingkat udik seperti Lamongan dan Jepara saja menyewa pemain ? pemain asing macam ini. Celakanya bahkan dalam pertandingan jumlah pemain asing diperbolehkan sampai 5 (lima orang) dari sebelas pemain yang harus ada. Hal ini semakin mempersempit kesempatan pemain-pemain muda lokal untukdapat beperan serta dan mengasah serta meningkatkan kemampuannya.

Bangsa Indonesia selalu berusaha untuk cari jalan pintas alias ?mentalitas menerabas?. Ketimbang membina pemain Indonesia yang membutuhkan waktu belasan tahun lebih cepat dan mudah ?menaturalisasi pemain asing yang lumayan baik yang kebetulan sudah tinggal di Indonesia beberapa tahun dan menikah dengan wanita Indonesia?. Antara lain kita temui si Gonzales yang berasal dari Uruguay. Ini berbeda dengan Malaysiayang menyiapakan kesebelasannya sejak lama dari anak – anak muda kalangan warganegara sendiri. Ada yang keturunan Melayu, Tamil dan Tionghoa. Sebuah konfigurasi yang lengkap yang mencerminkan bangsa ini. Tidaklah mengherankan manakala Garuda Indonesia dalam laga sepak bola lebih banyak harus mengakui keunggulan Harimau Malaysia!

Sampai kapan nasib buruk ini harus dijalani? Sampai Sang Garuda menemukan martabat dan jati dirinya lagi !.

Surabaya, awal Januari 2011.

Beri rating artikel ini!
Tag:

Tinggalkan Balasan