Keteladan warisan nilai-nilai almarhumah Ibu Grietje Soetopo Van Eybergen

Ibu Grietje Soetopo van Eybergen (lahir di Rotherdam Belanda, 18 Oktober 1912– meninggal di Jakarta, 7 September 2011 pada umur 99 tahun) adalah pendiri Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (YPAB) Surabaya. Beliau bersama suaminya Profesor Dr. M. Soetopo pada 9 Maret 1959 mendirikan sekolah untuk anak buta di garasi rumah mereka.

KETELADAN WARISAN NILAI-NILAI ALMARHUMAH

IBU GRIETJE SOETOPO VAN EYBERGEN

DALAM MEMBANGKITKAN KEMULIAAN, KELUHURAN BUDI, DAN KEPEKAAN NURANI  ANAK NEGRI

Tidak Pernah Menyerah Pasti Berhasil

Ibu Grietje Soetopo van Eybergen (lahir di Rotherdam Belanda, 18 Oktober 1912– meninggal di Jakarta, 7 September 2011 pada umur 99 tahun) adalah pendiri Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (YPAB) Surabaya. Beliau bersama suaminya Profesor Dr. M. Soetopo pada 9 Maret 1959 mendirikan sekolah untuk anak buta di garasi rumah mereka.  Mereka tidak pernah meminta biaya apa-apa, dengan motto “Yakin Pasti Akan Berhasil”. Ibu Grietje Soetopo van Eybergen menurut orang-orang yang pernah dekat dengan beliau adalah sosok perempuan yang tegas, disiplin tetapi berhati sangat lembut, dan dermawan.

Ibu Grietje Soetopo adalah seorang perempuan yang mempunyai komitmen yang kuat pada pendidikan untuk anak buta. Pada zamannya Ibu Grietje Soetopo termasuk salah satu dari segelintir istri Mentri Kesehatan pertama Indonesia yang percaya bahwa diskriminasi terhadap anak buta, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan adalah tindakan semena-semena dan harus dilawan. Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya Ibu Gritje Soetopo melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib anak buta.
Dimata anak-anak Ibu Grietje Soetopo adalah lentera bagi mereka untuk mendapatkan kesempatan berjalan dalam terang. Ibu Grietje Soetopo adalah mata hati dan pembimbing anak-anak buta, tanpa pamrih, hanya satu yang dituntut beliau dari anak-anak “jangan pernah menyerah pasti berhasil”.  Menurut anak-anak beliau adalah sosok yang tegas tetapi sangat mencintai anak-anak buta. Saking cintanya beliau menginstruksikan untuk membebaskan anak-anak dari tugas mencuci baju, memasak, dan pekerjaan keseharian. Anak-anak buta hanya boleh belajar. Kepercayaan  yang diberikan kepada beliau  dan ketulusan tanpa batas yang beliau berikan membuat anak-anak terbuka harapan bahwa mereka bisa berhasil berjalan dalam terang menyongsong fajar. Beliau selalu memperjuangkan untuk membantu hak-hak anak-anak buta dan terlantar mendapatkan pendidikan yang layak.

Nilai-nilai yang beliau wariskan akan memberikan tauladan kepekaan nurani dan moral. Sikap sabar, ulet, telaten, dan cermat yang merupakan entitas kebersahajaan dan kejujuran. Beliau mewariskan budaya “proses” dalam mencapai sesuatu.  Beliau tunjukkan dalam perjuangan mendirikan sekolah anak buta melalui budaya proses, dimulai pada Tahun 1956 dengan mengirimkan guru untuk mengikuti pelatihan ke Institut Tunanetra Bandung. Pada tahun 1957 sekolah TK untuk anak buta dibuka. Sekolah berlokasi di Jalan Tegalsari No. 56. Surabaya. Pada tanggal 9 Maret 1959 disahkan akta Notaris dan pada tahun 1965 sejumlah 3 siswa mengikuti ujian sekolah dan dinyatakan lulus. Pada tahun 1966 mendirikan sekolah SMP dengan 3 siswa. Setelah hampir 52 tahun berdirinya YPAB (2011) sekolah yang berlokasi di Jl. Tegalsari 56 dan Jl. Gebang Putih 5 Surabaya di area lahan seluas 10.600 m2. Anak sejumlah 23 siswa SMP dan SMA, yang tinggal di Asrama sejumlah 14 siswa. Sedangkan siswa TK/SD sejumlah 43 siswa.

Ibu Grietje Soetopo dimata kepala sekolah dan guru. Beliau sosok ibu yang sangat perhatian kepada guru baik awas maupun buta. Terlebih apabila seorang guru buta yang miskin tutur P. Eko Purwanto kepala sekolah YPAB. Ibu Grietje setiap kali datang di Gebang Putih selalu berkeliling untuk memeriksa kebersihan lingkungan sekolah dan asrama. Apabila beliau menemukan ada kaca kotor beliau akan langsung menegur tuturnya. Beliau juga sosok yang sangat disiplin, saat anak-anak berlatih angklung posisi tubuh harus tegak, apabila ditemukan ada anak posisi tubuhnya miring-miring maka P. Eko ditegur selaku Pembina angklung .  saat berlatih harus serius tidak boleh bergurau. Beliau juga akan mengoreksi guru yang duduk dengan posisi kepala disandarkan pada sandaran kursi. Guru harus posisi tegak di kursi.

Beliau juga mewariskan  dunia pendidikan yang memanusiakan manusia secara utuh, lahir dan batin, lebih diorientasikan pada hal-hal dengan sentuhan nilai moral, kemanusiaan, dan kemuliaan budi. Beliau juga tidak akan tinggal diam apabila teman-teman tunanetra belum mendapat pekerjaan maka mereka akan  di rehabilitasi untuk mendapatkan kepercayaan diri sampai diangkat menjadi PNS. Beliau akan memperjuangkan guru tunanetra yang diangkat di luar YPAB untuk tetap dipertahankan di YPAB tutur P. Rila Guru penyandang tunanetra yang menurut teman-temannya adalah guru kesayangan beliau. Beliau menyukai irama musik riang untuk lagu-lagu yang dibawakan anak-anak melalui angklung tuturnya. Beliau akan memberikan apresiasi permainan bagus kepada pembina angklung apabila audiens ikut terlibat riang bernyanyi dan merespon penampilan anak-anak. Apabila penonton tidak antusias maka beliau akan menegur Pembina angklung.  Hal senada pernah dialami oleh P. Tjuk pada thaun 2005 pada saat anak-anak diundang bermain angklung di Gubernuran dalam acara peringatan Hipenca. Meskipun kesalahan terletak pada panitia. Beliau menegur oleh karena anak-anak saat pentas para tamu undangan utama sudah pada pulang mengikuti mentri sosial yang meninggalkan acara. Beliau mengatakan untuk siapa anak-anak bermain. Nilai yang beliau wariskan melalui kesenian angklung ini adalah kecerdasan hati nurani, emosi, dan spiritual. Imbasnya, apresiasi keluaran pendidikan terhadap keagungan nilai humanistik, keluhuran dan kemuliaan budi menjadi tumbuh.

Ibu Grietje Soetopo dimata komunitas pada acara mengenang beliau oleh Dewankota, adalah sosok yang mampu menginspirasi, memotivasi, dan memberikan energizer pengabdi sosial yang sedang berjuang seperti yang dituturkan B. Titik Winanti. Beliau juga sosok yang sangat menjaga kesehatan, porsi makan sedikit dengan lauk yang selalu dicari adalah tempe dan tahu tutur B. Yuni salah satu pengurus YPAB. Beliau sangat perhatian dengan orang-orang disekitarnya dengan selalu mengingat hari ulangtahun dan selalu mengunjungi yang sakit tutur B. Yuni lebih lanjut. Dari hasil diskusi 52 tahun beliau mendedikasikan diri untuk kegiatan sosial terutama untuk komunitas tunanetra di negeri tercinta ini, tetapi pemerintah belum pernah memberikan penghargaan. Penghargaan justru beliau peroleh dari BK3S. Beliau memberikan contoh  kepada kita semua sebagai manusia ukuran ke-empat adalah manusia tanpa ciri (tanpa tenger), yang memiliki rasa bebas, bebas dari rasa benci dan sukanya, senang dan susahnya. “Dudu aku lan dudu kowe” menemukan “jati diri” manusia. Manusia tanpa tenger inilah yang akan menemukan kebahagiaan sejati.

Selamat jalan Ibu, Eyang semoga segala yang telah engkau ukirkan di negeri tercinta ini akan senantiasa menjadi tongkat penuntun menuju cahaya terang di kegelapan peradapan dan kebutaan hati yang sedang di rundung bangsa ini. Semoga Allah akan mencatat menjadi amalan yang akan menemani saat menghadap Sang Khalik.

Tinggalkan Balasan