PAHLAWAN

Lukisan MerdekaHari Pahlawan tahun 2008 ini serasa mengguyurkan air segar kepada kita semua, khususnya bagi arek-arek Suroboyo. Apa yang kita tunggu-tunggu selama ini, akhirnya datang juga. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 041/TK/2008, tanggal 6 Nopember 2008, Pemerintah menetapkan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada M. Natsir, KH. Abdul Halim, dan Bung Tomo.

Kelegaan sangat dirasakan, terutama oleh masyarakat Jawa Timur, yang sejak tahun 1982 (setahun setelah wafatnya Bung Tomo) mengusulkan pemberian gelar tersebut. Fenomenal memang ….. peristiwa heroik yang terjadi pada tanggal 10 Nopember 1945 di Surabaya, telah lama ‘diabadikan’ sebagai Hari Pahlawan, tetapi tokoh sentralnya, yang mengobarkan semangat pantang menyerah arek-arek Suroboyo itu, baru diakui ‘secara formal’ kepahlawanannya pada 2008 ini.

Dalam kolom ini, tentunya kita ingin merenungkan sisi yang lebih substantial daripada yang formal tersebut. Mengutip tulisan Endang Suryadinata (ES) di harian jawa pos, tanggal 13 Nopember 2008 : “Yang mendesak, negeri ini sebenarnya lebih membutuhkan jiwa kepahlawanan dari pada selembar kertas penetapan Pahlawan”.

Pastinya, kita semua, tanpa terkecuali, berhak untuk menjadi pahlawan, bahkan wajib, Artinya Hari Pahlawan seyogianya menjadi salah satu momentum bagi tiap-tiap diri untuk merenung, melakukan instrospeksi, sampai sejauh mana jiwa kepahlawanan yang telah ditunjukkan oleh para pahlawan itu telah kita teladani dan kita miliki? Jika kepahlawanan selalu relevan dan sangat dibutuhkan dalam membangun bangsa ini, seperti yang dikatakan ES : “Kita semua bisa berperan mempersembahkan rangkaian pengorbanan tanpa pamrih bagi bangsa, negara, dan kemanusiaan, tanpa terobsesi untuk disebut ?hero atau pahlawan

Untuk bisa ke sana, kita dihadang oleh dua musuh : (1) Nafsu, (2) Setan, justru inilah musuh nyata dan musuh utama kita. Inilah musuh terbesar kita.

Bagaimana sebenarnya anatomi nafsu dan setan itu, kiranya tidak perlu kita bahas, hanya akan menghabiskan energi saja. Yang jelas nafsu dan setan bahu membahu untuk menyesatkan manusia dibawah komando iblis. Dan yang perlu dicatat, setan ada yang dari jenis manusia. Karena itu, kita diperintahkan untuk memohon perlindungan kehadirat Allah SWT dengan membaca do’a : “Katakanlah : “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia ; dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi; dari golongan jin dan manusia” (QS 114: 1-6)

Strategi ibiis dalam menyesatkan manusia, dikemukakan langsung kepada Allah. Iblis berkata : “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan sesat mereka) dimuka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya (QS 15 : 39); kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka (QS 15 : 40). Pastinya, manusia dibuat GR (Gede Rumongso), merasa dirinya benar dan telah melakukan kebaikan, padahal sesungguhnya sesat, Salah satu diantaranya adalah apa yang disebut “Bid’ah”. Contohnya “Selamatan” Berdasarkan hasil Muktamar NU ke-1 di Surabaya, tanggal 13 Rabi’usTsani 1345 H/21 Oktober 1926 M, dinyatakan bahwa selamatan setelah kematian adalah bid’ah yang hina (H. Mahrus Ali, ?Mantan Kiai NU Mengugat Tahlilan, Istighosahan, dan Ziarah Para Wali?).

Strategi lainnya dalam menyesatkan manusia adalah iblis mengarahkan sifat-sifat manusia ke arah yang negatif, karena manusia memang punya potensi kearah itu, disamping potensi kearah positif, sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an : “Dan jiwa serta penyempurnaannya; maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya; sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya, merugikan orang yang mengotorinya (QS 91 : 7-10)

Setidaknya ada tiga belas sifat manusia yang disemai dalam diri manusia oleh-Sang Maha Pencipta agar manusia bisa menuju ke tingkat ‘kehambaan’ dihadapan Allah, tetapi sifat itu pula yang dibidik oleh iblis untuk diplesetkan secara negatif menuju tingkat ?kekafiran?. Ketiga belas sifat itu adalah : meniru, takut, percaya, mempunyai kebiasaan, menghargai pimpinan, perlu pujian, butuh/ingin, berperasaan, berpikir, berubah, bercita-cita, berbeda, serta sadar dan setengah sadar. Dalam dua terbitan yang lalu, telah kami sampaikan aspek positif dan aspek negatif sifat meniru, kemudian aspek positif dan negatif sifat takut, serta bagaimana arahan Qur’an menuju ketingkat ‘kehambaan’.

Strategi ketiga yang diterapkan oleh iblis untuk menyesatkan manusia adalah dengan menjadikan manusia melakukan tindakan berlebihan karena salah persepsi terhadap suatu konsepsi sehingga, meminjam istilah H.N. Casson, keluar dari radius matang, terjerumus kedalam radius abnormal. Contohnya : berani ? nekat, sopan ? berbuat-buat sopan, cinta ? nafsu, kemauan ? keras kepala, rasa hormat ? sifat budak, ambisi ? kekejaman (seperti Hitler), hemat ? serakah, sungguh-sungguh ? fanatik, percaya diri ? egosentris, kebebasan ? kekacauan (sekali merdeka-merdeka sekali), kegiatan ? kekerasan (seperti kerja rodi ala Dandeles), percaya ? takhayul, dermawan ? boros, sayang ? manja, dst.

Bisa jadi, termasuk dalam kategori ini adalah tindakan Amrozi cs. Menurut Prof. Dr. Abd A’la, guru besar IAIN Sunan Ampel Surabaya, dalam tulisannya di jawa pos, tanggal 19 Nopember 2008 menyampaikan sebagai berikut: “Pelacakan makna jihad mengantarkan pada kesimpulan, serangan yang dilakukan Amrozi cs sama sekali tidak memiliki kaitan, bahkan bertentangan dengan jihad”. Maka sampailah Prof. Dr. Abd A’la pada kesimpulan bahwa Amrozi dkk bukan mujahid.

Kewajiban kita hanyalah mengingatkan. Ini batasnya, tidak boleh lebih. Allah menandaskan : “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” (QS 99 :

21-22). Di ayat lain Allah menandaskan : “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah lah yang memberipetunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendakiNya (QS 2 : 272).

Semoga kita dianugerahi oleh Allah jiwa kepahlawanan yang benar, yang berjuang dijalan Allah, seperti KH Mahrus All, yang berani instrospeksi diri dan berani berjalan menentang arus demi kebenaran.

Kita memohon kehadirat Allah SWt untuk ditunjukkan kepada jalan yang lurus, jalan yang diridhoi-Nya. Sesungguhnya tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan dan petunjuk-Nya.

Sumber : M. Djumadi Ramelan, SH

Foto : taufik79.wordpress.com

Beri rating artikel ini!
PAHLAWAN,5 / 5 ( 1voting )

Tinggalkan Balasan