PENDIDIKAN DAN MARTABAT BANGSA

Sejak bulan April sampai bulan Mei bagi bangsa Indonesia penuh dengan momen-momen bersejarah yang sangat erat dan sarat dengan nilai-nilai yang bersangkut paut dengan PENDIDIKAN DAN MARTABAT BANGSA. Ibu Kartini adalah pahlawan kesetaraan derajat antara wanita dan pria yang sangat meyakini bahwa jalan menuju kesetaraan itu tidak ada lain kecuali melalui pemberian kesempatan kepada wanita Indonesia untuk mengenyam pendidikan yang seluas ?luasnya. Ki Hajar Dewantara yang bersama Nyi Hajar sejak muda mennggeluti bidang pendidikan secara langsung maupun tidak langsung telah berjuang untuk mewujudkan amanat dan mimpi Kartini. Ketika kesempatan pendidikan di Hindia Belanda sangat dibatasi oleh penjajah dan lebih banyak ditujukan untuk memenuhi kebutuhan mereka; justru Ki Hajar mendirikan Taman Siswa. Pendidikan Taman Siswa yang dikelola oleh para nasionalis yang visioner, berakhlak dan berintegritas utuh tidak hanya mengajarkan pengetahuan kepada anak didik. Lebih jauh dari itu mereka mengajarkan nilai-nilai luhur tentang ?kebangsaan Indonesia? , mencintai tanah air dan bangsa serta menanamkan kebanggaan menjadi bangsa Indonesia. Taman Sisiwa mengajarkan kepada anak-nak Bumi Putra yang terjajah yang biasa dilecehkan dengan sebutan ?INLANDERS? agar bangkit dan tidak merasa lebih rendah dari orang Belanda. Bagaimana sebuah bangsa akan mendapatkan kehormatan dan bermartabat kunci utamanya adalah pendidikan yang baik dan berwawasan kebangsaan. Bangsa China ( termasuk generasi mudanya ) tidak akan melupakan pelecehan yang dilakukan oleh Jepang yang terkenal sebagai ?PERISTIWA SHANGHAI? pada akhir tahun 1930-an. Demikian juga bangsa Korea menggunakan ?penderitaan dan pelecehan? oleh Jepang yang telah menjajah negeri ini selama 35 tahun untuk bangkit , maju , mengejar ketertinggalan dari bangsa lain. Benchmarknya adalah Jepang. ?Korea harus dapat mengalahkan Jepang!? itulah slogan hidup bangsa Korea (dhi Korea Selatan). Biarpun pada tataran permukaan kedua bangsa ini nampak bersahabat namun pada tingkat yang lebih hakiki ?ada persaingan yang kuat diantara keduanya!? Kita tidak akan menemukan Boss atau Pejabat Birokrasi Korea Selatan yang memakai mobil Toyota atau Honda meskipun secara finansial mereka mampu. ?Cintai , beli dan pakai produk Korea Selatan!? Tidak mengherankan manakala Chaebol Korea Selatan seperti SAMSUNG, LG, HYUNDAI dan lain-lain sudah langsung berhadapan dengan pesaing mereka baik yang dari Jepang, dari Amerika dan dari Eropa di seantero pasar dunia. Kalau toch kemudian kita melihat bahwa Olimpiade diselenggarakan secara bersama oleh Jepang dan Korea Selatan dan tahun lalu diselenggarakan oleh China semua itu adalah buah dari pendidikan bangsa yang selama berpuluh tahun dengan perencanaan strategis dan dijalankan secara istiqomah. Alhasil bangsa Korea Selatan dan bangsa China menjadi bangsa yang terhormat dan bermartabat yang berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa yang jauh lebih maju. Bahkan bangsa-bangsa yang dimasa lampau menjadi penjajah mereka. Bagaimana kondisi bangsa Indonesia dalam kaitan dengan pendidikan. Departemen Pendidikan Nasional nampaknya mendekati kualitas pendidikan sekedar dari sisi sertifikasi guru dan dosen . Seakan-akan kalu gurunya ?bersertfikat? semua akan beres. Para petinggi DIKNAS lupa bahwa bangsa Indonesia yang sudah kehilangan ?rasa malunya? pasti akan menyikapi ?sertifikasi? dengan cara-cara ?yang sangat lihai? dan dilakukan secara berjamaah. Semangat ?korupsi berjamaah? sudah menjadi bagian kehidupan dari bangsa ini sehingga tidak mungkin akan hilang begitu saja hanya karena ada pembentukan KPK (yang Ketuanya lagi bermasalah). Pendidikan yang berkualitas hanya dapat diselenggarakan oleh para pamong didik yang berkualitas dalam arti seutuhnya. Mereka haruslah manusia-manusia Indonesia yang cinta kepada bangsa dan tanah airnya dan bersedia dan rela berkorban demi sesuatu yang mereka cintai. Tentu bukan para guru yang menjadi ketakutan karena muridnya harus menghadapi Ujian Akhir Nasional dan berusaha membuat para murid lulus dengan segala cara yang non akademik. Kepercayaan atas integritas guru dalam menyelenggarakan UNAS sehingga harus dikerahkan Tim Pengawas dari Perguruan Tinggi Negeri. Sungguh menyedihkan. Pertanyaan kita apakah dengan pendidikan yang hanya mengandalkan kelulusan formal dan ijasah serta sertifikat akan mampu menghasilkan manusia-manusia muda Indonesia yang berkualitas, pilih tanding, terhormat dan bermartabat?

Surabaya awal Mei 2009

Beri rating artikel ini!
Tag:

Tinggalkan Balasan