PENGHUNI LIPOSOS KEPUTIH, MASIH PUNYA SECERCAH HARAPAN

Bapak katanya hari ini keluar, kapan pak??. Bapak saya sudah sembuh, tolong telpon keluarga saya?. Bapak, tolong keluarkan kami dari sini?. Mas minta rokoknya?.?. ?Ada juga cengingisan ?hehehehe?. Tawa mereka masih terlihat sangat ramah walau dalam keadaan seperti itu?.

Suara-suara iba itu keluar dari mulut-mulut mereka seperti mereka dalam suatu penjara yang tidak bisa mereka lewati. Begitulah pertama kalinya kami dari Tim Warta Sosial BKKKS Jawa Timur yang terdiri dari 3 orang yang diantar oleh Bapak Moch Hisyam (Salah satu staff di LIPOSOS Keputih) melewati satu persatu ruangan penghuni Liposos yang dikelola oleh Dinas Sosial dan letaknya di Jl. Keputih Tegal, melewati TPS Keputih.

Mereka yang dibawa ke sini jika mereka tidak menunjukkan identitas/KTP dan asal mereka dengan jelas. Mereka juga ada yang bawa anak dan satu keluarga. Jikalau mereka terlihat menggelandangan di jalan kemungkinan saja dia akan diikutkan juga ke mobil polisi dan kemudian dibawa ke liposos ini.

Di ruang lain anda bisa melihat para orang sakit jiwa yang ditemukan di jalan dengan keadaan tanpa busana disatukan sama mereka yang memiliki nasib yang sama. Melihat kondisi ruang yang sempit dan kotor serta tempatnya yang tidak kondusif dari kesehatan. Terlihat beberapa tempat sangat kotor, dibuat tidur, tapi pada beberapa kesempatan mereka menjabat tangan kita, serasa mereka masih punya secercah harapan.

Dari data jumlah penghuni yang dirawat sampai Oktober 2008 sebanyak 612 dengan komposisi 314 laki-laki dewasa dan anak-anak dan 298 perempuan dewasa dan anak-anak, campuran orang sakit jiwa, gepeng, jompo, dan anjal, harus berbagi 30 kamar dan 2 bangsal. Para gepeng harus mengalah tinggal di bangsal karena kamar lebih safe untuk para orang sakit jiwa. Masing-masing kamar ditempati idealnya dua orang sakit jiwa. Namun, karena orang sakit jiwa di Liposos Keputih mendominasi jumlahnya, yakni 421 orang, tak urung mereka terpaksa ditidurkan di bangsal yang sebenarnya menjadi tempat tinggal dan tidur para gepeng dan anjal.

Tak ada pilihan, berbaurlah para orang sakit jiwa itu di bangsal. Berapa jumlah orang yang berjubel di bangsal, tinggal kalkulasi saja. Sebanyak 30 kamar yang masing-masing dilengkapi sebuah fasilitas kamar mandi dan WC hanya mampu menampung 60 orang (jika tiap kamarnya diisi 2 orang). Kamar-kamar itu pun sudah dibagi, 15 kamar dihuni 30 laki-laki dan 30 sisanya untuk perempuan. Karena total gepeng, orang sakit jiwa, dan anjal di Liposos Keputih 612 orang, berarti ada 552 orang yang tak kebagian kamar dan mereka harus tinggal di bangsal dengan beralaskan ubin semen.

Sungguh memprihatinkan. Padahal, idealnya Liposos itu layak huni untuk 250 – 300 orang. Kalau kita tidur di kamar bertiga saja dengan sanak keluarga kita, sumuknya minta ampun. Apalagi tidur berjubel dengan ratusan orang?

Di liposos ini juga memiliki pegawai-pegawai, antara lain tugas mereka adalah memasak, membersihkan ruang, memandikan, mengantar dan lain-lain, termasuk merawat orang sakit jiwa tetapi jumlahnya tidak memadai dengan beban tugas yang harus mereka pikul, membayangkan saja susah. Belum lagi perawatan orang sakit jiwa harus bareng dengan mengurus gelandangan dan pengemis (gepeng), orang jompo, dan anak jalanan (anjal) ditengah keterbatasan pemahaman tentang penangananan penyandang masalah sosial dan terbatasnya tenaga.

Kondisi demikian rupanya sudah mulai mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Surabaya, antara lain perhatian itu tampak dari dimulainya pembenahan taman dan rencana menambah tenaga disitu serta penempatan semacam Puskesmas pembantu dilokasi tersebut, sehingga upaya penanganan kesehatan bisa lebih intensif.

Saat ini untuk kesehatan, mereka selalu diperiksa rutin dari Dinas Kesehatan atau Puskesmas setiap Sabtu dan untuk pemeriksaan kejiwaan dari rumah sakit jiwa Menur yang diperiksa setiap hari Kamis, untuk kebersihan diri, tak jarang para petugas memandikan para pasien dengan dikumpulkan jadi satu dalam barak dan disemprot secara bergantian. Secara umum berarti ada kesalahan prosedur penanganan para korban terutama penyandang penyakit jiwa. Mestinya Liposos fungsnya hanya sebagai tempat penampungan sementara. Selanjutnya, mereka dirawat di RSJ guna penyembuhan. Namun, selama ini Liposos cenderung sebagai tempat pengasingan bagi mereka dan ditambah membengkaknya penghuni di Liposos ini karena digalakkanya operasi penangkapan para gelandangan dan para penyandang sakit jiwa

Di sisi lain, kondisi RSJ baik di RSJ Menur dan RSJ Karangmenjangan maupun di RSJ Lawang terpaksa menolak kiriman pasien dari Liposos, dengan alasan penuh. Kondisi demikian bisa memupus harapan akan kesembuhan mereka, namun untuk klien yang lain, seperti eks penyandang psikotik, gelandangan pengemis dan lanjut usia secercah harapan itu semakin merekah dengan adanya kemitraan dengan UPT Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur dimana diantara mereka bisa direferel ke UPT Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur untuk mendapatkan bimbingan fisik, mental, sosial dan ketrampilan dengan fasilitas dan tenaga yang lebih memadai.

Tag:

2 Respon

  1. author

    bary_bonita@gmail.com11 tahun ago

    “Namun untuk klien yang lain, seperti eks penyandang psikotik, gelandangan pengemis dan lanjut usia secercah harapan itu semakin merekah dengan adanya kemitraan dengan UPT Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur dimana diantara mereka bisa direferel ke UPT Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur untuk mendapatkan bimbingan fisik, mental, sosial dan ketrampilan dengan fasilitas dan tenaga yang lebih memadai”

    Apa hal diatas itu benar, secercah harapan apa yang didapat dari kerja Dinas Sosial, mana wujud konkritnya?

    Balas
  2. author
    Penulis

    admin11 tahun ago

    Para penghuni Liposos Keputih dapat dipindahkan ke Panti-panti milik Dinas Sosial Jawa Timur atau yang masih langsung dibawah Departemen Sosial dan Departemen Kesehatan untuk mendapatkan perawatan yang yang lebih spesifik sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing.

    Kita memang jauh dari puas atas pelayangan instansi/lembaga pemerintah yang menangani manusia-manusia Indonesia yang kurang beruntung ini namun kita masih yakin bahwa ada optimisme bahwa dengan banyaknya masukan dan kritik yang kita tujukan kepada mereka maka pelayanan akan menjadi lebih baik dimasa masa yang akan datang (Redaksi)

    Balas

Tinggalkan Balasan