SEABAD HARI KEBANGKITAN NASIONAL & KEBANGKRUTAN NASIONAL

Bulan Mei tahun 2008 ini kita telah rayakan satu abad Hari Kebangkitan Nasional yang ditandai dengan kelahiran Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Orang boleh meragukan dan berdebat tentang mengapa kelahiran Budi Utomo yang diprakarsai oleh Soetomo seorang mahasiswa sekolah kedokteran di Batavia (Jakarta sekarang) begitu punya arti penting bagi bangsa yang bernama Indonesia ini. Apalah artinya kelahiran sebuah organisasi dari sekumpulan mahasiswa suku Jawa ini? Ia tidak sehebat perlawanan Sultan Hasanuddin di Makasar, Perang Padri Tuanku Imam Bonjol di Sumatra Barat, Perang Diponegoro dan bahkan Perang Aceh yang memunculkan Teuku Umar dan Cut Nyak Dien sang Srikandi pejuang tanpa akhir. Perang dengan pedang, senapan dan darah yang tercurah dari gugurnya ratusan ribu pahlawan itu ternyata tidak ada yang kemudian membawa suku-suku bangsa di kawasan kepulauan Nusantara ini dapat melepaskan diri dari cengkeraman penjajah Belanda, Sebuah bangsa kecil yang tinggal puluhan ribu kilometer nun jauh disana. Mahasiswa Soetomo dkk konon mendapat inspirasi untuk mendirikan organisasi moderen ini setelah mendengarkan ceramah dan berdiskusi dengan Dokter Wahidin Soedirohoesodo yang jauh lebih senior dan merupakan alumnus dari angkatan terdahulu dari STOVIA. Salah satu hal yang menjadi dasar pemicu tekad mereka ini adalah peristiwa kemenangan Admiral Togo yang berhasil menghancurkan armada kekaisaran Rusia di Selat Tsushima pada tahun 1905. Terbukti bangsa Timur (Jepang) dapat mengalahkan bangsa Barat (Rusia) dalam peperangan dengan satu persyaratan :?Gunakan Teknologi dan Ilmu Pengetahuan Barat (moderen)!?. Ternyata Jepang telah membuktikan kebenaran thesis ini dalam waktu yang tidak terlalu lama menyusul Restorasi Meiji yang mengakhiri politik ?Splendid Isolation? (menutup diri dari dunia luar untuk mempertahankan budaya adiluhung bangsa Jepang) yang diterapkan oleh Keshogunan Tukugawa selama hampir 250 tahun. Restorasi Meiji yang membuka diri telah membuat anak-nak muda Jepang belajar ke pusat-pusat pengembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di dunia ketika itu. Inggris, Jerman, Perancis dan Amerika. Pendidikan yang berkualitas dan berstandard dunia menjadi sangat penting kalau kita ingin punya martabat yang sejajar dengan bangsa manapun yang hebat. Sejarah bangsa kita mencatat bahwa Budi Utomo lebih lanjut memberikan inspirasi kepada pemuda pemudi yang menggeluti dan mendapatkan pendidikan moderen kala itu untuk membuat kesepakatan besar dan agung pada tanggal 28 Oktober 1928 yang layak disebut sebagai Hari Kelahiran Bangsa, Bahasa dan Tanah Air Indonesia. Sebuah konsep yang imajiner tetapi nyata! Lebih Lanjut Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 yang dilakukan oleh Bung Karno dan Bung Hatta didepan eksponen pejuang bangsa di Jakarta adalah puncak pembuktian pentingnya pendidikan bagi kemenangan perjuangan sebuah bangsa. Bung Karno dan Bung Hatta serta para pemuda dan pemudi yang terlibat dalam proklamasi kemerdekaan dan kemudian yang terlibat dalam perjuangan bersenjata mempertahankan kemerdekaan sebagian terbesar adalah hasil dari pemanfaatan ?Politik Balas Budi?yang dianut oleh pemerintah Kolonial Belanda yang mulai memberikan pendidikan kepada anak negeri jajahan sejak akhir abad ke 19. SENJATA TELAH MAKAN TUAN!

Perkembangan negeri ini setelah 62 tahun merdeka nampaknya tidak secerah harapan para pemuda yang melahirkan konsep bangsa dan tanah air Indonesia. Berbagai kesalahan telah diperbuat dari waktu ke waktu telah membuat bangsa ini meskipun disana sini mengalami kemajuan namun harus diakui bahwa telah kedodoran dan tertinggal di belakang dibandingkan bangsa lain di dunia. Termasuk jika dibandingkan bangsa serumpun yang menjadi tetangga sebelah rumah; Malaysia. Pelengseran Pak Harto sepuluh tahun yang lalu ternyata tidak dapat dipakai sebagai momentum untuk melakukan upaya-upaya perbaikan disemua aspek kehidupan seperti apa yang diimpi-impikan oleh para mahasisiwa yang menggelindingkan roda Reformasi. Para elite bangsa yang didominasi oleh para politisi partai lebih sibuk untuk dagang sapi, rebutan kekuasaan dan berlomba-lomba memperkaya diri dengan melakukan korupsi habis-habisan disemua bidang. Slogan Anti KKN ( Korupsi-Kolusi-Nepotisme) gerakan reformasi yang menjadi motto perjuangan untuk mengakhiri Rezim Korup Orde Baru justru telah dibuang ke keranjang sampah oleh para elite dan penguasa negeri ini. Indonesia pasca Suharto telah diperintah oleh sebuah plutocracy yang sebagian besar ekaponennya adalah para saudagar dan politisi busuk dari lapisan tertinggi sampai kelapisan terendah dan merata diseluruh penjuru Indonesia. Money Politics begitu merajalela. Semua aspek kehidupan diukur dengan uang. Kalau toch Pancasila masih disebut sebut sebagai dasar negara , falsafah dan way of life bangsa Indonesia. Dibawah rezim para saudagar dan politisi busuk sila pertama telah dirubah menjadi ?KEUANGAN YANG MAHA KUASA?. Di Indonesia pada dewasa ini seakan akan berlaku adagium : ?Everything Money Can Buy!? Mau beli Jaksa Agung dan Hakim Agung bisa, Anggota DPR yang terhormat sangat bisa. Pengangguran jumlahnya hampir 30 juta dan jumlah penganggur dengan ijasah sarjana dan diploma lebih dari satu juta orang. Pendidikan menjadi semakin mahal, demikian juga kesehatan. Ungkapan yang berlaku adalah : ?Orang miskin dilarang sakit dan anak mereka dilarang bersekolah!? Jumlah penduduk miskin sudah meelewati angka 100 juta apalagi dengan kenaikan harga BBM akan bertambah banyak keluarga yang drop out dari status sosial ekonomi yang sebelumnya dan menjadi miskin. Dengan kondisi semacam ini maka tidak berlebihan manakala banyak pihak yang mengatakan bahwa SEABAD PERINGATAN HARI KEBANGKITAN NASIONAL diperingati dalam kondisi oleh bangsa Indonesia di tubir jurang KEBANGKRUTAN NASIONAL!

Sungguh sangat menyedihkan.

Tinggalkan Balasan