BK3S || BK3S JATIM || BKKKS || BKKKS JATIM || SOSIAL
Berita

SUARA HATI KORBAN BANJIR DI BOJONEGORO

Bencana banjir di Bojonegoro pada akhir bulan Desember kemarin merupakan peristiwa banjir terdahsyat yang menimpa kota Bojonegoro. Pada tahun-tahun sebelumnya, banjir hanya melanda daerah-daerah atau rumah yang dekat dengan Bengawan Solo saja. Pada bulan Pebruari sampai pertengahan Maret 2008 saja sudah 3 kali banjir. Selama tahun 2007 kota Bojonegoro setidaknya sudah 4 kali terendam banjir.

Yang paling besar adalah pada akhir tahun 2007 hingga Januari 2008, saat air tidak surut hampir 2 pekan di Kota Bojonegoro. Banjir sepertinya tidak beranjak dari kawasan itu. Pada hari pertama, tanggal 28 Desember 2007 sekitar pukul 03.00 air bengawan meluap sampai di pinggiran kota. Sekitar pukul 15.00 sore harinya, air sudah memasuki wilayah perkotaan dan menenggelamkan sebagian pemukiman penduduk kota Bojonegoro. Keesokan harinya sekitar pukul 01.00 sebagian wilayah perkotaan terendam air terutama rumah yang terdekat dengan aliran Bengawan Solo.

Pada hari ke dua kota Bojonegoro dilanda banjir, jumlah rumah yang tenggelam bisa semakin banyak karena air terus meninggi menjelang malam, air semakin deras dan akhirnya meluap menerjang pemukiman. Semakin lama permukaan air kian tinggi. Wargapun mulai panik. Dengan tidak terduga air Bengawan Solo meluap merendam hampir 90 % wilayah kota Bojonegoro.

Tempat tinggal kamipun terendam banjir. Seketika itu juga, anggota keluarga kami dan warga sekitar dievakuasi oleh tim relawan dari PSBR ?Mardi Waluyo? Bojonegoro. PSBR ?Mardi Waluyo? pada saat itu juga menerima para pengungsi kurang lebih sejumlah 450 pengungsi. Diantara para pengungsi, terdapat anggota keluarga tim relawan dari karyawan/ karyawati PSBR ?Mardi Waluyo? sendiri. Meskipun tim relawan juga terkena musibah, namun kami tetap bersemangat membantu para korban banjir dengan memberikan pertolongan berupa bahan makanan minuman dan kesehatan.

Kami mendapat pengakuan dari salah satu warga pengungsi yang terkena musibah banjir karena kepanikannya saat melihat air memasuki rumahnya pertama kali yang dilakukan adalah mengambil jemuran yang ada di belakang rumahnya dan spontan langsung dimasukkan ke dalam tas untuk diselamatkan. Korban baru tersadar saat di pengungsian karena ternyata yang diamankan bukannya celana dalam melainkan lap sepeda motor dan lap-lap lain yang tidak berguna (gombal / kain-kain kecil untuk bersih-bersih). Spontan celetuk korban ?Owalah??!! Tiba?e gombal amoh sing tak gowo, lha aku nganggo kathok opo??!!?.

Lain lagi dengan pengalaman yang dialami keluarga saya saat air sudah meninggi. Ibu tidak bersedia dievakuasi (tetap bersikukuh tidak mau beranjak meninggalkan rumah yang sudah tenggelam. Tapi tim relawan PSBR ?Mardi Waluyo? tetap memaksa ibu untuk dievakuasi, dan spontan saja salah satu tim relawan mengangkat panic-panci dan kompor yang dikira milik ibu. Lha kok ternyata barang-barang itu aadalah milik tetangga. Sementara itu, salah satu tim relawan yang sudah merasa kelaparan saat itu juga tanpa berpikir panjang langsung menyantap tempe goring yang ada di atas tanggul. Tak berapa lama seseorang menyeletuk ?Tempeku mana??. Dengan ekspresi bersalah dan malu, salah satu tim relawan tersebut langsung minta maaf karena dikira itu tempe milik ibu.

Saat banjir terbesar pada akhir bulan Desember kemarin, sebagian warga sempat bertahan di rumah. Selain karena alasan menjaga barang-barangnya, mereka juga beranggapan air akan segera surut, namun air ternyata terus naik. Hal ini membuat warga khawatir. Bagi warga yang sama sekali belum pernah kebanjiran, tidak pernah menyangka kalau banjir besar bakal masuk ke rumahnya. Mereka mengaku tidak pernah membayangkan, apalagi mengalami bencana banjir seperti kemarin. Sungguh tak percaya. Air yang masuk rumah terlalu deras, sampai-sampai warga hanya tercengang setengah tidak percaya karena kejadiannya begitu cepat. Dirinyapun tidak sempat berpikir untuk menyelamatkan seluruh barang-barang berharganya.

Itu adalah gambaran warga mengalami kepanikan saat air memasuki rumah mereka. Masih banyak lagi cerita-cerita menarik yang dialami para korban banjir. Derasnya arus banjir sungai terpanjang se-Jawa itu merusak jalan dan menghancurkan rumah-rumah warga dan tak terhitung jumlah korban yang kehilangan harta benda yang mereka miliki. Selain itu juga memorak-porandakan tempat pemakaman umum (TPU). Bahkan, beberapa kain kafan pembungkus mayat menyangkut di pepohonan. Satu-satunya alat transportasi yang bisa digunakan saat itu adalah perahu ?gethek? (terbuat dari pohon pisang).

Saat air mulai surut, warga terlihat mulai membersihkan rumah dari lumpur dan mengeringkan perabot. Sebagian ada yang mengangkuti barang-barang dari tanggul ke rumah masing-masing. Namun ada juga warga yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian di atas tanggul Bengawan Solo. Mereka enggan segera pulang, karena khawatir terjadi banjir susulan.

Bencana banjir yang terjadi setiap tahun disebabkan oleh 2 (dua) faktor, yang pertama karena akibat ulah manusia (kebiasaan membuang sampah sembarangan dan menebangi pohon-pohon secara liar). Yang kedua, karena faktor alam (fenomena alam karena adanya curah hujan yang tinggi, gelombang laut yang tinggi, dan lain-lain).

Musibah ini tentunya mempunyai banyak dampak buruk bagi penduduk terutama korban bencana banjir. Untuk dampak psikologis yaitu adanya perubahan terhadap psikis/kejiwaan/mental yang dirasakan, antara lain : perubahan perilaku (marah, panik, kacau, trauma); perubahan perasaan (munculnya rasa cemas akan masa depan, sedih, tertekan, putus asa, mudah tersinggung); perubahan dalam berpikir yang ditandai dengan mudah lupa dan sulitnya memusatkan perhatian.

Sedangkan untuk dampak sosial menyebabkan : kebiasaan yang berubah karena adanya kehilangan, perpisahan ataupun kematian pasangan hidup, anak atau orang-orang di sekeliling; adanya lingkungan fisik/bangunan yang rusak dan kebiasaan masyarakat yang berubah, rusaknya tempat pelayanan umum seperti rumah sakit, puskesmas, sekolah, dan lain-lain.

Selain itu, juga ada beberapa reaksi umum yang dialami korban bencana banjir, yaitu merasa kosong, bengong serta tidak mengerti apa yang harus dilakukannya; gampang panik; menangis tanpa sebab; susah makan; sedih; kelelahan; sulit berkonsentrasi dan mengambil keputusan; mudah tersinggung, kecewa dan cepat marah; cemas akan masa depan; serta merasa tidak nyaman tinggal di rumah (terdengar informasi akan ada banjir susulan).

Reaksi korban bencana banjir terdapat perbedaan. Saat terjadi banjir, mereka yang bertempat tinggal di dekat pinggiran Bengawan Solo bersikap santai dan tidak panik dengan kedatangan banjir. Mereka merasa bahwa daerah tempat tingggal mereka sudah sering menjadi langganan untuk penampungan banjir. ?Banjir teko yo ora kaget, lha wong pancenne wis dadi langganan, arep piye maneh?!!?, ungkap salah satu korban banjir yang tinggal di pinggiran Bengawan Solo. Sedangkan mereka yang bertempat tinggal jauh dari pinggiran Bengawan Solo merasa panic, tercengang dan bingung apa yang harus dilakukan. Sambil mengelus dada ?Kok iso banjir iki piye to???!!?, merupakan ungkapan rasa kaget dan heran melihat tempat tinggal mereka terendam banjir karena selama ini tempat tinggal mereka tidak pernah kebanjiran.

Tidak dipungkiri bahwa banjir memang merepotkan. Untuk mencegah kerugian yang lebih besar akibat banjir, ada hal-hal yang perlu dilakukan pada saat sebelum banjir, selama terjadi bajir, dan sesudah banjir, yaitu :

  1. Persiapan menghadapi banjir/sebelum banjir, sebaiknya membuat perencanaan dan tindakan antisipasi yaitu langkah-langkah evakuasi dan menetapkan lokasi yang aman untuk mengungsi; memantau perkembangan informasi; memindahkan barang-barang penting ketempat yang dianggap aman; menyiapkan bahan makanan / minuman instant yang akan dibawa ke lokasi pengungsian (dikhawatirkan saat di pengungsian belum tersedia bahan makanan).
  2. Selama terjadi bajir, sebaiknya menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman; menyiapkan obat-obatan untuk pertolongan pertama; menyiapkan senter/baterai, lilin.
  3. Setelah banjir, sebaiknya membersihkan sisa-sisa lumpur yang ada di lantai/menempel di dinding sesegera mungkin, agar tidak menimbulkan debu. Oleh karena itu akan lebih baik jika saat air di dalam rumah mulai surut (hilang) hendaknya segera membersihkan lumpur-lumpur yang menempel.

Ada beberapa saran untuk warga di daerah yang sering terkena banjir, yaitu:

? Tidak boleh panik
? Meningkatkan kewaspadaan
? Slalu tanggap pada bencana yang akan terjadi
? Menyadari bahwa bencana itu adalah kehendak Tuhan (Jadi tidak ada pihak yang saling menyalahkan)

Bagaimanapun, menyelamatkan kehidupan manusia merupakan yang terpenting diatas semua hal. Untuk menghadapi situasi dan kondisi yang ditimbulkan bencana banjir tersebut diperlukan pengertian terhadap kondisi para korban ini baik itu perhatian maupun dukungan dari berbagai pihak dalam kurun waktu tertentu kurang lebih satu bulan untuk mengembalikannya ke situasi seperti semula. Oleh : Mianung

Related posts

BUKA PUASA BERSAMA

bk3s

Peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2012

admin01

Pengurus BKKKS Provinsi Jawa Timur dan Yayasan BK3S Jawa Timur Audiensi dengan ibu Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M. SI (Gubernur Jawa Timur Terpilih 2019-2024)

admin01