BENCANA NASIONAL YANG MAHA DAHSYAT ITU BERNAMA ……

Prakata : Secara matematik, pasti, kita kini telah 62 tahun merdeka dari penjajahan. Tetapi benarkah kita telah merdeka dari kebodohan? Satu dari lima cita-cita kemerdekaan kebangsaan ini dengan sangat indah oleh para pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dilukiskan pada pembukaan UUD RI Tahun 1945 ALINEA KEEMPAT

BENCANA NASIONAL YANG MAHA DAHSYAT ITU BERNAMA KEBODOHAN

MERDEKA, MERDEKAA, MERDEKAAA

Secara matematik, pasti, kita kini telah 62 tahun merdeka dari penjajahan. Tetapi benarkah kita telah merdeka dari kebodohan? Satu dari lima cita-cita kemerdekaan kebangsaan ini dengan sangat indah oleh para pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dilukiskan pada pembukaan UUD RI Tahun 1945 ALINEA KEEMPAT yang antara lain berbunyi : … …

?melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, … mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?

Inilah maksud kemerdekaan yang ingin dicapai para pendiri Republik Indonesia. Menghapus kemiskinan memang tidak tampak secara eksplisit pada alinea tersebut. Tetapi kalimat memajukan kesejahteraan umum termaksud didalamnya usaha untuk menghapus kemiskinan tersebut. Kalimat selanjutnya apabila diringkas menyatakan bahwa dasar negara adalah Pancasila.

Bagaimanakah hasil yang telah tercapai?

Adalah sangat tepat bila langkah utama yang telah diambil oleh pemimpin bangsa adalah pendidikan tentang kepancasilaan. Dulu pendidikan ini pernah sangat intensif dilaksanakan terutama pada era orde baru. Usaha untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila itu terkenal dengan sebutan ?Penataran Pedoman dan Pengahayatan Pancasila (P4)?. Saat ini, benarkah budaya Pancasila telah dapat menggantikan budaya penjajah dan keterjajahan? Jika budaya penjajah dan keterjajahan itu masih hidup dalam sistem kehidupan dan penghidupan bangsa, termasuk sistem pemerintahan, dapatkah kita keluar dari kemiskinan dan kebodohan? Jika kebodohan dan sebaliknya itu diartikan sebagai tingkat penguasaan informasi, maka di Indonesia akan terdapat puluhan juta penduduk yang dalam kategori ?bodoh?. Karena ada jutaan penduduk yang aksesibelitas dan penguasaan informasinya sangat rendah. Dengan puluhan juta penduduk miskin dan bodoh itu dapatkah budaya Pancasila itu dikembangkan? Ingat teori Maslow, mereka yang mengalami kesulitan hidup, yang dikejar adalah pemenuhan kebutuhan fisik. Kebutuhan yang lain adalah nomor ketiga dan seterusnya. Inilah sederetan pertanyaan yang perlu direnungi dalam rangka pengisian kemerdekaan yang kini telah mencapai 62 tahun.

Apakah indikator kecerdasan?

Untuk menggambarkan kebodohan, berikut ini dikemukakan indikator kecerdasan. Khairul Ummah dkk (2005), mengemukakan lima kecerdasan utama yang disingkat dengan SEPIA, yaitu Spiritual, Emosional, Power, Intellectual, Aspiration. Namun pada tulisan ini akan mengambil tiga bentuk kecerdasan yang telah lebih populer, yaitu kecerdasan intelektual, emosional dan spritual yang ketiga-tiganya sesungguhnya saling berhubungan. Tanpa kecerdasan intelektual orang tidak dapat banyak berbuat, karena kecerdasan intelektual menghubungan orang dengan fakta-fakta, pengetahuan dan ilmu tentang dunia dengan segala fenomenanya, dan kehidupan. Frasa ini dapat dikemas dalam satu kata yaitu informasi. Jadi orang cerdas adalah orang yang menguasai informasi. Lebih cerdas lagi jika dia dapat memanipulasikan informasi tersebut. Kecerdasan emosional mempunyai konotasi yang berbeda, yaitu kondisi emosi yang mengarahkan pada sikap dan perbuatan yang adaptif, asosiatif, dan kooperatif sehingga terjadi hubungan sosial yang saling menguntungkan dan menyenangkan. Orang yang cerdas emosi pandai menempatkan diri, mengambil keputusan yang mempunyai keindahan psikologis dan sosial. Sedangkan kecerdasan spiritual mengarahkan pada perbuatan yang diridloi Allah sehingga selamat dari siksa api neraka, yaitu orang-orang yang tidak menimbulkan kerusakan di muka bumi, tidak membuat permusuhan satu sama lain sehingga mereka cerai berai, serta tidak melakukan kemubadziran dan tidak melakukan perbuatan yang sia-sia.

Menurut Rasulallah orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengingat tentang kematian. Sebaik-baik orang adalah orang yang memberi manfaat bagi orang lain, tanggannya diatas, dan sunah perbuatannya. Dari sini dapat dikemukakan bahwa orang cerdas adalah orang yang selalu berkeinginan menjadi orang yang terbaik walaupun dalam pengertian relatif.

Khairul Ummah dkk menempatkan kecerdasan spiritual tidak sama dengan kecerdasan religi. Ditekankan bahwa kecerdasan spiritual adalah kebermaknaan hidup seseorang bagi orang lain. Pendapat ini sebenarnya sudah tercakup dalam hadis-hadis yang dikutip di atas.

Indonesia yang dengan dasar negara Pancasila, maka dapat diasumsikan bahwa bangsa Indonesia adalah cerdas bila bangsa ini mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Pengamalan nilai-nilai Pancasila telah mencakup semua bentuk kecerdasan.

Bencana dan Kecerdasan

Tsunami yang dahsyat telah melanda Aceh. Bencana-bencana lain yang cukup dahsyat juga telah melanda berbagai daerah di negara kita berupa banjir, banjir bandang, gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, kekeringan, kekurangan pangan, kebakaran hutan dan terakhir benar-benar bencana dalam bentuk baru, yaitu semburan lumpur panas dengan kapasitas 25.000 – 126.000 M3 per hari, di Kecamatan Porong Jawa Timur, dan oleh karenanya tiga buah desa telah tenggelam dalam lumpur panas tersebut. Flu burung sebenarnya juga tergolong bencana. Korban manusia meninggal memang kecil. Tetapi pemusnahan jutaan unggas pada akahirnya berdampak pada kemiskinan dan penderitaan peternak unggas. Ketidakcerdasan tampak dalam kelambatan dalam penanganan korban bencana dan belum tertanganinya secara sistemik masalah-masalah yang terkait dengan pendataan, penanganan korban, sistem distribusi dan transportasi pada daerah bencana yang sulit. Demikian pula sisem komunikasi hampir tidak ada perbaikan selama ini. Hanya keledai yang melakukan kesalahan yang sama sebanyak dua kali. Banjir dan kekeringan dan belakangan ini ditambah lagi dengan kebakaran hutan adalah bencana yang setiap tahun terjadi. Selama itu pula tak ada sistem penangan yang cermat. Suatu kesalahan yang berulang-ulang terjadi lebih dari 30 tahun.

Bencana akibat pergerseran sistem politik karena reformasi atau proses demokratisasi juga tidak kalah serunya. Berapa kerugian yang timbul akibat demo yang anarkhis, perkelahian antara pendukung para kandidat pemimpin/kepala daerah, Anggota DPR/D yang terhormat yang baku hantam. Belum lagi bencana moral yang berbentuk perilaku KKN yang besarnya kerugian negara mungkin melebihi kerugian akibat tsunami dan total seluruh bencana alam lainnya. Bagaimana pula dengan penggundulan hutan/penebangan gelap? Ini adalah deretan bencana yang timbul pada tataran elit yang jauh menggambarkan pencapaian cita-cita kemerdekaan.

Bagaimana pula dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa, jauh dari adil. Akses penduduk miskin terhadap lembaga pendidikan dan pembelajaran semakin nyata kesenjangannya. Namun tidak ada yang mengusik secara sungguh-sungguh kesenjangan ini.

Kemakmuran dan kesempatan (peluang) merupakan dua hal yang paling tampak kesenjangannya. Ada anak-anak yang busung lapar, ditempat lain ada orang yang membuang-buang makanan. Ada anak tidak dapat sekolah karena alasan ekonomi, di sisi lain ada orang yang mampu menyekolahkan anaknya di bagian dunia mana pun yang dikehendaki. Contoh lain masih banyak.

Pepatah Cina mengatakan bahwa ?barang siapa menebar angin akan menuai badai?. Setelah selama 61 tahun merdeka, kini tampaklah hasil-hasil proses pendidikan yang telah dilaksanakan. Tayangan berita TV memperlihatkan kepada kita bahwa kecerdasan itu belum tampak.

Kekerasan, pembunuhan, tayangan yang mengindikasikan porno aksi atau pornografi, walaupun yang satu ini mengundang kontroversi, diskriminasi, ketertinggalan peradaban, kemaksiatan dll yang semuanya merupakan indikator perilaku yang tidak cerdas.

Di negara yang berdasar Pancasila ini masih mengindikasikan berkembangnya sistem pemerintahan dan ekonomi liberal, sikap individualistik, dan kemusyrikan. Ini mungkin bentuk lain dari ketidakcerdasan atau kebebalan, lebih dari bodoh karena Pancasila tidak mengamanahkan sistem pemerintahan dan ekonomi seperti itu. Politikus banyak yang menyatakan bahwa ?rakyat kini telah cerdas, mereka dapat berpikir tentang apa yang benar dan apa yang salah. Sehingga mereka kini tidak dapat lagi dibohongi dengan janji-janji dan bentuk-bentuk rayuan politik lainnya?. Kalau soal tidak mudah percaya lagi dengan omongan politikus mungkin memang benar. Sebab politikusnya yang tidak cerdas. Tetapi pada saat-saat kampanye masih banyak pula rakyat yang tidak berdaya melawan ?serangan fajar? yang merupakan bentuk lain dari penyuapan menjelang pemilu dan pilkada. Kecerdasan mereka seolah-olah sirna jika terjadi bencana politik seperti itu. Keputusan untuk memilih ?amplop? dari pada mengikuti suara hati juga merupakan bentuk lain perilaku yang tidak cerdas.

Dalam kondisi seperti itu kemudian banyak orang yang bernostalgia untuk mengajarkan budi pekerti dan menatarkan kembali Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Marilah kita tengok sebentar. Bukankah pelaku korupsi, kolusi dan nepotisme sekarang ini adalah orang-orang yang dulu mendapatkan pelajaran budi pekerti dan sertifikat P4? Secara substansial isi pendidikan budi pekerti dan P4 tidak salah. Demikian pula pelajaran agama. Pasti benar substansinya. Betapa tragisnya negeri ini. Departemen Agama malah menjadi salah satu dari departemen terkorup. Jadi apanya yang salah sehingga menghasilkan peserta didik pendidikan budi pekerti dan pemilik sertifikat P4 itu kini malah memiliki karakternya Rahwana, Sengkuni, dan Duryudana? Atau meminjam istilahnya cak Ainun Najib bahwa kristal-krisal Firaun itu kini telah menyatu dalam pikiran bangsa ini. Mungkin metodologi dan teknik penanaman nilai-nilai itu yang salah. Atau tepatnya memberi contoh tidak untuk melaksanakan ajarannya ?

Sampai hari ini pendidikan yang mengarah pada penanaman nilai-nilai dan norma-norma serta ilmu pengetahuan masih banyak menggunakan metode ceramah yang sudah sangat tertinggal. Usaha untuk memperbaiki penggunaan metode tersebut memang ada, yaitu dengan alat-alat peraga dan alat-alat presentasi yang modern. Lebih tragis lagi penyampainya tidak menjadi orang pertama yang harus mengindahkan pelaksanaan nilai-nilai dan norma-norma yang diajarkannya.

Badai yang maha dahsyat itu kini sudah datang dalam bentuk kebodohan dan berakibat pula pada kenaikan angka kemiskinan. Bodoh kemudian miskin atau miskin kemudian bodoh memang seperti ayam dan telur. Bagaimana memecah lingkaran setan ini?

Ada tiga kebijakan yang mungkin perlu ditinjau ulang. Kemudian dikaji secara terpadu. Yaitu penetapan garis kemiskinan, upah minimum, dan sistem pendidikan. Dengan garis kemiskian sebesar rata-rata desa dan kota sebesar Rp. 152.847,- perkapita per bulan, produktivitas apakah yang dapat dicapi oleh penduduk miskin. Bayangkanlah seandainya anda yang termasuk berpenghasilan sebesar itu per bulan, ditambah lagi dengan sulitnya akses ke lembaga pendidikan, sistem ekonomi yang tidak berpihak kepada rakyat miskin, maka perlu berapa tahunkah anda untuk mencapai penghasilan saat ini yang sebesar UMR Kota Surabaya yang Rp 685.000,-sebulan? Padahal dengan UMR ini saja buruh sudah sangat sulit untuk menyekolahkan anak-anak mereka sampai sekolah lanjutan. Lebih-lebih lagi kalau harus masuk ke perguruan tingi yang sekarang ini menjadi perintis penyelenggaraan pendidikan berdasar mekanisme pasar. Sebenarnya jauh-jauh Taman Kanak-Kanak (TK) sudah mendahului, karena untuk masuk TK yang dianggap unggulan sudah lama mengikuti mekanisme pasar. Perlu jutaan rupiah untuk memasukkan anak-anak mereka ke TK tersebut. Sangat ironis di tengah-tengah kemiskinan yang sedang melanda negara, pendidikan dan kesehatan malah diarahkan ke mekanisme pasar. Mereka yang berharta yang dapat menjangkau sistem itu. Mereka yang miskin cuma jadi penonton dan pemimpi.

Apabila segitiga kebijakan yang membodohkan dan memiskinkan itu ( penetapan garis kemiskinan, upah minimum dan sisem pendidikan) atau lebih luasnya penanganan kemisikinan, ketenagakerjaan dan pendidikan tidak diharmoniskan mungkin sampai kapan pun kita tak akan pernah dapat keluar dari kebodohan dan mengejar ketertinggalan kita dari negara-negara tetanga, lebih-lebih lagi bersaing di tingkat internasional. Kita akan tetap menjadi pengekspor kuli yang abadi. Ironisnya ekspor kuli ini sudah ada yang merasakan sebagai pretasi yang cukup membahagiakan. Dengan kata lain secara struktural melalui kebijakan kita telah menjadikan negeri ini negeri yang mengabadikan segitiga pembodohan, yaitu kemiskinan, ketenagakerjaan dan pendidikan. Garis kemiskinan yang ditetapkan sangat rendah, upah minimum rendah dan pendidikan mahal. Padahal ada puluhan juta jiwa yang dikategorikan miskin. Dengan kebijakan ini akhirnya yang miskin bertambah bodoh dan yang bodoh bertambah miskin. Yang bertambah cerdas dan kaya adalah mereka yang menangani masalah ini.

*) Penulis adalah Pekerja Sosial, Sekum BKKKS Prop Jatim.

Tinggalkan Balasan