KEMERDEKAAN DAN KEBERADABAN

Telah lebih 66 tahun Indonesia merdeka.  Namun apa yang dicita citakan oleh para pendiri bangsa  seperti yang tertuang pada Mukadimah Undang Undang Dasar Tahun 1945 rasa rasanya semakin jauh panggang dari api. Prof. Dr. J. Sahetappy, SH, Guru Besar Emiritus Universitas Airlangga yang sejak sebelum reformasi  dan berlanjut sampai sekarang  tergolong vocal dalam berbagai paparan, beliau sering menyitir ungkapan Ambon (meskipun beliau adalah Arek Suroboyo)  yang mengatakan bahwa : “ Busuknya ikan  dimulai dari kepala!”

Kata kata bijak ini benar-benar tergambar dalam keadaan yang terjadi di negeri tercinta Indonesia. Berbagai masalah yang timbul pada kurun waktu beberapa tahun terakhir ini :  apakah itu dibidang politik,  ekonomi, peradilan, sosial dan keamanan serta persatuan dan kesatuan bangsa tidak terlepas dari tidak berkualitasnya para elite bangsa ini.  Elite bangsa yang nyaris tidak punya prinsip, tidak punya karakter dan integritas serta tidak memiliki pandangan yang jauh kedepan.  Para pemuka bangsa ini yang seharusnya berupaya keras untuk mencerdaskan kehidupan bangsa justru melakukan yang sebaliknya. Sebagai politisi para elite telah mengeksploitasi kelemahan bangsanya. Mereka menggunakan  senjata “money politic” untuk memenangkan semua kontes kepemimpinan yang merupakan atribut dari perwujudan demokrasi. Mulai dari Pilkades, Pilkada, Pemilu dan Pilpres . Korupsi  yang dilakukan oleh kader atau fungsionaris partai semakin merajalela. Baik APBD maupun APBN telah ditempatkan sebagai sumber untuk pendanaan kegiatan politik baik yang sifatnya pribadi sang penguasa maupun partainya.  Slogan mereka adalah : “ Kalau mau jadi elite politik  dan atau penguasa harus punya duwit!” Ini adalah ekspresi ketidakberadaan dari para elite politik kita.

Dalam pada itu persatauan dan kesatuan bangsa juga semakin rapuh. Penembakan gelap di Timika banyak membawa korban. Belum lagi korban perang antar suku yang dipicu oleh Pilkada untuk memilih Bupati di Kabupaten Puncak Papua. Masih ditambah lagi dengan penembakan di Aceh terhadap buruh asal  Pulau Jawa. Sementara  pihak memberi tengara bahwa kekerasan bersenjata yang  terjadi baik di Papua dan Aceh merupakan ekses dari Pilkada. Namun dibalik itu adanya motip kecemburuan sosial tidak dapat dinafikkan.  Kecemburuan sosial yang diakibatkan karena ketidak mampuan dari warga setempat untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di kampung sendiri. Hanya disayangkan bahwa kecemburuan sosial ini diluapkan dalam ungkapan  amarah  berbentuk pembunuhan  atas para buruh yang tak berdosa. Sekali lagi kita bertanya baru sampai disinikah hasil kemerdekaan dalam upaya membentuk peradaban bangsa Indonesia? Sebuah bangsa merdeka namun belum beradab!

Surabaya , awal Januari 2012

Beri rating artikel ini!
KEMERDEKAAN DAN KEBERADABAN,5 / 5 ( 1voting )
Tag:

Tinggalkan Balasan