Belajar Dari Kenyataan

Sebagai bangsa yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, khususnya orang Islam yang merupakan mayoritas dari bangsa ini mempercayai bahwa Tuhan Yang Maha Pencipta dan Maha Pemelihara telah memerintahkan kepada manusia atas nama Nya untuk membaca dan menulis. Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mengajar manusia dengan perantaraan membaca dan menulis, maunusia yang telah diberi akal dan hawa nafsu dikodratkan sebagai makhluk yang belajar dan disunahkan untuk belajar sepanjang hayat, jauh-jauh sebelum UNESCO mengkampanyekan Long Life Education.

Dengan belajar, manusia mengenali Tuhan Yang Maha Esa dengan segala  kekuasaanNya, mengenali sesama manusia lainnya, mengenali alamnya atau lingkungannya yang terdiri dari daratan dan lautan, air, tumbuh tumbuhan dan hewan hewan. Dengan terus menerus mau pelajari ke tiga ikhwal itu akhirnya manusia mencintai Tuhan Yang Maha Esa dan Yang Maha Kuasa, mencintai sesama manusia dan mencintai lingkungannya.

Dengan belajar itu pula manusia mencapai jati dirinya menjadi manusia yang ikhlas untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk bekerjasama dan tolong menolong dalam hal kebaikan dengan sesama serta untuk memanfaatkan, memelihara dan menjaga kelestarian lingkungan dalam rangka merealisasikan fungsi manusia untuk mensejahterakan kehidupan dunia. Sebagai hasil belajar dari ketiga ikhwal itu lahirlah kebudayaan dan manusia belajar mengembangkan kebudayaan yang meliputi aspek ekonomi, aspek politik dan aspek sosial. Sebagai roh kebudayaan adalah system nilai atau pedoman perilaku manusia dalam berkebudayaan.

Bangsa Indonesia yang sekarang ini, sebelum Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 atau resminya sebagai Bangsa dan Negara Merdeka dan berdaulat sejak tanggal 17 Agustus 1945 adalah merupakan suku-suku bangsa dan budaya yang mendiami tanah air Nusantara telah berbuat sebesar suku bangsa dan budaya-budaya ini beralkulturasi dengan budaya-budaya dari luar seperti Budaya Hindu, Budaya Nasrani dan Budaya Islam. Dalam waktu 3,5 abad suku-suku bangsa ini dijajah bangsa/negeri asing sehingga menjadi negara koloni bernama Nederlands Indie. Suku-suku bangsa yang dijajah ini merasakan kesengsaraan dan kemelaratan padahal hidup di tanah air yang kaya raya dengan sumber alam. Pemuda-pemuda dari suku-suku itu menunjukkan harga dirinya dengan membentuk organisasi-organisasi sosial politik seperti Serikat Dagang Islam (1906), Boedi Oetomo (1908), Indische Partie (1911), Serikat Islam (1912), Yong Islamic Bond, Jong Sumatera dan lain-lain.

Pada tahun 1924 perhimpunan pelajar Indonesia di Negeri Belanda menerbitkan warta “Indonesia Merdeka” dan redaksinya menulis “Indonesia Merdeka menjadi suara Pelajar Indonesia” karena tulisan itu Moh. Hatta dan kawan-kawannya diadili di Pengadilan Den Haag tanggal 09 Maret 1928. Pada tahun 1927 Soekarno dan kawan-kawannya mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) dan karena gerakan-gerakannya pada tanggal 18 Agustus 1930, Soekarno dan kawan-kawannya diadili di Pengadilan Bandung. Bung Hatta dan kawan-kawannya di Den Haag menuntut kemerdekaan demikian pula Soekarno dan kawan-kawan di Bandung menuntut kemerdekaan atas bangsanya, atas tanah air yang telah mereka nyatakan pada Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 : “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia”.

Hasil belajar itu telah melahirkan jiwa, karakter patriotik untuk memerdekakan bangsa dan tanah airnya. Semangat dan kegigihan untuk perjuangan kemerdekaan membawa pada hati para pemuda. Ditengah-tengah ancaman senjata dari pendudukan Jepang, para pemuda tidak gentar, mereka memproklamasikan Kemerdekaan Republik Indonesia, itulah contoh Pemuda Indonesia, Soekarno, Hata dan kawan-kawannya yang belajar dari kenyataan pahit dari bangsanya yang terjajah.

Setelah Indonesia merdeka, para penjajah tidak rela dan datang kembali menjajah dan pemuda-pemuda Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaannya. Pecahlah perang kemerdekaan secara terbuka di seluruh pelosok tanah air. Pada tanggal 10 November 1945 terjadilah perang yang sangat hebat, antara para pejuang dan penjajah tentara sekutu di Surabaya yang menyebabkan terbunuhnya seorang Jenderal (Mallaby) pada peperangan tersebut dan dari peperangan tersebut Kota Surabaya dijuluki kota Pahlawan.

Sosok pahlawan tidak lahir dalam situasi vacum, ia lahir dari kenyataan kehidupan, karena ia bagian dari kehidupan itu sendiri, ia peduli, ia cinta, ia bertanggung jawab, ia berkeinginan berkehidupan yang lebih sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya yang telah lebih dahulu menganggap dirinya modern. Dari sosok Pahlawan itu ada roh yang mendorong, yaitu nilai-nilai yang jadi pedoman perilakunya yaitu cinta dan membela kebenaran, cinta kejujuran, meraih kepercayaan, cinta keadilan, mencintai kedamaian dan sepi ing pamrih.

Negara Kesatuan Republik Indonesia merdeka sudah 66 tahun dan sekarang sedang dalam masa reformasi, yang tentu saja hasil dari reformasi itu menghasilkan system politik, system ekonomi dan system sosial yang dapat mewujudkan kesejahteraan rakyat yang adil dan merata. Kiranya tangan kaum muda sekarang yang harus belajar tentang kenyataan kesejahteraan rakyat masa sekarang sehingga menjadi pahlawan dalam masa reformasi ini. Berjuang menumpas korupsi, mengentaskan rakyat yang masih dalam kemiskinan, membuka lapangan kerja, pemerataan distribusi hasil pembangunan dan lain-lain.

Semoga pemuda-pemuda sekarang ini belajar dari kenyataan kehidupan sekarang ini dan Tuhan Yang Maha Esa menunjukkan jalan yang benar, Amin.

Oleh : Machdar Somadisastra (Pekerja Sosial)

Beri rating artikel ini!
Belajar Dari Kenyataan,5 / 5 ( 1voting )

Tinggalkan Balasan