GAYA HIDUP BERANGSUR BERUBAH

kemiskinan-680x515Setengah abad yang lalu, masyarakat tentu tidak mengira kehidupan kita akan seperti sekarang. Spirit memberikan pengorbanan demi membangkitkan rasa kebangsaan, kemudian diikuti munculnya semangat pembangunan fisik. Namun, setelah lebih setengah abad membangun, sekarang kita sebenarnya belum bisa menyebut diri The Leisure Class, sebab masih banyak warga yang serba kekurangan.

Thorstein Veblen (1857-1929), sosiolog dan ahli ekonomi Amerika, menjadikan the leisure class (kelas yang menikmati hidup) sebagai tema buku The Theory of The Leisure Class (1899). Intinya, buku itu menegaskan; kekayaan dianggap memberikan prestise kepada pemiliknya bila kekayaan itu dipamerkan atau diobral. Sekadar contoh; tugas istri kelas tinggi di sana waktu itu ‘membuang-buang waktu dan uang’ untuk meningkatkan prestise suami. Perilaku itu membuktikan suaminya memiliki kekayaan cukup besar untuk diobral. Di era itu, perempuan-perempuan Barat tingkat atas, misalnya, berpakaian sedemikian rupa hingga tidak mudah bergerak cepat, apalagi mengerjakan pekerjaan kasar seperti memasak atau mencuci pakaian yang mereka anggap pekerjaan ‘rendah’ yang dapat menurunkan martabat.

Veblen beraliran sosialis Revolusi Industri (abad ke18 dan ke-19), disusul Perang Dunia I (1914-1948), mengubah struktur sosial. Selain banyak kaum tani pindah  kerja ke bidang industri, kaum perempuan pun mulai memiliki pilihan apakah tetap bekerja di rumah atau mencari jenis pekerjaan lain di luar. Ini mengakibatkan tesis Veblen sekarang tidak sepenuhnya berlaku di sana karena perempuan kalangan bawah tidak selalu bersedia bekerja sebagai pembantu. Walaupun pemborosan uang dan waktu masih terjadi karena dianggap prestise, kalangan atas yang sudah begitu nyata kaya tidak merasa perlu lagi pamer. Di zaman egaliter,  pameran kekayaan malahan dianggap selera rendah, kecuali di kalangan nouveaux riches atau OKB (orang kaya baru). Di kalangan priayi Jawa, ada cerita wayang Petruk Jadi Raja yang menggambarkan OKB yang hedonistis; yang kesenangan dan kenikmatan materi menjadi tujuan hidup.

Cerita itu mengandung pesan bahwa sikap demikian malahan menjauhkan  mereka dari kelas atas murni. Persepsi elite Bila mengikuti gaya hidup masyarakat kelas atas Indonesia sekarang, ada kesan sikap hedonistis masih ada. Mungkin sisa zaman  penjajahan. Gaya hidup kelompok elite yang dilukiskan para sosiolog Barat terlahir dari pengalaman dan pengamatan seseorang sejak kecil dalam lingkungan keluarga kelas atas; juga dari lingkungan pergaulan dan sekolah yang terpilih. Gaya hidup yang demikian tidak dapat semena-mena ditiru mereka yang datang dari lingkungan yang berbeda.

Secara fisik, sekarang kadang-kadang perbedaan yang ada antara stratum paling atas dan berikutnya tidak kentara hingga sulit bisa dikenali, apalagi ditiru. Lingkungan membentuk pribadi manusia. JC Wright Mills, sosiolog Amerika (1961-1962), dalam karyanya The Power Elite (1956) melukiskan elite metropolitan berbeda dari kelompok-kelompok lain karena latar belakang, penampilan, dan perilaku mereka. Bentuk rumah, tatanan rumah, dan cara mereka berpakaian mencerminkan posisi elite. Barang-barang yang dibeli mungkin tidak kelihatan mahal, namun berselera tinggi.

Barang-barang itu pun bukan untuk sengaja dipamerkan, tetapi sudah menjadi bagian hidup mereka. Kebiasaan kita mempekerjakan pembantu rumah tangga seperti di masa lalu sebenarnya tidak sesuai lagi dengan semangat egaliter era modern. Dengan peningkatan pendidikan, kebiasaan ini pastinya akan berangsur berlalu.

Pelan-pelan kelas bawah akan meningkatkan posisi. Ini terjadi di negara-negara Barat yang dulunya pun mengenal kebiasaan ini, yang kemudian terjadi, jenis pekerjaan sebagai pembantu sekarang memang masih ada di negara-negara maju, tetapi tidak ada lagi eksploitasi. Antara majikan dan pembantu ada sikap saling menghormati. Tidak ada sikap menganggap rendah. Paling tidak terefl eksi dalam sistem penggajian. Gejala ini perlu mendapat perhatian. Jangan sampai kita nanti dikenal sebagai negara pengekspor  tenaga kerja (TKI) terbesar di Asia hanya karena tidak mampu memberi upah memadai.

Sebenarnya embrio berupa demo-demo buruh bisa diangap merintis kesadaran tentang ketidakadilan yang terjadi di masyarakat. Sementara ini, mungkin mayoritas kalangan bawah kita masih belum berdaya. Tetapi peningkatan pendidikan dan pergaulan, antara lain dipicu kemajuan komuniksi yang datang dalam berbagai bentuk dari berbagai arah, akan lebih menyadarkan mereka. Sekarang pun tidak mudah lagi mencari pembantu laki-laki, misalnya. Sekalipun kurang pendidikan, mereka lebih memilih menjadi buruh bangunan, bekerja di pabrik, atau bertualang di jalanan untuk mendapatkan upah mudah seperti menjadi Pak Ogah, tukang parkir, joki, atau pengamen. Kaum muda memilih meninggalkan profesi lama sebagai petani. Mereka ingin bebas sekalipun penghasilan kurang memadai.

Pragmatisme menjadi ciri modernisasi. Berapa lama proses ini akan berlangsung? Perubahan wawasan mayoritas kaum muda tentang masa depan membutuhkan penelitian dan perencanaan yang berbeda pula.

Dalam rangka Pemilu 2014, fakta ini tidak bisa diabaikan dalam agenda partai-partai politik. Mungkin mendengarkan harapan-harapan kaum muda dari kalangan menengah ke bawah, yang berpendidikan tingkat menengah ke bawah, bermanfaat bagi masa depan partai karena bukan hanya masyarakat umum yang diharapkan mengantisipasi perubahan gaya hidup di era modern. Partai-partai politik, sebagai pilar-pilar negara, diharapkan selalu mengikuti perkembangan ini dan tidak segan mengadakan perubahan.

oleh : Toeti Adhitama

Beri rating artikel ini!
Tag:

Tinggalkan Balasan