Kemiskinan Dan Buruknya Kesehatan

kemiskinan-680x515Kemiskinan biasanya diukur dengan berapa pendapatan yang diterima oleh seseorang untuk mencukupi kehidupannya dalam sehari, seminggu, sebulan  atau setahun. Bisa diukur dengan satuan per kepala atau per keluarga.  Ukuran dapat dengan  uang, kalori yang dikonsumsi setiap hari  dan bisa juga bahan makanan pokok yang tersedia. PBB dan Bank Dunia misalnya memakai ukuran Pendapatan Perkapita Per hari setara dengan 2 Dollar AS untuk ambang batas garis kemisikinan . Namun banyak negara negara yang sedang berkembang  menetapkan angka yang lebih rendah dibandingkan standard PBB dan Bank Dunia.  Pemerintah Republik  Indonesia misalnya lebih memilih angka  1 Dollar AS dalam menetapkan ambang batas garis kemisikinan untuk penduduknya. Alasannya tentu saja sangat rasional karena secara politik dapat  pemerintah melaporkan kepada warganegaranya dan dunia bahwa jumlah orang miskin sudah banyak berkurang. Dengan demikian bisa menepuk dada dan citra politiknya naik seta mengklim bahwa program pengentasan kemiskinan yang dilakukan pemerintah telah banyak berhasil.

Jika dipakai angka pendapatan perkapita 2 Dollar AS sehari maka jumlah penduduk Indonesia yang masih harus hidup dibawah garis kemiskinan masih lebih dari 100 juta.  Sebuah angka yang sangat besar sekali. Dengan demikian kita akan maklum mengapa masih banyak penduduk yang dengan gagah berani menduduki tanah negara dengan mendirikan rumah dipinggir rel KA, dibantaran sungai dan berjualan dengan menggelar tenda PK-5 di trotoar kota di seluruh Indonesia. Bicara tentang fenomena kemisikinan ini penulis tidak akan lupa akan “Guyon Intelek” yang disampaikan dengan memukau oleh Almarhum Dr Syahrir (Ciil) di Kongres ISEI th 1996 yang berlangsung di Medan. Pemerintahan Orde Baru  Pak Harto sedang mempersiapkan diri utk Pemilu 1997 tentu berusaha menampilkan  data statistik yang cantik kepada seluruh bangsa Indonesia agar Golkar menang kembali.  Nilai tukar rupiah kala itu berkisar pada besaran  2000 rupiah per Dollar AS.  Angka untuk ambang batas garis kemisikinan oleh PBB dan Bank Dunia  sudah ditetapkan 2 Dollar AS sehari.

Dr Syahrir dalam ceramahnya disidang pleno mengangkat kasus Mappa. Seorang gelandangan yang tinggal di emperan toko di Jalan Somba Opu  Ujung Pandang (Makassar). Dengan teliti namun cara dan artikulasi yang kocak diceriterakan bahwa Mappa ini setiap hari dengan segala kesibukan ekonomi yang bisa dia kerjakan total jendral  memberikan pendapatan sehari  tidak kurang dari 15 ribu rupiah. Artinya setara dengan  7,5 Dollar AS. Secara teoritis pendapatan Bung Mappa ini sudah jauh diatas garis kemiskinan yang ditetapkan oleh PBB dan Bank Dunia. Akan tetapi pertanyaannya lebih lanjut adalah apakah  Bung Mappa sudah dapat dikategorikan sebagai “orang yang hampir kaya?” Sambil tersenyum penuh arti Dr Syahrir menyimpulkan  bahwa dengan pendapatan harian setara 7,5 Dollar AS sehari tokoh yang diangkatnya kepermukaan dengan nama Bung  Mappa ini masih jauh dari sejahtera. Dia tetap saja seorang gelandangan miskin yang tidur didalam rumah kardus di trotoar Jalan Somba Opu Makasar.

KONDISI TABUNGAN NEGATIF

Fenomena yang bagaikan anak kembar Siam dari kemiskinan adalah buruknya kesehatan.  Betapa sulitnya memisahkan antara kemiskinan dan tidak terpeliharanya kesehatan sesorang dengan baik.  Oleh sebab miskin maka tidak ada uang yang dapat disisihkan secara terencana. Semua pendapatan habis untuk konsumsi pokok sehari hari. Bahkan tidak cukup.

Dalam teori ekonomi mereka ini tergolong kepada kategori rumah tangga atau individu  dengan kondisi “TABUNGAN NEGATIF” (Dissaving). Oleh karena itu ciri yang lain dari rumah tangga-rumah tangga ekonomi ini adalah senantiasa punya utang yang belum terbayar. Baik itu kepada sanak saudara, kepada tetangga maupun kepada lembaga keuangan  formal dan atau non formal.

Acapkali kondisi dissaving ini semakin memperburuk kondidi ekonomi mereka jika atas hutang tersebut harus dibayar bunga yang sangat tinggi. Karena terpaksa meminjam dari para “pelepas uang” (lintah darat).  Kondisi yang semacam ini tentu saja tidak memberikan kemampuan kepada masyarakat miskin untuk menyisihkan sebagian dari pendapatan mereka untuk berjaga jaga.

Berjaga jaga menghadapai “hari hujan” apalagi kalau yang datang bukan sekedar hujan biasa namun “Hujan-Badai bercampur Petir dan Halilintar!”.  Menyediakan cadangan dana kesehatan untuk mengantisipasi pengeluaran untuk membayar dokter, membeli obat, biaya rawat inap di rumah sakit. Belum lagi biaya transportasi dari rumah ke rumas sakit dan biaya makan dan minum serta menginap bagi keluarga yang harus mengantarkan dan mendampingi si sakit.

DARI PUNYA GAWE BERGESER KARENA SAKIT

Buku tesk ekonomi padesaan ditahun 1950-an menyebutkan bahwa penduduk pedesaan dan masyarakat kampung pinggiran acapkali menjadi miskin karena terjerat hutang  sebagai akibat dari kebiasaan melakukan pengeluaran “super besar” terkait dengan kebiasaan dan atau adat istiadat/kepercayaan setempat. Mulai selamatan dalam kaitan dengan karunia keturunan,perhelatan dalam rangka  khitanan, pernikahan anak sampai kepada selamatan-kenduri kematian. Pola pendapatan masyarakat pedesaan yang hanya bisa berharap dari panen dua tahun sekali dalam jumlah yang terbatas dihadapkan dengan pengeluaran yang begitu besar sudah barang tentu sulit untuk impas! Alhasuil mereka terpaksa harus pinjam uang.

Kalau kebetulan nasib tidak mujur dan panen yang diharapkan gagal maka bisa saja si petani terpaksa menggadaikan sawahnya dan bahkan harus menjual tanahnya  Alhasil si petani menjadi lebih melarat. Setengah abad berlalu entah karena kesadaran dan hasil pendidikan atau karena masyarakat semakin tidak terikat (longgarnya ikatan) oleh perilaku konsumsi yang terkait dengan  adat dan kepercayaan lama maka kemisikinan karena punya gawe ini semakin kurang intensitasnya. Justru kondisinya lebih memerihatinkan karena kemiskinan disebabkan karena sesuatu yang sama sekali tidak nyaman dan tidak mengenakkan. Jika dua genmerasi yang lampau penduduk desa ada yang menjadi miskin karena telah melakukan “pesta-pora” diluar kemampuannya  pada deasa ini penyebab kemiskinan karena mereka harus membayar pengeluaran yang berhubungan dengan sakit yang mereka derita. Benar – benar sesuatu yang tidak nyaman dan tidak diharapkan. Ada kasus nyata bagaimana seorang mantan PRT di Jakarta yang  pulang ke desa untuk menikah kemudian karena persalinannya tidak bisa normal terpaksa harus dioperasi Caesar.

Total persalinan kalau cara baheula cukup ditangani dukun bayi desa yang kemudian meningkat menjadi urusan bidan desa sekarang harus ditangani dokter ahli kebidanan yang tarip profesinya tidak murah. Alahasil mantan PRT yang suaminya hanya seorang buruh pabrik dengan upah UMR sedikit diatas satujuta rupiah sekonyong konyong harus membayar tagihan rumah sakit lebih dari 10 juta rupiah. Dunia serasa kiamat bagi pasangan muda padesaan ini.

Kasus lain yang lebih tragis adalah seorang ibu disebuah desa didaeran Magetan  dengan anak balita yang mengidap kelainan pada mata kirinya. Ada yang menyarankan agar anak tersebut dibawa ke sebuah rumah sakit yang paling baik di Yogyakarta.  Setelah dilakukan observasi medis oleh rumah sakit disampaikan kepada orang tua si anak balita bahwa terapinya adalah operasi dan diperkirakan biaya keseluruhannya sebesar 100 juta rupiah. Tentu saja uang sebesar ini adalah sesuatu yang tak ada dalam bayangan sang ortu yang hanya keluarga muda petani miskin di desa. Singkat kata si balita yang menderita gangguan kesehatan dimata kirinya tersebut dibawa pulang kembali kedesa. Setahun kemudian penyakit mata kiri si balita laki laki ini bertambah parah.   Atas rujukan Puskesmas setempat dan rumah sakit Kabupaten Magetan akhirnya sampailah si balita ke RSUD Dr Sutomo Surabaya.

Dokter mengatakan bahwa si balita ini sangat besar kemungkinan mengidap penyakit kanker ganas di mata kirinya dan sudah agak terlambat penangannanya.  Andaikan dia datang dari  keluarga yang mampu mungkin sudah setahun yang lalu mendapat perawatan yang benar.  Namun apa daya dia terlahir dikalangan keluarga miskin. Mungkin saja  sistem BJPS yang baru dilancarkan pemerintah bisa memberikan fasilitas gratis kepadanya. Pertanyaannya sekarang pada stadium penyakit kanker mata yang sudah begitu lanjut berapa besar peluangnya untuk dapat ditolong dan matanya pulih kembali.  Jika operasi matanya tidak berhasil maka anak ini akan kehilangan sebelah matanya.

Dengan kemiskinan yang disandang oleh keluarganya berapa besar kemungkinan dia untuk mampu tumbuh dengan sehat, mendapat pendidikan yang paling baik dan bisa mengikuti mobilitas sosial keatas. Adakah masa depan yang selamat sejahtera, terhormat dan bermartabat bagi anak ini, ataukah dia sudah “terkutuk” untuk tetap menjadi anak miskin, tumbuh menjadi orang dewasa  miskin yang bahkan selalu dalam kondisi sakit sakitan. Jauh dari kesenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan dunia yang bagi mereka yang mampu serba gemerlap ini.

Benarlah apa yang dianggap sebagai adagium  Medical Poverty Trap  : “ I become Sick because of my Poverty!”  But on the other hand: “ Well, I become Poor  because of my Sickeness!”. Adagium yeng membuat getir dihati ini saripati pengertiannya sama dengan apa yang disampaikan oleh Amartya Sen  Sang Pemenang Hadiah Nobel dalam ilmu ekonomi : “Kemiskinan adalah Kekurangan yang mengakibatkan Ketidak Mampuan!”

Tulisan ini ditutup dengan doa dan pengharapan agar BJPS bidang kesehatan akan memahami masalah yang dihadapi oleh masyarakat miskin Indonesia yang jumlahnya masih puluhan juta orang. Pelayanan yang birokratis dan tanpa dedikasi untuk menolong yang sakit  atas dasar kemanusiaan justru akan membuat mereka yang miskin bertambah miskin dan semakin memperparah penderitaan.

Oleh : DR. H. Tjuk kasturi Sukiadi, SE (Ketua Umum BKKKS Prov. Jatim)

Beri rating artikel ini!
Tag:

Tinggalkan Balasan