Mengenang Ibu Johana Sunarti Nasution

Ibu NasutionIbu Nas adalah perempuan yang kokoh, sosoknya  anggun, dengan rambut ikal alami yang masih hitam tebal, parasnya masih menyiratkan kecantikan, kecantikan yang berwibawa. Dengan kesederhanaannya beliau secara tidak langsung mengajarkan kepada siapa saja yang dekat dengan beliau tentang hakikat kehidupan agar menjadi bermanfaat bagi sesama. Memaknai hidup tanpa pamrih, begitu mudah dihayati jika disandingkan dengan kehidupan sehari-hari Bu Nas. Beliau kumpulkan apapun sumbangan dari para donatur, mulai dari baju bekas layak pakai,  sembako, sampai ke finansial, bahkan pemikiran beliau terima, untuk disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan. Banyak anak negeri ini yang datang dari kaum papa, kini menjadi mandiri dan bermanfaat bagi orang lain, berkat tangan dingin dan kesepenuhatian pengabdian Ibu Nas.

Laskar Wanita, sosok egaliter, tokoh kemanusiaan, panutan moral, kaya martabat, penyejuk hati kaum marjinal

Sejarah ada karena manusia ada. Hingga akhir dunia sejarah akan tetap ada.

“bekerja…., mengabdi menjadi relawan….disitulah kamu akan menjadi kaya”

Empat tahun sudah tepatnya semenjak 21 Maret 2010 kita ditinggalkan sosok ibu yang memberikan seluruh hidupnya, hati, pikiran dan tangannya untuk orang-orang yang termarjinalkan. Menjadi istri dan pendamping pejabat yang kerap berseberangan dengan penguasa negeri ini bukanlah hal mudah. Berkali-kali ancaman kematian menguntit hidup beliau sejak zaman revolusi. Hal tragis lalu menimpa beliau. Putri bungsunya menjadi tumbal sejarah Indonesia dalam Gerakan 30 September 1965. Lepas dari nasib tragis, seorang ibu Sunarti Nasution masih terus menunjukkan ketegaran dan kekuatannya. Beliau terus membantu menanggulangi masalah sosial masyarakat yang menjadi korban pembangunan yang kejam dan tidak adil. Ibu Sunarti Nasution bersama-sama dengan banyak pihak berjuang untuk mensejahterakan orang-orang pinggiran yang tidak mampu disejahterakan negara. Aktivitas sosial adalah nafas hidupnya. Kegigihan beliau sangat luar biasa dengan rumus nekat untuk bisa mencapai tujuan mensejahterakan masyarakat yang termarjinalkan.  Salah satu tauladan yang beliau berikan bagi generasi penerus sebagai sosok relawan sejati  adalah setiap pekan, ibu yang mulia ini selalu meluangkan waktu untuk mencuci pakaian pantas pakai sumbangan masyarakat. Setelah dicuci, kancing-kancing yag rapuh dikuatkan lagi, bagian yang robek ditisik, lalu diseterika, dan dibungkus plastik.  Setelah semua rapi, barulah baju-baju itu pantas diberikan kepada mereka yang membutuhkan. “Jiwa pejuang dan kegigihan beliau yang luar biasa harus diwarisi generasi penerus demi kepentingan rakyat dan mewujudkan negeri yang lebih baik dan kembali memiliki martabat”

Ibu Johana Sunarti Nasution dilahirkan di Surabaya, 1 November 1923 dari seorang ibu bernama Maria Federika Rademayer Belanda tulen dan seorang ayah bernama Sunario Gondokusumo, salah satu tokoh pergerakan nasional Indonesia.Beliau meninggal di Jakarta, 21 Maret 2010 pada usia 87 tahun. Beliau menikah pada tahun 1947 di Ciwidey dalam pengungsian dengan seorang suami bernama Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution Panglima Divisi Siliwangi dan dikaruniai 2 orang putri yakni Hendriyanti Sahara dan Ade Irma Suryani, yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan dikaruniai 4 cucu dan 5 cicit. Kuliah di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta mengambil bidang farmasi (1944-1946) dan beralih ke hukum pada tahun 1946-1947. Beliau selalu mengatakan “biarkan masalah datang pada saya, maka saya akan mencari penyelesaiannya”. Ibu Sunarti Nasution menurut orang-orang yang pernah dekat dengan beliau adalah sosok perempuan yang tegas, disiplin tetapi berhati sangat lembut, pemurah hati dan dermawan.

Aktivitas beliau selama hidup lebih dari setengah abad didedikasikan untuk kegiatan sosial. Di antaranya Pendiri Yayasan Ikrar Bhakti (dari Persit), Penasehat DNIKS, Pendiri dan Ketua I Yayasan Bina Wicara “Vacana Mandira”, Pendiri dan Ketua Yayasan Jambangan Kasih, Pendiri dan Ketua Yayasan “Pembinaan dan Asuhan Bunda”, Ketua Yayasan “Sayap Ibu” Pusat, Pendiri dan Ketua Yayasan Kasih Adik, Ketua Bidang Dana FNKTRI, Pendiri dan Ketua “Panti Usada Mulia”, Pendiri dan Ketua I Yayasan Santi Rama, Ketua Raad van Gemachtigen van Deventer- Maas Stichting, Ketua Koordinator International Social Service Indonesia (ISSI).

Sejumlah penghargaan dari dalam dan luar negeri telah diterima berkat jasa-jasanya. Ibu Sunarti Nasution menerima sejumlah tanda kehormatan dari pemerintah, di antaranya Satya Lantjana Kebaktian Sosial pada tahun 1971, Lencana Satya Bhakti Utama Persit Kartika Chandra Kirana, (20 Februari 1989), Bintang perjuangan Angkatan 45 (17 Agustus 1995) dan  Bintang Maha Putra Utama (15 Agustus 1995).

Ibu Nas juga menerima penghargaan dari luar negeri, seperti Centro Culturale Italiano Premio Adelaide Ristori Anno VIII  (1976),  Ramon Magsaysay Award for Public Service(1981), dan Paul Harris Fellow Award Rotary Foundation of Rotary International Amerika (1982).

Mengenang sosok ibu Johana Sunarti Nasution dalam mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemanusiaan saya beruntung bisa mewancarai ibu  Ciptaningsih Utaryo, ibu Maryono, ibu Sri Soedarsono, Pak Tjuk Kasturi Sukiadi yang mewarisi dedikasi beliau di dunia kemanusiaan, dan meminta tulisan dari pak Totok Bintoro dan beberapa tulisan yang dimuat Tribunnews. Berikut beberapa petikan hasil wanwancara dan tulisan terkait sosok Bu Nas.

Niat, I’tikat, nekat……….

Nilai-nilai yang beliau wariskan akan memberikan tauladan kepekaan nurani dan moral. Sikap sabar, ulet, telaten, disiplin dan cermat yang merupakan entitas kebersahajaan dan kejujuran. Keteladanan yang beliau berikan senantiasa melekat dan menjadi sosok panutan seperti yang dituturkan oleh Ibu Ciptaningsih Utaryo (84 tahun) tepatnya  20 Juni 1930 yang barusan di bulan Desember 2013 mendapatkan penghargaan Hamengkubuwono IX award di acara dies ke 64 Universitas Gajahmada di bidang kemanusiaan.

Menurut beliau Bu Nas adalah salah satu tokoh panutan dan yang membimbing beliau dalam berkiprah di dunia  kemanusiaan sampai seperti yang dicapai saat ini. Saya bertemu untuk kali pertama dengan Bu Nas pada tahun 1963 setelah kepindahan saya dari Medan masuk ke Jakarta. Pertemuan diawali dengan permintaan pendiri Badan Kerja Sama Panti Asuhan (BKSPA), menjadi delegasi mencarikan sosok pimpinan yang jujur. Pilihan saya jatuh ke Bu. Nas karena saya mengenal sosok Pak Nas yang jujur mestinya istrinya memiliki kepribadian yang sama, yaitu “jujur”. Alhamdulillah Bu Nas bersedia untuk menjadi ketua di BKPSA. Bu Nas yang saya kenal adalah sosok yang sumrambah, banyak sahabat dan jejaring, sehingga sumbangan berdatangan banyak sekali. Pada waktu itu Jakarta dilanda kesulitan pangan, anak-anak, ibu-ibu antri beras. Melihat kondisi yang demikian Bu Nas bertindak meminta kepada Gubernur anak-anak yang antri posisinya digantikan oleh pendamping dari BKSPA, sehingga anak-anak tetap bisa sekolah. Permintaan beliau dikabulkan, beliau terus berjuang untuk mengajukan permintaan lagi bagaimana kalau BKPSA menjadi gudang pangan dan akan mendistribusikan ke Panti-panti asuhan yang membutuhkan sehingga tidak perlu lagi ada antrian. Permintaan beliau dikabulkan. Jadilah kita semua bekerja keras sampai larut malam memasukan beras ke botol-botol dan mendistribusikan ke panti yang membutuhkan.

Satu pelajaran lagi yang saya peroleh dari Bu Nas adalah “kalau ngurusi kemanusiaan harus nekat”. Menurut Bu Nas bekerja di kemanusiaan harus menggunakan rumus “Niat, I’tikat, dan Nekat”. Konsep ini yang saya terapkan sampai sekarang. Bu Nas yang saya kenal selama berorganisasi  bersama adalah sosok teladan kejujuran, memiliki rasa kepekaan dan kepedulian yang tinggi pada sesama, dan memiliki kepedulian yang sangat tinggi dengan pendidikan untuk anak. Beliaulah yang pertama kali mendirikan sekolah bagi anak tunarungu (Yayasan Santi Rama) di Indonesia bersama Bu Conny Semiawan Rektor IKIP Jakarta menyusun kurikulum untuk anak disabilitas. Beliau berkawan dengan siapapun tidak membedakan ras, status, maupun strata, sosok ibu yang egaliter. Termasuk saya adalah berkawan dengan beliau melalui kawan kemanusiaan. Suatu kali kalau hati Bu Nas jengkel hatinya dengan penguasa yang menghalangi beliau menerima bantuan dari luar negri untuk kepentingan kemanusiaan dan ketidak beresan ngurusi persoalan sosial maka beliau akan berkata “Tanya Utari yang bawa saya ke kegiatan sosial, dan saya menyatakan yang membawa ibu ke kegiatan kemanusiaan ini adalah Allah. Pembicaraan dengan B. Utari saya akhiri, beliau yang berjuang bersama Bung Tomo sejak tahun 1946, sari dari keteladanan Bu Nas dalam hidup beliau yang senantiasa berkiprah untuk kemanusiaan dengan memberikan manfaat bagi orang-orang yang kurang beruntung sampai saat ini memiliki moto 4S: Sumarah (Ta’at dan taqwa kepada Allah); Sumeleh (menerima ujian dengan hati ikhlas); Sumringah (air muka/ raut muka selalu jernih dan tersenyum pada siapa saja); Sumrambah (banyak kawan dan jaringan yang berkesinambungan).

Menerima estafet buket bunga yang sangat cantik……siap mental menjadi jembatan

Bu Nas adalah sosok guru, sahabat yang dikagumi dan panutan bagi Ibu Sri Redjeki Chasanah Soedarsono (75 tahun) yang lebih dikenal dengan sapaan Bu Dar yang lahir pada 8 Oktober 1939 dengan 5 Cicit, 13 Cucu dari 3 Putra dan 1 putri. Dua tokoh ibu yang menjadikan Bu Dar seperti sekarang adalah Ibunda beliau (Almarhumah RA Tuty Marini Citra Wardojo Habibie) dan ibu Johana Sunarti Nasution. Kenangan bersama Bu Nas seolah mengisi setiap sudut ruang hatinya dan selalu menghiasi setiap langkah beliau berkiprah untuk kemanusiaan. Bahkan waktu saya menikah yang melamar Pak Nas pada tahun 1958. Ibunda saya dengan ayah-ibu Bu Nas sudah sangat akrab.  Menurut Bu Dar sosok wanita hebat di kemanusiaan mendapatkan gemblengan Bu Nas yang waktu itu menjabat ketua Persit  sejak tahun 1960 dan hasilnya seperti sekarang ini tutur beliau. Beda usia 16 tahun dengan Bu Nas, tidak menghalangi persahabatan di antara keduanya. Sebelum terbentuknya DNIKS, Bu Nas selaku panitia Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKSS) punya peranan hingga terbentuk DNIKS saat ini. “Saat itu saya masih muda. Panitia BK3S dibentuk pada tahun 1965.  Pada tahun 1967 ditarik Bu Nas untuk menjadi pengurus bagian mencari dana di Badan Pembina Wiyata Guna proyek Bu Nas dengan Departemen Sosial untuk kemanusiaan yang diambil alih karena saat itu kondisinya terbengkelai. Pada tahun 1970 diminta Bu Nas untuk menjadi pengurus bagian hubungan luar negeri dan mencari dana Yayasan Pembina Asuhan Bunda dan berbadan hukum pada tahun 1978. Yayasan yang mengayomi ibu dan anak yang kurang beruntung. Saat Bu Nas menugaskan untuk menghadiri konferensi sosial di luar negeri sambil mengembangkan jejaring ya harus diupayakan sendiri dari biaya pribadi. Bu Nas mengajarkan sisihkan waktumu untuk kegiatan kemanusiaan dan jadikan hobi. Bu Nas adalah sosok yang selalu memikirkan orang lain dan bisa merangkul semua kalangan tanpa memandang ras, agama, golongan, dan status, sosok ibu yang egaliter. Beliau mengajarkan untuk selalu low profile, jangan banyak omong, lakukan nanti orang lain yang akan menilai, siap membantu orang lain, dan harus siap menjadi jembatan orang yang kaya dan miskin, pejabat dan rakyat dan beliau menyatakan kalau siap menjadi jembatan juga harus siap mental untuk diinjak sepatu lars meskipun sakit harus siap mental. Tauladan yang sangat mendalam dengan Bu Nas, pernah suatu waktu Beliau menyatakan “Sri Estafet buket bunga yang cantik ini harus diberikan kepada orang yang mampu agar tidak rusak”. Bu Nas menggambarkan kegiatan kemanusiaan sebagai sebuah buket bunga warna warni yang sangat cantik. Hal tersebut terimplementasikan pada saat beliau harus berhenti menjadi ketua DNIKS  masuk menjadi Pembina, beliau menyatakan “ okey saya berhenti tapi harus ada satu orang yang masuk di pengurus, dan orang yang harus masuk kesitu Sri Soedarsono”.  Tauladan yang saya petik dari Bu Nas dalam menjalani kegiatan kemanusiaan yakni (1) beliau mau menerima dan mendengarkan saran dari yang lebih muda, (2) masalah pasti ada jalan keluarnya, (3) memberikan semangat, dan  (4) tidak pernah mengatakan “NO”.  Pembicaraan kami akhiri dengan cerita beliau setiap kali ziarah kubur ke suami pasti beliau sempatkan untuk menengok pusara Bu Nas dan pesan dari ibunda saya hidup  jangan sombong, selalu tersenyum ke orang lain, cari kawan sebanyak-banyaknya supaya kalau ke waktunya harus dibawa ke makam tidak sendirian…..What Can I Do For You………

Nasionalisme sejati…… bersahaja dan selalu memperhatikan rakyat kecil

Bu Nas adalah sosok sahabat dan guru bagi ibu Sumarni Maryono Idris Soenarmo (86 th) yang lebih dikenal dengan sapaan Bu Mar, lahir 23 Desember 1927 dengan 7 cicit, 7 cucu, dari 4 anak (1 alm). Bu Mar pertama kali bertemu Bu Nas saat melawat ke Inggris pada tahun 1960, yang saat itu Pak Nas menjabat menjadi Menteri Pertahanan Keamanan. Bu Nas mengatakan “kalau kamu pulang langsung bergabung dengan BKSPA ngurusi kemanusiaan”. Bu Nas yang saya kenal adalah sosok nasionalisme yang sangat kental….kata beliau sebagai orang Indonesia harus bagaimana…saat kunjunganpun selalu memikirkan keberlangsungan dan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Pada waktu Pak Nas dikucilkan beliau Bu Nas tetap tegar dan terus menjalankan kegiatan kemanusiaan, saya tetap terus membantu karena itu memang hal yang benar. Bu Nas juga sosok kalau bekerja sosial selalu total dan sangat bersahaja dapat dilihat dari rumah beliau bangunan dan perabotan dari dulu sampai sekarang tetap sama. Saya berkesempatan berkiprah dan membukakan jalan di kegiatan sosial adalah beliau dengan memasukkan saya di organisasi BPKKS karena beliau mencari orang yang bisa bekerja dengan beliau, sebagai anak murid apa yang ditugaskan saya siap. Badan yang terbentuk sebelum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS). Pada saat saya bekerja bersama di DNIKS saya melihat Bu Nas adalah sosok yang sangat perhatian pada rakyat kecil dan beliau selalu melakukan kunjungan-kunjungan ke masyarakat yang kurang beruntung untuk melihat persoalan-persoalan yang terjadi. Sesampainya di kantor persoalan-persoalan yang beliau temui akan selalu dibahas dan dicarikan jalan keluar. Bu Nas selalu mengatakan masyarakat harus diberdayakan jangan hanya diberi. Saya adalah anak murid beliau di organisasi meskipun usia hanya terpaut 5 tahun. Suatu saat saya ditugaskan beliau untuk menjadi narasumber di Pontianak saya menerima sambil memikirkan apa yang akan saya katakana, akhirnya saya bertanya ke beliau “ entry pointnya apa bu” beliau memberikan solusi kail dengan mengatakan “ya cari apa saja yang terjadi dan dibutuhkan di sana”. Saya menemukan banyak persoalan terkait pertanian, peternakan, pasar, dan koperasi. Selanjutnya untuk mengatasi dan membenahi kehidupan masyarakat melalui koperasi dan pertanian beliau mendapatkan sponsor dari Canada.

Beliau mewariskan budaya “proses” dalam mencapai sesuatu dan selalu melihat hal-hal yang terbengkelai dan tidak terurus dengan baik di masyarakat.  Beliau tunjukkan dalam perjuangan mendirikan sekolah bagi anak tunarungu melalui budaya proses dan melihat keadaan anak tunarungu yang masih terpisah-pisah dan terurus dengan baik maka beliau menggagas bersirinya Santi Rama. Dimulai pada tahun 1970 bekerja sama dengan dokter THT (Prof. dr. Hendarto Hendarmin) menggagas untuk membentuk Badan Pembina Santi Rama, suatu badan yang menangani proyek uji coba terhadap pelayanan intervensi dini dan rehabilitasi anak tunarungu, dan Santi Rama merupakan pionir atau satu-satunya yang ada di Indonesia saat itu. Bermula dari suatu kegiatan unit pelayanan dini dengan kelompok kecil, kemudian diperluas dengan jenjang-jenjang pendidikan lanjutan.

Pembicaraan kami akhiri dengan pesan Bu Mar pada generasi berikutnya terutama ibu-ibu muda sebagai orangtua wawasan luas penting. Dari rumah harus dikenalkan peradaban dan kebudayaan luhur Indonesia dan orang tua harus bisa menjadi contoh nilai-niali luhur Indonesia, orang tua juga harus mengenalkan persoalan-persoalan sosial di sekelilingnya pada anak. Bekerja sosial harus sepenuh hati, berbhakti kepada bangsa dan sesama ya harus dikerjakan terus menerus…….Bu Mar diusianya yang sudah mencapai 86 tahun masih menunjukkan semangat tinggi di kegiatan sosial kemanusiaan, menurut beliau “selama masih mau dan mampu kenapa tidak”…..

Lady Fighter, Pikiran Besar……Bangsa Indonesoa harus menjadi Bangsa Relawan Sosial

Bu Nas adalah sosok nasionalis sejati yang sangat cinta pada negri ini, sejak masih belia sudah diajarkan oleh ayahandanya (Gondokusumo) pejuang pergerakan yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Bung Karno. Kecintaan pada negeri ini dibuktikan pada waktu masih remaja putri menjadi relawan dengan berjualan korsase untuk mengumpulkan dana yang hasilnya digunakan untuk membangun Gedung Nasional Indonesia di Surabaya yang didirikan oleh ayahanda beliau. Kejadian ini adalah salah satu cerita Bu Nas pada Pak Tjuk Kasturi Sukiadi (69 tahun), lahir pada 22 Mei 1945 dari seorang ayah bernama Kasturi Hadi Winoto dengan seorang ibu bernama Sukarti. Pak Tjuk dengan kecerdasan dan tangan dinginnya berhasil  memimpin dan membawa Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Jawa Timur dengan manajemen yang sangat baik, independen dan memiliki ruh untuk kepentingan sosial Pak Tjuk sangat cocok dengan Bu Nas karena sama-sama idealis, sangat cerdas, memiliki pemikiran besar dan sangat mencintai negri ini yang sampai saat ini dikaruniai 4 putra dengan 10 cucu (satu cucu alm). Pak Tjuk bertemu dan bergaul dalam satu organisasi dengan Bu Nas untuk kali  pertama pada tahun 1999 saat terjadinya reformasi, satu-satunya orang daerah yang menjadi pengurus di DNIKS. Bu Nas adalah sosok yang saya kagumi dengan pikiran besar, sosok yang sederhana dan berkarakter orang besar ditunjukkan oleh beliau meski sudah menjadi penguasa dan menjadi kelompok elite di negri ini, kelangenan beliau pada masa kecil yang lahir dan besar di Surabaya masih tetap beliau tunjukkan dengan meminta pada saya untuk membawakan makanan khas Surabaya makanan masa kecil beliau, yaitu kepiting gembos dan ikan pe, sosok yang tidak lupa dengan akarnya.

Dominasi darah Belanda yang mengalir ke tubuh beliau dari ibundanya menjadikan Bu Nas sangat rasional, disiplin, lugas, apa adanya, mandiri, dan tidak cengeng. Dua peristiwa beliau tunjukkan dalam hidup beliau, yaitu saat beliau meminta sang suami Pak Nas untuk menyelamatkan diri dan berani pasang badan, karena tenaga dan pemikiran Pak Nas masih dibutuhkan negeri ini meski pada waktu itu Bu Nas sebagai sseorang ibu muda menerima dan mengendong putri tercintanya Ade Irma Suryani dalam keadaan berlumuran darah karena tertembak, beliau sadar dan berpikir rasional apa yang harus dilakukan. Peristiwa kedua beliau ceritakan pada saya yang seringkali berperan menjadi ibu Negara saat melawat ke luar negeri bersama Bung Karno. Meskipun hubungan secara pribadi antara Pak Nas-Bung Karno pada tahun 60 an kurang harmonis, pada suatu waktu beliau melawat ke Eropa Timur mendampongi Pak Nas sebagai menteri Pertahanan Keamanan bersama Presiden Bung Karno, dan karena suatu hal sebelum waktu kunjungan selesai Pak Nas harus kembali ke Indonesia, Bung karno mengatakan “Nas istrimu tinggal biar mendampingi saya sebagai ibu Negara”. Bu Nas yang berkarakter rasional dan tidak cengeng, memilih untuk lebih mendahulukan kepentingan dan martabat Negara dengan tetap tinggal untuk mewakili menjadi ibu Negara.

Bu Nas selalu punya pikiran besar dan mimpi besar, bangsa Indonesia harus  betul-betul menjadi bangsa relawan sosial. Namun kekecewaan demi kekecewaan beliau terima, beliau tidak happy dengan penanganan masalah sosial dan kebijakan pemerintah di berbagai hal tidak sesuai dan tidak pas dengan gagasan dan mimpi beliau khususnya yang berkaitan dengan kegiatan sosial di Indonesia. Kekecewaan itu diawali pada era orde baru di era kepemimpinan Soeharto, pada waktu itu sekitar tahun 1978  Pak Nas dikucilkan dan eksistemsi dan gerakan Bu Nas sebagai aktivis sosial dibatasi, bahkan bantuan dari luar negri dari teman-teman beliau dicekal. Kondisi ini tidak menyurutkan beliau untuk selalu tegar dan berjuang untuk kepentingan masyarakat yang terpinggirkan dengan segala upaya yang beliau punya, sebagai sosok lady fighter yang mengukir sejarah kerelawanan sosial di negri ini. Ketidakpuasan beliau terbawa sampai saat ini, di era Susilo Bambang Yudonono saat kampanye tahun 2004 yang menjanjikan akan menjadi pelopor kegiatan sosial Indonesia, Bu Nas  sangat berbesar harap  akan menjadi kenyataan, namun janji itu tidak pernah terwujud. Harapan itu hampa sehampa harapan saya. Pemerintah condong menangani sendiri, sehingga relawan dan aktivis sosial tidak mendapatkan atmosfer yang kondusif. Aktivis dan relawan muda tidak banyak yang muncul baik di pusat maupun di daerah. Kekecewaan ini yang beliau tunjukkan kepada saya, setiap kali bertemu beliau selalu mengatakan “ Tjuk kapan reformasimu kamu bawa kemari…”.

Keseharian Bu Nas yang saya kenal jauh dari kesan glamour, sangat sederhana sebagai istri seorang Jenderal dan pejabat Negara, tidak menyukai atribut-atribut, kerja, cepat,  efektif, efisien, jujur, lugas, apa adanya, dan tidak suka banyak omong apalagi yang tidak masuk akal. Kesederhanaan Bu Nas tercermin saat saya sowan ke rumah beliau, serba minimalis perabotan yang apa adanya dan kita akan mendapatkan suguhan teh, tidak seperti layaknya di rumah Jenderal-Jendral yang lain.

Pembicaraan dengan Pak Tjuk kami akhiri dengan pernyataan beliau semakin diusia yang sekarang beliau menyadari bahwa scenario Allah itu yang terbaik dan jalan yang sangat indah buat beliau, meski banyak perjalannan yang mengakibatkan beliau dikecewakan karena merasa dikalahkan oleh ketidak adilan yang terjadi dalam system yang berjalan di negeri ini. Beliau menyadari meski dikalahkan saat fight di Jamsostek, Semen Gresik, Kebun Binatang Surabaya oleh ketidak adilan system, beliau bersyukur terhindar dan diselamatkan dari hal-hal buruk. Pesan beliau pada generasi penerus ambil kesempatan untuk bisa mewujudkan idealisme dalam kiprah menangani persoalan-persoalan sosial di negeri ini. Mudah-mudahan mimpi kita cocok dan pas dengan garis yang ditetapkan dalam scenario Allah dalam menjalani hidup yang terbaik dan berakhir khusnul khatimah…..

Aku Belajar dari Bu Nas………

Menurut P. Totok Bintoro yang sangat beruntung pernah dekat dengan beliau dan menimba banyak warisan nilai-nilai luhur di tahun 90 an, Terlebih, beliaulah yang memperkenalkan dan membukakan jalan bagi saya untuk turut berkecimpung di dunia sosial berikut adalah goresan tangan Totok Bintoro seorang dosen Jurusan PLB FIP UNJ mantan Ketua Umum FNKTRI (2007-2012) pewaris nilai luhur dan menuturkan sejarah kerelawanan dan memaknai hidup ikhlas tanpa pamrih sosok ibunda Johana Sunarti Nasution

Mengenang sosok yang satu ini, tidak akan pernah habis untuk diceritakan. Dialah Johana Sunarti Nasution, yang akrab dipanggil Bu Nas. Saya mengenal beliau awal tahun 1990, di saat saya mengawali sebagai pengajar muda di Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta (sekarang UNJ). Saat itu saya diperkenalkan oleh Bapak Soedjadi, Ketua Jurusan PLB FIP IKIP Jakarta waktu itu, yang sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Kelompok Kerja PLB (KKPLB) yang diketuai oleh Prof. Dr. Conny R Semiawan. Cakupan program KKPLB antara lain adalah, merintis pendidikan terpadu, pengembangan komunikasi total melalui pengembangan system isyarat bahasa Indonesia bagi kaum tunarungu, dan berbagai program terkait dengan pendidikan khusus lainnya.

Mengetahui latar belakang pendidikan saya adalah pendidikan untuk anak tunarungu, Pak Soedjadi melibatkan saya dalam kelompok pengembangan komunikasi total. Disitulah saya diperkenalkan kepada ibu Conny dan Ibu Nas, dua sosok wanita hebat yang dulunya saya hanya mengenal lewat percakapan orang atau membaca di mass media. Seiring berjalannya waktu kegiatan KKPLB lebih banyak dilakukan di Jl. Teuku Umar No. 42 Jakarta Pusat, di samping kediaman ibu Nas (saat ini Moeseum AH Nasution), menjadi rumah kedua dan sekaligus kampus kedua saya saya waktu itu. Di situlah saya belajar bagaimana menjadi bermanfaat bagi sesama. Saya sedikit demi sedikit mulai mengenal sosok Bu. Nas, Bu Nas yang senang berkomunikasi dengan bahasa Belanda.

Suatu ketika, pernah secara khusus beliau memanggil saya yang waktu itu sedang sendirian berada di samping ruang kerja beliau untuk memilah-milah hasil survey tentang ragam isyarat tunarungu di Indonesia. “Totok…..ke ruang Ibu sebentar”, saya dengan agak sedikit kaku memasuki ruang kerja beliau, ruang kerja dengan meubeler lama dan sederhana. Setelah saya duduk, beliau dengan senyum wibawanya bertanya,”kamu masih muda, belajarlah dari para senior disini, di sini semua mengabdi, untuk mereka yang kurang beruntung…., di sini bukan tempat mencari uang” kata-kata beliau terhenti dan beliau menatap mata saya, seolah membaca pikiran saya. Saya menjadi tertunduk, dan beliau melanjutkan ucapannya: carilah kepuasan batin dengan memuliakan mereka-mereka yang kurang beruntung dengan apa yang kamu miliki, di situlah kamu akan menemukan sejatinya hidup ini dan kamu akan menjadi kaya, ibu hanya punya semangat dan sahabat……” Tidaklah mudah untuk mencerna dan menghayati kata-kata Bu Nas, bekerja…, mengabdi menjadi relawan.

Mengapa beliau berkata disitulah kamu akan menjadi kaya. Ternyata benar, saya yang saat itu baru lulus S1 PLB, dengan berbekal keilmuan khusus untuk pendidikan anak tunarungu yang terbatas, tidak menduga bahwa saya akan bertemu dengan orang-orang hebat, seperti Prof. dr. Hendarto Hendarmin, seorang ahli THT yang berjiwa sosial tinggi, ibu Maryono, seorang pejuang dan pekerja sosial, ibu Lami Bunawan, seorang psikolog sekaligus pakar pendidikan untuk anak tunarungu, ibu Maria, seorang ahli pendidikan untuk anak tunarungu, ditangan beliaulah guru-guru menjadi kompeten dan anak tunarungu menjadi bisa berkomunikasi menggunakan bahasa wajar, Pak Anton Widyatmiko (Alm) yang hebat seperti Bu Maria, Pak Heru Santoso yang ahli isyarat untuk anak tunarungu. Tetapi yang tidak terduga adalah, saya bertemu dengan guru besar pendidikan tunarungu dari Griffith University Australia yang secara khusus dan rutin sering diundang Bu Nas untuk membantu pendidikan tunarungu di Indonesia, Prof. Des Power dan Asst. Prof. Merv Hide. Saya banyak belajar dari orang-orang hebat tersebut, dan saya mulai menemukan dunia yang sesungguhnya.

Dari sinilah saya mulai mendapatkan jawaban apa yang dipesankan Bu Nas kepada saya. Saya semakin kaya dengan pengalaman bagaimana mendidik anak-anak tunarungu dengan pendekatan dan strategi pembelajaran yang up to date, terlibat secara langsung dalam pengembangan Kamus Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI), dan melalui SIBI inilah saya sebagai dosen muda tahun 1992 untuk pertama kalinya terbang ke luar negeri. Saya bersama dengan para ahli pendidikan untuk anak tunarungu di Indonesia di fasilitasi Bu Nas untuk mengikuti Asian Pacific Regional Congress on Deafness (APRECOD) di Bangkok Thailand. Melalui SIBI dan permasalahan anak tunarungu pula saya beberapa kali dapat bertemu dan berdialog langsung dengan Mendikbud waktu itu, Prof. Dr. Ing Wardiman Djojonegoro.

Ibu Nas adalah perempuan yang kokoh, sosoknya  anggun, dengan rambut ikal alami yang masih hitam tebal, parasnya masih menyiratkan kecantikan, kecantikan yang berwibawa. Dengan kesederhanaannya beliau secara tidak langsung mengajarkan kepada siapa saja yang dekat dengan beliau tentang hakikat kehidupan agar menjadi bermanfaat bagi sesama. Memaknai hidup tanpa pamrih, begitu mudah dihayati jika disandingkan dengan kehidupan sehari-hari Bu Nas. Beliau kumpulkan apapun sumbangan dari para donatur, mulai dari baju bekas layak pakai,  sembako, sampai ke finansial, bahkan pemikiran beliau terima, untuk disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan. Banyak anak negeri ini yang datang dari kaum papa, kini menjadi mandiri dan bermanfaat bagi orang lain, berkat tangan dingin dan kesepenuhatian pengabdian Ibu Nas.

Pesan Bu Nas benar, dengan belajar mengabdi, membantu mereka yang kurang beruntung dengan sepenuh hati, saya menjadi kaya, kaya hati, sahabat, pengalaman, semoga juga menambah kekayaan khasahan pengetahuan saya, dan hidup ini menjadi penuh arti.

Saya semakin tahu bahwa Bu Nas mengabdikan hidupnya untuk memuliakan mereka-mereka yang kurang beruntung dengan mendirikan berbagai yayasan, antara lain Yayasan “Jambangan Kasih”, Yayasan “Pembinaan dan Asuhan Bunda”, Yayasan Bina Wicara “Vacana Mandira” yang berbentuk Akademi Terapi Wicara pertama di Indonesia, Yayasan “Panti Usada Mulia”, yaitu rumah sakit yang menampung pasien miskin, dan Yayasan “Santi Rama”. Di sisi lain beliau gigih membangun jejaring kemitraan dengan berbaagai institusi di luar negeri, salah satunya dengan Mass Deventer, sebuah lembaga sosial untuk mendanai negara berkembang, khususnya untuk memberikan bea siswa bagi anak-anak berprestasi tetapi kurang mampu

Bu Nas, seluruh denyut nadimu adalah aktivitas sosial, engkau Ibu bagi anak bangsa ini, ibu yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk kemaslahatan umat tanpa pamrih, semoga sepeninggal Bu Nas, tumbuh generasi-generasi penerusmu. Selamat jalan Bu Nas…

Beliau juga mewariskan nurani kepedulian bagi sesama dan selalu konsisten memperjuangkan hak hidup orang-orang yang terpinggirkan. Berikut tulisan yang dituturkan oleh Patrik Matanasi yang dimuat dalam Tribunenews (2010) suatu hari di bulan Desember 2009, saya harus mewawancarai ibu Johana Sunarti Nasution, tentang berbagai kegiatan sosialnya yang seabrek. Seperti tokoh Angkatan 45 lainnya, hari itu wanita tangguh yang rela saya sapa Ibu Sunarti, berbicara pada saya panjang lebar soal kegiatan sosialnya dengan penuh semangat. Beliau berkata pada saya ingin bercerita semuanya tentang dirinya dan apa yang dilakukannya, sebelum Tuhan memanggilnya. Kegiatan sosial dikenalkan oleh ibunya Maria Federika Rademayer yang Belanda tulen dan Sunarjo Gondokusumo salah satu tokoh pergerakan nasional Indonesia. Jadi ibu Sunarti juga bagian kecil dari dunia pergerakan Nasional. Diusianya yang kelima dia ikut hadir dalam Kongres Pemuda 28 Oktober 1928. Meski berasal dari keluarga terpandang dan berada hidup sebagai bagian dunia pergerakan nasional tidaklah terlalu menyenangkan. Selalu ada pengintai suruhan pemerintah Kolonial Hindia belanda yang sering tidak disadari.

Masa mudanya, sebenarnya tergolong beruntung. Dia bisa menikmati pendidikan terbaik di zamannya. Dia pernah nikmati Lyceum (sekolah menengah elit) di Bandung sebelum Jepang datang. Lalu dia berhasil lulus ujian SMA zaman Jepang. Karena tidak bisa baca tulis huruf kanji, Ika Dai Gakku (sekolah tinggi Kedokteran) tidak menerimanya sebagai mahasiswa. Cita-citanya menjadi dokter pun pupus. Akhirnya Sunarti harus berpuas diri belajar menjadi apoteker. Zaman revolusi, Sunarti sempet belajar hukum di UGM, namun harus ditinggalkan karena salah satu pendiri Tentara Nasional Indonesia, Abdul Haris Nasution yang masih berpangkat Kolonel menikahinya. Segera Sunarti memasuki dunia para istri tentara yang kerap diliputi kekhawatiran karena suami-suami mereka pergi berperang.

Menjadi istri Nasution bukan hal mudah. Nasution kerap berseberangan dengan penguasa negeri ini. Berkali-kali ancaman kematian menguntit hidupnya sejak zaman revolusi. Hal tragis lalu menimpanya. Putri bungsunya menjadi tumbal sejarah Indonesia dalam Gerakan 30 September 1965. Lepas dari nasib tragis tadi, Sunarti masih terus menunjukkan kekuatannya. Dia terus membantu menanggulangi masalah sosial masyarakat yang menjadi korban pembangunan yang kejam dan tidak adil. Sunarti bersama-sama dengan banyak pihak berjuang untuk mensejahterakan orang-orang bernasib malang yang tidak mampu disejahterakan negara. Ibu Sunarti terus bergelut dalam dunia sosial ketika Nasution tidak lagi menjadi pejabat negara. Setidaknya dia bergelut di dunia sosial lebih dari separuh abad. Kegiatan sosial dijalani sepanjang hidupnya sejak belia. Hingga Magsaysay Award, penghargaan bergengsi dari Filipina, diganjarkan padanya beberapa dekade silam. Pada saya, ibu Sunarti mengaku, dirinya tidak melakukannya sendiri. Dia merasa apa yang dikerjakan berhasil bukan semata karena dirinya saja. Banyak pihak yang terlibat di dalamnya. Ini menjadi hal penting baginya. Betapa egalitariannya ibu Sunarti. Tanpa sadar dia telah ajarkan itu pada saya. Namun, tetap saja ada orang-orang tertentu yang ikut merusak kerja sosial. Bahkan di eselon atas sendiri. Kerja sosial menjadi semakin kacau ketika orang-orang bermotif bisnis pencari profit pribadi masuk bahkan memimpin sebuah lembaga sosial.

Duka dialami dan menghambat kerja sosial ibu Sunarti di zaman orde baru. Penguasa yang tidak suka pada sang suami, begitu membatasi hubungan ibu Sunarti dengan lembaga sosial luar negeri yang bermaksud memberi bantuan pada ibu Sunarti. Bukan ibu  Sunarti namanya jika dirinya berhenti begitu saja. Ibu Sunarti terus bergerak. Satu program digagalkan, Sunarti masih bergerak dengan program-program lainnya. Hanya sedikit cerita darinya yang bisa saya tulis sekarang. Kalimat  ibu Sunarti yang masih terngiang di kepala saya adalah, “biarkan masalah datang pada saya, maka saya akan mencari penyelesaiannya.’ Saya bangga pernah mendengar ceritanya. Sebagai salah satu anak sejarah dia telah membuat sejarahnya juga sejarah bangsanya yang ikut diukir. Saat itu adalah saat terakhir saya bertemu dengannya. Semoga ibu Sunarti yang saya kenal pergi dalam damai.

Semoga apa yang dilakukan Ibu Johana Sunarti Nasution, dapat menjadi teladan, inspirasi dan memotivasi kita semua untuk memperjuangkan dan memperhatikan sesama yang kurang mampu dan membutuhkan uluran tangan kita untuk sama – sama bangkit dan berjuang untuk kemajuan bangsa Indonesia. Seperti pesan terakhir Ibu Johana Sunarti Nasution sesuai yang dituturkan putri beliau Hendriyanti Sahara ‘Kita harus tetap berjuang untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat demi kemajuan bangsa” semoga semua yang beliau torehkan pada negeri ini menjadi , amalan yang tidak pernah putus yang senantiasa mengiringi beliau di alam akherat dan akan menjadi warisan luhur bagi generasi penerus yang akan menjadi lentera menuju jalan terang bagi orang-orang yang termarjinalkan.

Oleh : DR. Asri Widjiastuti, M. Pd. (Sekretaris I BKKKS Prov. Jatim)

Beri rating artikel ini!
Tag:

Tinggalkan Balasan