Prof. Dr. H. R. SOEDARSO DJOJONEGORO, AIF.

cover-prof-sudarsoPhysiology Adalah Symphony Dalam Hidup Saya dan Anak-Anak Tuna Netra Adalah Bagian Dari Hidup Kita”

Nama Soedarso adalah pemberian orang tua untuk saya, kata ayah nama tersebut diambil dari nama seorang dokter yang ditemuinya saat bertugas di Batusangkar Sumatera Barat. Suatu ketika saya mengikuti ayah bertugas di Bandung, saya pernah melihat papan nama tempat praktik dr. Soedarso itu. Kabarnya dokter tersebut dipindah ke Bandung setelah dari Batusangkar. Mungkin ini memang doa ayah saat memberiku nama agar dapat menjadi dokter suatu saat nanti.

Ayah saya Raden Abdoelmoetallip Djojonegoro berprofesi sebagai guru. Beliau lahir di Socah Bangkalan 19 Oktober 1907. Ayah mengenyam pendidikan dasar di Pamekasan tahun 1914 di Hollands Inlandse School (HIS). Sekolah Bumiputera-Belanda tersebut setingkat SD yang diperuntukkan bagi keturunan Indonesia asli yang umumnya anak bangsawan, tokoh terkemuka atau pegawai negeri. Lama belajar di HIS adalah tujuh tahun dan ayah menyelesaikan pendidikan HIS tahun 1921. Ayah kemudian melanjutkan pendidikan di Kweekschool, jenjang pendidikan resmi untuk menjadi guru pada zaman Hindia Belanda hingga tahun 1925. Metode belajar di Kweekschool mirip boardingschool atau sekolah asrama.

Ayah pernah bercerita bahwa dirinya tidak menyelesaikan pendidikan di Kweekschool, tetapi langsung melanjutkan di Hogere Kweekschool (HKS) di Purworwjo pada 1925 hingga 1928. Hal ini memang diperbolehkan pada saat itu. HKS sendiri merupakan sekolah guru tingkat atas bertujuan untuk mendidik calon guru yang akan mengajar di HIS. HKS di Purworejo merupakan HKS pertama yang didirikan pemerintah Belanda, salah seorang yang pernah mengenyam pendidikan di sana adalah Pahlawan Nasional Otto Iskandar Dinata, yang wajahnya seringkali kita lihat di pecahan uang rupiah 20.000 terbitan tahun 2013.

Ketika mengenyam pendidikan di Purworejo ini, ayah R. Abdoelmoetallip Djojonegoro bertemu dan menikah dengan Rr. Wartinah, Ibu saya. Mereka menikah pada 30 Juni 1928, tepat setelah ayah lulus dari HKS dan diangkat menjadi guru.

Ibu saya merupakan wanita yang cukup terdidik di masa itu, setelah menamatkan sekolah di HIS Purworejo, Ibu melanjutkan pendidikan di Nijverheids School, juga di Purworejo. Setelah Indonesia merdeka, Nijverheids School diubah menjadi Sekolah Kepandaian Putri (SKP).

Setelah menikah, ayah mulai medalami profesinya sebagai seorang guru. Tugas pertamanya dijalani di Hollands Inlandsche School di Batusangkar, Sumatera Barat. Pengabdian ayah sebagai sorang guru tidak berakhir di Batusangkar, beliau menjalani kehidupanyya dari satu sekolah ke sekolah lain dan dari satu kota ke kota lain. Pada akhirnya ayah dan ibu meninggal dunia saat menetap di Surabaya dan beliau berdua dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngangel Surabaya.

Saya lahir di Pamekasan pada hari Selasa, 8 Desember 1931 sebagai putra kedua dari sebelas bersaudara pasangan R. Abdoelmoetallip Djojonegoro dan Rr. Wartinah. Pada tahun 1937 ayah dipindahtugaskan ke Pemalang, dan ketika itu usia saya 5,5 tahun kemudian ayah memasukkan kami ke Frobel School (STK) di Comal, Jawa Tengah. Froben School adalah sekolah setingkat Taman Kanak-Kanak (TK). Setelah saya menyelesaikan pendidikan di STK Comal, pada Agustus 1939 ayah memasukkan saya di kelas 1 Europese Legere School (ELS), saat itu usia saya 7,5 tahun. Selanjutnya saya bersekolah di Sekolah Rakyat (SR) Pamekasan dan pada kelulusan sekolah tahun 1945, saya berhasil lulus dan melanjutkan sekolah di Madura Chuugakkoo dan juga sempat bersekolah SMP di Jember dan pindah ke SMP di Malang dan melanjutkan bersekolah SMA di Malang. Saya berpindah-pindah sekolah karena profesi ayah sebagai seorang guru harus berpindah-pindah, dan pada tahun 1950 saat saya menginjak kelas 2 SMA saya tinggal dan hidup di Surabaya.

Setelah lulus dari SMA 2 Surabaya, saya sempat bingung karena tidak ada sekolah penerbangan di sini untuk melanjutkan belajar. Tampaknya saya harus membuang jauh jauh cita-cita menjadi penerbang sebagaimana yang pernah menjadi angan-angan saya dulu saat masih kecil di Balikpapan. Pada masa itu pilihan untuk melanjutkan studi juga tidak banyak dan karena saya ingin tetap di Surabaya maka pilihan saya Fakultas Kedokteran Soerabaja tjabang Universitas Indonesia.

Fakultas Kedokteran Soerabaja tjabang Universitas Indonesia adalah cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Ini merupakan bagian dari sejarah panjang pendidikan kedokteran di Surabaya yang dimulai tahun 1913 dengan berdirinya Nederlands Indische Artsen School (NIAS). Namun pada 8 Maret 1942 NIAS ditutup oleh Jepang yang mengaku sebagai saudara tua hingga akhirnya pada 29 April 1943 pemerintah Jepang membuka Ika Dai Gakku di Salemba Jakarta yang merupakan Sekolah Tinggi Kedokteran dengan mahasiswanya gabungan dari Sekolah Kedokteran di Jakarta dan Surabaya.

Kolonialisme Jepang di Indonesia yang berakhir pada 14 Agustus 1945 membuat Ika Dai Gakku diambil alih oleh Pemerintah Indonesia dan menggantinya dengan Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia, namun nasib pendidikan dokter pada masa itu semakin tidak menentu selama beberapa masa karena pemerintah Republik Indonesia yang masih terus dirongrong oleh penjajah Belanda. Akhirnya tahun 1948 Fakultas Kedokteran di Surabaya dibuka kembali dengan nama menjadi Fakultet Kedokteran Soerabaja Tjabang Universitas Indonesia, baru pada 10 November 1954 Presiden Indonesia Ir. Soekarno meresmikan berdirinya Universitas Airlangga di Surabaya dan Fakulas Kedokteran menjadi salah satu Fakultas yang ada saat itu.

Pada saat saya memasuki pendidikan kedokteran, sistem pendidikan sekolah tinggi kala itu berbeda dengan yang ada sekarang. Sistem perkuliahan mengikuti sistem Belanda dan diprogram untuk masa tujuh tahun, namun saat itu juga berlaku vrije studie atau studi bebas sehingga seorang mahasiswa mau kuliah atau bolos tidak masalah. Tidak ada drop out. Memang pada saat itu jumlah mahasiswanya tidak banyak seperti sekarang.

Jenjang di pendidikan kedokteran saat itu adalah Propadeus untuk mempelajari ilmu-ilmu dasar yang menyangkut kedokteran seperti ilmu alam, ilmu kimia, biologi dan lain-lain. Selanjutnya bila ujian Propadeus berhasil dilalui, jenjang berikutnya adalah Candidat 1 (C1) dan Candidat 2 (C2). Di sana dipelajari mata pelajaran ilmu kedokteran dasar, Mahasiswa yang berhasil lulus C2 bisa dikatakan telah menjadi sarjana muda. Setelah itu pendidikan dilanjutkan di jenjang Doktoral 1 (D1) dan Doktoral 2 (D2), sekarang dinamakan Sarjana Kedokteran.

Kalau sekarang seorang Sarjana Kedokteran yang harus menimba ilmu pendidikan profesinya dengan bekerja di rumah sakit selama dua tahun, pada zaman saya kuliah kedokteran setelah lulus D2 seorang sarjana kedokteran masuk jenjang Arts 1 (A1) Arts 2 (A2). Di A1 kami magang atau co-assistentschap disingkat Co Schap, di rumah sakit untuk mempelajari ilmu penyakit dalam, ilmu penyakit saraf dan jiwa serta ilmu membuat obat-obat. Baru pada tahun terakhir di jengan A2 kami mengikuti Co Schap dibidang ilmu bedah, ilmu kebidanan dan penyakit kandungan, ilmu penyakit mata, ilmu penyakit kulit dan kelamin, ilmu kedokteran kehakiman, ilmu penyakit telinga, hidung dan tenggorokan serta ilmu sinar. Sesudah menjalani Co Schap dan lulus di setiap bidang ilmu, baru kami dinyatakan lulus dan berhak memakai gelar dokter.

Saat saya menjadi Sarjana Muda rupanya membawa kisah tersendiri yang mengubah jalan hidup saya hingga sekarang. Pada tahun 1954 setelah menjadi sarjana muda, di salah satu lorong gang difakultas kedokteran, saya bertemu Prof. dr. Oei Hwai Kiem atau dikenal dengan nama Indonesianya Prof. dr. Wibowo, beliau adalah seorang guru besar ahli ilmu faal-biokimia. Beliau menanyakan pada saya apakah bersedia menjadi asisisten dosen ilmu faal. Saya tidak pernah berpikir sebelumnya untuk menjadi asisten dosen ilmu faal atau bahkan guru besar ilmu faal. Saat itu saya ingin menjadi ahli kandungan sebagaimana yang telah saya cita-citakan pada saat kuliah di jenjang Propadeus. Namun entah apa yang terjadi saat ditanya seperti itu oleh Prof. Wibowo dengan mantab saya menjawab “Ya Prof.

Sejak bertemu Prof Wibowo pekerjaan sebagai asisten dosen saya tekuni. Sebagai asiten dosen saya banyak membantu praktikum dibidang ilmu faal, karena dianggap bekerja dengan cukup baik, tidak lama kemudian terhitung mulai 1 Juli 1955 saya diangkat menjadi pegawai negeri sipil berdasar Surat Keputusan Menteri P dan K Nomor 36105/C.III tanggal 28 Juni 1955. Itulah awal saya menekuni dan mencintai ilmu faal. Bisa dikatakan bahwa saya termasuk sesepuh ilmu faal di UNAIR. Karena itu pada hari Sabtu 5 Oktober 2013, saya mendapat penghargaan dari Fakultas Kedokteran dengan diselenggarakannya suatu tribute lecture ilmu faal bagi saya. Memang benar-benar saya rasakan bahwa “Physiology Is The Symphony Of My Life”.

Sebagai mahasiswa saya sempat dua kali menjadi Ketua perpeloncoan penerimaan mahasiswa baru di fakultas kedokteran, masing-masing tahun 1954 dan 1955. Perpeloncoan ini diadakan oleh Gerakan Mahasiswa Surabaya (GMS). Ketika kali pertama menjadi ketua perpeloncoan pada 1954, banyak mahasiswa senior dan masyarakat umum yang datang ke kampus FK untuk melihat perpeloncoan. Salah satu yang hadir menyaksikan adalah Mieke yang dikenalkan oleh kawan saya. Itulah saat saya kali pertama melihat senyuman Mieke yang terus mengembang kala perkenalan tersebut. Singkat cerita karena seringnya bertemu dan datang bermain ke rumah Mieke maka hubungan saya dan Mieke semakin dekat dan mesra. Melihat hal ini kami sepakat agar hubungan itu dapat ditingkatkan menjadi suatu pertunangan. Setelah saya sampaikan niat kami itu kepada ayah dan ibu, mereka berdua menyetujui saya untuk melamar Mieke. Dibuatlah acara lamaran pada 22 April 1955 yang berlangsung meriah di rumah Mieke. Dengan bijaksana dalam acara lamaran tersebut kedua orang tua kami menyetujui serta merestui pertunangan saya dan Mieke, walaupun Mieke saat itu belum lulus SMA. Setelah lulus SMA pada Juni 1955, Mieke mandaftar menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteran UNAIR.

Pada hari minggu wage, 25 Maret 1956 menjadi hari paling bersejarah buat saya dan Mieke. Hari itu saya mengucapkan ijab kabul didepan ayah Mieke. Kami memutuskan menikah karena merasa cukup lama berpacaran dan saling mengenal satu sama lain, ditambah lagi saya sudah punya penghasilan yang lebih dari cukup dari status saya sebagai pegawai negeri di UNAIR, selain itu saya masih mengajar di beberapa sekolah SMA di Surabaya.

Setelah menikah, Mieke memutuskan berhenti kuliah di FK UNAIR dan menjadi ibu rumah tangga saja. Setiap ada yang bertanya dan menyayangkan ia yang tidak meneruskan kuliah, Mieke selalu menjawab, “Untuk apa meneruskan kuliah kedokteran, kan sudah dapat dokter.”

Keberkahan yang diberikan Tuhan kepada saya rasanya tidak pernah berhenti, hanya setahun setelah pernikahan, keluarga kecil kami dilengkapi dengan hadirnya seorang anak dan pada akhirnya saya dan Mieke dikaruniai oleh Allah SWT enam orang anak yaitu Rr. Ria Rosita (23 April 1957), Rr. Ira Dharmawati (30 Desember 1958), Rr. Ari Triwardhani (02 Februari 1962), Rr. Ita Puspita Dewi (06 September 1964), R. Bayu Airlangga Putra (08 Mei 1971) dan Rr. Natali Sesarina (26 Desember 1973).

Meskipun akhirnya menjadi ahli ilmu faal, saya tetap praktek sebagai dokter umum. Sebab memang tidak ada pengobatan dalam ilmu faal. Ilmu faal adalah ilmu yang mempelajari fungsi organ-organ tubuh, tetapi bukan mambahas penyakitnya. Ini lebih mempelajari perangkat dalam tubuh. Misalnya bagaimana kerja jantung, paru-paru dan sebagainya. Kendati saya membuka praktik sebagai dokter umum, menurut statistik saya ternyata 70 persen pasien saya adalah anak-anak. Karena itulah orang-orang pada zaman itu banyak yang memanggil saya dengan sebutan dokter anak-anak.

Sebagai dosen, saya punya kewajiban untuk tetap melakukan penelitian-penelitian ilmiah. Ditengah kesibukan mengajar, praktik dan mengikuti organisasi sejak 1967 hingga 1977 saya telah melakukan lebih dari 12 penelitian. Penelitian-penelitian itu ditambah persyaratan lainnya telah membuat credit point mencapai 850, artinya credit point saya telah cukup untuk diajukan ke rapat senat guru besar. Selanjutnya terhitung 1 Oktober 1979 saya diangkat sebagai guru besar/pembina utama madya gol. IV/D berdasar SK Presiden RI No. 11/K./1980 tanggal 10 Mei 1980. Saat SK ini saya terima usia saya sekitar 48 tahun. Usia yang terbilang muda pada saat itu untuk menjadi seorang guru besar.

Ketika saya pensiun pada Januari 2002, saya masih diminta oleh bagian Ilmu faal dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga untuk tetap mengajar disana, karena itu UNAIR kemudian mengajukan kepada Menteri Pendidikan agar saya diangkat sebagai Guru Besar Emiretus. Saat ini kalau ingin menjadi Guru Besar Emiretus, pengusulannya harus setiap tahun diperbaharui. Untunglah pada tahun 2002 saya mendapatkan SK guru besar tersebut, peraturannya belum seperti itu sehingga saya cukup diusulkan sekali saja tanpa perlu diusulkan lagi dikemudian hari. Pada tahun 2015 saya telah menjadi guru besar selama 36 tahun. Mungkin saya guru besar terlama di UNAIR saat ini, bahkan untuk Jawa Timur.

Pada tahun 1979 di Kopertis wilayah VI terjadi pergantian kepemimpinan. Mantan Rektor Universitas Brawijaya Prof. Darji Darmodiarjo, SH yang memimpin Kopertis Wilayah VI sejak 1976 telah selesai masa jabatannya. Saya yang juga menjabat sebagai Pembantu Rektor III UNAIR ditunjuk oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk menggantikannya. Lembaga ini dibentuk Pemerintah pada tahun 1967 dengan nama Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi Swasta). Fungsi lembaga ini adalah mengkoordinasikan perguruan tinggi diwilayah kerjanya. Pimpinan Koperti disebut koordinator. Sebagai koordinator Kopertis, saya bertugas diantaranya melakukan klarifikasi atau verifikasi terhadap usulan pendirian perguruan tinggi swasta dan program studi baru.

Pada tahun 1984 masa jabatan Prof Dr. dr. Marsetio Donosepoetro sebagai Rektor UNAIR hampir selesai dan diadakanlah rapat senat untuk memilih Rektor baru. Cara pemilihannya sederhana, tanpa fit and propoer test dan macam-macam prosedur lainnya sebagaimana yang sekarang lazim terjadi. Rapat senat pada 1984 itu hanya memunculkan dua nama calon Rektor, yaitu Prof. Marsetio sebagai Rektor incumbent dan saya. Ternyata setelah hasil voting menunjukkan bahwa pemilih Prof Marsetio dan saya sebagai calon Rektor hampir imbang. Hanya selisih satu suara saja. Hasil pemilihan hari itu disampaikan secara resmi kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Setelah beberapa waktu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan lantas memutuskan bahwa saya dipilih menjadi Rektor kedelapan UNAIR. Saya diangkat menjadi Rektor dengan SK Presiden RI Nomor : 237/M/1984 tertanggal 06 November 1984.

Proses yang hampir sama terjadi tahun 1988. Sebelum SK Presiden RI Nomor 360/M/1988 tanggal 26 Desember 1988 saya terima, kurang lebih satu bulan sebelumnya telah dilakukan rapat senat dan memilih Rektor. Saya kali itu diusulkan kembali untuk memimpin UNAIR masa jabatan kedua.

Saat menjabat sebagai Rektor, saya pernah diminta menjadi anggota MPR selama dua periode. Periode pertama adalah tahun 1987-1992 dan periode kedua tahun 1992-1997.

Setelah melepas jabatan Rektor pada tahun 1993, saya mendapatkan kepercayaan menjadi Duta Besar Indonesia untuk UNESCO yang secara resmi dilantik pada 1 Oktober 1994 oleh Menteri Luar Negeri Ali Alatas. Menjadi Duta Besar membutuhkan lobi-lobi kepada negara-negara lain, termasuk proses saat Indonesia ingin dipilih menjadi Executive Board. Demikian pula saat saya mencari donasi untuk perbaikan candi Borobudur serta memperjuangkan agar pulau Komodo dijadikan warisan dunia UNESCO.

Memangku jabatan Duta Besar ini terkadang harus makan hati. Sebagai abdi negara, kami harus menyampaikan apa yang terkadang tidak sesuai dengan hati nurani. Dalam sidang-sidang, terkadang kami tahu bahwa apa yang disampaikan lawan bicara kami di sidang itu ada benarnya. Tapi karena hal itu membuat pandangan dunia internasional jelek, kami harus menyangkalnya. Karena tidak sesuai dengan hati nurani saya maka pada tahun 1999, mengajukan permintaan  kepada Menteri Luar Negeri dan Menteri Pendidikan agar saya segera diganti.

Saat masih di Paris saya beberapa kali keluar sendiri hanya ditemani Mieke tanpa ada staf kedutaan yang menemani. Pernah suatu ketika saya dan Mieke berjalan-jalan menuju salah satu pusat perbelanjaan besar di Paris di Distrik Montparnasse, dengan menggunakan Metro De Paris. Ini merupakan sebuah sistem angkutan cepat menggunakan kereta api bawah tanah yang ada di Kota Paris.

Di dalam kereta duduk diseberang saya sorang pria berkacamata hitam. Saya heran dengan pria ini, sepanjang perjalanan dia selalu bertanya ini sampai dimana, harusnya dia kan bisa melihat sendiri. Terakhir dia menanyakan pemberhentian berikutnya, saya pun menjawab bahwa pemberhentian berikutnya Montparrnasse. Sesampai kami di Montparnasse, saya melihat pria itu mengeluarkan tongkat lipatnya dan ternyata dia buta. Timbul rasa sesal dan iba saya. Di stasiun ia menanyakan jalur kereta api ke Italia dan sayapun terheran dan bertanya anda mau kemana, pria tersebut menjawab ingin kembali ke Roma. Kemudian saya bertanya apa yang anda lakukan di Paris ini, dengan bangga pria itu menjawab saya di Paris sebagai turis. Jawaban ini mengejutkan sekaligus membuat saya terkesan, ternyata orang buta bisa menikmati hidup dengan menjadi wisatawan.

Perjumpaan dengan sang wisatawan membangkitkan hasrat saya untuk turut mengubah pandangan masyarakat tentang orang tuna netra. Hasrat ini tak bertepuk sebelah tangan, saat saya kembali ke Indonesia setelah bertugas sebagai Duta Besar, pada tahun 2000 saya bertemu ibu Grietje Soetopo Van Eyebergen. Beliau adalah pendiri Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) di Surabaya. Beliau bertanya kepada saya, “Mas Dokter, kamu mau membantu saya di YPAB ?” Tentu saja saya tidak menolak tawaran dari ibu Grietje Soetopo Van Eyebergen yang menjabat sebagai penasehat Yayasan di masa itu.

Pada tahun 2001 saya diminta oleh ibu Grietje Soetopo Van Eyebergen menjadi Ketua Yayasan, kini saya tengah dilanda kebingungan antara menarik biaya atau tetap mengharapkan donasi, karena dengan biaya operasional Yayasan yang semakin meningkat sejak krisis 1997, donasi yang ada kami rasakan semakin berkurang. Mudah-mudahan ada jalan keluar terbaik untuk masalah ini. Namun semua prinsip yang dipegang Ibu Grietje Soetopo Van Eyebergen dalam menjalankan Yayasan ini sebisanya saya terapkan. Kami mendidik anak tuna netra sama dengan anak-anak awas terdidik. Kurikulum dari Pemerintah, bedanya buku mereka menggunakan huruf braile demikian juga cara mereka menulis. Persepsi masyarakat tentang tuna netra harus kita ubah dan Pemerintah harus memberikan fasilitas karena tuna netra adalah bagian dari hidup kita.

Menurut saya ada empat hal yang menjadikan sebab manusia berbahagia didalam keluarganya, yaitu istri yang shalihah, anak-anak yang berbakti, teman-teman yang baik dan tata pencaharian yang mudah. Saya sangat beruntung dan bersyukur pada Allah SWT atas segala nikmatnya walaupun pada akhirnya pada pukul 10.00 Jumat Legi 04 Mei 2007 Mieke berpulang ke Rahmatullah.

Dua wanita yang paling saya cintai dan saya sayangi dalam hidup telah pergi, Ibu Saya Rr. Wartinah Djojonegoro dan istri saya Rr. Mieke Laksmiati Soedarso. Mereka adalah dua wanita yang sangat berjasa. Ibu adalah orang yang melahirkan, membesarkan dan mengajarkan bagaimana saya harus hidup di dunia ini. Mieke adalah orang yang sangat berjasa dalam hidup saya, dia yang mengangkat derajat hidup saya, dia adalah seorang Ibu dan istri yang selalu mengutamakan keluarganya diatas segalanya. Selamat jalan dan semoga Allah SWT mempertemukan kita kembali di Surga Nya.

RIWAYAT HIDUP

Nama  : Prof. Dr. H. R. Soedarso Djojonegoro, AIF.

Tempat dan Tgl Lahir : Pamekasan, 08 Desember 1931

Agama    : Islam

Alamat  : Jl. Raya Tenggilis 80 Surabaya

Jabatan : Guru Besar Emiretus Fak. Kedokteran UNAIR.

Keluarga

Nama Istri   : Rr. Mieke Laksmiati Soedarso(Alm)

Nama Anak :

Rr. Ria Rosita, SH

Dr. Rr. Ira Dharmawati, SpA (K)

Drg. Rr. Ari Triwardhani, MSc, Sp. Ort (K)

Dr. Rr. Ita Puspita Dewi, SpKK, FINDV

Bayu Airlangga Putra, SE. MM.

Rr. Natali Sesarina, SS

Jumlah Cucu                   : 17 orang

Jumlah Cicit                     : 8 orang

Riwayat Pendidikan

Pendidikan

  • SR (sekarang SD) Pamekasan Tahun 1945
  • SMP, Malang Tahun 1948
  • SMA 2 Wijaya Kusuma Surabaya Tahun 1951

Pendidikan Tinggi

  • Fakultas Kedokteran UNAIR 1961
  • Certificate Advance Training in Physiology, Buffalo State University, Ny USA Tahun 1963
  • Brevet Ahli Ilmu Faal (AIF) FK UNAIR 02 Oktober Tahun 1969

Pendidikan Tambahan

  • LEMHANNAS Tahun 1983

Riwayat Pekerjaan

  • Guru Besar Emiretus di UNAIR hingga sekarang
  • Guru SMA tahun 1952-1961
  • Pembantu Rektor III UNAIR tahun 1974-1984
  • Koordinator Kopertis Wilayah VII tahun 1979-1985
  • Rektor UNAIR tahun 1984-1988, tahun 1988-1993
  • Anggota MPR RI tahun 1987-1992, tahun 1992-1997
  • Duta Besar RI pada UNESCO di Paris tahun 1995-1999

Riwayat Organisasi

  • Gerakan Mahasiswa Surabaya (GMS) tahun 1952
  • Pembina Persatuan Guru RI Jatim tahun 1980
  • Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sejak tahun 1961
  • Ikatan Ahli Ilmu Faal Indonesia (IAIFI) sejak tahun 1961
  • Perhimpunan Pembina Kesehatan Olahraga Indonesia (PPKORI) tahun 1974
  • Internasional Union for Phsiological Sciences (IUPS) sejak tahun 1978
  • Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit Indonesia (MAKERSI) sejak tahun 2001
  • Dewan Penyantun Universitas Wijaya Kusuma Surabaya sejak tahun 2000
  • Dewan Penyantun Universitas Hang Tuah Surabaya sejak tahun 2004
  • Dewan Penyantun Universitas Narotama sejak tahun 2010
  • YPAB sejak tahun 2001
  • Yayasan Wijaya Kusuma Surabaya sejak tahun 2002
  • Yayasan Rumah Sakit Darmo sejak tahun 2004.

Riwayat Perjuangan

  • Pasukan sukarela dbp Tentara Republik Indonesia Yon Asem Bagus tahun 1946

Tanda Jasa/Penghargaan

  • Satya Lencana Karya Satya Kelas II Tahun 1983
  • Medali Perjuangan Angkatan 45 Tahun 1992
  • Kerabat Agung Sunan Drajat 26 Februari 1994
  • Widya Bakti Universitas Airlangga 10 November 2004
  • Anugeraha Sewaka Winayaroha 30 Oktober 2006

Sumber : Buku Pengabdian Soedarso Djojonegoro

Oleh : Adi Saputro (Staf Redaksi Warta Sosial BKKKS Prov. Jatim)

Beri rating artikel ini!
Tag:

Tinggalkan Balasan