SUDAHKAH KESEJAHTERAAN UMUM ITU TERWUJUD?

Tahun ini usia Negara Kesatuan Republik Indonesia genap 65 tahun. Apakah anda merasa lebih sejahatera dari tahun ke tahun? Jawabnya kemungkinan besar akan sangat bervariasi. Karena mengukur kesejahteraan bukanlah soal yang mudah. Ada nilai-nilai individual, keluarga, kelompok, daerah, negara atau bangsa. Kesejahteraan juga terkait dengan umur, status, periode waktu, tempat, norma, serta tantangan dan ancaman yang ada dalam situasi tersebut. Selanjutnya sebagai penentu adalah respon subjek itu terhadap semua kondisi atau kejadian di atas. Dalam mersepon sebuah situasi, ada faktor-faktor psikologis, sosiologis, dan idealis. Kata kesejahteraan yang sangat merakyat itu, bila ingin dikembangkan agar dapat dilihat secara konkrit, ternyata indikator-indikatornya sangat rumit. Secara politis kerumitan ini dicoba untuk disederhananakan dengan dikembangkannya istilah kesejahteraan umum, kesejahteraan rakyat, dan kesejahteraan sosial. Dalam peraturan perundang-undangan yang menyangkut pengatura ketiga istilah kesejahteraan tersebut juga belum dapat ditemui rincian indikator yang dapat menjelaskan seberapa jauh capaian upaya kesejahteraan umum setelah 65 tahun merdeka. Untuk kesejahteraan orang seorang mungkin pasal-pasal hak asasi manusia dalam undang-undang 39/1999 atau pasal 28 A-H UUD 45 dapat digunakan sebagai tolok ukur. Hanya saja yang tampak dalam praktek penerapan kedua undang-undang ini yang lebih menonjol adalah laporan tentang pelanggarannya. Oleh karena itu penggambaran kesejahteraan dalam tulisan ini lebih banyak menggunakan indikator komperatif, faktual dan ekspresif.

Indikator Komperatif.

Kemerdekaan sudah kita miliki. Jadi dibanding dengan negara-negara lain di dunia yang masih belum sepenuhnya merdeka, mestinya kita lebih sejahtera.Tetapi integritas kita sebagai bangsa tampaknya masih memprihatinkan. Wilayah kita sering dilanggar oleh bangsa lain. Ikan kita sering dicuri oleh bangsa lain. Bahkan ada cerita, hasil curian itu kita sendiri yang membeli. Hal ini tentu bukan merupakan indikator yang menggambarkan kesejahteraan kita.

Mereka yang pernah ke luar negeri atau sering berurusan dengan mata uang asing. Pasti merasakan bahwa nilai mata uang kita sangat rendah.Tidak salah jika ada orang yang kemudian merasa kecil ketika menukar uang. Jutaan uang kita, cuma menjadi ratusan atau ribuan saja setelah ditukar. Pada awal kemerdekaan mata uang sen masih berharga. Permen dan kerupuk tidak sampai satu sen per bijinya. Kini harga kerupuk/permen antara 100 sampai dengan 500 rupiah atau rata-rata 300 rupiah atau sama dengan 30.000 sen. Jadi terhadap mata uang kita sendiri nilai rupiah sudah anjlok. Ini pun sudah terjadi sanering pada tahun 1964 yang memotong 1000 rupiah menjadi 1 rupiah.Beda dengan Dinar atau dirhamnya Arab yang relatif stabil sepanjang masa.

Hak untuk Mendapatkan Lingkungan Hidup yang Baik.

Bumi dan air kita, tempat hutan-hutan itu tumbuh dan berada, kondisinya terakhir tercatat mengalami kerusakan hutan 51 KM2/per hari atau setara 300 kali luas lapangan sepak bola. Satu tahun berarti 18.360 KM2. Atau lebih kurang 1,86 juta Ha. Angka ini lebih tinggi dari data dari Kemeninfo yang hanya berkisar 1,17 Ha/th (Jawa Pos, 3 Oktober 2010). Jika dikumpulkan dan kemudian dibentangkan dengan lebar 2 km, maka akan terdapat daerah dengan panjang 9.000 km. Lebih kurang sepanjang Sumatra, Jawa dan Bali. Berapa luas kerusakan hutan selama 65 tahun. Mungkin data di Kemenhut ada. Artinya linkungan hidup kita semakin memburuk. Lebih padatnya penghuni akan semakin menyempurnakan penggambaran penurunan kualitas lingkungan hidup.

Melengkapi lebih tidak nyamannya lingkungan hidup, sejak reformasi bergulir bencana alam tak kunjung berhenti. Berbagai macam wacana pun muncul dalam menganalisis bermunculannya bencana tersebut yang dihubungkan kepala pemerintahan, agama, kepercayaan. Tidak ketinggalan para normal juga mengikuti kejadian ini, maka hingga saat ini lingkungan sosial NKRI merupakan lingkungan yang paling menyejahterakan mereka yang suka berwacana, berandai-andai, berramal-meramal, bercaci- maki, dan ahli-ahli menjelekan-jelekan, serta lain-lain omong kosong yang sejenis.Mungkin ini akibat pada era Orde Baru yang diberangus. Kini sudah hadir kesempatan berrrrrrrrr apa saja, ala reklamenya Coca Cola. Jadi di balik ketidaknyamanan itu kelompok lain yang sejahtera.

Namun demikian ada satu jenis bencana yang masih jauh dari perhatian umum, yaitu bencana kebijakan, termasuk didalamnya buruknya produk-produk perundang-undangan. Orang miskin akan tetap sulit hidupnya, karena rendahnya garis kemiskinan. Orang dengan penghasilan setingkat UMR sudah dianggap tidak miskin. Dengan penghasilan kurang lebih Rp.1.500.000,- /bulan, kapankah mereka akan dapat mengalami mobilitas vertikal? Jawabnya cobalah hidup dengan penghasilan seperti itu, apa yang akan kita dapatkan? Para penentu garis kemiskinan dan UMR cobalah renungi apakah kebijakan seperti ini bukan sebuah bencana? Apakah ketentuan seperti ini sudah memenuhi kriteria ?Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?? Secara komperatif dulu dan kini, hal ini belum banyak mengalami perubahan. UMR memang naik tetapi inflasi juga jalan terus. Bertambahkah kesejahteraan buruh.

Indikator Ekspresif

Masih berhubungan dengan lingkungan hidup, baru-baru ini ada pernyataan dari seorang wakil rakyat yang terhormat bahwa Korban Tsunami Mentawai adalah sebuah risiko bagi penduduk yang tinggal di pantai tersebut yang rawan tsunami. Sayang pernyataan ini terburu-buru ditanggapi. Seharusnya dibiarkan dulu. Mungkin akan keluar pula pernyataan ?Korban letusan Gunung Merapi merupakan risiko bagi penduduk yang tinggal di lereng-lereng gunung tersebut. Korban Wasior adalah risiko penduduk yang tinggal di bawah bukit. Banjir adalah risiko penduduk yang tinggal di dataran rendah. Akhirnya rakyat akan berkata miskin dan busung lapar adalah risiko dari memiliki wakil-wakil rakyat yang kurang peduli memperjuangkan perbaikan nasib rakyat?. Sempurna kata Demian si ilusionis.

Demokrasi diyakini oleh sebagian besar elit politik sebagai angin segar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikian yakinnya terhadap demokrasi sehingga Pancasila malah hampir-hampir tidak pernah mengedepan atau terdengar lagi diucapkan orang. Tetapi kita tidak mau jika dikatakan telahmeninggalkan Pancasila. Tampaknya bermuka dua lebih menyejahterakan daripada konsisten dengan satu wajah. Tidak heran jika asas musyawarah diganti dengan asas demokrasi liberal ?siapa kuat dialah yang menang?. Masih ditambah lagi dengan sikap anarkhis dan ancaman, pada aplikasinya demo di berbagai tempat.

Berebut Kesempatan

Usaha kesejahteraan (sosial) mempunyai satu aspek tujuan ?pemerataan atau persamaan kesempatan?. Tampaknya berebut kesempatan menjadi salah satu indikator kesejahteraan yang berkembang pesat beberapa tahun terakhir ini.Pada beberapa kesempatan ada sejumlah besar orang berebut zakat fitrah, daging kurban, ang pao pada Hari Raya Imlex, pengungsi atau korban bencana berebut bantuan pangan, sembako pada operasi pasar dll. Jika digunakan tingkatan kecukupan kebutuhan menurut Teori Maslow, orang-orang yang berebut tersebut menunjukkan adanya kekurangan pangan. Maslow meletakkan kebutuhan fisik pada tingkatan paling bawah. Artinya paling utama untuk dipenuhi. Para pengantri berani menempuh bahaya (terinjak, terjepit, dan tergilas) demi memenuhi kebutuhan pangan. Ini risiko menjadi orang miskin. Namun ada fenomena menarik dalam berebut daging korban, yaitu fakir miskin yang menolak diberi daging. Ketika ditanya mengapa? Jawabannya tidak dapat memasaknya karena perlu bahan bakar, bumbu dll yang tidak dimiliki.

Ketidaktertiban

Nah indikator yang satu ini barangkali paling menggambarkan kesejahteraan umum, karena dapat kita jumpai di mana-mana. Indonesia dapat dikatakan sebagai surga bagi mereka yang tidak senang dengan hidup tertib. Mau melanggar peraturan lalu lintas, silahkan. Buang sampah sembarangan, silahkan. Tidak jujur bayar pajak? Apa kata dunia. Tetapi akhirnya ya silahkan. Naik kereta api di atap silahkan. Mau ke lokalisasi silahkan kapan pun asal jangan pada bulan Puasa. Jualan di trotoar, silahkan. Membuka usaha tanpa ijin, silahkan. Kalau saja tidak ada kasus ?video porno? yang mencuat ke permukaan, mungkin kita masih surga pornografi peringkat atas dunia. Ada yang melihatpronografi/pornoaksi dari sudut pandang lain, yaitu sarana pendidikan seksual. Dengan mudahnya mengunggahkan dan mengunduh video porno, kini orang tak perlu lagi susah-susah melaksanakan pendidikan seks, sehingga ?sexual intercourse guide? versi cerita klasik Joko Bodo (bukan Ki Joko Bodo yang mengikutitake selebraty out di TV Indosiar) untuk pasangan baru tidak diperlukan lagi. Ironisnya yang banyak mempraktekan hal ini malah remaja yang belum berhak.

Di luar negeri, akan mengalami kesulitan jika tiba-tiba mobil/motor kita kehabisan BBM, bannya kempes atau mogok. Di sebagian kota di Indonesia tidak jadi masalah. Kita dapat berhenti di sembarang tempat yang kita inginkan. Bahkan di pinggir-pinggir jalan tol dapat kita jumpai orang kencing di sebelah mobilnya.

Kesejahteraan Politik

Kesejahteraan berpolitik juga mengalami peningkatan yang signifikan bagi rakyat golongan bawah. Politik uang dengan sandi ?serangan fajar? menyebar ke pelosok daerah yang dalam proses pemilu kada. Jadi ada perbaikan penghasilan bagi penduduk. Lumayan meskipun hanya sesaat dan tidak merata.

Indikator Fisik

Harus diakui bangunan gedung dan fasilitas umum lainnya memang sangat banyak kemajuannya setelah 65 tahun merdeka. Tetapi desa dan kota masih sangat jauh kesenjangannya, lebih-lebih desa di luar Jawa. Megahnya gedung-gedung yang berfungsi fasilitas umum itu masih menggambarkan diskriminasi karena tidak beraksesibelitas yang diperintahkan oleh undang-undang bagi penyandang cacat dan lanjut usia. Untuk perujudan aksesibelitas ini rasanya belum ada DPR/DPRD dan kepala daerah di Indonesia ini yang sangat peduli, sehingga tidak ada penyesalan karena tidak mampu mewujudkan.

Komunikasi dan Informasi

Komunikasi dan informasi menggunakan telepon genggam luar biasa pesat kenaikan kemajuannya. Indonesia termasuk pasar terbesar telepon genggam dunia, terutama yang low end. Bangsa yang punya hobi ?ngerumpi? ini benar-benar terfasilitasi dengan alat tersebut. Dulu ngerumpi terbatas pada beberapa orang dengan cara tatap muka. Kini dilakukan dengan telepon. Jadi penggunaan telepon genggam lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan psikologis daripada kebutuhan riil. Jika hal ini dibiarkan tanpa ada pendidikan bertelepon genggam yang baik maka lebih kurang 10 -15 tahun ke depan mungkin jutaan orang di Indonesia akan menderita tumor otak. Keprihatinan dari risiko penggunaan telepon genggam ini dikemukan oleh para ahli yang ditulis oleh James Goodlate (Epoch Time, edisi 149, 20-26 Juni 2010).

Gila-Gilaan

?Jaman edan, sing ora edan ora keduman? (jaman gila, mereka yang tidak gila tidak akan mendapatkan apa-apa) demikian Prabu Jaya Baya bersabda. Gila-gilaan ini dapat kita lihat terutama di TV.

Oleh : Sutopo Wahyu Utomo

Foto : empimuslion.wordpress.com

Beri rating artikel ini!
Tag:

Tinggalkan Balasan