TERIMA BANTUAN DENGAN NGESOT

Prakata : Pelatihan yang didanai BK3S Jatim dan difasilitasi PRSPP Teratai ini merupakan langkah awal, sebagaimana disampaikan Ny Soetardjo dalam kata sambutannya. ?Masih banyak penyandang cacat (Paca) yang juga perlu diperhatikan. Kalau dalam pelatihan saat ini pesertanya dari Malang, diharapkan ada kerjasama lagi untuk menjangkau Paca lainnya. Tentunya dalam hal ini BK3S tidak bisa bekerja sendiri, kepedulian dari berbagai pihak sangat dibutuhkan.

TERIMA BANTUAN DENGAN NGESOT

Suasana PRSPP Teratai memang agak beda. Biasanya dilingkungan panti ini banyak berkeliaran remaja yang telah menjadi korban narkoba. Karena memang mereka adalah klien dari PRSPP teratai. Tapi pada 2 bulan sejak September lalu di panti ini justru banyak terlihat para penyandang tuna daksa. Dan selama 2 bulan tersebut mereka nampak sibuk berlatih menjahit.

Diruang pelatihan dengan deretan mesin jahit berbagai type itu nampak para tuna daksa berlatih. Dengan instruktur Titik Winarti dari Tiara Handicraft, mereka berlatih bagaimana mengoperasionalkan mesin jahit dengan segala keterbatasan fisik yang dimiliki. Bahkan lebih lanjut mereka dilatih bagaimana membuat berbagai handicraft yang berbasic ketrampilan menjahit.

Tidak mudah memang melatih mereka dengan keterbatasan fisik yang dimiliki. Jangankan mengoperasionalkan mesin jahit, untuk memasukan benang pada jarum jahit saja sudah sulit. Apalagi harus membuat handicraft yang cukup rumit, tentu sulit dibayangkan bahkan untuk mereka yang fisiknya normal sekalipun. Tapi semangat mereka itulah, yang bisa mengalahkan keterbatasan fisik.

Keuletan dan kemauan keras untuk berlatih dan berlatih membuat mereka mampu mengatasi keterbatasan fisiknya. Namun hal demikian juga tidak terlepas dari kepiawaian sang instruktur. Titik Winarti memang punya pengalaman dibidang tersebut. Karena sebagian besar karyawannya di Tiara Handicraft adalah penyandang tuna daksa.

?Ketika datang pertama kali, mereka ini rata-rata belum mengenal dunia jahit menjahit. Untuk itulah dalam pelatihan ini, pertama kali yang perlu digarap adalah bagaimana mereka dibuat senang dulu terhadap apa yang dilakukan. Pada mereka ditanamkan bahwa jahit menjahit bukanlah hal yang ruwet dan rumit seperti benang kusut. Dan dimotivasi bahwa mereka pasti bisa asal mau berlatih,? ungkap Titik Winarti yang memang punya komitmen tinggi pada penyandang cacat.

Dan diluar dugaaan, ternyata daya serap mereka terhadap materi pelatihan cukup tinggi. Seperti yang dituturkan Titik, selama pelatihan 2 bulan itu mereka mampu menyerap semua materi bahkan ada penambahan materi sampai 30 %. Hal ini bisa dilihat saat acara penutupan pelatihan yang diselenggarakan pada 15 Nopember lalu. Dalam acara tersebut mereka mendemokan bagaimana menjahit dan membuat aneka handicraft yang berbasis jahit menjahit. Mulai membuat tas hingga membuat bordir pada badcover.

Dalam pelatihan ini diikuti 20 penyandang tuna daksa dari wilayah sekitar Malang. Dan 8 diantaranya dinyatakan lolos seleksi untuk bisa magang di Tiara Handicraft. Sebetulnya menurut Titik, semua bisa, tapi karena keterbatasan tempat di Tiara Handicraft maka seleksipun dilakukan.

Saat mereka yang lolos magang diumumkan dalam acara penutupan pelatihan, suasananya berubah mengharukan. Ucapan selamat diantara mereka disampaikan dengan ditandai saling bersalaman dan pelukan sebagai sahabat. Bahkan diantaranya ada yang menitikan air mata. Jalinan bersahabatan selama pelatihan nampaknya sangat membekas, sehingga acara penutupan tak ubahnya sebagai acara perpisahan.

Disalah satu sudut juga nampak ada yang menangis sesunggukan bahkan sampai tidak bernafsu makan. Sehingga teman disebelahnya memaksa untuk makan dengan menyuapi. Nampaknya mereka ini dua sejoli yang telah menjalin tali asmara selama pelatihan. Si perempuan menangis karena merasa saat itu adalah masa perpisahan. Karena sang kekasih diterima untuk melanjutkan magang, sementara ia tidak lolos.

?Sangat luar biasa yang kami alami selama pelatihan di panti ini. Bahkan sampai hal-hal terkecil diperhatikan. Terima kasih pada semua pihak yang membantu terselenggaranya pelatihan ini. Khususnya kepada Ibu Titik yang telah memberikan ilmunya dengan penuh keihklasan. Apa yang kami dapatkan dari Ibu Titik belum pernah kami ketahui selama ini. Apa yang kami dapatkan dalam pelatihan ini akan menjadi modal kami untuk bisa mandiri. Walaupun sebenarnya untuk mandiri, bagi kami juga tidak mudah,? ujar Agus, salah satu peserta ketika menyampaikan kesannya.

Pelatihan yang didanai BK3S Jatim dan difasilitasi PRSPP Teratai ini merupakan langkah awal, sebagaimana disampaikan Ny Soetardjo dalam kata sambutannya. ?Masih banyak penyandang cacat (Paca) yang juga perlu diperhatikan. Kalau dalam pelatihan saat ini pesertanya dari Malang, diharapkan ada kerjasama lagi untuk menjangkau Paca lainnya. Tentunya dalam hal ini BK3S tidak bisa bekerja sendiri, kepedulian dari berbagai pihak sangat dibutuhkan,? ujar Pengurus BK3S Jatim ini.

Sementara Hana dari Pondok Kasih dalam sambutannya menjanjikan akan mencoba membantu mempromosikan produk para Paca. ?Siapa tahu nanti bisa di pasarkan atau dipamerkan di luar negeri. Memang produknya masih tidak bisa bersaing misalnya dengan produk China yang sudah mapan. Tapi cerita dibalik pembuatan produk akan menjadi daya tarik sendiri,? ujarnya.

Dalam kesempatan ini Pondok Kasih menyerahkan bantuan berupa 10 unit mesin jahit dan 5 kursi roda. Untuk mesin jahit akan diserahkan pada tempat dimana Paca bekerja atau pada Paca yang telah membentuk kelompok usaha. Diharapkan peralatan tersebut bisa sebagai sarana untuk melatih Paca lainnya.

Ketika acara serah terima bantuan yang diselenggarakan di Aula PRSPP Teratai dilaksanakan, semua yang hadir nampak terdiam. Hal itu terjadi ketika penyerahan bantuan kursi roda secara simbolis. Saat itu semua mata yang hadir tertuju pada salah satu peserta yang akan menerima bantuan. Karena saat ia menuju kedepan untuk menerima bantuan hanya bisa dilakukan dengan cara ngesot sebab kedua kakinya tidak berfungsi normal.

Multi Layanan

PRSPP Teratai memang diperuntukan sebagai tempat rehabilitasi korban narkoba. Tapi sejak September hingga Nopember menjadi tempat pelatihan bagi Paca tuna daksa. ?Panti ini memang sebagai tempat rehabilitasi korban narkoba. Tapi pada bulan seperti ini para klien sedang tidak ada, karena mereka sudah memasuki program PBK. Dan sebagai realisasi dari fungsi panti multi layanan, kami menyelenggarakan pelatihan untuk para penyandang tuna daksa. Pelatihan ini merupakan hasil kerjasama dengan BK3S Jatim,? ujar Rachmat Syamsudin, Kepala PRSPP teratai- Surabaya.

Memang Rachmat Syamsudin adalah mantan Kepala PSBD-Bangil yang akrab dengan para penyandang tuna daksa. Sehingga meski sudah tidak menangani tuna daksa, ia masih concern pada penyandang cacat ini. Ketika, panti yang dipimpinnya saat ini sedang kosong kegiatan, iapun menggandeng BK3S Jatim untuk menyelenggarakan pelatihan dengan instruktur Titik Winarti dari Tiara Handycart.

Apa yang dilakukan Rachmat ini, nampaknya juga tidak menyalahi fungsi panti yang dipimpinnya. Menurutnya hal itu diperbolehkan sesuai dengan surat edaran Dirjen Depsos tahun 2005 tentang multi layanan panti. Tentu dalam kegiatan ini tidak boleh sampai mengganggu kegiatan pokok dari panti termasuk pendanaanya. Dan apa yang dilakukan ini merupakan emplementasi dari fungsi panti dalam hal memberikan multi layanan bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Social (PMKS). (gt)

Beri rating artikel ini!

Tinggalkan Balasan