KORBAN LUMPUR SIDOARJO (LUSI)

Prakata : Awalnya semburan lumpur yang muncul di areal eksploitasi sumur Banjar Panji ? 1 milik PT. Lapindo Brantas Inc, Desa Renokenonggo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, tanggal 29 Mei 2006, peristiwa tersebut menjadi tontonan. Hal itu sempat berlangsung selama 3 bulan. Saat itu volume yang dikeluarkan sudah mencapai 5 ribu m3/hari. Volume tersebut lalu meningkat menjadi 25 ribu m3/hari dan pada Bulan Agustus 2006 telah mecapai 50 ribu m3/hari.

KORBAN LUMPUR SIDOARJO (LUSI),

MENANTI DATANGNYA RASA KESETIAKAWANAN SOSIAL

Awalnya semburan lumpur yang muncul di areal eksploitasi sumur Banjar Panji ? 1 milik PT. Lapindo Brantas Inc, Desa Renokenonggo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, tanggal 29 Mei 2006, peristiwa tersebut menjadi tontonan. Hal itu sempat berlangsung selama 3 bulan. Saat itu volume yang dikeluarkan sudah mencapai 5 ribu m3/hari. Volume tersebut lalu meningkat menjadi 25 ribu m3/hari dan pada Bulan Agustus 2006 telah mecapai 50 ribu m3/hari. Angka ini terus meningkat sampai mencapai 126.000 m3/hari. Hingga genap satu tahun pada tanggal 29 Mei 2007 yang lalu, tercatat luas wilayah yang tergenang adalah 717,072 ha. Menurut tafsiran Bappenas kerugian selama sembilan bulan sudah mencapai antara 30-33 triliun rupiah. Jadi per bulannya rata-rata kerugian yang ditimbulkan adalah 3,3 triliun rupiah. Artinya setiap kelambatan satu bulan akan menimbulkan kerugian material senilai 3,3 triliun rupiah. Bayangkan jika diprediksi bahwa semburan tersebut akan berlangsung selama tiga puluh tahun, berapa kerugian yang akan ditimbulkan. Belum lagi terhitung biaya sosial tidak langsung yang ditanggung oleh masyarakat yang terganggu karena kemacetan lalu lintas. Derita yang hampir tak diperhitungkan adalah derita sosial psikologis keluarga terdampak. Kehilangan nilai-nilai historis emosional yang tak tergantikan, harta-benda, mata pencaharian, modal, peluang usaha, dan biaya-biaya lain yang berkaitan dengan pendidikan anak, gangguan kesehatan, serta ketidaknyamanan hidup yang tidak diketahui kapan semua itu akan kembali atau berakhir. Tidak heran jika rakyat terdampak semburan lumpur tersebut bertindak keras untuk meminta pemulihan hak-haknya.

Peringatan satu tahun lusi.

Pada tanggal 29 Mei 2007 lalu genap setahun semburan Lumpur Panas Lapindo berlangsung. Pada peringatan 1 tahun tragedi lusi ini, banyak aktifis ? aktifis sosial yang datang untuk mengekspresikan empatinya kepada para korban lusi. Sejumlah tokoh nasional yang tegabung dalam Barisan Nasional (Barnas) sangat menyesalkan terkatung ? katungnya penyelesaian masalah sosial bagi korban Lumpur. Tokoh ? tokoh yang hadir di pengungsian Pasar Porong Baru antara lain mantan Gubernur Jawa Timur Bp. H. M. Noer, mantan Cawapres Salahuddin Wahid, Sekjen Barnas Haryono Kartohadiprojo, Ketua Umum Barnas Prof. Subroto yang juga mantan Menteri Pertambangan, Kemal Idris, Kahris, Acil Bimbo serta ketua I BKKKS Propinsi Jawa Timur DR. H. Tjuk Kasturi Sukiadi sebagai koordinator. Sekjen Barnas Haryono Kartohadiprojo berjanji akan meminta Presiden untuk lebih tegas menaggani persoalan lumpur Lapindo, terutama masalah ganti rugi untuk warga. Kehadiran mereka setidaknya memberikan terapi psikologis sesaat bagi para korban lusi. Kita semua tentu berharap bahwa mereka tetap memegang komitmen untuk memecahkan masalah ini secara adil seperti tampak pada spanduk yang digelar oleh para korban lusi.

Siapa pun harus adil dan jujur. Tidak menuntut lebih dari haknya dan juga tidak memberi lebih dari kewajibannya. Namun kita tahu betul adanya firman Allah yang menyatakan bahwa manusia tidak akan pernah mampu berbuat adil.

Siapa yang salah ?

Mencari kesalahan orang lain jauh lebih mudah dari pada menyadari kesalahan diri sendiri. Nenek moyang kita sudah memberi pelajaran dengan peri bahasa ?semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak?. Oleh karena pendekatan salah benar tidak tepat jika digunakan dalam penyelesaian masalah lusi. Kesalahan dan kebenaran dalam sistem sosial yang terbuka adalah kontributif dan distributif. Artinya dengan belum adanya penyelesaian yang proporsional semua pihak yang terkait yaitu pemerintah, Lapindo Brantas Inc, dan rakyat, telah menyumbang kesalahan dan membagi kesalahan yang berinteraksi secara kompleks sehingga terjadi kondisi seperti saat ini. Jadi yang tepat adalah dengan menggunakan pendekatan kesetiakawanan sosial. Penderitaanmu adalah penderitaanku, kerugianmu adalah kerugianku, kesulitanmu adalah kesulitanku. Kepentinganmu adalah kepentinganku. Empati inilah yang perlu dikembangkan pada hati nurani semua pihak.

Prinsip kesetiakawanan sosial yang patut diadopsi adalah slogan dalam reklame oli produk PT Pertamina. ?Kita Untung Bangsa Untung?. Rakyat Untung, Lapindo Brantas Inc. Untung dan Pemerintah juga Untung. Bangsa juga untung karena tidak jadi kehilangan 3,3, triliun rupiah setiap bulannya. Stop kepentingan pribadi, stop kepentingan politik, stop kepentingan golongan, stop mental oportunis, stop teror dan provokasi, terakhir stop untuk menjadi pahlawan kesiangan. Tegakkan undang-undang. Mungkin inilah yang disuarakan oleh teater di atas. (A,Stp)

Beri rating artikel ini!

2 Respon

  1. author

    suryo10 tahun ago

    banyak hal yang dapat kita lakukan menyangkut masalah ini. Jika memang kita tidak dapat berbuat jauh, setidaknya jangan lupa untuk mendoakan mereka yang terkena bencana.

    Balas
  2. author

    Redaksi10 tahun ago

    Korban lumpur Lapindo yang pada hakikatnya adalah saudara-saudara kita sesama orang Jawa Timur memang sangat menderita. Penguasaan media dengan menggunakan kekuatan uang telah berhasil “memutar balikkan” kenyataan bahwa seakan -akan para korban lumpur Lapindo ini adalah orang-orang yang beruntung bak menerima “durian runtuh!”.

    Orang-orang yang sinis dan sudah “tersihir propaganda Lapindo Brantas Inc” ; yang juga diamplifai oleh keterangan para pejabat pemerintah dari mulai tingkat Pemda Kab Sidoarjo sampai kepada SBY-JK memakai ungkapan : “Bencana Membawa Nikmat dan Keberuntungan!”.

    Tetapi kenyataannya yang tergolong kaya dan punya aset besar tidak lebih dari 1 % . Kalau sang korban punya pekerjaan tetap sebagai PNS, TNI-POLRI dan Pegawai Swasta mapan tentu masih mampu bertahan dengan agak kurang menderita. Tetapi bayangkan sebagian besar mereka yang dahulunya buruh tani, tukang becak, buruh pengrajin , bakul kecil dsb. Ketika semua yang dahulu menjadi habitat kehidupan utuhnya sudah tenggelam dalam danau lumpur ; lalu apa yang tersisa?.

    Apalagi atas aset sempit milik mereka yang seharusnya sudah lunas pada bulan Agustus 2008 yang lalu sekarang malah dijanjikan akan diangsur a 15 juta/bln. Kita memang harus memberikan dukungan , simpati dan paling tidak doa kepada para korban lumpur Lapindo yang sudah hampir tiga tahun menderita lahir dan batin. (Redaksi)

    Balas

Tinggalkan Balasan