Tiga Komunitas Bedah Esensi Pemikiran Kartini

2Raden Ayu (RA) Kartini merupakan sosok sekaligus Pahlawan Nasional yang sangat dikenal Raden Ayu (RA) Kartini merupakan sosok sekaligus Pahlawan Nasional yang sangat dikenal sebagai figur sentral wanita dalam memperjuangkan gerakan emansipasi wanita di Indonesia. Semangat emansipasi RA Kartini adalah hak atas pendidikan yang sama bagi perempuan serta persamaan gender.

Untuk mengabadikan kepeloporan dan memaknai refleksi RA Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 april serta sebagai upaya untuk memperkenalkan pemikiran Kartini secara lebih utuh, tiga komunitas yang memiliki kepedulian pada peningkatan kesejahteraan dan kualitas SDM menggelar Seminar Kebangsaan dan Diskusi Panel dengan tema “ Menemukan Kembali Makna Emansipasi”.

Tiga komunitas tersebut adalah Ikatan Wanita 17 Agustus 1945 Surabaya, Rotary- Club Jawa Timur dan Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Provinsi Jawa Timur. Kegiatan ini berlangsung di R. Soeparman Hadipranoto, Graha Wiyata Untag Lt.9, Surabaya, Rabu (23/4/14 ). Ketua panitia seminar Nuniek Silalahi, MPd menjelaskan bahwa perempuan Indonesia bisa dan mampu berkiprah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Perempuan seharusnya tidak tunduk pada kesewenangan maupun keterbatasan, dan ikut serta dalam menggerakkan kemajuan bangsa dan negara”, ungkap Nuniek.

Hadir dalam seminar ini Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang sekaligus membuka acara. Dalam pidatonya Risma memberikan apresiasi yang sebesar – besarnya pada perempuan di Surabaya. Dihadapan 300 peserta yang meliputi mahasiswa, civitas akademik, danormas, Risma menjelaskan bahwa kemajuan kota Surabaya dibidang lingkungan dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tidak lepas dari peranan perempuan.

Dalam Diskusi Panel, juga menghadirkan beberapa pembicara dari tokoh nasional. Diantaranya Eros Djarot selaku Budayawan, Dra. Eva Kusuma Sundari dari Anggota Komisi III bidang Hukum DPR RI, serta Dr. Pinky Saptandari, MA Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Menurut Eros, perempuan adalah tonggak dari sebuah keluarga dan dari merekalah perjuangan untuk kemajuan bangsa dapat terwujud.

“Perempuan harusnya diberikan kesempatan yang sama dengan laki – laki, karena dari perempuan lahir pula penerus bangsa ini dan dalam perjalanannya akan sekaligus memberikan makna emansipasi”, ungkap eros. Menghindari dari penilaian bahwa Kartini hanya identik dengan sanggul dan kebaya, Eva Kusuma Sundari memaparkan pentingnya jiwa nasionalis yang patutnya kita mengerti dari seorang Kartini.

Eva menambahkan, rasa keingintahuan yang dimiliki Kartini dengan membaca dan menulis menjadikannya sebagai sosok perempuan yang kaya akan ide, karya, kritis dalam melihat kondisi, serta perjuangannya menuju perempuan yang mandiri untuk bangsa dan negara. Tidak dapat dipungkiri, dalam pembangunan dan perkembangan ekonomi modern dalam hal ini UMKM justru pelakunya adalah perempuan. Perempuan juga merupakan salah satu aktor penggerak industri rumah tangga.

“Dibalik kecantikan dan kelembutan seorang perempuan Indonesia, ada kekuatan yang besar yaitu mental.Mental dan keterampilan yang dimilikinya merupakan modal penting dalam memperkuat ekonomi skala rumah tangga yang berpotensi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam skala nasional“, ungkap Pinky.

Disinilah nilai – nilai kemanusiaan dan kepemimpinan yang dapat diterapkan secara praktis dalam kehidupan sehari – hari sebagais alah satu harapan dalam memaknai perjuangan Kartini.

Dari rangkaian acara seminar kebangsaan bertema“ Menemukan Kembali Makna Emansipasi “, dapat disimpulkan bahwa : Gerakan Emansipasi adalah satu bagian penting dari pembangunan bangsa dan negara, juga sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa yang dimulai dari pembangunan keluarga, dimana laki – laki dan perempuan sama – sama berperan dalam memperkuat pertahanan keluarga masing – masing. Dari modal tersebut maka bangsa dan negara yang lebih baik dan lebih kuat bisa di bangun bersama – sama melalui gerakan Emansipasi. (bn)

Beri rating artikel ini!

Tinggalkan Balasan