MENUJU KE ARAH PENDIDIKAN INKLUSIF

Prakata : Sekolah Inklusif adalah sekolah reguler yang mengkoordinasi dan mengintegrasikan siswa reguler dan siswa penyandang cacat dalam program yang sama, dari satu jalan untuk menyiapkan pendidikan bagi anak penyandang cacat adalah pentingnya pendidikan Inklusif, tidak hanya memenuhi target pendidikan untuk semua dan pendidikan dasar 9 tahun, akan tetapi lebih banyak keuntungannya tidak hanya memenuhi hak-hak

Menuju Ke Arah Pendidikan Inklusif

1. Gagagasan pendidikan inklusif

Sekolah Inklusif adalah sekolah reguler yang mengkoordinasi dan mengintegrasikan siswa reguler dan siswa penyandang cacat dalam program yang sama, dari satu jalan untuk menyiapkan pendidikan bagi anak penyandang cacat adalah pentingnya pendidikan Inklusif, tidak hanya memenuhi target pendidikan untuk semua dan pendidikan dasar 9 tahun, akan tetapi lebih banyak keuntungannya tidak hanya memenuhi hak-hak asasi manusia dan hak-hak anak tetapi lebih penting lagi bagi kesejahteraan anak, karena pendidikan Inklusif mulai dengan merealisasikan perubahan keyakinan masyarakat yang terkandung di mana akan menjadi bagian dari keseluruhan, dengan demikian penyandang cacat anak akan merasa tenang, percaya diri, merasa dihargai, dilindungi, disayangi, bahagia dan bertanggung jawab. Inklusif terjadi pada semua lingkungan sosial anak, Pada keluarga, pada kelompok teman sebaya, pada sekolah, pada institusi-institusi kemasyarakatan lainnya. Sebuah masyarakat yang melaksanakan pendidikan inklusif berkeyakinan bahwa hidup dan belajar bersama adalah cara hidup (way of life) yang terbaik, yang menguntungkan semua orang, karena tipe pendidikan ini dapat menerima dan merespon setiap kebutuhan individual anak. Dengan demikian sekolah atau pendidikan menjadi suatu lingkungan belajar yang ramah anak-anak. Pendidikan inklusif adalah sebuah sistem pendidikan yang memungkinkan setiap anak penuh berpartisipasi dalam kegiatan kelas reguler tanpa mempertimbangkan kecacatan atau karakteristik lainnya. Disamping itu pendidikan inklusif juga melibatkan orang tua dalam cara yang berarti dalam berbagi kegiatan pendidikan, terutama dalam proses perencanaaan, sedang dalam belajar mengajar, pendekatan guru berpusat pada anak.

2. Implementasi Di Lapangan

Indonesia Menuju Pendidikan Inklusif Secara formal dideklarasikan pada tanggal 11 agustus 2004 di Bandung, dengan harapan dapat menggalang sekolah reguler untuk mempersiapkan pendidikan bagi semua anak termasuk penyandang cacat anak. Setiap penyandang cacat berhak memperolah pendidikan pada semua sektor, jalur, jenis dan jenjang pendidikan (Pasal 6 ayat 1). Setiap penyandang cacat memiliki hak yang sama untuk menumbuh kembangkan bakat, kemampuan dan kehidupan sosialnya, terutama bagi penyandang cacat anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat (Pasal 6 ayat 6 UU RI No. 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat).

Disamping pendidikan atau sekolah reguler, pemerintah dan badan-badan swasta menyelenggarakan pendidikan atau sekolah khusus yang biasa disebut Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk melayani beberapa jenis kecacatan. Tidak seperti sekolah reguler yang tersebar luas baik di daerah perkotaan maupun daerah pedesaan. SLB dan SDLB sebagian besar berlokasi di perkotaan dan sebagian kecil sekali yang berlokasi di pedesaan. Penyandang cacat anak untuk menjangkau SLB atau SDLB relatif sangat jauh hingga memakan biaya cukup tinggi yang tidak terjangkau penyandang cacat anak dari pedesaan. Ini pula masalah yang dapat diselesaikan oleh pendidikan atau sekolah Inklusif, di samping memecahkan masalah golongan penyandang cacat yang merata karena diskriminasi sosial, karena dari sejak dini tidak bersama, berorientasi dengan yang lain.

Sejak tahun 2001, pemerintah mulai uji coba perintisan sekolah Inklusif seperti di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan 12 sekolah didaerah Gunung Kidul dan di Provinsi daerah Khusus Ibukota Jogyakarta dengan 35 sekolah. Pada sekolah sekolah reguler yang dijadikan perintis itu memang diuntukkan anak-anak lambat belajar dan anak-anak sulit belajar sehingga perlu mendapat pelayanan khusus. Karena masih dalam tahap rintisan sampai sekarang belum ada informasi yang berarti dari sekolah-sekolah tersebut.

Prof. Dr. Fawzie Aswin Hadi (Universitas Negeri Jakarta) mengisahkan sekolah Inklusi (SD. Muhamadiyah di Gunung Kidul) sekolah ini punya murid 120 anak, 2 anak laki-laki diantaranya adalah Tuna Grahita, dua anak ini dimasukan oleh kedua ibunya mulai kelas I karena mau masuk SLBC lokasinya jauh dari tempat tinggalnya yang di pegunungan. Keluarga ini tergolong keluarga miskin oleh sebab itu mereka memasukkan anak-anaknya ke SD. Muhamadiyah. Perasaan mereka sangat bahagia dan bangga bahwa kenyataannya anak mereka diterima sekolah. Satu anak tampak berdiam diri dan cuek, sedang satu lagi tampak ceria dan gembira, bahkan ia menyukai tari dan suka musik, juga ia ramah dan bermain dengan teman sekolahnya yang tidak cacat. Gurunya menyukai mereka dan atif mengajar dan mendidik mereka dengan mengunakan modifikasi kurikulum untuk matematika dan mata pelajaran lainnya, evaluasi disesuaikan dengan kemampuan mereka. Hal yang sangat penting disini yang berkaitan dengan guru adalah anak Tuna Grahita dapat menyesuaikan diri dengan baik, bahagia dan senang di sekolah. Ini merupakan potret anak Tuna Grahita di tengah-tengah teman sekelas yang sedang belajar.

3. Pengalaman Di Negeri Orang

Di China terjadi perubahan besar dengan merumuskan kembali pendidikan khusus sebagai bagian integral dari pendidikan dasar dengan menjadikan status pendidikan lebih inklusif . Interfensi pemerintah melalui legislasi dan regulasi merupakan pendekatan efektif dipakai untuk menyempurnakan pelayanan pendidikan. Hasilnya tampak pada implementasi integrasi kelas dan bertambahnnya anak masuk sekolah. Pengalaman China mungkin bermanfaat untuk negeri berkembang yang sedang mencari alternatif mempersiapkan pelayanan pendidikan untuk penyandang cacat anak-anak.

Sedang Philipina mempunyai pengalaman tahun 1997, dalam implementasi pendidikan inklusi. Mereka menetapkan pendidikan khusus sebagai pusat sumber untuk inklusif, yang sangat mampu dan model untuk diaplikasikan. Model ini menunjukan kapasitas sekolah reguler yang banyak di negeri itu untuk mengoordinasikan penyandang cacat anak pada jenjang sekolah. Kebijakan dan strategi untuk pendidikan inklusif dapat diimplementasikan lebih lanjut menuju dan menjadikan pendidikan khusus sebagai bagian integral administrasi dan sistem sekolah secara keseluruhan. Jadikanlah fasilitas sekolah, bahan pelajaran, kurikulum, pendekatan mengajar, organisasi dan manajemen sekolah dan pendukung lainnya adaptable dan duitable untuk kebutuhan pendidikan inklusi, mempersiapkan latihan guru pendidikan khusus untuk bekerja dengan guru sekolah regulasi dalam mempersiapkan layanan untuk murid penyandang cacat anak-anak.

4. Bagaimana Indonesia.

Uji coba dibeberapa daerah sejak tahun 2001, secara formal pendidikan inklusif dideklarasikan di Bandung tahun 2004 dengan beberapa sekolah reguler mempersiapkan diri untuk implementasi pendidikan Inklusif. Awal tahun 2006 ini tidak ada tanda-tanda untuk itu, informasi tentang pendidikan inklusi tidak muncul kepada publik, isu ini tenggelam ketika isu menarik lainnya seperti biaya operasional sekolah, sistem SKS SMA dan lain-lain. Apakah kita tidak peduli terhadap penyandang cacat? Mudah-mudahan tidak.

Beri rating artikel ini!
Tag:

8 Respon

  1. author

    abdal10 tahun ago

    memang benar apa yang anda tulis, di indonesia sekolah-sekilah masih berpihak bagi mereka yang kaya, sehat, pintar.. namun bagi mereka-mereka yang tidak memiliki kriteria tersebut kadang-kadang terpinggirkan, bahkan tidak mendapatkan fasilitas pendidikan

    Balas
  2. author

    fahmi9 tahun ago

    pendidikan inklusif memerlukan banyak persiapan antara lain :
    1.pengetahuan dan keterampilan guru mendidik sekaligus menjadi motivator bagi mereka yang berkebutuhan khusus. tidak sekedar memaklumi keadaan murid.
    2.fasilitas sekolah untuk mendukung proses belajar mengajar.
    3.kampanye pendidikan inklusif agar kondisi tersebut dapat diterima masyarakat sebagai hal yang penting.

    Balas
  3. author

    noe9 tahun ago

    ayo d wujudkan (walaupun berat)

    karna sekolah untuk anak normal saja skarang gmasih sulit (hehehehe…..)

    Balas
  4. author

    aulia9 tahun ago

    semua anak indonesia berhak atas pendidikan yang dienyam. baik dia normal ataupun berkebutuhan khusus. Sebagai pengajar, memang kita akan sulit dengan siswa berkebutuhan khusus, namun hal tersebut akhirnya dapat menambah kemapuan kita dalam menangani semua siswa, dan juga membantu mereka dan menghantarkan mereka meraih masa depan yang lebih baik lagi. semua anak adalah istimewa tak peduli apakah mereka berkebutuhan khusus

    Balas
  5. author

    sonny dirgantara9 tahun ago

    pendidikan di indonesia tidak pernah memperhatikan anak ABK sebab sekolah lebih mementingkan anak yg normal sedangkan anak2 yg berkebutuhan khusus di abaikan dan terpinggirkan, sebab masih banyak sekolah2 di negeri kita ini yg tidak mau menerima anak ABK..saya mengalami itu karena anak saya berkebutuhan khusus, mari kita perjuangkan anak2 kita semua yg merasa terpinggirkan padahal negara telah memerintahkan pada kita untuk mewajibkan masyaraknya untuk wajib belajar tetapi pd kenyataannya sulit sekali mencarikan sekolahnya..trimakasih atas perhatiannya

    Balas
  6. author

    lina9 tahun ago

    bisakah saya tahu sekolah SD Inklusif wilayah jakarta barat dimana saja? saya perlu sekali informasi ini untuk anak saya yang sebentar lg mau masuk SD, trims

    Balas
  7. author

    inklusi wowo9 tahun ago

    pada kenyataan dilapangan sekolah inklusi masih menjadi momok bagi orang tua murid/ siswa anak reguler ( anak normal )
    mereka msih takut dengan adanya perbauran atau masuknya ABK di lingkungan yang normal
    ini emang menjadi sebuah kendala, tapi jga sebuah tantangan buat kita semua
    sedangkan yang terjadi disekolah inklusi, masih banyak kurangnya tenaga yang berkecimpung didalam sekolah inklusi
    harapan kita semua semoga pemerintah lebih memperhatikan masa depan sekolah inklusi

    Balas
  8. author

    Soenarjo.9 tahun ago

    untuk pembelajaran model ini inklusi perlu media yang dapat dipergunakannya. serta bagi guru tentu challenge lebih banyak jika dibanding non inklusi.
    Guru lebih repot lagi dalam pembelajaran. Assesment/evaluasi harus memenuhi ranah pengetahuan, afektif,psikomotoris. Semoga guru-guru lebig berjiwa lebih sabar dan telaten. agar pembelajaran berhasil. Amin (Soenarjo)

    Balas

Tinggalkan Balasan