BK3S || BK3S JATIM || BKKKS || BKKKS JATIM || SOSIAL
Berita Sorotan

ETIKA,BUDI PEKERTI LUHUR GENERASI PENERUS

64 tahun bangsa kita merdeka ?.. benarkah bangsa kita ini adalah bangsa berbudi luhur. Keterpurukan yang melanda Bangsa kita saat ini lebih banyak disebabkan krisis budi pekerti. Keprihatinan yang kita amati dalam dunia pendidikan adalah saat mengamati bagaimana siswa-siswi melampiaskan kegembiraan karena lulus ujian. Mereka tidak hanya bersorak seperti anak kecil memperoleh permen, namun disertai dengan corat-coret baju, celana dan tubuh, serta mengecat rambutnya.

ETIKA,BUDI PEKERTI LUHUR GENERASI PENERUS AGAR BANGSA INI KEMBALI BANGKIT

64 tahun bangsa kita merdeka ?.. benarkah bangsa kita ini adalah bangsa berbudi luhur. Keterpurukan yang melanda Bangsa kita saat ini lebih banyak disebabkan krisis budi pekerti. Keprihatinan yang kita amati dalam dunia pendidikan adalah saat mengamati bagaimana siswa-siswi melampiaskan kegembiraan karena lulus ujian. Mereka tidak hanya bersorak seperti anak kecil memperoleh permen, namun disertai dengan corat-coret baju, celana dan tubuh, serta mengecat rambutnya.

Ditambah lagi dengan kejadian dan peristiwa seperti: Geng Nero yang terdiri dari siswi SMA di sebuah kota kecil Pati di Jateng yang rekaman gambarnya sempat beredar dan menjadi topik berita di hampir semua stasiun swasta, kegiatan perpeloncoan dengan menggunakan kekerasan terhadap anggota baru oleh para siswi SMA tersebut mengingatkan kita pada beberapa kejadian sebelumnya seperti Geng Motor yang terdiri dari para remaja pria yang juga tak segan menganiaya dan membunuh setiap orang yang dianggap lawannya, Geng-geng motor ini sempat meramaikan beberapa kota di Jawa barat dan konon ternyata melibatkan pula beberapa anak pejabat pemerintah, sehingga polisi cukup kerepotan untuk menindak tegas mereka. Belum lagi berita tentang meningkatnya kenakalan remaja dan anak muda. Mulai dari tawuran pelajar, adu jotos antar pelajar senior-yunior, antar mahasiswa di Makasar tawuran yang tidak jelas apa yang mau diperjuangkan, tindak kriminal, bahkan pemakaian narkoba di usia muda. Sangat disayangkan bila generasi muda, penerus tongkat estafet sejarah bangsa yang besar ini, tidak dapat menjadi penerus sejarah bangsa sebagaimana yang diharapkan founding fathers negeri ini.

Permasalahan tersebut tentu bukannya timbul tanpa alasan. Lingkungan di mana mereka berada sangat memengaruhi tindakan-tindakan yang ditunjukkan oleh generasi muda saat ini. Modernisasi yang mulai menelisik ke setiap denyut nadi kehidupan, tentu membuka peluang munculnya pengaruh-pengaruh positif dan negatif bagi generasi muda kita.

Rasa pesimis itu ternyata bukan tanpa alasan, saat kita mendapati wajah bangsa ini dinodai oleh beberapa anggota DPR yang seharusnya sebagai ?wakil rakyat yang terhormat? dan beberapa pemangku jabatan negeri ini yang seharusnya menjadi panutan, lha… kok bergantian dicokok KPK karena makan duit suap…..
Gejala emosional yang mendapat pengaruh ekstern (ideologi Barat), tingkah laku pelajar dan aparat pemerintah seperti di atas dapat terjadi setiap saat. Seperti itukah idealnya produk pendidikan formal kita? Di mana pertimbangan moral dan budaya Timur yang dimiliki bangsa ini? Kenyataan yang tak mungkin dihindari, kemakmuran materiil melahirkan berbagai akibat yang tidak hanya di sektor ekonomi tapi juga menjalar kepada aspek sosial-budaya, di mana masyarakat mengalami perubahan sikap dan tingkah laku yang cenderung menyimpang dari kebiasaan sebelumnya.

Tanpa sadar kita telah menjadi bangsa yang tinggi hati alias sombong. Penyakit bathin dan kemerosotan spiritual, social dan emosional telah menjadi pandemic di kalangan masyarakat kita. Hampir semua tontonan di televisi yang digemari masyarakat mempertotonkan kemerosotan budi pekerti dan penuh dengan kesombonganya. Banyak orang merasa atau mengira bahwa mereka memiliki perangai yang baik namun apabila dikritik atau diberi tahu tentang cacat cela tingkah lakunya maka ia akan sangat marah. Padahal salah satu indikator yang sangat sederhana untuk mengetahui apakah kita cukup rendah hati atau tidak, adalah apakah kita dapat menerima kritikan atau saran tentang perbuatan atau perilaku kita yang perlu diperbaiki dengan perasaan senang. Hampir semua penyakit batin berawal dari ketidak mampuan untuk memiliki sikap rendah hati. Setiap agama dan semua ajaran spiritual, pada hakekatnya selalu berawal dari pengendalian diri dan mengekang hawa nafsu dan kesombongan yaitu berusaha bagaimana agar dapat menghindari perasaan tinggi hati yang merupakan sumber dari semua sikap yang kurang dapat diterima oleh orang lain. Bangga diri-lah yang membuat kita senang dipuji dan tidak senang diberitahu kesalahan kita. Perasaan gemar dipuji merupakan sumber penyakit batin yang paling sulit disembuhkan karena kita merasa bahwa kita memang berhak atau pantas untuk dipuji dan merasa tidak salah dengan perasaan senang mendapat pujian tersebut. Dengan upaya yang sungguh-sunguh oleh semua pihak semoga bangsa kita benar-benar bisa menjadi bangsa yang berbudi luhur. Bukan bangsa yang pemberang, tinggi hati dan sombong, sehingga energi Kasih Sayang dari Maha Pencipta mengalir, membasuh budi pekerti atau akhlak kita semua.

Jadi jangan salahkan mahasiswa atau rakyat demonstrasi dengan mengeluarkan kata-kata atau perilaku yang kurang etis terhadap pejabat. Karena pejabat itu sendiri tidak konsisten. Padahal pejabat tersebut seorang yang bergelar S2 atau bahkan Prof. Dr. Inikah orang-orang yang dihasilkan oleh pendidikan nasional kita selama ini?

Dalam masyarakat kita ada norma, adab, dan kebiasaan yang umumnya menjadi ukuran dalam bersikap dan bertindak. Namun, modernisasi?beserta pengaruh baik buruknya?dapat mengubah norma-norma tersebut sehingga terjadi pembiasan nilai-nilai, dan akhirnya menjadikan norma maupun nilai itu sangat mudah untuk dilanggar.

Benang merah dari permasalahan ini semua, bila kita runtut, tentulah dapat mulai dibenahi dari lingkup terkecil. Tidak hanya dalam lingkup masyarakat dalam arti negara, tetapi bisa dimulai dari keluarga. Keluarga merupakan satuan unit terkecil masyarakat, satu keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Nah, penanaman nilai-nilai perilaku dan sikap berbudi luhur dalam bertutur dan bertindak hendaknya dapat dengan mudah ditanamkan dari orang tua kepada anak, khususnya di saat anak menginjak usia dini.
Harapan yang bisa kita bangun ke depan, apabila kita ingin mencetak generasi penerus yang mandiri, bermoral, dewasa dan bertanggung jawab. Konsekwensinya, Semua yang terlibat dalam dunia pendidikan Indonesia harus mampu memberikan suri tauladan yang bisa jadi panutan generasi muda. jangan hanya menuntut generasi muda untuk berperilaku jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Tapi para pemimpin bangsa ini tidak melakukannya. Maka harapan tinggal harapan saja. Karena itu, mulai sekarang, semua pejabat mulai dari level tertinggi hingga terendah di legislative, eksekutif dan yudikatif harus segera menghentikan segala bentuk petualangan mereka yang hanya ingin mengejar kepentingan pribadi atau kelompok sesaat dengan mengorbankan kepentingan negara. Sehingga generasi muda Indonesia memiliki panutan-panutan yang bisa diandalkan untuk membangun bangsa ini ke depan. Mimpi menjadi negeri gemah lipah loh jinawi, makmur lan tata tentrem kerta raharja pasti akan terwujud dengan modal luhuring budi para pemegang estafet bangsa ini. Generasi yang tidak hanya sekedar pandai tapi juga mempunyai karakter dan berkepribadian.

ASRI WIJIASTUTI ? SEKRETARIS I BK3S, STAF PENGAJAR DI UNESA

Related posts

PENTINGNYA MEMPERSIAPKAN DIRI PASCA COVID-19

admin01

PERAN PEREMPUAN DALAM MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

bk3s

Awareness Downsyndrome Day

admin01
buka chat
Butuh bantuan?
hi kakak
Ada yang bisa kami bantu?