BK3S || BK3S JATIM || BKKKS || BKKKS JATIM || SOSIAL
Berita Sorotan

MEMPERTANYAKAN KEPAHLAWANAN

Sejak tiga tahun yang lalu sebagai akibat dari menyemburnya Lumpur Lapindo di Banjar Panji Porong banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh kawan-kawan saya yang berasal dari dan atau berdomisili di wilayah ( sub etnik) lain. Pertanyaan mereka rata-rata berkisar pada substansi yang sama : “Mengapa Rakyat Jawa Timur Tidak Marah!”

MEMPERTANYAKAN KEPAHLAWANAN,
SEBUAH RENUNGAN MENJELANG 10 NOPEMBER 2009

Sejak tiga tahun yang lalu sebagai akibat dari menyemburnya Lumpur Lapindo di Banjar Panji Porong banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh kawan-kawan saya yang berasal dari dan atau berdomisili di wilayah ( sub etnik) lain. Pertanyaan mereka rata-rata berkisar pada substansi yang sama : “Mengapa Rakyat Jawa Timur Tidak Marah!”

Saya tidak menyalahkan pertanyaan dari kawan-kawan yang berasal dari suku non Jawa dan tinggal di wilayah lain di Nusantara ini.Mereka sudah terlanjur mempunyai persepsi yang sangat menggetarkan tentang Jawa Timur dan khususnya Surabaya. Stereotyping bahwa :
Orang Jawa Timur yang suka blak-blakan namun penuh kejujuran!,
Orang Jawa Timur yang berani kalau memang benar!.
Orang Jawa Timur yang kompak dan punya solidaritas tinggi!
Orang Jawa Timur yang siap berkorban untuk memperjuangkan hak mereka!
Sampai kepada Orang Jawa Timur (Surabaya) yang BONEK!

Ternyata sifat dan karakter yang menjadi persepsi kawan-kawan sebangsa dan setanah air ini SAMA SEKALI TIDAK MUNCUL! ketika hampir seribu hektar tanah pertanian subur dan pemukiman makmur-sejahtera dibanjiri lumpur karena kesalahan Lapindo Brantas Inc yang mengebor gas di sebuah desa di Porong sana. Puluhan ribu penduduk terkena akibat langsung dan jutaan orang Jawa Timur menjadi korban tidak langsung. Pendseritaan itu akan terus berlangsung entah sampai kapan. Belum lagi kalau kita mendengar teori geologi yang menekankan kepada “DOOMSDAY SCHENARIO!” yang menyatakan bahwa : “SETIAP SAAT BISA TERJADI DISLOKASI DIDAERAH SEMBURAN LUMPUR DENGAN UKURAN 2 KM KALI 5 KM!”

Bisa anda bayangkan bahwa wilayah di interseksi Porong-Tanggulangin dan Jabon seluas 10 km2 pada suatu waktu yang tidak dinyana-nya (wallahualam) tiba-tiba terban (dislokasi) . Permukaan tanah didaerah itu mendadak anjlog sampai 100 meter. Korbannya akan berbilang ratusan ribu dengan kerugian materi yang berbilang triliun rupiah. Terus terang saja ?Skenario Kiamat ? ini ada dan dipercayai/diyakini secara ilmiah oleh para ahli yang ada di Indonesia (termasuk yang menjadi pejabat tinggi di pemerintahan) dan konon juga sudah disampaikan kepada Presiden SBY ketika memerintah dengan kabinet yang lalu. Tentu karena Menteri PU nya tidak diganti Kabinet Indonesia Bersatu II inipun mempunyai pengetahuan yang sama tentang hal ini. Sedihnya adalah bahwa pemerintah tidak juga membuat langkah-langkah yang memadai dan berarti untuyk mengantisipasi kemungkinan terjadi Maha Petaka ini. Dilain pihak saya sendiri dan kawan-kawan yang tergabung dalam Gerakan Menutup Lumpur Lapindo yang dibantu oleh kawan-kawan para ahli pengeboran tambang yang tergabung dalam ?THE DRILLING ENGINEERS CLUB!? mempunyai keyakinan bahwa sumber lumpur itu masih bisa ditutup. Meskipun karena telah berlangsung lebih tiga tahun menjadi semakin sulit. Teknologinya ada dan dikuasai oleh putra-puta Indonesia serta sudah dibuktikan keefektipannya di tempat-tempat lain. Ditambah lagi ada banyak pakar-pakar kelas dunia dari luar negeri yang bersedia membantu kalau skenario penutupan ini dijalankan. Biayanya ditaksir 150 juta Dollar AS . Sekitar 1,5 Trilliun rupiah ( kurang dari biaya talangan LPS untuk menyelamatkan Bank Century). Gagasan penutupan sumber lumpur Lapindo ini sudah disampaikan kepada Presiden SBY lebih dari satu tahun yang lalu. Namun tidak ada tanggapan. Malahan dengan dukungan DPR? diupayakan untuk menyatakan bahwa Lumpur Lapindo adalah Bencana Alam!?. Bahkan pihak POLDA Jatim, meskipun sudah diberikan tambahan keterangan dan data oleh teman-teman DEC malahan telah menerbitkan SP3 terhadap Lapindo Brantas Inc. Untuk diketahui bahwa pakar-pakar internasional banyak sekali yang menyatakan bahwa semburan lumpur Lapindo adalah bukan merupakan Bencana Alam akan tetapi karena Kesalahan Manusia. Namun pemerintah lebih senang memilih untuk memberikan status Bencana Alam!. Kita yang dipaksa untuk berpikir negatip akan sampai kepada kesimpulan bahwa telah terjadi “KONSPIRASI BESAR ANTARA PEMERINTAH DAN KORPORASI!” dalam bencana lumpur Lapindo yang sangat merugikan Jawa Timur ini.

Namun apa mau dikata, hampir semua rakyat Jawa Timur termasuk para elitenya mengambil sikap untuk “diam seribu bahasa”. Seakan-akan apa yang terjadi di porong dan sekitarnya itu hal yang biasa “biasa saja”. Atau mungkin menganggap Porong bukan bagian dari Jawa Timur. Bahkan ada yang berpendapat bahwa para korban lumpur itu adalah manusia-manusia yang sangat beruntung karena telah menjadi orang-orang kaya. Bukankah Jusuf Kalla ketika masih menjadi Wapres dan berkunjung ke Porong meneriakkan slogan ” GANTI UNTUNG!”

Kemudian karena pada lembaga peradilan baik di Pengadilan Jakarta Selatan, Pengadilan Jakarta Selatan serta Mahkamah Agung pihak Bakrie dengan Lapindo Brantas Inc “selalu memperoleh kemenangan” maka Ical Bakrie dan keluarga bisa menepuk dada dan mengklim diri sebagai “MANUSIA PALING BAIK HATI DAN BERBUDI DI SELURUH DUNIA!” karena telah dengan serta merta membayar santunan dan membeli aset para korban lumpur meskipun perusahaan miliknya tidak dinyatakan bersalah sebagai penyebab terjadinya bencana.

Pada pertengahan tahun 2008 atas prakarsa kelompok “The Bandung Spirit” yang dipandegani antara lain oleh Acil Bimbo dilakukan pagelaran diskusi tentang Lumpur Lapindo di Univ Pajajaran. Dalam forum yang berisikan para cendekiawan “trah Pasundan” yang mengangungkan ke Indonesiaan dan Bandung sebagai kota Asia Afrika itu Acil Bimbo mempertanyakan kepada kami peserta yang mewakili Surabaya dan Jawa Timur : “Mengapa terkesan bahwa rakyat Jawa Timur tersihir dan acuh tak acuh dalam menghadapi masalah dan nasib korban Lumpur Lapindo” Dimana sifat kepahlawanan rakyat Surabaya dan Jawa Timur ” Tidakkah masih tersisa tekad perjuangan “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung” dst. dst. Pertanyaan Acil ditutup dengan : “Lalu bagaimana anda yang dari Jawa Timur bisa mengharapakan solidaritas dari kami-kami yang berasal dari daerah lain kalau orang Jawa Timur dan Surabaya sendiri tidak berbuat apa-apa”

Rengkaian pertanyaan tersebut benar-benar tidak kami perkirakan sehingga membuat kami peserta dari Jawa Timur menjadi terkesima bercampur malu. Salah seorang peserta yang mewakili Jawa Timur Dokter Zulkifli Ekomei, seorang aktivis pergerakan di Jakarta yang asli Arek Suroboyo terpaksa menjawab dengan “bahasa plesetan” :
” Saya tidak melihat bahwa sisa-sisa sifat dan semangat kepahlawanan itu masih ada dan dimiliki oleh Orang Jawa Timur dan Arek Suroboyo pada dewasa ini. Bahkan kalau boleh jujur saya sekarang menjadi kurang yakin bahwa Peristiwa 10 Nopember 1945 itu benar-benar pernah terjadi di Surabaya. Mungkin saja itu hanya sebuah kisah kepahlawanan hasil rekayasa imajiner belaka!”
Itulah kisah yang sama sekali tidak membanggakan bagi orang Jawa Timur dan Arek Sauroboyo yang harus kami alami dalam forum Solidaritas untu Korban Lumpur Lapindo yang diselenggarakan oleh kelompok The Bandung Spirit.

Pertanyaan kita apakah sudah sekelabu jawaban Zulkifli Ekomei kalau kita membicarakan sifat dan semangat kepahlawanan yang tersisa di dada sanubari Orang Jawa Timur dan Arek Suroboyo pada masa sekarang ini. Lebih jauh apakah ada sumbangan yang berarti dari kita kepada ke Indonesiaan stelah peristiwa 10 Nopember 1945 yang setiap tahun diperingati sebagai Hari Pahlawan itu?

Pertanyaan ini semakin penting untuk kita renungkan dalam-dalam sebagai orang Jawa Timur yang selama kemerdekaan telah paling banyak menyumbangkan Presiden dan Wakil Presiden dibandingkan dengan kawan-kawan dari daerah lain. Apalagi sekarang ketika Presiden dan Wakil Presidennya berasal dari Jawa Timur ( SBY dari Pacitan dan Budiono dari Blitar). Akankah pasangan kedua orang yang berasal dari Jawa Timur ini akan menjadi ?rahmat? atau bahkan menjadi ?laknat? bagi Indonesia, Jawa Timur dan Surabaya.
Yang jelas Kisah Sedih dan sangat mungkinnya terjadi Skenario Kiamat yang diakibatkan oleh Bencana Lumpur Lapindo masih membentang di depan mata pemerintah pusat, pemerintah propinsi Jawa Timur dan Pemerintrah Kabupaten Sidoarjo memilih strategi pembiaran dan diam seribu bahasa.

Jawa Timur dan Surabaya tetap saja adalah Jawa Timur dan Surabaya , tak mungkin Indonesia bahkan mungkin dunia akan berjalan dan berlalu tanpa menyapanya. Sejak beberapa bulan yang lampau kita telah digegerkan oleh berita tentang SKANDAL BANK CENTURY. Besar kemungkinan kita tidak akan tahu akan terjadinya skandal tersebut manakala kita tidak melihat upaya beberapa puluh nasabah bank tersebut yang berasal dari Surabaya melakukan segala daya dan upaya termasuk berunjuk rasa ke Bank Indonesia, ke Pengadilan dan ke Bank Century termasuk ke DPR untuk menuntut agar simpanan mereka ( yang katanya dalam bentuk deposito) dikembalikan seperti semula.

Skandal Bank Century ini kemudian menjadi Gonggongan Publik ( Public Crow) dan disebut sebut (termasuk oleh mantan Wapres Jusuf Kalla) bahwa telah terjadi pemngambilan kebijakan yang salah oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Gubernur BI dan mantan Menko Ekuin Budiono yang sekarang menjabat sebagai Wapres. Juga disebut sebut adanya perlakuan istimewa kepada deposan besar yang diduga punya kedekatan khusus dengan presiden. Lebih lanjut dalam pencairan dana tersebut ada sebagaian menjadi uang terima kasih yang mengalir ke Kabareskrim Polri Komjen Pol Susno Duaji.

Nah belum selesai masalah ini munculah tontonan baru yang disuguhkan kepada rakyat yang mencuat sebagai isu besar dalam rangka ?Membunuh KPK? menyusul ditahannya Antasari Ashar sang Ketua karena tuduhan pembunuhan dan korupsi. Muncullah istilah CICAK lawan BUAYA yang sebenarnya berasal dari Susno Duaji yang mungkin ingin menggambarkan betapa bandingan kekuatan dan kekuasaan KPK dibandingkan POLRI. (menurut Jendral Pol BB Hendarso Danuri kepada DPR Komisi III pada hari Kamis tanggal 5 Nopember ada sekitar 140 Perwira Polisi yang ada di KPK, disamping itu Taufikurrachman Rukie Mantan Ketua KPK periode yang lalu dan Bibit Samat Rianto adalah Pati Polisi).

Dalam kasus yang sangat menarik untuk ditonton dilayar televisi ditengah rendahnya mutu sinetron Indonesia muncullah Aktor Besar yang bernama Anggodo Wijoyo, pengusaha Surabaya yang bertempat tinggal di Surabaya dan Jakarta , bersama sama dengan adiknya Anggoro Wijoyo yang sekarang diduga buron di Singapura. Dari rekaman yang kemudian secara resmi diperdengarkan kepada publik oleh Mahkamah Konstitusi membuktikan betapa sangat saktinya Anggodo ini. Dia bisa mngatur semua petinggi yang membidangi jalannya hukum di Indonesia termasuk Wakil Jagung Ritonga dan bahkan menyebut-nyebut RI -1. Dari kesimpulan orang awam dapat dikatakan bahwa kesaktian Anggodo Wijoyo ini dipupuk sejak para petinggi hukum dan Polri itu masih menjadi pejabat di Jawa Timur (Surabaya). Pertanyaan kita yang lain adalah apakah memang : JIWA DAN SEMANGAT KEPAHLAWANAN 10 NOPEMBER
1945 SEKARANG INI SUDAH DIGANTIKAN OLEH SEMANGAT KECU DAN BROMOCORAH SURABAYA (Jawa Timur)

Kalau dahulu tokohnya adalah Gubernur Suryo , Dul Arnowo dan Bung Tomo maka sekarang muncullah Aggodo Wijoyo dan Anggoro Wijoyo. Penampilan Anggodo begitu hebat dan sangat meyakinkan .Tak gentar melawan para pakar hukum kelas nasional seperti Trimulya D Soerjadi , Bambang Wijoyaanto dan Adnan Buyung Nasution. Dia sangat percaya diri tak kalah dibandingkan dengan Bung Tomo dan Ruslan Abdulgani yang membakar rakyat Surabaya untuk dengan semangat 😕 Tali Doek Tali Layangan, Awak Sitoek Ilang-ilangan !? dalam menghadapi Tentara Belanda yang membonceng Tentara Sekutu untuk kembali menjajah lagi Indonesia. Bedanya Anggodo Wijoyo adalah sosok bertalenta tinggi yang mengabdi kepada ?JALAN KECU DAN BROMOCORAH!? yang dengan 6tega dan tegar menghancurkan negeri ini dengan memanfaatkan habis para pejabat tinggi negara yang korup dan lemah imannya.

Hari Pahlawan akan kita peringati untuk yang ke 64 kalinya pada tanggal 10 Nopember 2009. Akan tetapi kita harus akui bahwa semangat kepahlawanan bangsa ini telah banyak luntur termasuk yang seharusnya melekat lebih kuat di dada dan sanubari rakyat Surabaya dan Jawa Timur. Apakah proses ini akan kita biarkan berjalan sampai nanti kita tak lagi punya lagi generasi muda bangsa yang kenal akan niali-nilai luhur kepahlawanan dan pengorbanan Mungkinkah kemerdekaan dan semua kemewahan kehidupan dunia Indonesia yang tersedia sekarang ini (bagi yang berpunya) akan kita nikmati tanpa adanya pengorbanan dari para pahlawan yang telah menumpahkan darah dan meregang nyawa ? Mungkinn kita harus merenung dan merenung di Jembatan Merah dan di TMP Kusuma Bangsa untuk mmencoba menengar rintihan dan tangis para pahlawan yang telah mengorbankan dirinya untuk sebuah kesia-siaan.

Surabaya, Gedung Cak Durasim 7 Nopember 2009
Oleh : Tjuk K Sukiadi

Related posts

BKKKS Prov. Jatim Buka Puasa dengan Kaum Dhuafa

admin01

BK3S JATIM TERIMA PENGHARGAAN DARI DNIKS

bk3s

Aneka Herbal untuk Awet Muda

admin01