BK3S || BK3S JATIM || BKKKS || BKKKS JATIM || SOSIAL
Berita Sorotan

MENUNGGU HARI “BANGKITNYA” PENDIDIKAN

Kalau ada hal yang paling berarti untuk kehidupan manusia, itu adalah kesempatan kerja, kata Stiglitz. Kerja itu identik dengan survival, artinya tanpa kerja orang tidak bisa hidup. Disetiap negara, kehidupan manusia dijamin Negara. Berarti, peluang kerja bukan sekedar urusan individu tetapi lebih merupakan tanggung jawab Negara. Kita semua tahu pembangunan manusia adalah tujuan utama kita bernegara. Jadi jelas, alat ukur paling signifikan untuk mengukur berhasil-gagalnya satu Negara adalah tinggi-rendahnya angka pengangguran. Bukan angka-angka lain!

Membangun manusia adalah tujuan pendidikan, meraih-mencipta peluang kerja, termasuk didalamnya. Dalam setiap menyusun masa depan, kita tidak bisa mengelak dari perencanaan pendidikan. Pertanyaannya, siapakah yang bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak kita? Urusan pribadi atau Negara? Kalau memang ada peran Negara, dimana letaknya dan bagaimana mengukurnya?

PERMASALAHANNYA:

Wajah pendidikan negeri ini tidak ceria. Lebih dari satu juta ?penganggur bergelar? berkeliaran dinegeri ini (Kompas, 10 Oktober 2009). Jumlah yang fantastis, setara dengan sepertiga jumlah penduduk Singapura. Dunia pendidikan tinggi (PT) kita terbukti tidak mampu menyiapkan tenaga terampil yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Keliru kalau kita lantas bersikap stigmatis terhadap pendidikan negeri ini. Masih ada PT dinegeri ini yang baik bahkan mungkin teramat baik. Tetapi fakta diatas jelas menunjukkan bahwa lebih banyak PT yang menyesatkan ketimbang yang dapat diandalkan. Ironisnya, setiap tahun anak-anak kita terus membanjir menuju PT. Dan, kita tahu ada benang kusut menanti disana.

Ken Kox mengingatkan, a problem clearly stated is a problem half solved. Benar, dalam menyelesaikan masalah (baca: yang kompleks) mulailah dari akar pemasalahannya. Dengan sedih kita melihat kenyataan, hampir seluruh umat manusia saat ini menyembah pasar. Disana berlaku logika supply and demand. Hak kepemilikan dan kebebasan memilih harus dilindungi. Semua itu membawa persoalan dipasar. Pertanyaanya, apa yang akan terjadi dipasar? Lantas, pasar kerja membutuhkan tenaga kerja seperti apa?

Paul Krugman tahun 1997 menulis teori sederhana, The Accidental Theory. Dia memberi perumpamaan, satu Negara memproduksi satu jenis barang sebanyak 60 juta, misalnya barang A. Jika untuk memproduksi barang A diperlukan 60 juta karyawan dan dua hari kerja, maka akan terdapat: 60 juta x 2 hari kerja = 120 juta ?men-days? kerja. Bila kemudian teknologi dapat menemukan cara memproduksi A menjadi hanya satu hari saja, apa yang akan terjadi? Pertama, supply akan meningkat mengikuti demand, misalnya, produksi akan meningkat menjadi 80 juta barang A. Kedua, terjadi masalah ditenaga kerja. Jumlah ?men-days? kerja akan menurun dari 120 juta menjadi 80 juta ?men-days? kerja. Terjadi pengurangan tenaga kerja atau pengurangan jam kerja. Ketiga, karyawan yang tersisa harus mengikuti training teknologi baru. Jelas, perkembangan teknologi membawa perubahan peta pasar kerja yang amat bermakna. Awalnya Negara diuntungkan dengan meningkatnya produksi sebanyak 33, 3%. Tetapi Negara akan segera dihadapkan pada dua problema serius: Pertama, mencari jalan keluar untuk hilangnya 40 juta ?men-days? kerja. Kedua, menyediakan training khusus untuk tenaga kerja yang tersisa. Ini bukan hal mudah. Disini, teori Krugman tampaknya berguna untuk batu pijakan menyusun langkah kedepan.

PENDIDIKAN BERADA DIHULU

Hadirnya era informasi membuat situasi menjadi teramat kompleks. Ibarat Tsunami, produk baru terus membanjir dipasar. Allan Greenspan menyebut turbulence era, yang ditandai dengan perubahan disegala bidang dengan kecepatan tak terbayangkan. Beberapa produk mungkin menjadi pemenang, tetapi lebih banyak yang musnah. Benar, pasar telah menjadi arena hiperkompetisi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Pasar memaksa semua harus merubah diri dengan amat cepat. Lantas, dalam situasi seperti ini apa yang terjadi dipasar kerja ? Teori Krugman menjadi tidak sederhana lagi.

Tetapi mata rantainya jelas: produk baru adalah hasil dari teknologi. Teknologi berawal dari pengetahuan (baca: inovasi dan kreatifitas) dan pengetahuan bersumber dari pendidikan. Jelas, badai bermula dari meledaknya teknologi yang notabene bersumber dipendidikan. Era knowledge economy telah hadir dihadapan kita dan tidak ada lagi bangsa yang survive tanpa mempunyai akses keilmu-pengetahuan. Itulah sebenarnya cermin wajah negeri ini yang selama ini tak kunjung henti menjadi bulan-bulanan Negara lain.

MEMUTUS RANTAI

Andreas Schleicher menulis, di Newsweek 17 Agustus 2009: Ongkos gagalnya pendidikan akan jauh lebih mahal ketimbang krisis keuangan. Itulah yang membuat Obama menyuntik 12 miliar dolar untuk pendidikan, disaat Amerika jatuh dalam krisis keuangan. Mereka sadar, Negara akan kuat bila memiliki tiga hal: stabilitas politik, demokrasi dan ekonomi yang kuat. Milton Friedman, mengatakan tanpa landasan pendidikan yang kuat, ketiga hal tersebut tidak akan tercapai. Bangkitnya ekonomi Amerika, Jepang, Malaysia, Singapura, RRC dan banyak Negara lain, semua berawal dari bangkitnya dunia pendidikan. Schleicher menambahkan, banyak megara yang harus membayar teramat mahal atas kekeliruanya mengelola pendidikan dinegaranya. Sejak awal lahir, negeri ini terus dirudung masalah. Apakah bukan situasi seperti ini yang kita hadapi selama ini?

Percuma kita berusaha membersihkan air kotor dihilir kalau sumbernya ada di hulu. Rantai harus segera diputus, peran Negara amat jelas: Menjamin kualitas pendidikan dan menjamin akses pendidikan untuk rakyat. Saya pernah membaca iklan PT luar negeri yang menarik: There is no education without global standard. Benar, pendidikan adalah suatu hal yang all or none. Artinya, tanpa kendali mutu, pendidikan hanya akan menyesatkan. PR kita makin berat saja, jarak kualitas pendidikan terasa semakin jauh tertinggal. Tetapi inilah sumber masalah yang membuat negeri ini terus terpuruk. Rantai harus segara diputus.!

Awareness adalah syarat utama untuk lahirnya perubahan. Mungkin itu maksudnya, disetiap bulan Mei kita harus merenung untuk mengenang Ki Hajar Dewantoro dan Boedi Oetomo. Agar kesadaran bahwa pendidikan adalah investasi yang tak ternilai harganya itu hadir dihati para pemimpin. Masih bisakah kita berharap?

Ario Djatmiko
Pemerhati pendidikan dan kesehatan
Dokter, tinggal di Surabaya.

Related posts

Psyche Indonesia Dan Kasus Mencontek Massal

bk3s

KESEJAHTERAAN GURU RP. 7.500 PERBULAN

bk3s

MEMAKNAI KEMBALI KEBANGKITAN NASIONAL

bk3s