BK3S || BK3S JATIM || BKKKS || BKKKS JATIM || SOSIAL
Berita

PENDIDIKAN YANG SEIMBANG DAN TERPADU

Kinerja sistem pendidikan nasional tampaknya masih menjadi perdebatan panjang. Perdebatan yang muncul diantara kutub-kutub pendapat yang berbeda, tampaknya tidak akan pernah ada titik akhirnya karena mereka semua yang terlibat dalam perdebatan, orientasinya adalah memenangkan pendapatnya.Argumen demi argumen muncul tiada henti-hentinya untuk memenangkan ide-idenya. Akibatnya tak ada perbaikan kinerja sistem pendidikan. Enerji pada akhirnya habis untuk berdebat. Pemerintah, masyarakat, keluarga, sekolahan, guru, siswa, para pemerhati pendidikan, adalah unsur-unsur sistem pendidikan yang secara independen sangat sulit untuk diintegrasikan menjadi satu kekuatan yang sangat besar untuk secara bersama-sama mencapai visi kemerdekaan dalam pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Hakekat pendidikan adalah pembentukan sikap dan perilaku, serta pengembangan potensi sumber daya manusia yang bermanfaat bagi individu itu sendiri dan bangsa secara umum.

Bangsa Indonesia sebenarnya telah memiliki landasan filosofis yang khas yang mungkin merupakan satu-satunya bangsa di dunia yang ingin membentuk sikap dan perilaku bangsa yang didasarkan pada iman, ilmu, persatuan dan kesatuan, serta kesejahteraan. Jadi manusia Indonesia adalah manusia yang beriman, berilmu (cerdas), bersatu, dan berkesejahteraan. Karena kita merupakan bangsa yang sangat majemuk dalam isi mental, agama, sosial, dan budayanya, maka nilai-nilai tersebut dibangun di atas fondasi perikemanusiaan yang adil dan beradab, musyawarah, dan keadilan sosial. Semua nilai di atas telah terangkum dalam Pembukaan UUD 45. Di sinilah nilai dasar yang akan dijadikan pedoman dalam bersikap dan berperilaku bangsa itu telah diletakkan oleh para pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia kita yang tercinta.

Persoalan-persoalan tentang pendidikan yang hingga kini masih menjadi polemik adalah menyangkut cara yang sedang dan akan tetap digunakan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa itu, bentuk kecerdasan apa yang akan dicapai, antara kepentingan individu dengan kepentingan negara, antara kepentingan jangka pendek dengan jangka panjang, antara pendidikan murah dengan bermutu, antara kemampuan negara dengan kemampuan rakyat, antara kepentingan lokal dengan nasional, antara keragaman peserta didik dengan standarisasi, antara kompetensi guru dengan fasilitas dan kesejahteraannya, antara kewajiban pemerintah dan partisipasi atau kontribusi masyarakat, dll. Jika kita simak perdebatan yang mengedepan itu jarang sekali menyangkut tentang sinkronisasi peran keluarga, peran masyarakat dan peran sekolahan, serta bagaimana menata lingkungan agar memberi dukungan positif dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Kita semua bercita-cita menjadikan bangsa ini bangsa yang cerdas, santun, sopan , ramah, penyayang dan berdaulat. Ini cita-citanya. Tetapi sekolah mengajarkan lain, keluarga di rumah lain lagi, lingkungan lebih tidak ramah dan sinkron dengan cita-cita tersebut. Ada tindak kekerasan di sekolah, dirumah, dan percabulan di lingkungan masyarakat. Belum lagi televisi yang penuh dengan tayangan gaya hidup mewah, bebas, dan konsumtif. Secara tidak langsung tuntunan untuk menyukai harta benda dengan intensif tergelar di sana. Anehnya tayangan yang mengindikasikan sikap dan perilaku ?gila dan kegila-gilaan? lebih mendapatkan perhatian. Jadi bangsa ini menjadi bangsa yang saleh ketika tidur, pagi-pagi menjadi bangsa yang alim, siang menjadi predator dan malam sebelum tidur menjadi sahabat setan. Ini tantangan kita untuk menjadikan kembali bangsa yang ramah tamah dan berbudi luhur.

Berbicara soal pendidikan, Bangsa Indonesia tentu tak akan dapat melupakan salah seorang tokoh perintis pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara. Adalah beliau yang mengedepankan konsep pengintegrasian tiga lingkungan pendidikan yaitu keluarga, masyarakat dan sekolahan. Ke tiga lingkungan ini semestinya diatur secara harmonis sehingga membentuk suatu kesatuan sistem pendidikan yang terintegrasikan yang secara sinergi efektif untuk mencapai cita-cita bangsa dalam pendidikan. Kini dengan kemajuan teknologi informasi, ketiga lingkungan tersebut telah bertambah lagi dengan satu faktor pemberi pengaruh yang berdemensi global. Tidak ada cara lain untuk menang dalam menghadapi globalisasi kecuali dengan iman dan ilmu.

Kini kita telah lebih dari 60 tahun merdeka. Bagaimanakah komitmen dan kontinyuitas kita terhadap nilai-nilai dasar yang harus ditanamkan kepada anak-anak bangsa di atas? Tampaknya hasil yang kita peroleh jauh dari gambaran cita-cita di atas. Pendidikan lebih menaruh perhatian pada pendidikan formal yang hanya mengisi otak dengan berbagai informasi. Di sisi lain pendidikan non formal lebih berfokus pada pembentukan ketrampilan kerja yang siap pakai.Lalu dimanakah letak pendidikan sosial, budaya, dan moral atau mental? Bidang-bidang pendidikan ini kurang mendapatkan porsi yang seimbang dengan pendidikan formal dan non formal di atas. Penguasaan informasi dan ketrampilan kerja telah menjadi primadona pendidikan. Pendidikan moral, sikap dan perilaku banyak dilalaikan. Andaikata ada lembaga pendidikan yang tujuannya untuk membentuk sikap dan perilaku biasanya juga terkait dengan urusan pekerjaan, citra pribadi yang aristokratik, dan pengedapanan daya tarik seksual. Maka wajar juga jika perilaku anak-anak bangsa dianggap kurang berbudi, sehingga banyak yang mengusulkan untuk mengajarkan kembali ?budi pekerti?. Taman Bermain Anak (Play Group) dan Taman Kanak-Kanak yang seharusnya merupakan peletak dasar pengembangan kepribadian anak seutuhnya juga telah bergeser menjadi pengembangan kecerdasan intelektual. Pola pikir mekanisme pasar telah merasuki semua unsur pendidikan. Orang tua ingin anak-anaknya hebat intelektualnya, tetapi lupa mengembangkan hati nurani yang menjadi sumber potensi kecerdasan emosional dan spiritual. Artinya ada pola pikir yang tidak utuh dalam proses pendidikan anak. Dengan mengutip dan sedikit mengubah pernyataan J Ingham, dapat dikatakan bahwa terdapat proses pengembangan ?kecacatan? pribadi pada anak-anak, sehingga ketika dewasa menjadi pribadi yang timpang dan cacat. Jadi inilah tantangan bagi pendidikan kita. Menjadikan bangsa ini berkepribadian seimbang, utuh dan normal. Atau ringkasnya menjadi bangsa yang merefleksikan sikap dan perilaku selamat di dunia dan selamat pula di akherat, unggul di dunia dan unggul di akherat.

Bagaimanakah mengatasi persoalan di atas? Memang tidak mudah. Diperlukan suatu usaha yang holistik, intensif dan berkesinambungan. Namun karena semua orang berangkat dari keluarga, maka kunci untuk mengatasi persoalan di atas ada pada keluarga. Ada beberapa fungsi keluarga yang bersifat spiritual yang perlu ditegakkan, yaitu fungsi religius, pendidikan, sosialisasi, dan perlindungan. Keluarga saat ini sangat disibukkan oleh penegakan fungsi ekonomi. Waktu dan tenaga mereka terkuras habis untuk menegakkan fungsi ini. Mereka yang termasuk pada golongan menengah bawah, sudah berjuang keras tetapi ekonomi mereka tidak kunjung tegak. Kondisi ini mengindikasikan diperlukannya lembaga-lembaga pendukung untuk menegakkan keseimbangan perwujudan peran fungsi-fungsi di atas. Lembaga-lembaga tersebut sebenarnya telah ada tetapi belum mencukupi dan belum memenuhi kelayakan.

Ke dua, memperkuat status orang tua sebagai model. Keluarga adalah kelompok yang memberikan acuan bersikap dan bertingkah laku. Dalam proses pembentukan tingkah laku imitasi adalah yang paling dominan. Disinilah perlunya model yang berdemensi fisik, sosial, maupun psikologis. Orang tua ibarat bintang film bagi anak-anak-nya yang memainkan figur orang yang bertutur kata dengan baik, lembut, perhatian, kasih sayang, dan pelindung.

Ke tiga, peran orang tua sebagai penyedia energi positif yang diekspresikan dalam bentuk pemberian dukungan, semangat, bimbingan, dan penghargaan. Sikap ini diperlukan untuk melawan suatu kondisi bahwa lebih kurang setiap hari anak mendapat perlakuan positif dan negatif satu berbanding tujuh.

Jadi intinya adalah penguatan bentuk dan fungsi keluarga sakinah yang penuh rakhmat Allah untuk melengkapi pendidikan formal yang lebih menekankan pada pencerdasan intelektual dan pendidikan non formal dengan insan pencari kerja. (Oleh Sutop Wahyu Utomo, MM)

*) Penulis adalah Pekerja Sosial
Sekretaris Umum BKKKS Jatim.

Related posts

PERMOHONAN DUKUNGAN

bk3s

US PHONE BASE FOR REVERSE LOOKUP

bk3s

Bantuan Pengungsi Gafatar di Surabaya

admin01