BK3S || BK3S JATIM || BKKKS || BKKKS JATIM || SOSIAL
Berita Sorotan

ANALISIS KRITIS TELEPHONE GENGGAM DAN TRANSFORMASI ETIKA SOSIAL

Telephone genggam atau yang biasa dikenal dengan Handphone (HP) merupakan salah satu perkembangan teknologi komunikasi  di era global. Bagaikan dua sisi mata uang, satu sisi memberikan dampak pada transformasi social dalam hal yang positive. Sisi yang lain menjadi boomerang bagi kehidupan social masyarakat terutama kehidupan ekonomi dan etika social. Telephone genggam tidak hanya digunakan sebagai sarana komunikasi tetapi juga dipergunakan untuk merekam baik suara ataupun gambar, mengambil foto, mengirim pesan singkat (sms), MP3, internet, dan pemandu peta perjalanan (GPS) sehingga menjadi sarana multimedia. Keberadaan telephone genggam mampu mengendalikan pikiran orang dan menjadi imperialisme budaya terutama etika social.  Orang yang membawa HP tidak lagi memperhatikan orang yang berada di sebelahnya dan cenderung mengabaikan, mereka cenderung bercakap-cakap sendiri, sibuk sms atau chating. HP dipergunakan untuk sarana menyontek dan mengakses pornografi bagi kalangan remaja. HP mampu mendegradasi etika dalam diri remaja bahkan menjadi abrasi bagi lingkungan sosialnya. Memiliki HP menjadi kebutuhan primer di Indonesia, kurang lebih 60 juta pengguna dengan pertumbuhan 22,3%. Pengguna HP dari kalangan dewasa sampai anak-anak. Di salah satu sekolah SD, 80% siswa kelas 4-6 memiliki HP dengan alasan memperlancar komunikasi dengan orangtua. Perilaku konsumtif juga mudah terpicu dalam penggunaan HP. Begitu seringnya muncul jenis HP baru, yang tidak hanya menawarkan teknologi yang mutakhir tapi juga design baru yang disesuaikan dengan selera konsumen, sehingga menarik minat pengguna untuk gonta-ganti HP. Belum lagi pemborosan pulsa karena adanya berbagai program yang mengundang pengguna HP untuk berpartisipasi dengan pulsa premium yang biayanya 10 kali lipat pulsa biasa. Selain dampak negatif di atas, penggunaan HP pada anak juga rentan terhadap bahaya. Baik bahaya perampokan maupun bahaya terhadap otak yang ditimbulkan oleh gelombang elektromagnetik HP.

Perkembangan Telephone Genggam

 

Telepon genggam atau Handphone adalah sebuah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line sehingga konvesional namun dapat dibawa keman-mana ( portable ) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel ( nirkabel, wireless ). Generasi pertama system selular Analog yaitu AMPS ( Advance Mobile Phone Service ). Versi dari AMPS dikenal sebagai Narrowband Advance Mobile Phone Service ( NAMPS ) yang menggabungkan teknologi digital, sehingga system ini dapat digunakan untuk membawa tiga kali lebih besar kapasitas pada setiap panggilan versinya. Pada tahun 1981 muncul NMT ( Nordic Mobile Telephone System ). Pada tahun 1982 muncullah GSM ( Global System For Mobile Communination ). Pada tahun 1990 jaringan Amerika Utara bergabung membentuk standarisasi IS-54B dimana standarisasi ini adalah yang pertama kali menggunakan dual mode seluler berdasarkan teknik penyebaran spectrum untuk meningkatkan kapasitas yang disebut IS-95. Dengan menggunakan protocol AMPS sebagai defaultnya, akan tetapi mempunyai cara kerja SEC. Normal yang berbeda dengan analaog selular serta lebih canggih disbanding IS-54. Pada awalnya disebutkan bahwa yang menggunakan teknologi sistem Code Division Multiple. Access ( CDMA ) secara digital akan meningkatkan kapasitas hingga 10 sampai 20 kali pada sistem selularnya. Meskipun konsep tersebut mengedankan hal inilah yang menjadikan sistem berdasarkan CDMA menjadi metode transmisi pilihan pada pemasangan-pemasangan baru di atas sistem CDMA. Indonesia mempunyai dua jaringan telepon nirkabel yaitu GSM dan CDMA tetapi sekarang ada era generasi baru Handphone yaitu era generasi ke-3 ( 3G ). Ponsel generasi ini juga disebut 3G, fiturnya adalah memungkinkan operator jaringan untuk memberi para pengguna ponsel ini memiliki jangkauan yang lebih luas,termasuk internet dan Video call berteknologi tinggi. Dalam 3G terdapat 3 standar untuk dunia telekomunikasi yaitu Enhance Datarates for GSM Evolution (EDGE), Wideband-CDMA, dan CDMA 2000.

Kelemahan dari generasi 3G ini adalah biaya yang relatif lebih tinggi, dan kurangnya cakupan jaringan karena masih barunya teknologi ini.  Generasi keempat: HP generasi ini juga disebut 4G.4G merupakan sistem HP yang menawarkan babak baru dan solusi infrastruktur yang mengintegrasikan teknologi wireless yang telah ada termasuk wireless broadband (WiBro),CDMA, wireless LAN, Bluetooth, dll. Sistem 4G berdasarkan keragaman jaringan IP,yang memungkinkan pengguna untuk menggunakan beragam system kapan saja dan dimana saja. 4G juga memberikan penggunanya kecepatan tinggi, volume tinggi, kualitas baik, jangkauan global, dan fleksibilitas utnuk menjelajahi berbagai teknologi berbeda. Terakhir,4G memberikan pelayanan pengiriman data cepat untuk mengakomodasi berbagai aplikasi multimedia seperti, video conferencing, game on-line, dan lainnya.

Penggunaan Telephone Genggam di Kalangan Mahasiswa

 

Penggunaan telephone genggam dipilih sampel mahasiswa sejumlah 138 mahasiswa angkatan 2010 dan 2011. Penggunaan HP ditinjau dari frekuensi, lamanya menggunakan, kebutuhan pulsa per bulan, manfaat, dampak positif dan negative

Dari tabel di atas terlihat bahwa sebanyak 108 orang (78,26%) responden frekuensi penggunaan HP untuk sms dalam sehari 50-100 sms, disini para mahasiswa ini termasuk orang yang sering berkomunikasi dengan sahabat, pacar, dan teman sebesar 70% dan ke orangtua 50% dengan materi curhat sebesar 70%, ngobrol 45%, dan diskusi keilmuan sebesar 20% atau bahkan bisa jadi mereka termasuk orang yang keranjingan HP, sehingga HP miliknya merupakan barang yang sangat berharga dan penolong dalam kehidupannya atau bisa juga karena mereka memiliki HP baru dan tersedia pulsa yang banyak sehingga mereka lebih sering frekuensi berkomunikasi dengan temannya meskipun di sekolah mereka sudah bertemu seharian. Sedangkan sebanyak 30 orang (41,40%) responden penggunaan HPnya <50 sms, mereka rata-rata memiliki pulsa terbatas sehingga mereka jarang menggunakan HP untuk berkomunikasi melalui sms dengan sesamanya, atau karena mereka sudah seharian bertemu dan bercakap-cakap seharian di kampus membicarakan berbagai hal, sehingga HP mereka jarang pemakaiannya.

Sebanyak 49 orang (42,75%) responden menggunakan HP untuk berkomunikasi melalui telphone sebanyak 1-5 kali/hari, disini mereka termasuk mahasiswa yang senang berkomunikasi dengan HP melalui menelephone langsung. Sedangkan sebanyak 79 orang (57,24%) dengan frekuensi 1-5 kali/minggu. Penggunaan untuk browsing ilmu sebanyak 80 orang responden (57,97%). Penggunaan untuk facebook sebanyak 89 responden (64,49%). Dari frekuensi penggunaan HP ternyata cukup tinggi yang menggunakan persentasenya yang memakai kategori sms dan facebook bila dibandingkan dengan yang digunakan untuk telephone  perbedaannya sangat signifikan.

  1. Kebutuhan Pulsa

Kebutuhan pulsa yang dipakai dalam satu bulan dari sejumlah 138 mahasiswa dapat dilihat pada tabel berikut ini :

 

Dari tabel di atas ternyata 52 orang (37,68%) responden dalam sebulan mereka menghabiskan pulsa sebanyak <Rp 25.000,- dari hasil wawancara, kebanyakan mereka menggunakan fasilitas bonus pulsa baik untuk SMS atau menelepon langsung, mereka memilih memakai fasilitas bonus karena relatif murah dan jatah dari orang tua pun hanya berkisar Rp 25.000,- per bulannya,sehingga penggunaan pulsa ini merupakan salah satu pilihan yang tepat, sedangkan sebanyak 47 orang (34,05%) responden dalam 1 bulan menghabiskan pulsa Rp. 25.000,- – Rp 50.000,- mereka ini mendapat jatah untuk membeli pulsa dari orang tua sebanyak itu, di samping itu mereka senang menelepon langsung untuk berkomunikasi, sehingga dalam hal ini mereka juga banyak berkomunikasi dengan mengirim SMS kepada sesamanya bahkan dengan keluarga jauh sekali pun.

Sebanyak 36 orang (26,08%) responden dalam 1 bulan menghabiskan pulsa kurang lebih Rp 100.000,- bagi ukuran mahasiswa pengeluaran ini terhitung cukup besar mengingat mereka masih minta ke orangtua, namun mengingat mahasiswa termasuk dari kalangan menengah ke atas sehingga bagi sebagian mahasiswa pulsa Rp 100.000,- bukan hal yang mewah atau besar, apa lagi kalau mereka memang mendapat jatah dari orang tuanya sebesar itu dan komunikasi yang dilakukan mereka intensitasnya cukup tinggi, namun bila dilihat dari segi kebutuhan ukuran mahasiswa mereka ini tergolong pada yang suka melakukan telepon langsung melalui HPnya dengan waktu lebih dari 15 menit dalam 1 hari dan komunikasi yang mereka lakukan pun tidak melihat hal penting atau tidak, yang penting mereka berkomunikasi tanpa melihat pulsa yang dihabiskan.

Telephone Genggam dan Transformasi Sosial

 

Pergeseran Fungsi Handphone dari Komunikasi ke Hiburan pada Saat Belajar
yaitu dari komunikasi ke hiburan misalnya, musik, game, internet, dan kamera.
Pada umumnya remaja suka mendengarkan musik sehingga pada saat berkembangnya teknologi handphone yang berisi fasilitas music player (pemutar musik) merekapun tidak menyia-nyiakan fasilitas tersebut. Mereka cenderung menggunakan fasilitas tersebut daripada komunikasi. Remaja juga cenderung menggunakan fasilitas game karena game di handphone itu dapat dimainkan dimana saja mereka berada asalkan mereka membawa handphone dan membuat kecanduan. Internet adalah sebuah media yang dapat memberikan informasi mengenai apa saja yang ingin diketahui oleh seseorang. Dewasa ini semakin banyak handphone yang menawarkan fasilitas internet, sehingga banyak remaja yang tertarik untuk memiliki handphone tersebut. Karena keasyikan browsing internet pada handphone maka seringkali lupa akan kewajibannya untuk belajar. Konsumtif, adalah salah satu pengaruh dari kemunculan telepon seluler. Masyarakat menjadi sangat peka dengan perkembangan telepon seluler. Baik dari sisi konsumen bahkan produsen. Dikalangan produsen juga muncul dunia industri yang baru, saat ini sangat banyak sekali provider-provider baru yang bermunculan. Provider-provider lama pun juga semakin menancapkan kuku-kukunya diindustri provider telepon seluler, sehingga persaingan menjadi sangat ketat dan perang tarif pun terjadi. Harga pulsa untuk operasional telepon seluler menjadi semakin murah, sehingga masyarakat sebagai konsumen pun menjadi semakin konsumtif karena itu. Terdapat hubungan antara konsumen dan provider dalam pengaruh sifat konsumtif dari penggunaan telepon seluler.

Bukan hanya dalam penggunaan operasional telepon seluler, berkembangnya teknologi dan jenis-jenis yang semakin modern yaitu yang paling mutakhir dari 3G ke 4G membuat konsumen menjadi semakin konsumtif. Konsumen secara aktif terus menerus mengikuti perkembangan teknologi telepon seluler dengan berbagai alasan. Dari orang yang tidak ingin dikatakan ketinggalan zaman, orang yang hanya menggunakan perkembangan teknologi hanya untuk prestise, hingga orang yang benar-benar memanfaatkan perkembangan telepon seluler untuk meningkatkan produktifitas serta efisiensi dalam pekerjaannya.  Pengaruh lainnya adalah hilang batasan ruang dan waktu. Kedua hal tersebut merupakan nilai-nilai yang terkandung dalam globalisasi. Dengan muncul dan semakin berkembangnya telepon seluler membuat privasi seseorang semakin terganggu. Orang yang memilki telepon seluler dapat dihubungi dimanapun dan kapanpun, dengan syarat tidak terjadi kesalahan teknis dalam penggunaannya seperti tidak ada jaringan, baterai telepon seluler habis, dan pulsa habis. Hal ini bisa menjadi sebuah hal yang positif namun bisa juga menjadi hal yang negatif, tinggal bagaimana kita memposisikan penggunaan telepon seluler sesuai dengan etika. Apabila handphone digunakan untuk mengganggu privasi seseorang, seperti dengan menelpon tengah malam padahal tidak ada kepentingan dan mengganggu tidur, menelpon saat sedang beribadah sehingga mengganggu kekusyukan, dan lain sebagainya. Penggunaan telepon seluler dapat bernilai positif jika digunakan sesuai dengan kebutuhan dan etika, seperti untuk memperlancar urusan pekerjaan menggunakan telepon seluler untuk berkomunikasi saat jam kerja, memberitakan hal-hal penting dan harus diketahui saat itu juga, dan lain sebagainya.   Banyak kalangan masyarakat yang beranggapan dengan muncul dan berkembangnya telepon seluler membuat nilai-nilai sosial yang ada masyarakat khususnya masyarakat Indonesia yang berjiwa kekeluargaan dan gotong royong menjadi luntur. Sebelum muncul telepon seluler, orang-orang selalu melakukan komunikasi secara langsung dengan tatap muka dalam penyampaian pesan, sehingga rasa kekeluargaan semakin terasa erat karena ada hubungan secara emosional. Sedangkan saat ini, untuk menghubungi tetangga yang bersebelahan rumah pun menggunakan telepon seluler. Dengan label efektifitas, membuat penggunaan telepon seluler lebih digemari oleh masyarakat. Namun disisi lain nilai-nilai sosial dan kekeluargaan semakin luntur. Pertemuan-pertemuan tatap muka menjadi semakin jarang. Secara emosional memang sudah sangat berbeda antara komunikasi secara tatap muka denganmenggunakan telepon seluler, dengan menggunakan telepon seluler kita tidak dapat mengetahui kondisi emosional dan psikologis dari lawan bicara.

Kesimpulan

  1. Fungsi utama telephone genggam adalah sebagai sarana komunikasi
  2. Perkembangan dan kemajuan telephone genggam mengakibatkan fungsi telephone genggam mengalami pergeseran yaitu menjadi media game, mendengarkan music, kamera, dan internet
  3. Dampak positif telephone genggam adalah memudahkan komunikasi
  4. Dampak negative telephone genggam adalah mengganggu aktivitas belajar, konsumtif, hilang batasan ruang dan waktu, lunturnya nilai-nilai kekeluargaan

Oleh

Dr. Asri Wijiastuti,M.Pd.

Sekretaris I BKKKS Jatim

 

Related posts

QUO VADIS PENDIDIKAN DI INDONESIA?

bk3s

PASIEN KAKI GAJAH

bk3s

GAYA SELINGKUNG

bk3s