BANGUNLAH JIWANYA, BANGUNLAH NALARNYA

Semangat “guyon” bangsa kita sering mengagumkan. Tidak mengenal tempat, waktu dan terkadang tidak mengenal kepatutan. Disetiap pertemuan, acara ger-geran hampir selalu terlihat. Pidato penjabat, politik bahkan acara ilmiah, selipan joke tampaknya merupakan menu wajib. Inilah yang tidak tampak dibangsa lain.

Seorang profesor disebuah seminar melempar sebuah joke: ”Kalau ada lelang otak, yang paling mahal pasti otak orang Indonesia. Bukan otak orang Amerika, Jepang, Tionghoa apalagi orang India. Mengapa? Otak manusia Indonesia selalu segar, sebab amat jarang dipakai”. Joke getir sang profesor, amat menganiaya bathin! Tetapi saya terkejut, gemuruh tawa keras diseluruh sudut ruangan. Joke getir itu saya dengar 20 tahun lalu. Soal mengolok bangsa sendiri, memang kitalah jagonya. Kian hari, joke serupa kian sering terdengar. Teknologi yang seharusnya membuat kita lebih produktif, tetapi ditangan bangsa kita bisa berbeda. Kehadiran SMS, membuat kebiasaan menghina bangsa sendiri berkembang pesat dan kian tidak bertanggung jawab. Proses destruksi nilai berlangsung terus tanpa jeda. Dan, masyarakat seakan mati rasa atau bahkan mungkin kita sudah bisa ikut tertawa!

FAKTA BERBICARA

Bulan lalu, sahabat orang Belanda, yang menghabiskan sisa hidupnya untuk kemanusiaan, berkunjung dan murung. ”Bangsa ini tidak seharusnya hidup seperti ini. Anda lihat bumi Kalimantan hancur lebur. Bayangkan, Indonesia tercatat pengekspor batubara nomor 2 didunia, padahal cadangan batubaranya hanya no 16. Masuk akalkah, negeri Tiongkok yang cadangan batubaranya nomor 3 didunia, 114 500 juta ton harus impor batubara dari Indonesia yang cadangan batubaranya hanya 5.370 juta ton. Jelas, mereka amat menjaga kelestarian alamnya dan begitu meng-eman cadangan batubaranya. Sebaliknya negara Anda mengumbar cadangan yang tidak seberapa. Dan, membiarkan mereka mengaduk-aduk bumi negeri ini. Bagaimana mungkin, negeri yang begitu subur, harus sepenuhnya tergantung import pangan? Laut begitu luas, harus impor ikan? Anda pernah melihat, anak manusia negeri ini yang berebut makan dengan hewan piaraannya? Makanan babi!”. Lirih dia berkata: ”Saya tidak mengerti bagaimana elit negeri ini memimpin? Akalnya tidak dipakai atau mereka tidak punya nurani?” Nah, apakah kita harus marah? Dia tidak sedang menghina, air matanya mengambang. Ia mengingatkan, betapa abai-nya pemimpin kita akan nasib negeri ini.

NURANI DAN NALAR

Pasti ada yang salah dinegeri ini, si Belanda menyebut dua hal: Akal dan nurani. Dua hal itulah yang membuat kita, manusia, berbeda dengan mahluk lain. Akal adalah proses berfikir yang merupakan bagian dari nalar. Nalar adalah proses yang kompleks, cermat, menyeluruh dalam mempertimbangkan segala segi guna memecahkan masalah. Nalar adalah sarana bertahan hidup ditengah lingkungan yang terus berubah dan penuh tantangan ini. Dan, nalarlah yang membuat manusia menjadi penguasa dimuka bumi.

Pidato penting Churchill 1943, dimimbar Harvard University:” Brain power is really the future of a nation”. Kini, diera ini, kekuatan otak sungguh tak berbatas lagi. Pengetahuan, kecerdasan, kekuatan otak bukanlah hal yang datang dengan sendirinya. Harus dicari, dikejar dan terus dilatih dengan benar. Albert Einstein, mengingatkan:   ” Thinking is hard work; that’s why so few do it”. Mengasah otak adalah urusan survival bangsa, jelas soal ini bukan sebatas hanya urusan individu. Ini sepenuhnya urusan Negara! Pemerintah harus bertanggung jawab penuh atas kualitas pendidikan dan akses rakyat meraih pendidikan terbaik. Namun yang tampak sehari hari jauh dari semestinya. Banyolan konyol di TV kian marak tak terbendung. Dan, rakyat kita sibuk tertawa, lupa mengasah otak,  miris! Sampai disini, semakin jelas ada yang salah dinegeri ini.

Minggu lalu, saya terpaku melihat moto pendidikan di sekolah modern negeri jiran, Malaysia: “No education without global standard”. Ide cemerlang, SM Science,  program khusus untuk melahirkan world class leader. Negara memanggil bumi putra pintar, unggul dan menjamin akses mereka kependidikan terbaik dunia. Disanalah, spirit kebangsaan ditanam, Malaysia membangun bangsanya dengan seksama dan siap melangkah kedepan. Sebaliknya, kita terjebak dalam kemelut tak berkesudahan. Jurang kaya miskin didunia pendidikan kian menganga lebar. Disaat kita berkutat dengan -gedung sekolah ambruk, minimnya sarana, kualitas guru yang kian memprihatinkan-, sekolah berlabel Internasional dinegeri ini angkuh berdiri dan tak terjangkau. Spirit kebangsaan dalam memintarkan bangsa kian memudar dan uang sepenuhnya bicara.

BATAS NALAR :

Herbert A Simon menulis: “Nalar adalah alat belaka. Nalar tidak menentukan tujuan hidup; paling banter ia hanya memberitahu bagaimana cara kita sampai kesana. Nalar ibarat senjata sewaan, dapat digunakan untuk mencapai tujuan apa saja, baik atau buruk”.

Benar, akal dan nurani adalah dua hal yang berbeda. Tampaknya, uji nurani dinegeri ini tak pernah dilaksanakan dengan seksama. Inilah, yang membuat kemelut tak kunjung berahir. Dokter pandai belum tentu dokter baik. Begitu juga profesi lain, ahli hukum, politikus, polisi bahkan ahli agama sekalipun. Socrates, ribuan tahun lalu mengingatkan: ”Nurani yang baik, mengarahkan untuk berbuat baik. Nurani yang jahat, sebaliknya. Batas benar-salah ada dinurani, bukan dinalar. Bukan berarti orang yang nuraninya baik tidak pernah berbuat salah. Pernah, manakala dia tidak tahu mana yang lebih benar. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti belajar”.

Masa depan negeri ini mengkilap, begitu kata para pakar ekonomi dari dalam dan luar negeri. Benarkah? Namun, potret negeri ini bercerita lain. Kisah -Mallinda Dee dan Nunun yang kini selalu tampil berkerudung, Nazarudin, Anas, Gayus, Century, ambrolnya jembatan Kukar, pembantaian Mesuji, ricuh Freeport, setiap hari bunuh diri, 175 kepala daerah korupsi, perampokan pembunuhan kian sadis, daftar kejahatan kian panjang -, menjelaskan, negeri ini sedang berjalan kearah yang salah.

Tahun lalu, seorang ahli ekonomi ternama mengawali tulisannya dengan joke: “Alkisah, semua kepala negara dipanggil Tuhan. Mereka diberi kesempatan bertanya, kapan negeri mereka akan makmur? Saat presiden Amerika keluar dari kamar Tuhan, dia menangis, 10 tahun lagi. PM Jepang, juga menangis, 12 tahun lagi. PM Italia menangis lebih keras, 20 tahun lagi. Tetapi saat giliran Indonesia, ditunggu lama tidak juga keluar. Mengejutkan, yang keluar bukan presiden Indonesia tetapi Tuhan sambil menangis tersedu-sedu. Benar, derita negeri ini masih akan panjang, mungkin tanpa ahir. Nah, masih bisakah Anda tertawa?

* Ario Djatmiko.

Staff Pengajar FK UNAIR.

Beri rating artikel ini!

Tinggalkan Balasan