Bellum Omnium Contra Omnes, Law and Order, Memuja Uang !

Di tangan mandatory power (kekuasaan yang sah) seperti itu, negara akan jadi mesin – destruksi yang dikendalikan oleh siapapun yang bisa mensuplai kebutuhan kekerdilan – kebusukan mereka. Untuk menjaga keberlangsungan peluang menjarah daya – hidup rakyat, secara tersistem dan terstruktur mesin ini dengan kekuatan dahsyat bekerja 24 jam tanpa henti, menggerakkan proses pemiskinan dan pembodohan. Secara massal men-tidak berdaya-kan rakyat.

Bellum Omnium Contra Omnes,

Law and Order, Memuja Uang !

 

“Sebuah dialog interaktif dengan si abang imajiner”

Oleh : Dokter Ario Djatmoko *

Sikap seseorang terhadap suatu keadaan, menunjukkan jati dirinya. Jati diri dibangun oleh formative process, di dalamnya terkandung aspek : kognitif, afektif dan konatif (action tendency) yang khas tiap orangnya. Sikap adalah refleksi kesadaran seseorang atas ; perbuatannya dan situasi yang bersangkut – paut dengan perbuatannya. Sikap menentukan sifat dan hakikat perbuatannya kini dan yang akan datang.

Hirarki berkaitan dengan jenjang luas akibat dari sikap seseorang, karenanya hirarki menentukan jenjang kebutuhan kebesaran jiwa dan rasa kebangsaan pemegang otoritas. Bila tukang sapu tak bertanggung-jawab, paling rumah jadi kotor, tetapi bila presiden, Kapolri, menteri, jaksa-agung atau Pangab yang bejat, akibatnya akan ngeri.

“Maksud Abang”

 

Begini, dalam posisi apapun orang berjiwa kerdil – busuk, perilaku otoritasnya akan busuk – kerdil juga. Otoritas yang ada padanya akan digunakan sebisanya untuk mendapatkan apapun demi pemenuhan nafsu busuk – kerdilnya, tentunya dengan cara kerdil dan busuk pula.  Apapun dia.

 

Di tangan mandatory power (kekuasaan yang sah) seperti itu, negara akan jadi mesin – destruksi yang dikendalikan oleh siapapun yang bisa mensuplai kebutuhan kekerdilan – kebusukan mereka. Untuk menjaga keberlangsungan peluang menjarah daya – hidup rakyat, secara tersistem dan terstruktur mesin ini dengan kekuatan dahsyat bekerja 24 jam tanpa henti, menggerakkan proses pemiskinan dan pembodohan. Secara massal men-tidak berdaya-kan rakyat.

Di tatanan yang kanibalistis ini, rakyat tak berdayalah yang jadi pihak paling teraniaya. Penguasaan peluang dan kebutuhan hidup terakumulasi di kelompok konspirasi penguasa-pengusaha lokal-import.

Bagian terbesar rakyat hanya dapat porsi minimal. Ketidakadilan ini progresif, tekanan hidup kian menghimpit, yang tak tahan lari untuk hidup nista jadi babu – jongos di negeri orang. Hukum rimba, bellum omnium contra omnes (perang semua manusia melawan manusia), adalah gambaran disfungsinya law and order (ketertiban hukum).

Disfungsi law and order diikuti oleh merosotnya fungsi negara lainnya. Bila maling itu halal, maka semua akan ikut kompetisi jadi penyamun. Hancur leburnya bangsa ini adalah akibat dari devastating effect (efek penghancuran) korupsi.

“Kalau makannya udah, kalian aja biar mejanya diberesin. Kakak mau nidurin Ajeng dulu, liat tuh matanya sudah lima wat. Abis nggak ada yang ngajak ngobrol”  “Ayo Ajeng cium oom Wawan dan Tante Ria, terus cuci kaki, kalau udah bilang mama”…………”Oya, kopi…apa…teh?

“Gimana sampai bisa jadi begini, Bang”

Supaya mirip situasi bangsa kita yang kritis ini, untuk ilustrasi Abang pakai UGD Rumah sakit, bayangin ;

Penanganan pasien gawat di UGD, harus komprehensif, efektif dan efisien. Mati-hidupnya pasien ditentukan oleh performa upaya life saving, response time kecepatan dan ketepatan penanganan.

Biarpun konsep tata-laksananya baik, di tangan orang yang salah, pilihan-tindakan akan salah. Akan didasari oleh motif busuk dan kerdil, seperti ; uang, ambisi superioritas pemegang-otoritas di team itu. Tak mengacu pada standard penanganan yang seharusnya. Peforma tak akan cepat-tepat, pokoknya amburadul. Akhirnya pasien yang tak berdaya dan tidak tahu apa-apa yang jadi korban pemuasan dorongan kebusukan itu, musti nanggung semua akibatnya ; mahal, cacat permanen yang tak perlu atau kematian yang tak seharusnya.

Di medan yang sangat teknis dan rumit seperti ini kendali eksternal ; hukum, etika sosial-profesi sulit menjangkau, apalagi bila pelakunya powerfull. Hanya nuranilah yang bisa diandalkan, setidaknya nurani pemegang otoritas disana. Norma di suatu unit organisasi kerja adalah refleksi norma nurani bossnya. Bila boss nya busuk, norma unit kerja itu akan busuk. Begitulah norma mainstream pemegang otoritas di Indonesia sampai saat ini.

Bila analogi itu dipakai di UGD-nya perbankan BPPN dan BUMN, pertanyaannya; apakah semua keputusan disana adalah yang terbaik untuk bangsanya atau terbaik untuk diri pemegang otoritas (meski itu adalah pilihan terburuk buat bangsa) ? Di sinilah rasa kebangsaan bisa dinilai. Lihat, waktu BPPN dilikuidasi kemarin mereka pada minta agar dibebaskan dari kemungkinan tuntutan hukum kelak dikemudian hari, akibat keputusan BPPN saat ini. Pasang kuda-kuda, kay” ninggalin bom waktu aja.

“Kalau dianalogihan sama UGD, situasinya sudah gawat dong ?”

Iya emang, secara objektif keadaan sangat mengerikan. Lihat aja indeks performa negara saat ini, mustinya seluruh sendi kehidupan; ekonomi, ekologi, pendidikan, ketenaga kerjaan, moral dan hukum, sudah harus di-UGD-kan. Keadaan yang sudah harus dirawat secara intensif ini ternyata ditangani hanya secara business as usual (apa adanya seperti biasa).

Susahnya, tingkat kegawatan situasi tak ditentukan oleh fakta-objektif dan kaidah-standard yang benar, tapi ditentukan oleh kehendak kekuasaan atau tekanan opini. Tanpa kehendak kekuasaan dan tekanan opini penanganan akan jalan apa-adanya, hutan misalnya; meski hutan nyaris tak bersisa, pemegang otoritas diinstansi yang berkaitan dengan nasib hutan tetap aja men-transaksi-kan otoritasnya. Begitulah terjadinya perdarahan di sekujur tubuh bangsa ini, laju kehancuran di segala bidang kian cepat. Dana-daya sepenuhhya diprioritaskan untuk upaya kelanggengan dan kenikmatan kekuasaan dengan ongkos tanpa batas. Semua kehancuran yang tampak di permukaan adalah refleksi nurani para penentu nasib bangsa yang kian merosot tiap saat.

Tahun 60-an ; saat Soekarno mulai represif, para pemimpin oposisi ditangkap dan dipenjara. Semua oleh sebab sikap mereka yang luhur : perbedaan pandangan politik. Tak ada yang minta grasi dan bersikap kerdil lainnya, dengan kepala tengadah mereka menghadapinya.

Sejak Soeharto, norma-moral bergeser, merosot sampai semua jadi terbalik. Kalau dulu pejabat malu bila kaya, sekarang pejabat ditempat basah malu kalau tidak kaya, kena sangsi sosial; dibilang bodoh.

Hampir semua elit bangsa saat ini pernah terangkat jadi wacana publik oleh sebab yang kerdil, ada yang sampai jadi urusan hukum; karena korupsi (Mega menyebutnya mencuri), ada yang karena malsu KTP. Terlebih cara mereka menghindari pemeriksaan mengesankan upaya malingerer.

Apa itu malingerer”

Artinya dengan sengaja pura-pura sakit untuk keuntungan pribadi atau menghindari tanggung-jawab. Pakai surat dokter opname, pakai neck-guard segala. Semua gitu, dari Suwondo tukang-pijat Gus Dur yang maling-duit Bulog, sampai Soeharto. Ini selanjutnya jadi standard procedure sah para penegak-hukum untuk melepas para tersangka korupsi dari proses hukum.

Di luar birokrat; politisi, ex. aktivis, pers, pemuka agama dan elit lain, sama aja. Semua turut ambil bagian menghancurkan negeri ini, tersistem dan terstruktur sesuat posisinya. Di dunia usaha lebih lagi, etika kebangsaan tak dikenal. Nyari pengusaha beneran di antara mereka yang sebenarnya penipu-penjarah – tulen, ahli menguangkan kebusukan tak gampang. Negara bukannya menyelesaikan, malah jadi sumber masalah. Hanya penipu yang bisa lancar berurusan dengan DPR dan pemerintah. Kalau kita lurus-lurus saja, jangan harap.

Semua itu bukannya tidak terlihat dan terdengar oleh pemegang otoritas, mata batin mereka buta oleh peluang oportunistis yang terbuka di atas kesakitannya bangsa ini. Tanpa perubahan, habisnya negeri ini hanya soal waktu. Seperti menghitung hari. Kata Solon tentangini ;

………Polis kita takkan bisa dilenyapkan oleh sabda Zeus atau tingkah kaum abadi, tetapi dengan pemujaan terhadap uang, warga negara akan menghancurkan polis kita yang besar ini……………………………………………………………………………………………….

Langit negeri ini kian gelap, semua kian blatant (terang-terangan) oleh kerendahan adab para elit yang baru manggung. Mareka sangat agresif dan kreatif. Tak ada sinar di ujung lorong yang gelap. Inilah yang bikin Abang belakangan ini susah tidur. Abang diam.. …….diam.

Kakak gabung lagi “ Begitu nempel bantal, langsung tidur. Gitu deh kalau abis berenang. Tadi udah kaka larang dia maksa ikut berenang sama Uti tementa. Dia kam masih pilek”………”Eh Bang dua minggu lagi Ajeng masuk, kita lesin berenang aja, di TK nya ka nada”….. Abang diam tak menyahut, menolehpun tidak………………”Kok pada diem sih”. Abang nunduk, telapak tangannya ditangkupkan ke mukanya. Waktu diangkat wajahnya lain, matanya nerawang, uratnya keluar, nafas memburu. Dia berdiri “Abang masuk dulu ya” suaranya lirih serak

 

“Begitu itu deh yang kakak ceritakan ke kamu, kalau udah gini biasanya dia ke kamar Ajeng, kita temenin aja. Coba kamu bikin Abang ngomomng biar kita tau kenapa, kakak susah sekali”. Kita ke kamar Ajeng……..Abang lagi melukin Ajeng yang lagi tidur.

*  Aktifis sosial dan kemanusiaan tinggal di jakarta

 


Tinggalkan Balasan