Kunjungan Ke Rumah Kasih Sayang Di Ponorogo

Menurut berita, empat bulan yang lalu, tepatnya tanggal 11 Juli 2011 Menteri Sosial Republik Indonesia Dr. Salim Segaf Al Jufri telah meresmikan “Rumah kasih Sayang” did esa Krebet Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo. Rumah itulah yang jadi daya tarik bagi tim warta sosial BKKKS Provinsi Jawa Timur untuk mengunjunginya. Setelah berkonsultasi dengan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur dan sekaligus dengan Kepala Desa Krebet diputuskan pada hari Jumat dan Sabtu tanggal 07 dan 08 Oktober 2011 untuk datang berkunjung.

Pada hari jumat pagi jam 05.00 pagi tim yang terdiri dari 4 (empat) orang termasuk sopir berangkat menuju Kabupaten Ponorogo. Perjalanan cukup lancar, jam 10.00 sudah sampai di Kantor Kabupaten Ponorogo. Dikantor itu tim menanyakan alamat Kantor Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Ponorogo. Setelah dicari, ternyata kantor itu sudah pindah ke tempat lain. Tim terus bergerak mencari lokasi, alhamdulilah ditemukan. Ternyata benar-benar baru pindah. “Baru boyongan pak, mohon maaf” celetuk seorang pegawai. Tim ditemui oleh 3 orang pejabat yaitu Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta 2 orang Kasubid dan 1 orang diantaranya Kepala Rehabilitasi Sosial, “mohon maaf pak, saya orang baru di Dinas ini, jadi belum tahu apa-apa, saya pindahan dari kantor lain”, ujar Kepala Dinasnya.

Kemudian mereka menceritakan bahwa di Kabupaten Ponorogo ada “Kampung Idiot” di Desa Krebet. Hal ini disebabkan karena kekurangan garam yodium dan kekurangan gizi, disini juga ada “Kampung Gila” di desa Paringan Kecamatan Genangan, disitu ada Puskesmas Pembantu untuk melayaninya. Waktu ternyata sudah jam 11.20, tim pamitan untuk sholat jumat di Masjid Agung Kabupaten Ponorogo. Setelah berwudhu tim berpencar mencari tempat sendiri-sendiri setelah sholat tahiyatul masjid, kemudian tiba tiba terdengar suara dur…dur…!!! Keras sekali, cukup memekakan telinga, ternyata itu suara bedug yang diletakkan di ruangan masjid sebelah kiri belakang. Khutbahnya bertema seruan Majelis Ulama Indonesia tentang bahaya terorisme.

Selesai sholat jumat langsung mencari Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ponorogo di Jl. Brigadir Suprapto, setelah sampai ternyata gedungnya sedang dibangun kembali menjadi 2 lantai. Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ponorogo sementara pindah ke Jl. Cempaka No. 14, kemudian dicari dan ketemu Kantor Biro Perjalanan Haji. Mana kantor statistiknya? Ternyata ada di lantai 2, Kepala Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ponorogo masih diluar kantor dan Tim ditemui oleh Kepala Tata Usahanya, seorang putri setengah baya, yang serius menghadapi tim. Sesuai keperluan tim, dia menyodorkan buku statistic tahun 2011 untuk mencari data yang diperlukan. Dibuka pada halaman daftar isi, dia langsung tanya, “Bapak bawa flashdisk?”, bawa, jawab anggota tim”. Langsung dia ambil diproses oleh stafnya dan tim membawa flashdisknya.

Keluar dari Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ponorogo tim berangkat mencari makan siang dan ketemu “angkringan sate ayam Ponorogo”, salah satu angkringan bernama pak Gareng, seingat dulu, di sini Pak Bagong mungkin generasi barunya, rasanya masih sama dengan yang dulu, tetat originale. Selesai makan, mobil meluncur langsung menuju Desa Krebet Kecamatan Jambon, kondisi jalan rata-rata cukup baik, hingga perjalanan lancar, mungkin karena kemarau panjang, hutan-hutan di kanan kiri jalan tampak kering kerontang, hampir tiada daun hijau, rata-rata kuning kecoklat coklatan, terasa gersang sekali. Setelah sampai dan lewati perkampungan penduduk, tampak perumahan penduduk rata-rata lebih baik dari masa yang lalu, rumah gedek dipinggir jalan hampir tiada tampak, yang tampak mencolok ditengah tengah rumah-rumah papan, berdiri rumah-rumah mewah yang megah dengan warna cat yang ngejreng, terkesan rumah-rumah itu agak “angkuh” dibanding dengan tipe bangunan perumahan pedesaan Jawa yang rata-rata disitu “doro gepak” sangat sedikit sekali yang tipe joglo. Di dalam mobil tim menebak bahwa rumah-rumah mewah itu milik para tenaga kerja yang bekerja diluar negeri.

Sekitar pukul 15.30 tim sampai dirumah Kepala Desa Krebet, yang bentuknya hampir serupa dengan rumah mewah megah lainnya. Oleh Kepala Desa tim dibawa ke rumah sebelahnya yang juga tak kalah megahnya, yang diperuntukkan menginap tim warta sosial, sambil beres beres Kepala Desa menanyakan acara tim di desanya. Tidak panjang lebar, mungkin dia tipe orang hemat bicara, langsung kesasaran, ia menjelaskan Bapak Menteri Sosial membangun rumah diatas tanah desa, kemudian tim dari Temanggung melatih 20 orang Kader Desa Krebet. Bapak Menteri memberi makan untuk 104 orang pasien (mungkin yang dimaksud adalah client) penderita di Desa Krebet.

Kepala Desa menutup pembicaraannya dengan “disini tidak ada yang masak, makan nati malam kita ke warung”. Setelah sholat magrib tim berangkat , rupanya pak Kepala Desa berhalangan dan tim mencari pedagang makan disekitar perempatan jalan di Desa Krebet, karena masih kangen sama sate ayam Ponorogo, ya cari sate ayam lagi, setelah duduk, ternyata tulisannya Sate Ayam dan Kambing Madura, ngak apa apa sama sama satenya. Anggota tim menanyakan asal tukang sate, ternyata dari Bangkalan, sudah 11 tahun jualan sate disini, sate Madura didaerah sate ayam Ponorogo, ternyata kompetitif juga, jualannya disitu habis juga, pantas sudah bertahan 11 tahun.

Besok hari Sabtu tanggal 08 Oktober 2011 pagi jam 08.00 tim sambil sekalian pamitan meluncur mencari warung makan pagi, ternyata tidak menemukan, terus saja meluncur sambil tanya sana sini menuju Rumah Kasih Sayang, ternyata rumah itu ada dipinggir jalan desa, berlantai, tembok dan keramik serta berangka kayu tanpa dinding beratap genting dengan ukuran + 100 m2 , dibelakang ada dapur dan 1 kamar ukuran masing-masing + 6 m2 dan dibelakangnya ada 2 toilet. Dari lahan seberang jalan melewati ruang Rumah Kasih Sayang menjulur selang plastic hijau, tampaknya aliran air untuk mengisi ember-ember persediaan air didapur dan bak-bak di toilet.

Salah seorang dari kader menggelar tikar dan seorang lagi membawa 4 gelas kopi dan biscuit, Alhamdulillah, dapat sarapan pagi, sambil masak 6 kader yang memasak didapur itu ditanya anggota tim tentang berbagai hal, malah salah satu tim sambil membantu “deplok” cabai untuk bumbu. Tim juga Tanya sana sini kepada tetangga Rumah Kasih Sayang. Dari dokumentasi Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, tim mencatat di 4 Kecamatan terdapat 670 orang penyandang cacat dan sakit jiwa yang tersebar di Kecamatan Jambon 322 orang, 89 orang di desa Krebet dan di Desa Sidoharjo 283 orang, di Kecamatan Badegan di desa Dayakan 117 orang, di Kecamatan Balong di desa Pandak 54 orang, di desa Karang Patihan 43 orang, di Kecamatan Jenengan, masing-masing di desa Paringan 60 orang, didesa Tanjungsari 40 orang, didesa kemiri 30 orang dan didesa Merica 19 orang, sedang di dokumentasi Rumah Kasih Sayang Desa Krebet terdapat 104 orang client yang terdiri dari tuna grahita 35 orang (laki-laki 19 orang dan perempuan 16 orang), tuna daksa 23 orang (laki-laki 10 orang dan perempuan 13 orang), tuna rungu wicara 24 orang (laki-laki 10 orang dan perempuan 14 orang), tuna netra 9 orang (laki-laki 4 orang dan perempuan 5 orang), dan tuna laras (psikotik) laki-laki dan perempuan 13 orang. Adapun susunan umunya terdiri dari balita (0 – 5 tahun = 3 orang), anak-anak (6 – 12 tahun = 5 orang), remaja (13 – 19 tahun = 5 orang), dewasa (20 – 59 tahun = 77 orang) dan lansia (60 tahun keatas = 14 orang).

Hingga saat tim berkunjung ke Rumah Kasih Sayang dan kesebagian rumah penyandang cacat dan psikotik, pelayanan yang diberikan oleh Rumah Kasih Sayang baru sebatas mengirim nasi bungkus untuk tiga kali makan, yang dikirimkan 2 kali yaitu pada pagi hari sekitar jam 08.00 – 09.00 dan sore hari sekitar jam 15.00 – 16.00 untuk makan siang dan makan malam. Tampak kesibukan 6 orang kader Rumah Kasih Sayang yang dalam pekerjaan-pekerjaan adalah belanja, memasak, membungkus makanan dan mengantarkannya sampai dirumah rumah 104 orang client. Ada pembagian diantara kader untuk mengantarkan makanan ke client-client tertentu, sentuhan para kader kepada client relative sangat minim, kecuali komunikasi selintas dengan para cient, tampak komunikasi kader dengan client cukup baik tak terkecuali dengan client Psikotik.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Rumah Kasih Sayang masih sangat jauh dari maksimal, selain kader yang bekerja hanya 6 orang dari 20 kader yang sudah dilatih, juga tidak ada pelayanan lain dalam bidang rehabilitasi sosial dan rehabilitasi mental serta psikotik terhadap client. Mudah mudahan tidak dalam waktu lama lagi, akan dilaksanakan pelayanan prima bagi client-client ini seperti apa yang diharapkan oleh Kepala Desa Krebet, semoga. (MS)             

Beri rating artikel ini!

Tinggalkan Balasan