Ibu Oetami Soeroso – (Pejuang Kemerdekaan)

Pada saat pecah perang kemerdekaan, ia bergabung menjadi Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), ia menjadi Palang Merah pada kesatuan itu. Dalam masa peperangan itu ia bertemu Kapten Sarbini Muchtar dan Letnan Wahono, pimpinan Batalyon Sikatan, kemudian ia bergabung pada kesatuan itu.

BU OETAMI SOEROSO
PEJUANG KEMERDEKAAN

Sewaktu dikunjungi dirumahnya di kawasan Nginden Intan Timur Surabaya, Bu Oetami membuka pintu pagar dan mempersilahkan masuk sambil menawarkan duduk diserambi atau didalam, pilihan duduk di dalam. Begitu duduk, wanita yang sudah berusia 86 tahun ini langsung akrab dan mulai ngobrol. Hobby saya jalan-jalan dan kerja kebun. Jalan-jalan kemana Bu? Ke mal, ke pasar, ya?kemana saja. Ke luar negeri ? Ya, jawabnya. Rupanya taman dihalaman rumahnya dikerjakan sendiri. Pantas sehat, lansia ini. Wajahnya yang masih tampak cantik, tubuhnya tegak tinggi semampai, pantas pada masa gadisnya disebut Putri Kediri. Bicaranya jelas, sikapnya tegas.

Bu Oetami dilahirkan di Pulungan Sidoarjo tanggal 08 Juni 1924. Ia anak ketiga dari 10 orang bersaudara, semasa kecilnya di bawa pindah-pindah kota oleh orang tuanya yang bekerja sebagai guru. Rumah tinggal di Mojokerto waktu orang tuanya sebagai guru HIS Mojokerto besama Sukarni ayahnya Bung Karno. Kemudian ke Jombang sewaktu ayahnya menjadi guru Normal School (NS) di Jombang, kemudian ke Kediri karena ayahnya menjabat School Inspectur di Kabupaten Kediri, sebuah jabatan tinggi bagi kaum bumiputera pada masa penjajahan Belanda.

Sebagai anak priyayi ia memasuki Sekolah MULO setelah menuntaskan pendidikan dasarnya di HIS. Setelah 1 tahun di MULO ia keluar kemudian masuk ke Sekolah Van Deventer, sekolah menengah bagi para gadis yang diharapkan jadi istri para pegawai menengah Pemerintah pada masa itu. Selesai dari sekolah itu ia sempat jadi guru Sekolah Keputrian di Kediri.

Sebagai seorang yang hidup dalam keluarga terpelajar, keluarga Mener Mukmin School Inspecture Kediri, ia suka sekali belajar, mengikuti berbagai kursus seperti kursus masak, kursus kecantikan, kursus menjahit dan lain-lain. Pada tahun 1942 ia mengikuti kursus Bahasa Jepang, ?Kalau kursus harus sampai dapat diploma (ijasah)?, tambahnya menegaskan.

Pada saat pecah perang kemerdekaan, ia bergabung menjadi Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), ia menjadi Palang Merah pada kesatuan itu. Dalam masa peperangan itu ia bertemu Kapten Sabirin Muchtar dan Letnan Wahono, pimpinan Batalyon Sikatan, kemudian ia bergabung pada kesatuan itu. Pada masa peperangan itu ia sempat pacaran dengan laki-laki idamanya yang juga anggota TRIP. Malang tiada disangka, kekasihnya gugur dalam pertempuran tahun 1945 melawan pasukan Belanda di Mojokerto. Sepeninggal kekasihnya, Subagio, bangkit tekad Oetami ingin meneruskan jejak almarhum berjuang membela tanah air di dalam kesatuannya Jon Sikatan, naik gunung turun gunung melakukan perang gerilya, pernah dua hari masuk hutan belantara, tanpa makan, karena tiada bahan apapun yang bisa dimakan. Baru beberapa hari kemudian menemukan kebun jagung milik rakyat.

Dari daerah gunung Kelud Jon Sikatan pindah di Kecamatan Besuki Kabupaten Blitar, di jalan ketemu kesatuan ?Bumi Hangus? pabrik gula jengkol pimpinan Pak Soeroso. Lama tidak jumpa dengan orang tuanya, Bu Oetami meminta ijin untuk menengok orang tuanya di Kediri. Karena Bu Oetami mendesak terus, akhirnya Pak Sarbini mengizinkan Bu Oetami menengok orang tuanya di dampingi Pak Soeroso. Pak Soeroso pun dengan senang hati mengantarkan Bu Oetami kepada orang tuanya.

Dalam perjalanan itu bertemu dengan 5 orang Tentara Pejuang lainnya meneruskan perjalanan ke Blitar. Diperjalanan dikejar dan ditembaki Tentara Belanda, hingga tertangkap dan ditawan di markas Belanda Perkebunan Jengkol. Waktu diperiksa Tentara Belanda Bu Oetami dapat membuktikan bahwa ia istri Pak Soeroso, oppzinder perkebunan gula di Kediri. Bu Oetami dan Pak Soeroso dibebaskan dari tahanan dan meneruskan perjuangan, hingga mengajukan permohonan mengundurkan diri dari TNI AD tahun 1950 karena alasan kehamilan putrinya yang pertama dengan pensiunan sebagai Sersan Mayor, sedang Pak Soeroso menjalani pensiun sejak tahun 1968, dan dianugerahi putra dan putri 9 orang.

Setelah Pak Soeroso berpulang Bu Oetami hidup bersama putra-putri dan cucu-cucunya menikmati hari tuanya. Sebagai orang yang terpelajar ia menyampaikan pesan untuk pergaulan hidup diantaranya ?Jika Bicara Jangan Melingkar-Lingkar, to the point saja!?, ?Jangan Terlalui Hirau Orang Kiri Kanan, ndablek saja? katanya. Dua hal ini rupanya kritik Bu Oetami terhadap kebiasaan pergaulan komunitas kita. Dua pesan lainnya adalah ?jangan dendam dan harus saling memaafkan?, nampaknya keempat pesan inilah yang menyehatkan jiwa dan badannya sehat.

Ada pesan lainnya yang bersumber pada kebudayaan jawa dikala memilih jodoh, yang harus memperhatikan pertama bibit atau keturunan. Dalam masyarakat manapun dapat diartikan biologis-psikologis, sehat jasmani dan rohani, kedua bebet atau perilaku yang dapat diartikan berkelakuan baik, berakhlak mulia dan seterusnya dan ketiga bobot atau kondisi ekonomi yang dapat diartikan punya kemampuan untuk mencari nafkah. Pesan memilih jodoh ini masih dapat dipergunakan oleh generasi penerus dengan tafsir sesuai dengan zamannya. (MS, AS)

Beri rating artikel ini!

Tinggalkan Balasan