IBU GRIETJE SOETOPO – MATA HATI BAGI ANAK-ANAK TUNANETRA

Di Surabaya ada sekolah khusus bagi anak-anak tuna netra yang bernaung dalam Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB). YPAB menaungi sekolah dari tingkat Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama, serta berencana membuka Sekolah Menengah Atas atau Sekolah Menengah Kejuruan.

Barangkali tidak banyak yang tahu siapa tokoh yang berperan sehingga sekolah bagi anak-anak tuna netra tersebut dapat terwujud? Sekolah tersebut didirikan pada tanggal 9 Maret 1959 di Surabaya oleh almarhum Profesor Dr. M. Soetopo beserta isteri yakni Nyonya Grietje Soetopo van Eybergen. Mantan Menteri Kesehatan pada tahun 1950 an ini memulai kegiatan sekolah bagi anak-anak tunanetra dari sebuah garasi di rumah kediaman mereka. Dengan moto “yakin pasti akan berhasil”, YPAB akhirnya berkembang menjadi suatu lembaga pendidikan bagi anak-anak tuna netra yang berhasil meluluskan siswa-siswa berprestasi dalam bidang pendidikan, olahraga, seni, dan lain-lain.

Keberhasilan YPAB dapat tetap eksis hingga berusia 50 tahun tidak terlepas dari dedikasi para pengurus dan para guru dibawah bimbingan Profesor Dr. M. Soetopo dan Ibu Grietje Soetopo. Sepeninggal Profesor Soetopo, kegiatan YPAB dibawah pimpinan Ibu Grietje Soetopo hingga akhirnya beliau mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Saat ini YPAB dipimpin oleh Prof. Dr. Soedarso, mantan Rektor Universitas Airlangga.

Ibu Grietje Soetopo sudah tidak aktif secara langsung mengurusi yayasan dan sekolah. Namun, sebagai penasehat yayasan bimbingan dan keteladanan beliau masih terus dijadikan pedoman bagi pengurus yayasan, para guru dan siswa. Walaupun banyak kendala serta berbagai tantangan, kiprah beliau dalam mewujudkan pemenuhan kebutuhan hak pendidikan bagi anak-anak tunanetra telah menunjukkan keberhasilan. Ibu Grietje Soetopo adalah ibu bagi anak-anak tuna netra yang berhasil menempuh pendidikan di sekolah YPAB. Beliau ibarat mata hati bagi anak-anak tuna netra, karena telah membuka kesempatan masa depan yang lebih baik bagi mereka dengan berkesempatan bersekolah di sekolah YPAB yang tidak memungut biaya.

Tentu banyak yang ingin tahu siapakah ibu Grietje Soetopo yang biasa dipanggil bu Topo? Bagaimana kiprah selama ini dalam mengelola sekolah bagi anak-anak tuna netra maupun setumpuk aktvitas sosial lainnya. Ibu Grietje Soetopo lahir di Rotterdam pada tanggal 18 Oktober tahun 1912. Merupakan sedikit dari warga kota yang sejak dari usia muda hingga sepuh mendedikasikan seluruh pikiran dan tenaganya untuk aktivitas sosial dan kemanusiaan.

Perempuan Belanda yang sudah menjadi warga negara Indonesia ini sering membuat orang salah menduga, baik tentang umur maupun kemampuannya. Walaupun sudah berusia 97 tahun kondisi fisik masih sehat dan bugar, masih kuat ingatannya terutama tentang masalah sosial yang menjadi fokus kepeduliannya. Selain jasmani dan rohani yang hebat dan kuat, beliau juga sangat berpengalaman dalam mengelola kegiatan yang bersifat sosial sebagaimana ditekuni selama ini melalui sekolah YPAB, juga aktivitasnya di Women International Club (WIC). Tidak hanya aktif di organisasi sosial, beliau juga aktif di komunitas tempat tinggalnya, antara lain pernah menjabat sebagai ketua RT selama 10 tahun.

Ibu Grietje Soetopo sangat fasih berbahasa Jawa, bahkan sering menggunakan bahasa Jawa yang halus. Beliau juga pandai memainkan gamelan Jawa atau alat musik Jawa, dan sangat menyukai budaya Jawa. Bagi bu Topo, kegiatan sosial merupakan kegiatan sehari-hari yang ditekuni dengan senang, semangat dan ikhlas. Boleh dikatakan tidak ada hari tanpa aktivitas sosial. Aktivitas sosial yang paling disenangi adalah mengunjungi kawan atau saudara yang sedang sakit dengan membawakan buah tangan kecil entah buah ataupun buku-buku tentang kesehatan. Merupakan sosok seorang ibu yang tidak bisa diam bila menjumpai permasalahan sosial yang ada disekitarnya. Selalu ada saja yang dikerjakan untuk membantu penyelesaian permasalahan sosial. Minimal ikut urun rembug dalam mengatasi permasalahan sosial, khususnya yang berhubungan dengan pendidikan dan kesehatan.

Tak heran bila kemudian Ibu Grietje Soetopo mendapat penghargaan dari lembaga pemerintah dan non-pemerintah atas jasanya dalam bidang sosial, terutama dalam memperjuangkan pemenuhan kebutuhan anak-anak marginal, dalam hal ini adalah anak-anak tuna netra. Sederetan penghargaan diterima, antara lain dari Radio Suara Surabaya dan juga penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Pemerintah Kerajaan Belanda.

Ada satu lagi kegiatan yang dijalankan ibu Topo yang mungkin tidak terbayangkan oleh kita semua. Di tengah-tengah kesibukan beraktivitas sosial dan menjalankan tali silahturahmi dengan keluarga dan sahabat, beliau masih meluangkan waktu menjadi pengurus makam keluarga ?Kuncen? yang berada di kota Mojokerto. Kuncen adalah sebuah makam keluarga milik keluarga besar dari pihak suami, yakni almarhum Profesor Dr. M. Soetopo. Pemakaman keluarga tersebut dikelola dengan baik. Hebatnya, pembukuan keuangan makam keluarga tersebut dibuat sangat rapi dan profesional, dengan mengirimkan laporan keuangan setiap tahun kepada seluruh keluarga yang memberi donasi.

Kalau ditanya apa resep yang membuat beliau pada usia 97 tahun masih sehat dan bugar? Beliau menjawab dengan senyum, bahwa tahu dan tempe goreng sebagai menu utama sehari-hari merupakan resep kesehatan dan kebugarannya. Tidak ada pantangan makanan, hampir semua lauk disukai, namun dengan porsi yang sangat sedikit. Nasi dan lauk pauk yang dimakan adalah porsi yang sangat sedikit, namun teratur sesuai jam makan. Berikut ini adalah urutan pola makan sehari-hari ibu Grietje Soetopo. Menu sarapan pagi adalah selembar roti tawar dengan taburan coklat. Sekitar pukul 13 makan siang dengan porsi kecil, yang ditutup dengan makan buah pepaya atau pisang. Setelah istirahat tidur siang, sore sekitar pukul 16 minum segelas jus jeruk dan secangkir Capucino. Makan malam sekitar pukul 19 dengan menu dan porsi yang kurang lebih sama dengan makan siang. Itulah pola makan dan pola hidup sehat ?ala bu Topo?, yang mungkin bisa dijadikan contoh bagi yang ingin berumur panjang tapi tetap sehat dan bugar.

Selain faktor makanan, faktor kepribadian juga mendukung kebugarannya. Ketika orang pertamakali bertemu dan berkenalan pasti akan terkesan dengan kepribadian beliau yang sangat ramah, penuh kasih sayang dan perhatian, namun tegas dan disiplin. Faktor kepribadian ini juga merupakan kunci kesehatan jasmani dan rohani Ibu Grietje Soetopo. Beliau sering tidak tega bila ada orang yang mengalami kesulitan. Selalu ingin berbuat sesuatu untuk membantu yang lemah. Bahkan tidak segan merogoh uang pensiun yang diterimanya untuk membantu pengobatan atau pendidikan bagi mereka yang tidak mampu dan sangat membutuhkan.

Tetapi jangan salah! Dibalik kelembutannya, beliau juga bisa tegas dan terkesan galak bila melihat orang yang malas atau bila melihat orang yang melakukan kesalahan secara sengaja. Untuk kesalahan semacam itu, tidak segan untuk menegur, menasehati, bahkan memarahi bila dianggap perlu.

Ketika ditanya hobi dan acara televisi yang disukai? Ibu Topo menjawab bahwa hobinya adalah bermain kartu bridge bersama-sama kawan-kawannya yang dilakukan secara rutin setiap minggu sekali. Sayang sekali sejak kepindahan ke kota Jakarta mengikuti satu-satunya putra yang tinggal di sana, hobi bermain kartu bridge secara rutin bersama-sama teman-teman tidak dapat lagi dijalankan. Menurut bu Topo permainan kartu tersebut untuk tujuan mengasah otak supaya tidak pikun. Acara televisi yang paling disukai adalah warta berita dan olahraga. Olahraga yang paling sering ditonton adalah sepak bola, tenis dan bilyard.

Ada pengalaman lucu yang beliau ceritakan tentang sepak bola. Suatu ketika di rumah beliau ada tamu yang menginap, dan pada saat itu sama-sama menonton pertandingan sepakbola Piala Eropa. Sang tamu yang berumur sekitar 60 tahun, mau membaca jadwal kompetisi sepak bola yang dimuat di sebuah koran, tetapi kacamata baca tertinggal di kamar. Ketika sang tamu mau beranjak untuk mengambil kacamata di kamar, dengan sigap dan cepat ibu Topo mengambil koran dari tangan tamu tersebut serta membacakan jadwal kompetisi sepakbola tersebut tanpa menggunakan kacamata. Sang tamu pun tertawa terbahak-bahak, karena yang muda kalah dengan tua.

Kepedulian terhadap permasalahan sosial, ekonomi dan politik juga cukup tinggi. Ketika ada berita di televisi, beliau menyimak bahkan ikut membahas dan menganalisis atas permasalahan yang diangkat dalam berita televisi tersebut. Misalnya, tentang krisis ekonomi global yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia juga menjadi keprihatinan bu Topo. Beliau juga sering mempertanyakan tentang kualitas kepemimpinan masa kini yang dinilainya sangat berbeda dengan kualitas pemimpin masa lalu. Salah satu keprihatinan yang sering diucapkan adalah masalah korupsi di mana rakyat masih miskin, kok bisa-bisanya para pejabat seenaknya menggunakan uang negara untuk kepentingan pribadi.

Dalam kesempatan peringatan Hari Kartini tahun 2009 – di tengah-tengah situasi Indonesia mengalami kemiskinan keteladanan kepemimpinan sosial – rasanya pantas apabila penghargaan Kartini Sosial dan Kartini Pendidikan diberikan kepada Ibu Grietje Soetopo. Beliau memberikan suatu keteladanan tentang kepemimpinan sosial yang sarat dengan dedikasi, disiplin, ketegasan, kejujuran, daya juang yang tinggi, keikhlasan, kelembutan dan kasih sayang. Pengalaman dan kiprahnya selama ini dalam kegiatan sosial, terutama dalam mengurus pendidikan bagi anak-anak tuna netra melalui yayasan YPAB, mengajarkan kepada kita bahwa niat mulia dan budi luhur merupakan kunci keberhasilan dalam memberdayakan dan melindungi anak-anak, khususnya anak-anak tuna netra. Semoga tulisan tentang ibu Grietje Soetopo dapat mengilhami munculnya pejuang kemanusiaan lainnya yang mampu melanjutkan perjuangan dan dedikasi beliau di ranah pendidikan dan aktivitas sosial.

disusun oleh Pinky Saptandari untuk Profil Tokoh Majalah Warta Sosial.

Tag:

Satu Respon

  1. author

    mujiraharjo7 tahun ago

    bu topo adalah guru kami beliau banyak memberi inspirasi dan bimbingan serja peluang kepada keluarga besar YPAB dan seluruh siswa tunanetra di YPAB…
    Jasa bu Topo bagi tunanetra tak… ternilai….
    selamat dan sukses untuk bu Topo
    by muji

    Balas

Tinggalkan Balasan