MENIRU

Meniru merupakan salah satu fitrah yang melekat pada diri manusia. Kesadaran akan adanya sifat dasar ini sangat penting, dan yang lebih penting lagi memahami dan menghayati bahwa sifat-sifat itu disamping berpotensi menuju ke arah positif (takwa) juga berpotensi menuju ke arah negatif (kefasikan) sebagaimana firman Allah dalam surat Asy-Syams (91) ayat 7-10; dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Meniru melekat pada diri manusia, sejak dia masih bayi hingga menjadi kaki-nini. Anehnya, tidak setiap orang menyadari kekuatan yang sangat dahsyat dari sifat ini yang sangat mewarnai pola hidupnya sepanjang hayat. Bahkan para remaja pun, yang sangat didominasi oleh sifat ini, sering tidak menyadari bahwa pola hidup dan perilaku yang mereka tunjukkan selama ini adalah buah dari sifat meniru

Segala kejadian yang dialami atau yang menimpa manusia dalam kehidupan ini kalau direnungkan semuanya tak lepas dari adanya kontribusi sifat meniru, misalnya kerusakan alam, terjadinya bencana antara lain karena orang terbawa oleh sifat meniru yang tak terkendali sehingga terjadi penebangan pohon rame-rame dan seterusnya. Yang paling cerdik memanfaatkan sifat meniru adalah dunia usaha. Lihat saja mass media, koran, radio, dan lebih-lebih televisi, hampir 100 persen isinya adalah mengeksploitasi sifat meniru manusia. Untuk melariskan dagangannya, dipasanglah tokoh-tokoh terkenal, seperti artis, agar dari ujung rambut sampai ujung kaki kita memakai produk perusahaan tersebut.

Walhasil, disadari atau tidak, hidup kita sangat diwarnai oleh sifat meniru, bahkan prosentasenya bisa lebih dari 90 persen. Yang orisinil berpikir itu sangat sedikit. Aspek positif sifat meniru antara lain : meniru adalah asas pendidikan, maka metode yang paling efektif dalam pendidikan adalah keteladanan dan sekaligus faktor utama dalam prinsip kepemimpinan. Tepatlah ungkapan Tokoh Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara; Ing Ngarso sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Selain itu, meniru juga berguna untuk keselamatan manusia. Untuk tujuan yang lebih besar, yaitu keselamatan, bolehlah kita menjadi ?bunglon? terhadap hal-hal yang tidak prinsip. Seperti ketika suasana kampanye tahun 1997, supaya tidak diserang oleh massa kampanye maka ketika melintas atau berpapasan dengan mereka, kita pakai baju dan bendera mereka. Meniru dapat juga meningkatkan Persatuan/ kesatuan/patriotisme, Kebahagiaan dan kerukunan rumah tangga, serta Efisiensi kehidupan. Ini hikmah terbesar dari meniru. Hidup jadi tidak terlalu menghabiskan energi dikarenakan harus berpikir, menimbang-nimbang setiap gerak aktifitas kita.

Aspek negatif sifat meniru antara lain : meniru dapat menghambat kemajuan/konserfatif, menimbulkan sikap plinplan, melemahkan kemauan, dan dapat menyebabkan kesalahan beruntun seperti penulisan ?merubah? semestinya ?mengubah?, yang paling fatal meniru bisa menyebabkan manusia menjadi buta terhadap kebenaran serta bisa menjerumuskan manusia pada amalan yang bukan tuntunan, sebagaimana dinarasikan dalam Al Quran : ?Dan apabila dikatakan kepada mereka: ?Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,? mereka menjawab, ?(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami (QS Al Baqoroh (2) : 170)

Karena itu sifat meniru harus dikendalikan sehingga mengarah menuju qurbah (mendekatkan diri pada Allah) bukan sebaliknya dijadikan lahan oleh setan untuk menyesatkan manusia. Diantara rambu-rambu untuk mengalahkan sifat meniru sehingga tidak terjerumus kedalam aspek negatif yaitu : Pertama, Jangan hanya asal meniru mengikuti kebanyakan orang, sebagaimana diingatkan dalam Alquran : ?Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti perasaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta? QS Al An?am (6): 116, sedangkan persangkaan itu tidak menghasilkan kebenaran : ?Dan Kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.? QS Yunus (10): 36

Kedua, Jangan ikut tanpa pengetahuan. Allah berfirman; Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesunguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. QS Al-Isra (17): 36

Ketiga, Gunakan instrumen untuk mencari kebenaran jika tidak ingin sama dengan binatang dan disiksa. Dalam surat Al- A?raaf (7) ayat 179, Allah berfirman; Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai

Keempat, hendaknya kita yakin tidak sama antara yang buruk dengan yang baik. Sebagaimana yang termaktub dalam al Quran; Katakanlah: ?tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan. QS Al-Maidah (5): 100

Kelima, bagi seorang muslim, fokuskan diri untuk meniru Rasulullah, karena Rasul adalah suri tauladan terbaik, Sesungguhnya telah ada pada (diri) rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah QS. Al-Ahzab (33): 21

Bahkan lebih tegas lagi Allah menandaskan bahwa bukti mencintai Allah adalah dengan mengikuti Rasulnya, sebagaimana tercantum dalam QS Ali Imron (3): 31; katakanlah; ?jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihani dan mengampuni dosa-dosamu.? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Rasulullah memiliki Budi pekerti yang agung; dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung QS Al Qalam (68) : 4

Manusia hendaknya mengasah ketiga instrument yang dimilikinya (pendengaran, penglihatan, dan hatinya), untuk menemukan kebenaran dengan senantiasa memohon petunjukNya. Rasullulah menuntunkan doa : Ya Allah, jadikanlah didalam hatiku cahaya, didalam penglihatanku cahaya dan didalam pendengaranku cahaya , jadikanlah aku hamba yang mendapatkan cahayaMU.

Sesungguhnya tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolonganNYA.

(M. Djumadi Ramelan, S.H.)

Beri rating artikel ini!
MENIRU,5 / 5 ( 1voting )

Tinggalkan Balasan