BK3S || BK3S JATIM || BKKKS || BKKKS JATIM || SOSIAL
Tokoh

TJUK SUKIADI, RELAWAN NASIONALIS YANG RELIGIUS

Saya sangat bersyukur bisa berinteraksi lebih dekat dengan beliau sekitar 10 tahunan terakhir. Tjuk Sukiadi, bukan hanya menjadi kawan, tapi beliau juga bisa menjadi guru dan bapak bagi siapapun yang sempat mengenal dan berinteraksi lebih dekat dengan beliau. Sebagai pribadi yang dituakan, beliau tidak lantas kemudian harus selalu merasa benar, beliau juga menyadari bahwa semakin usia bertambah maka setiap kita akan mengalami keterbatasan. Karena itulah, beliau kemudian bisa menjadi teman diskusi yang menarik, karena selalu ada pilihan diksi yang kritis dan unik.

 

Dalam hal kerelawanan, meski usia sudah tak muda lagi menurut rata-rata ukuran orang Indonesia, Pak Tjuk, begitu saya memanggilnya tak henti memberi keteladanan bagaimana berbagi dan bermanfaat untuk orang lain. Beliau tak pernah merasa lelah bergerak dan berpikir untuk memberi  manfat dan berbagi kebaikan. Sehingga bisa dibilang beliau sebagai teladan kerelawanan, kalau tidak boleh dibilang sebagai salah satu bapak para relawan.  Hari hari beliau banyak diisi dengan aktifitas diskusi bagaimana mencipta kegiatan berbagi dan kemanfaatan dan sekaligus menjalankan hasil-hasil diskusi tersebut dalam aksi aksi nyata. Selama kedekatan saya dengan beliau, saya tak melihat beliau tidak teribat dalam aksi-aksi tersebut. Begitulah Pak Tjuk dihadirkan oleh Tuhan ke bumi untuk bisa menebar manfaat dan memberi teladan kerelawanan.

 

Tjuk Sukiadi, pria yang dilahirkan di kota dingin Malang 76 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 23 Mei 1945, merupakan Doktor Ilmu Ekonomi. Tjuk kecil sejatinya sama dengan anak-anak yang lainnya pada masanya. Menghabiskan waktunya bermain bersama sama teman-teman sepermainan. Setamat Sekolah SMA, Tjuk menapaki studinya di Surabaya. Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga menjadi pilihannya.

Tahun 1975, beliau menamatkan studinya di fakultas ekonomi, dan resmi menyandang sebagai sarjana ekonomi. Masa-masa kuliahnya tidak murni sebagai mahasiswa, tahun 1966 – 1976, Tjuk sembari bekerja sebagai staff karyawan BUMN di lingkungan PNP/PTP Gula, beliau menjalani masa masa studinya. Setamat dari Unair, Tjuk kemudian mengabdikan dirinya sebagai dosen pengajar di Fakultas Ekonomi di mana dia dibesarkan.

 

Tahun 1976 – sekarang tidak melunturkan semangatnya berbagi ilmu kepada sejawatnya dan para mahasiswa. Dalam menapaki karir sebagai dosen pengajar, Tahun 1976 – 1977, Tjuk dipercaya sebagai dekan Fakultas Ekonomi di Universitas Airlangga. 1977 – 1983, karirnya sebagai tenaga pengajar di Universitas Airlangga semakin bersinar, pada masa itu beliau dipercaya untuk menjabat sebagai sekretaris jurusan di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga.

 

Sembari menjalani karirnya sebagai sekretaris jurusan di Fakultas Ekonomi Unair, tahun 1981 – 1983, Tjuk juga dipercaya sebagai pembantu rektor 1 Universitas Narotama Surabaya. Tahun 1983 – 1985 kepercayaan lembaga semakin ditingkatkan. Pada tahun itu, Tjuk dipercaya sebagai Pembantu Dekan III, Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya.

 

Pada kurun waktu antara tahun 1981- 2000, Tjuk menapaki karirnya sebagai pembantu dekan  sambil menjalani studinya di tingkat lanjutan. Tahun 1981 – 1982 , beliau menjalani studinya di University of Glasgow, UK dengan mengambil program tudi Busines & Management, Post Graduate – Non Degree Program. Tahun 2000, di Universitas dimana dia dibesarkan dia lulus sebagai doktor bidang Ilmu Ekonomi.

 

Antara 1988 – 2000, bidang pengabdian di dunia pendidikan terus dilakukan. Selain di Unair pada kurun waktu itu, Tjuk juga menjabat sebagai Ketua I dan Ketua PPM STIE Perbanas Surabaya. Pada tahun 1998 – 2000, pak Tjuk dipercaya sebagai Ketua STIE Perbanas Surabaya. Sejak 2009 – sekarang, beliau masih mengabdikan dirinya menjadi dosen pasca sarjana (Program Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Airlangga Surabaya).

 

Diluar karir pengabdiannya di dunia pendidikan, pak Tjuk juga pernah menjabat komisaris di beberapa perusahaan. Tahun 1994 – sekarang beliau menjabat sebagai komisaris utama di BPR Syariah Bhakti Makmur Indah Sidoarjo. 1977 – 1999, menjabat sebagai komisaris di PT Jatim Global Aksesindo.

 

Tahun 1999 – 2003 beliau menjabat Komisaris PT. Perkebunan Nusantara XII (Persero), 2000 – Agustus 2000, selama 6 Bulan, beliau menjabat Komisaris PT Bank Amin, Surabaya, Kemudian di tahun 2000 – 2001, beliau dipercaya sebagai Komisaris Utama PT Jamsostek, dan tahun 2002 – 2005, beliau dipercaya sebagai Komisaris Independen            PT Semen Gresik, Tbk.

 

Di tengah kesibukan yang dilakukan, pak Tjuk juga banyak melakukan aktivitas – aktivitas lain dalam mengasah pemikiran dan kepekaan sosialnya.  Aktivitas-aktivitas yang dijalani diantaranya adalah menjadi pengelola dan penulis jurnal di berbagai lembaga. Beliau pernah menjadi redaktur khusus ekonomi dan bisnis harian Jawa Pos, kemudian menjadi editor di majalah ekonomi yang diterbitkan oleh Universitas Airlangga. Selain itu beliau juga pernah menjadi editor Majalah Kontak Niaga yang dterbitkan oleh Kadin Daerah Tingkat I Jawa Timur, menjadi konsultan ahli di East Java Business Review, yang diterbitkan oleh Centre for Business & Industrial Studies Universitas Surabaya. Pemimpin Redaksi Jurnal Ekonomi dan Bisnis Ventura, yang diterbitkan oleh STIE Perbanas Surabaya.

 

Dalam hal publikasi ilmiah, pak Tjuk Kasturi Sukiadi telah mempublikasikan beberapa jurnal dan penulisan ilmiah, diantaranya jurnal yang berkaitan dengan ilmu sosial, ekonomi-bisnis dan manajemen yang dipublikasikan di berbagai media massa umum maupun kampus. Tahun 1984, pak Tjuk menterjemahkan buku dengan judul Sistem Perbankan Modern yang merupakan karya F.E Ferry, “The Economic of Banking, penerbit Hanindita Press, Jogjakarta. Tahun 1996 menulis OSMOS, tonggak tonggak pengabdian perjuangan (penyunting bersama Indijati Sukiadi) yang diterbitkan oleh Dharma Padmanaba Press Surabaya.

 

Penelitian dan konsultasi juga banyak dilakukan, utamanya penelitian dibidang makro ekonomi dan micro finance. Tahun 1988, Tjuk menulis Penyusunan Sistim Penggajian di STIE Perbanas Surabaya; 1990, beliau melakukan penelitian dampak sosial ekonomi pembangunan Jembatan Madura; 1992 melakukan penelitian tentang revitalisasi PMA/PMDN di Jawa Timur. Pada 2001 melakukan penelitian berkaitan dengan penyusunan sistem penggajian di Jamsostek.

 

Pada tahun yang sama, pak Tjuk melakukan penelitian dengan judul studi pendanaan pendidikan di era otonomi daerah – sub Jawa Timur bekerjasama dengan LPEM UI dengan pendanaan yanag berasal dari World Bank. Tahun 2003, beliau juga menulis tentang studi pelaksanaan restitusi PPN di Indonesia – sub Surabaya dan sekitarnya, kerjasama FE Unair, BAF dan Ditjen Pajak.

 

Selain aktifitasnya sebagai pengajar dan peneliti, Tjuk juga tercatat sebagai seorang aktifis yang giat melakukan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Adapun aktifitasnya dapat dilihat dari rekam  jejaknya selama ini, diantaranya :

 

Anggota Indonesian Society of Commissioner (ISIcom).

Pendiri dan Dewan Kehormatan Institute Komite Audit Indonesia (IKAI).

Ketua I Yayasan Indonesia Forum (YIF), 2001 – 2003

Dewan Pertimbangan Dewan Nasional Indonesia Untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), 2005 – 2009.

Ketua Majelis Dewan Nasional Indonesia.Untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), 2001 – 2005.

Wakil Ketua I Badan Koordinasi Kegiatan  Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Jawa Timur, 1993  – 1998, 1998 – 2003, 2004 – 2009.

Ketua ISEI Pusat, 2000 – 2003.

Ketua ISEI Cabang Surabaya, 1994 – 1997, 1997 – 2000.

Ketua Umum Yayasan ISEI Surabaya, 1995 – 1998, 2001  – 2004.

Ketua Forum Intelektual Surabaya.

Anggota Ikatan Sarjana Ekomomi Indonesia (ISEI).

Deklarator dan Sekretaris Jendral Forum  Kebersamaan Penanggulangan Bencana Negara (FKPBN).

Deklarator dan Anggota Presidium Gerakan Menutup Lumpur Lapindo (GMLL).

Deklarator dan Anggota Presidium Sekretriat  Bersama Golongan Putih Indonesia.

Pembina Yayasan Badan Kerjasama Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Jawa Timur, 2005 – sekarang.

Ketua Umum Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Jawa Timur, 2009 – 2014.

Ketua Badan Perwakilan Anggota Dewan Nasional Indonesia Untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS).

Relawan Penasehat Ekonomi Dompet Dhuafa.

 

Ditengah kesibukannya yang berjibun, Pak Tjuk tak pernah lelah melayani siapapun untuk datang berdiskusi dan selanjutnya melakukan aksi. Bagi beliau berprinsip sebagaimana Nabi Muhammad bersabda bahwa sebaik baik manusia adalah mereka yang bisa memberi manfaat bagi yang lainnya. Nampaknya prinsip itu yang beliau pegang. Semoga Allah merahmati beliau.

 

Suatu saat di tahun 2015 saya berdiskusi intens dengan beliau, ketika terjadi perobohan masjid Assakinah di komplek Balai Pemuda Surabaya, perobohan itu merupakan program pemerintah kota Surabaya melakukan revitalisasi  atas usulan DPRD Surabaya saat itu. Perobohan masjid yang katanya akan dibangun lebih baik lagi tapi akan menyatu dengan gedung DPRD Surabaya, sebagai bagian dari komunitas yang mempersoalkan, saya menginventarisasi nama-nama tokoh dan lembaga-lembaga keagamaan yang bisa diajak bersama-sama melakukan aksi dan memberi dukungan. Tokoh-tokoh yang bisa diajak berdiskusi dan mendukung tindakan protes yang saya lakukan bersama kawan -kawan komunitas yang lain. Tjuk Sukiadi menjadi salah satu nama yang masuk dalam kategori tokoh dan akademisi bersama para tokoh dan akademisi lain serta lembaga keagamaan seperti NU, Muhammadiyah dan MUI Jatim. Tokoh-tokoh akademisi yang lain juga menjadi kawan diskusi diantaranya Dr. Suparto Wijoyo Unair, Prof. Sutanto Supiyadi, Dr. Sirikit Syah, Taufik Monyong ketua Dewan Kesenian Jawa Timur serta beberapa nama lain para aktivis dan pegiat kesenian di Dewan Kesenian Surabaya dan Bengkel Muda yang tak bisa saya sebutkan satu persatu.

 

Mulailah saya diskusi hampir setiap hari dengan beliau, baik di kantor beliau mengabdi kerelewanan di BKKKS Jatim, atau kadang di Kampus Airlangga di mana beliau sedang menjalankan tugasnya sebagai dosen. Hal yang lebih mengesankan kami, meski kesehatan beliau kadang terganggu, beliau datang ke basecamp “perlawanan“ di komplek Balai Pemuda di reruntuhan puing-puing Masjid Assakinah. Tak hanya datang sebagai kawan yang menyemangati, beliau juga terkadang membawa logistik yang dibutuhkan kawan kawan selama melakukan perlawanan agar Masjid Assakinah Komplek Balai Pemuda dikembalikan lagi seperti sediakala di tempat yang sama tanpa digabungkan dengan gedung DPRD Surabaya.

 

Saya mengenal sosok beliau tak hanya sebagai seorang nasionalis, tapi beliau juga sosok yang sangat religius. Bayangkan, disaat hujan lebat, kebiasaan kami mengawal perlawanan agar Masjid dikembalikan lagi ke tempat semula, kami menunjukkan bahwa Masjid tetap ada dan harus difungsikan, maka setiap hari Jum’at selalu diadakan kegiatan Sholat Jum’at. Tjuk Sukiadi dari kampus di mana beliau mengajar, beliau sempatkan untuk bersholat Jum’at di reruntuhan Masjid Asakinah dengan menumpang taxi, beliau bersholat bersama kami di tengah reruntuhan dalam kedaan basah kuyup diguyur hujan. Setelah sholat apakah beliau langsung  balik?  Tidak, beliau bahkan setelah itu membuka lapak diskusi di bawah reruntuhan puing-puing masjid, membangun perlawanan sebagaimana pengalaman-pengalaman beliau sewaktu masih aktif menjadi mahasiswa dan menjadi bagian gerakan reformasi. Karena kita sama-sama menjadi pelaku aktif gerakan reformasi ’98 maka tak jarang kita saling ledek massa-massa pergerakan aksi ’98. Kami bisa saling tertawa dan mengingatkan, tak ada jarak diantara  kita sebagai sesama aktivis, tapi menghormati beliau sebagai senior harus tetap kami lakukan sebagai kewajiban kesantunan terhadap guru, bapak dan senior dalam pergerakan. Setelah diskusi usai, beliau balik lagi ke Kampus menjalankan tugasnya sebagai dosen yang harus mengajar mahasiswanya. Meski dengan baju yang basah akibat kehujanan, tak ada alasan beliau kepada mahasiswa untuk tidak hadir mengajar. Beliau tetap menjalankan amanah sebagai tanggung jawab yang harus dijalankan. Suatu saat saya bertanya hal itu kepada beliau, beliau menjawab “ini komitmen yang sudah saya ambil ketika memilih profesi sebagai dosen, dan harus saya jalankan selama saya bisa”. Mendapatkan jawaban seperti itu tak terasa airmata saya meleleh, malu terhadap diri saya sendiri.

 

Bagi saya, Pak Tjuk, saya biasa memanggilnya, adalah sosok pemberani karena berpegang pada prinsip yang diyakini. Sosok yang konsisten dan berkomitmen terhadap apa yang sudah menjadi pilihannya dan tentu semuanya berdasarkan data dan argumen yang bisa dipertanggung jawabkan. Beliau juga sosok yang humoris dan egaliter dalam bergaul dengan siapapun. Semoga Allah merahmati beliau di dalam peluk kasih sayang Nya…Aamiin.

 

Sayang, ketika kami semua di BKKKS Jatim sedang berjuang melawan pandemi ini dengan membangun kerelawanan sosial, Pak Tjuk dipanggil oleh Allah. Semoga beliau selalu dalam pelukan kasih sayang Allah, sebagaimana kawan kami relawan BK3S Jatim sebelumnya alamarhum Mas Gandhi. Semoga beliau semua mendapatkan tempat yang damai di sisi Allah, Alfateha !

M. Isa Ansori
Relawan BKKKS Jawa Timur, Anggota Dewan Pendidikan Jatim dan Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim serta Pengajar Perguruan Tinggi.

 

Related posts

Prof. Soetandyo Wignjosoebroto,MPA

admin01

Perempuan Harus Jadi Dirimu Sendiri

admin01

Usia tua tidak harus mati gaya, justru menginspirasi kaum milenia

admin01