MENGENANG BASOFI SUDIRMAN, SANG JENDERAL YANG RAMAH

Ketika awal Agustus 2107 tersebar kabar wafatnya Mayor Jenderal TNI (Purn.) Mochamad Basofi Sudirman, beragam reaksi spontan yang ditunjukkan oleh beragam kalangan mengkonfirmasi luasnya pergaulan almarhum serta mendalamnya kenangan kerabat dan handai taulan tentang beliau.

 

Pakdhe Karwo yang sedang melakukan kunjungan dinas ke Rusia memerintahkan seluruh jajarannya mengibarkan bendera merah putih setengah tiang sebagai bentuk penghormatan atas jasa almarhum membangun Jawa Timur. Dalam sambutannya mewakili gubernur, Wagub Syaifullah Yusuf menitikkan air mata teringat gagasan beliau: Gerakan Kembali Ke Desa dan program One Village One Product. Menurut Gus Ipul, gagasan yang mendorong sinergi dan kemajuan perekonomian masyarakat desa itu tetap relevan sampai sekarang. Mendagri Tjahjo Kumolo, mengenang bapak tiga putera ini sebagai individu yang lengkap, karena berprestasi di tiga bidang sekaligus: militer, politik dan entertainment. Pekerja seni Sys NS punya kesan lain, menurutnya, Pak Bas adalah sosok yang berjiwa sosial tinggi, aktivitas sosialnya luar biasa banyak, “Tidak semua laki-laki bisa seperti Pak Basofi, mudah bergaul dengan siapa pun, mulai dari generasi muda sampai kaum ulama.”

 

Basofi Sudirman, putra Soedirman dan Masrikah binti Syakur, lahir di Bojonegoro, 20 Desember 1940, dikenal humoris, sabar, tidak pernah marah, dan sangat perhatian terhadap keluarga, terutama kepada tiga anak dan lima cucunya. “Ia tidak pernah mengeluh,” kata seorang kerabat, “Selama menjalani perawatan di rumah sakit sebelum berpulang, Pak Basofi tidak pernah mengeluh sakit. Setiap ditanya, selalu bilang baik-baik saja.” Bagi Charis, putra tertua Basofi, ayahandanya adalah orang yang sederhana, tidak mau merepotkan siapapun dan sangat bertanggung jawab. Pesan terakhirnya mencerminkan karakter itu, “Jaga Ibu.”

 

Jika dirangkum perjalanan hidupnya, Basofi Sudirman memang tokoh yang unik. Memulai pengabdiannya di lembaga militer, sesuai cita-citanya menjadi tentara, Basofi pernah menjadi Komandan Batalyon 412 Brawijaya hingga mengabdi di Seskoad dan Seskogab, terakhir menjabat sebagai sebagai Kasdam I/Bukit Barisan 1986-1987. Lepas dari militer, ia terjun ke dunia politik, menjadi kader Partai Golkar. Karir politiknya melesat dengan diangkat sebagai Wakil Gubernur Jakarta tahun 1987-1992 dan Gubernur Jawa Timur tahun 1993 – 1998. Dalam kurun waktu tersebut, tahun 1992 beliau sempat meluncurkan single dangdut yang kemudian sangat populer: Tidak Semua Laki-laki.

 

Semasa menjabat sebagai gubernur, totalitasnya di bidang sosial salahsatunya diwujudkan dalam program Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GN-OTA) bekerjasama dengan BKKKS. Hingga hari-hari terakhir, kepeduliannya terhadap pendidikan masih belum luntur, Basofi menulis buku, menjadi pembina sebuah perguruan tinggi, bahkan kepada sejawatnya di Stikosa, Dhimam Abror, beliau berpesan,”Ojok lali sekolah (Jangan lupakan sekolah-pen).” Sementara koleganya di Golkar, Idrus Marham, menganggap Basofi sebagai guru politik yang mengajarkan orientasi fungsional, “Pesan beliau yang saya ingat dan sekarang saya terapkan adalah, bagaimana kita bisa berperan, jangan hanya berambisi menginginkan posisi tertentu padahal tidak punya kemampuan.”

 

Seringkali memang, kebaikan-kebaikan seseorang baru terasa justru ketika ia tak lagi hadir di tengah kita, dan seringkali yang tak terlupakan itu justru kebaikan-kebaikan ‘kecil’ yang kita sangka adalah hal yang ‘biasa-biasa saja’. Seperti satu hal luput dari perhatian awam ini, bagi warga di lingkungan tempat tinggalnya, Pak Basofi adalah tetangga yang luar biasa. “Pak Basofi selalu menyapa kami setiap pagi, saat beliau jogging keliling kompleks. Setiap 17-an ikut ke lapangan, ikut perlombaan, ikut senang-senang dengan warga, bahkan, setiap malam tirakatan selalu menyempatkan diri menceritakan sejarah perjuangan bangsa Indonesia ke para tetangga,” demikian Agus Maimun, tetangga Basofi Sudirman di komplek perumahan Bukit Villa Mas, Dukuh Pakis, Surabaya, mengisahkan keseharian almarhum.

 

Barangkali bukan satu-dua orang yang akan selalu ingat, sosok murah senyum yang selalu ramah kepada siapapun, yang membawa keceriaan di manapun ia berada. Banyak orang yang tersentuh hatinya oleh Basofi Sudirman. Lewat kesederhanaannya, lewat candanya, lewat caranya memperlakukan orang lain tanpa membedakan siapa, lewat ketulusan dan kesungguhannya menjalani peran dan amanah yang diberikan kepadanya. Barangkali pula, cara terbaik untuk mengenang seseorang adalah bukan dengan berusaha untuk tidak melupakannya, tapi dengan berusaha untuk meneladani kebaikannya.

 

Catatan Peran Bapak Basofi Sudirman  dan Ibu Mariani  Basofi Sudirman untuk BKKKS Provinsi Jawa Timur

 

Sebagai bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan anak BKKKS Provinsi Jawa Timur dan Yayasan BK3S Jawa Timur juga mendukung penyelenggaraan Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) dari tahun 1997-2007. GN OTA Provinsi Jawa Timur diketuai oleh Ibu Basofi Soedirman yang saat itu merangkap Ketua Umum BKKKS Provinsi Jawa Timur. Namun ketika Ketua Umum BKKKS Prop Jatim diganti oleh Ibu Imam Utomo, Ketua GN OTA tetap dijabat oleh Ibu Basofi Soedirman. Kegiatan GNOTA adalah memberikan bantuan seragam sekolah dan alat-alat tulis kepada siswa SD dan SMP di Jawa Timur. Kegiatan GN OTA berhenti ketika anggaran pendidikan nasional dinaikkan menjadi 20 % dari APBN.

 

Ibu Soelarso selaku Ketua BKKKS Provinsi Jawa Timur mendapatkan  ijin dari Gubernur Jawa Timur dengan surat tertanggal 5 September 1990, Nomor : 00/29650/043/1990, perihal persetujuan penggunaan dana untuk pembangunan Gedung BKKKS Provinsi Jawa Timur. Dana untuk pembangunan gedung yang dimaksud adalah dana yang berasal dari Bantuan Menteri Sosial RI yang bersumber dari Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial (Non APBN) yang bukan merupakan lembaga pemerintah, dengan nilai sebesar Rp1 Milyar. Gedung ini terletak diatas tanah milik Yayasan BK3S Jawa Timur di Jalan Raya Tenggilis Blok GG 10 Surabaya. Selanjutnya pembangunan Sasana Bhakti Tribuwana Tungga Dewi yang ide awalnya datang dari kepengurusan Ibu Retno Soelarso itu dapat diselesaikan dengan baik pada akhir tahun 1993, ketika itu kepengurusan BKKKS Provinsi Jawa Timur sudah oleh Ibu Mariani Basofi Sudirman .

 

Abilympics Nasional I merupakan gelar keterampilan dan kemampuan para disabilitas se Indonesia. Dari 28 provinsi di Indonesia ada tiga provinsi yang tidak mengirimkan kontingen, yaitu Bali, Maluku dan Irian Jaya.  Abilympics Nasional I dilaksanakan pada tanggal 29 Juni – 2 Juli 1995 di Surabaya

 

Krisis ekonomi yang berkepanjangan pada tahun 1990-an sangat terasakan dampaknya bagi penduduk miskin. Pada tahun 1995 dan 1996 BKKKS Provinsi Jawa Timur dan Yayasan BK3S Jawa Timur telah memberikan bantuan beras (10 kg/paket), 2 kg gula pasir, dan 10 bungkus mie kepada penduduk miskin di Jawa Timur. Tiap-tiap Kabupaten/Kota di Jawa Timur mendapakan 500 paket yang berisi bahan pangan di atas.

 

Hari Anak Nasional jatuh pada tanggal 23 Juli. Secara nasional HAN  diperingati di Jakarta dengan Mengumpulkan anak dari seluruh penjuru tanah air dalam acara “Gelar Anak  Nusantara” (GELANTARA). Lebih kurang selama 10 hari anak-anak diajak ke berbagai tempat wisata dan bersejarah. Dari tahun 1993 sampai dengan 1998 BKKKS Provinsi Jawa Timur dan Yayasan BK3S Jawa Timur ditunjuk oleh Pengurus Gelantara Pusat menjadi koordinator wilayah Indonesia Timur. Lebih kurang setiap tahun Jawa Timur mengikutkan anak-anak SD dan SMP sebanyak 200 anak.

 

Hingga saat ini Ibu Mariani Basofi Sudirman masih menjabat sebagai Pembina Yayasan BK3S Jawa Timur, penempatan para mantan Ketua BKKKS Provinsi Jawa Timur sebagai Pembina selain atas dasar penghargaan terhadap para senior dan jasa-jasanya dalam mengembangkan Yayasan, juga dimaksudkan agar dapat mengembangkan fungsi kontrol, penasehat, dan menjaga kredibelitas Yayasan BK3S Jawa Timur.

 

Oleh :  A. A. I. Prihandari Satvikadewi

Sekretaris Pokja Anak dan Remaja BKKKS Provinsi Jawa Timur

Tag:

Tinggalkan Balasan