Perempuan Harus Jadi Dirimu Sendiri

KhofifahMenjadi perempuan tidak harus kartini atau kartono. Tapi menjadi warga bangsa yang setara dengan laki-laki. Hal itu diungkapkan oleh Khofifah Indar Parawansa, yang saat ini tercatat sebagi Menteri Sosial di kabinet kerja pemerintahan Presiden Joko Widodo – Jusuf Kalla. Jawaban itu didapat dari Khofifah saat ditanya terkait wanita kartini saat ini. “Perempuan sebagai warga bangsa yang setara dengan laki laki, jadi tidak kartini atau kartono. Kalau kita sering kali masih menemukan perempuan itu sebagai second class society, penempatan penempatan yang tidak setara, itu di alami semua level,” kata Khofifah.

Dia mengaku, masih sering mendapatkan perlakuan penempatan yang tidak setara itu. Seperti saat di muktamar NU, Khofifah, kebetulan pakai seragam muslimat. Ibu-ibu Muslimat memintanya untuk duduk depan karena dia sebagai mantan menteri. Akhirnya dia duduk depan. Tapi ternyata diminta pindah oleh Paspampres perempuan sambil mengatakan, “Ibu ini untuk tamu dari Jakara, ibu ini untuk pimpinan komisi DPRRI, ibu ini untuk mantan menteri, jadi sampai 3 kali minta saya pindah karena saya perempuan mungkin dia tidak tah kalau saya juga sedang jadi ketua komisi di DPR, mungkin dia juga tidak tahu bahwa saya mantan menteri, yang ke empat akhirnya paspampres laki laki yang datang, dia bilang bu kami minta maaf, jatahnya ibu ini dua kursi jatah mantan menteri dan jatah ketua komisi, betapa perempuan di tempatkan seperti itu justru oleh perempuan sendiri,” cerita Khofifah.

Pengalaman itu menunjukkan betapa bahwa perempuan juga seringkali menempatkan perempuan dengan cara tidak setara. Jadi tidak boleh menyalahkan sepenuhnya laki laki yg menempatkan perempuan secara tidak setara karena perempuanpun sering kali begitu, dia tidak cukup confident dengan sesama perempuan, jadi saling menguatkan perempuan satu dengan yang lain itu menjadi penting , sehingg bisa saling menguatkan.

“Yang buta huruf ayo sekolah, yuk kita melakukan pemberantasan buta huruf, yang mungkin gizinya kurang baik ,, ayuuk bersama sama kita lakukan layanan kesehatan, yang income perkapitanya gak bagus yuk mkita lakukan pemberdayaan ekonomi,” lanjut Khofifah.

Jadi how to self the problem, saling mencoba mencari solusi dari perjalanan masing masing perempuan, mungkin ada yang tersubordinasi karena dia miskin terjerat renternir, dia masuk lokalisasi terjerat persoalan persoalan ekonomi, karena dia tidak terdidik. “Kita mesti masuk lewat pendidikan perempuan, kesehatan perempuan dan income perkapita perempuan,” tegas Khofifah, yang mengaku mendapatkan dasar itu dari almarhum Gus Dur. Perempuan, lanjut Khofifah harus be your self and do the best. Jadi dirimu sendirimu, jangan jadi orang lain.

Salah satu yang menjadi dasar adalah Khofifah yang memilih berkecimpung di dunia pendidikan. Perempuan alumni Universitas Airlangga ini mengungkapkan, sekolahan adalah membangun manusianya. Karena membangun manusianya, di pendidikan, pesantren membangun manusianya. “Jadi dari manusia-manusia yang unggul ini, kemungkinan bisa memanajemen lingkungan masing-masing. Mulai dari kecil sampai yang paling besar. Jadi sebetulnya komuinitas ini perlu leader, leadernya di godok oleh lembaga lembaga pendidikan nah kalau nanti dia masuk mpada profesi tertentu, dia akan menjadi profesional yang memiliki kemampuan managerial yg bagus tapi leadership yang bagus,” ungkap Khofifah.

Jadi banyak perusahaan yang diawaki moleh nseorang manager yang bagus tapi belum menjadi pemimpin yang bagus. Alangkah baiknya kalau mempunyai manager yang bagus sekaligus pada diri manager yang bagus itum juga lahir seorang pemimpin yang bagus jadi manager leader. Dia seorang manager yang bagus sekaligus seorang leader yg bagus.

Khofifah menyebutkan, saat ini semakin hari semakin membaik, kualitas out put lembaga pendidikan, gedung2 makin baik , guru-gurunya juga makin berkualitas, sekolah favorit semakin banyak. Antara sekolah yang bagus, kurikulum yang bagus guru yang bagus tidak menjamin karakter yang bagus. “Ada sekolah yang keren kalau ujian nilai nem nya 9,10 guru-gurunya yang well educated. Kampusnya nya juga keren, tapi tadi ada garansi karakter yang bagus. Moralnya bagus akhlaknya bagus. Itu yg g ada,” kata Khofifah.

Ibu dari lima anak ini juga menjelaskan tentang revolusi mental. Sebagai sesuatu yang sangat mendasar, kalau dalam konsep Islam, dia bisa melihat Rosulullah, hadir untuk menyempurnakan budi pekerti yang baik, maka sebetulnya melahirkan Doktor boleh dari perguruan tinggi manapun bikin kampus bagus asal punya duit, bisa melakukan itu, mencari guru yang kualitatif juga bisa,hunting. “Tapi kalau membangun karakter, moral , akhlak kan tidak bisa nilai-nilai, intrinsik dari diri yang menjadi bangunan di dalamnya dirinya itu harus bersama sama di lakukan,” komentarnya.

Khofifah juga mengungkapkan perlunya kesederhanaan. Bahwa kesederhanaan itu akan mereduksi pengeluaran negara sangat signifikan. Penurunan APBN yang nantinya akan kembali pada kebutuhan masyarakat. Hidup sederhana itu tidak sederhana . Kesederhanaan itu menjadi penting, karena pada saat membangun ke apa adaannya maka dangan sendirinya tiba tiba menjadi diri sendiri .

BIOGRAFI

Khofifah Indar Parawansa mulai menyita lampu sorot panggung politik tanah air setelah sosoknya tampil membacakan pidato pernyataan sikap Fraksi Persatuan Pembangunan (F-PP) dalam Sidang Umum MPR 1998 silam. Tentu saja banyaknya sorotan lampu politik tersebut bukan tanpa alasan. Pidato politisi kelahiran 1965 ini menjadi pidato kritis pertama terhadap pelaksanaan Orde Baru dalam ajang formal nasional setingkat Sidang Umum MPR.

Tak pelak, hampir segenap anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat, pada saat itu didominasi Fraksi Karya Pembangunan (Golkar), Fraksi ABRI dan Fraksi Utusan Golongan, dibuat terperanjat dengan pidato yang menohok jantung para penguasa Orde Baru tersebut. Bukan hanya kritik, aktivis organisasi ini juga menyampaikan berbagai kekurangan, dan kecurangan, Pemilu 1997 seraya melengkapi pidato dengan berbagai ide tentang demokrasi.

Keberanian, sekaligus kecerdasan, Pariwansa dalam menghadirkan kritik terhadap pelaksanaan rezim Orde Baru yang tengah berkuasa sekaligus menjadikan sosoknya sebagai politikus yang disegani di tanah air. Pada 1992, ibu empat anak ini terpilih sebagai anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) periode 1992 – 1998. Namun, perubahan peta politik pasca lengsernya rezim Orde Baru membuatnya keluar dari PPP dan hijrah ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Pada periode 1998-2000, politikus yang sempat bercita-cita menjadi pembalap ini kembali duduk di DPR sebagai wakil PKB. Sosok alumni Pascasarjana FISIP UI ini kembali menunjukkan kiprahnya setelah dilantik sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan pada masa pemerintahan Presiden K. H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Pada awal 2013, nama mantan Kepala BKKBN periode 1999 – 2001 ini kembali muncul dalam kancah politik nasional Indonesia saat maju dalam pemilihan Gubernur Jawa Timur periode 2014 – 2019.

BERGABUNG DENGAN PKB

Perubahan peta politik pasca lengsernya orde baru membuat Khofifah keluar dari PPP. Merasa kiprahnya di dunia politik dihantarkan oleh NU, Khofifah hijrah ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang didirikan oleh tokoh-tokoh NU pada awal era reformasi.

Selanjutnya, Pada 1998-2000 ia kembali duduk di DPR sebagai wakil PKB. Sinar karirnya terlihat semakin terang saat ditunjuk sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan di era presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Bagi Khofifah partai adalah kendaraan. Sementara NU adalah rumah bagi dirinya. Karena itu, meski aktif di partai, Khofifah tetap mendedikasikan hidupnya untuk NU, organisasi yang selama ini berperan besar membesarkan namanya.

Meski kini ia tak lagi menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan, Khofifah tetap getol bicara isu perempuan. Kegiatan yang digelutinya pun tetap seabrek. Kegiatan kunjungan ke daerah-daerah sangat padat. Kondisi itu membuatnya kerap tinggal jauh dari suami serta empat orang anaknya.

Untunglah suami, Indar Parawansa memberikan ruang bagi Khofifah untuk berekspresi. Bila sedang tidak bertugas, sang suami yang berprofesi sebagai PNS biasanya ikut mendampingi Khofifah bila ia berkunjung ke luar kota.

Saking sibuknya, ia pernah diprotes oleh anak pertamanya yang waktu itu masih TK.    Saat itu, kegiatan PKB yang baru berdiri sangat banyak, sampai-sampai ia tak bisa pulang hingga 20 hari lamanya. Protes yang dilayangkan anaknya pun tergolong unik, yaitu dengan menulis di tembok dengan tulisan besar-besar.

”Ibu, bubarkan saja partainya. Ibu nggak pernah pulang!” ungkap Khofifah soal protes anaknya itu.

Khofifah paham perasaan anaknya. Dengan lembut, ia mencoba memberikan pengertian pada si sulung. Akhirnya anaknya mengerti. Untuk memberi pengertian pada anak-anaknya, Khofifah punya cara tersendiri. Kadang ia mengajak anaknya melihat aktivitasnya di luar rumah, hingga mereka pun akhirnya paham betul dengan kesibukan ibunya di luar rumah.

Hingga kini, Khofifah masih dipercaya menjadi Ketua Umum Muslimat NU. sudah dua periode ia memimpin organisasi perempuan terbesar di Indonesia tersebut. Meski tiap hari disibukkan dengan aktivitas politik, Khofifah tetap pandai mengatur waktu. Sehingga organisasi yang dipimpinya mengalami banyak kemajuan.

Kongres Muslimat NU tahun 2006 di Batam menjadi ujian berat baginya. Ia harus bersaing ketat dengan Lily Wahid, adik kandung Gus Dur untuk menduduki jabatan Ketua Umum Muslimat. Namun karena prestasinya, ia terpilih sebagai Ketua Umum untuk yang kedua kalinya. Saat itu, ia memperoleh lebih dari 70 persen suara Pimpinan Wilayah (PW) dan Pimpinan Cabang (PC).

Sejak masih kuliah, ia mengaku telah tertarik dengan isu-isu perempuan. Karena itu, kesempatan menjadi Ketua Umum Muslimat dimanfaatkannya dengan sebaik-baiknya untuk memperjuangkan nasib perempuan.

Soal kiprahnya di politik, ia memilih berjuang dengan masuk ke dalam sistem, karena banyak sekali kebijakan umum yang diputuskan di DPR. Tidak hanya sekadar legislasi tetapi juga berkaitan dengan budget.

Khofifah memberikan peratian lebih terhadap kasus kematian ibu melahirkan yang masih sangat tinggi di Indonesia. Kematian ibu melahirkan di Indonesia mencapai 307/100 ribu per kelahiran hidup. Jumlah tersebut bisa berkurang, jika ada peningkatan anggaran untuk kesehatan.

“Kalau misalnya ada teman di DPR/DPRD yang memahami persoalan ini dan ingin ada kebijakan secara spesifik untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi, dia punya peluang dan ruang relatif luas daripada mereka yang ada di luar,” ujarnya., Fatimahsang Mannagalli Parawansa Jalaluddin Mannagalli Parawansa Yusuf Mannagalli Parawansa Ali Mannagalli

MASA KECIL KHOFIFAH

Jemurwonosari, Jemurngawinan, dan Wonokromo. Di tiga kampung di Surabaya itulah Khofifah Indar Parawansa menghabiskan masa kecil hingga remajanya. Meskipun kini telah menjadi tokoh, nasional ia masih sangat ingat pada masa lalunya yang penuh suka dan duka. “Saya dulu sekolah di SD di Jemur Ngawinan, kemudian SMP dan SMA di Khodijah Wonokromo, kemduian kuliah di Unair,” cerita Khofifah.

Masa kecilnya sebenrnya tak ada yang istimewa. Sama dengan anak-anak lain. Hanya saja, Khofifah cilik itu ternyata perempuan pemberani. Bahkan, keberaniannya mengalahkan laki-laki seusainya saat itu. Kofifah kecil punya kebiasaan yang sebenarnya hanya bisa dilakukan laki-laki. Setiap pulang sekolah dia bersama teman-teman laki-laki terjun ke sungai di Jemur untuk mencari kerang air tawar. “Waktu itu sungai yang ada di Surabaya masih bagus, sehingga banyak kerang.

Sekarang kerang seperti itu harganya sangat mahal,” kenang Khofifah. Menariknya, kedua orang tuanya, Almarhum H Achmad Ra’i dan Hj Rochmah  tak melarang Khofifah pergi bermain-main di sungai. Namun, kedua orang tuanya tetap memberikan batasan. Saat sore menjelang magrib, ia harus sudah berada di rumah untuk mengaji. Khofifah sejak kecil memang dididik dengan disipilin oleh kedua orang tuanya, terutama dalam bidang ilmu agama. Iklim tempat tinggalnya yang memegang teguh ajaran Islam ala NU memang sangat mendukung untuk menjalankan ibadah.

Bahkan, ketika berada di bangku kelas empat sekolah dasar, Khofifah sudah aktif berkumpul dengan para ibu-ibu Muslimat untuk membaca salawat dan tahlil. Lebih dari itu, meskipun masih saga muda, ia telah dipercaya sebagai bendahara kelompok pengajian. Diakuinya, saat berkumpul dengan ibu-ibu itula, ia mulai tahu cara mengatur keuangan. “Saya diajarin oleh ibu saya untuk mengelola keuangan, bagaimana agar uang itu bisa dibelikan alat-alat pendukung pengajian seperti piring dan tikar,” kenang Khofifah terhadap masa lalunya itu.

Diceritakannya, pada 1970-an ia telah gemar mengikuti berita melalui layar televise. Padahal di lingkungan tempatnya tinggal saat itu masih sangat jarang warga yang punya televisi. Dan, satu-satunya warga yang punya televisi hanyalah dosen IAIN Sunan Ampel. Setiap malam ia ada bosannya menonton Dunia dalam Berita di TVRI pada pukul 21.00 WIB. adalah Tuti Aditama pembaca berita yang menjadi favoritnya saat itu.

Karena terlalu sering melihat berita, Khofifah pun sempat ingin menjadi pembawa acara seperti Tuti Aditama. “Waktu itu yang ada di pikiran saya, Tuti itu hebat, bisa tahu begitu banyak peristiwa-peristiwa di dunia,” kata Khofifah. Lalu tahukah Anda, bahwa pada masa kuliah, Khofifah gemar ugal-ugalan? Kegemaran itu diakui Khofifah. Bahkan ia dikenal oleh tetangannya suka mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Loh kenapa? “Soalnya, saya ingin menjadi pembalap,” kata Khofifah lalu tertawa kecil. Niat Khofifah ingin menjadi pembalap bukan main-main, sehingga suatu ketika ia mendatangi seorang pembalap mobil. Lalu, dia melihat-lihat aktivitas pembalap serta kendaraannya. Namun setelah tahu kehidupan para pembalap, Khofifah justru mengurungkan niatnya. Ia tahu bahwa kalau mobil balapan itu dibuang begitu saja sehabis dipakai. “Kalau saya jadi pembalap, pakai uangnya siapa?” katanya.

Keberanian yang tinggi itu terbawa pada kehudupannya hingga saat ini. Ia dikenal sebagai perempuan tangguh. Sering bicara ceplas ceplos apa adanya. Khofifah tak takut terhadap resiko yang akan dihadapinya atas pernyataan-pernyataan yang dilontarkannya. Namun Khofifah tak asal bicara. Ia sangat menguasai masalah. Maklum, sejak masih duduk di bangku sekolah, ia telah dikenal gemar berdiskusi dan berorganisasi. Kegemaran itulah yang akhirnya membawanya menjadi tokoh seperti sekarang ini. Saat masih duduk di kelas 1 SMA, Khofifah sudah terbiasa mengikuti diskusi dan seminar. Dari forum-forum ilmiyah itulah, Khofifah tumbuh menjadi pribadi yang matang.

Bahkan, dari kegemaran berdiskusi itulah keinginan terjun ke dunia politik mulai tertanam sejak muda. Usai tamat SMA, ia melanjutkan studinya dengan mengambil Jurusan Ilmu Politik di Universitas Airlangga (Unair), perguruan tinggi yang cukup terkenal yang terletak di Surabaya. Duduk di bangku kuliah, jiwa aktivis Khofifah terus tumbuh berkembang. Ia kemudian bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himaprodi) dan ikut UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Pecinta Alam di kampusnya, serta aktif di dunia dakwah kampus. Tak cukup di situ, ia juga banyak berkecimpung di organisasi ekstra kampus. Satu hal yang luar biasa diperoleh Khofifah, yaitu saat terpilih sebagai ketua PMII perempuan pertama di cabang Surabaya.

(Oleh : Pri Handayani)

BIOGRAFI

Tempat Lahir : Surabaya
Tanggal Lahir : Rabu, 19 Mei 1965
Zodiac : Taurus

Riset dan analisis: Teylita – Mochamad Nasrul Chotib
PENDIDIKAN
(1972-1978) SD Taquma
(1978-1981) SMP Khodijah-Surabaya
(1981-1984) SMA Khodijah-Surabaya
(1984-1991) S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Surabaya
(1984-1989) S1 Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah, Surabaya
(1993-1997) S2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Jakarta
KARIR
(1992-1997) Pimpinan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan DPR RI
(1995-1997) Pimpinan Komisi VIII DPR RI
(1997-1998) Anggota Komisi II DPR RI
(1999) Wakil Ketua DPR RI
(1999-2001) Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan
(1999-2001) Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
(2004-2006) Ketua Komisi VII DPR RI
(2004-2006) Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa MPR RI
(2006) Anggota Komisi VII DPR RI

Beri rating artikel ini!

Tinggalkan Balasan