SANG USTADZ, SENIMAN DAN JENDERAL YANG BIROKRAT

Bagi masyarakat Jawa Timur sebutan di atas pasti dengan mudah dapat menebak, siapa yang dimaksud dengan status tersebut. Bahkan beliau sesungguhnya bukan hanya tokoh masyarakat Jawa Tmur, tetapi juga merupakan seorang  figur publik tingkat nasional. Urutan status di atas merupakan persepsi saya terhadap beliau. Tentu ada dasar untuk menentukan status tersebut. Suatu hari pada awal-awal tahun beliau menjabat sebagai Gubernur Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur, periode 1993-1998, saya mendapatkan kesempatan untuk menemani dua orang pejabat dari RCTI yang bertugas untuk mewancarai beliau. Sebelum menghadap Gubernur, kedua orang tersebut mampir di kantor Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Propinsi Jawa Timur. Pada waktu itu penulis adalah Sekretaris II BKKKS. Sedangkan Ketua Umumnya adalah Ibu Mariani Basofi Sudirman. Sampai di sini pembaca tentu sudah lebih jelas siapa orang yang menyandang empat status yang tertulis sebagai judul di atas. Tentu Beliau adalah bapak Basofi Sudirman. Kami memang sudah ada janji untuk bertemu dengan beliau. Setelah berkenalan sebentar Pak Basofi langsung berbicara tentang dinamika sosial politik saat itu dan fenomena-fenomena alam. Ternyata beliau sangat menguasai situasi dan kondisi sosial politik Jawa Timur, Nasional dan Internasional saat itu. Demikian pula dasar pijakan analisisnya. Yaitu hukum Allah SWT tentang peristiwa alam, kekholifahan dan kesejahteraan umat. Beliau menyimpulkan bahwa ketetapan-ketetapan Allah, Bumi dan alam sebagai tempat hidup manusia, serta perilaku manusia dan kholifah sebagai pengatur dinamika kehidupan manusia agar sesuai dengan ketetapan Allah merupakan faktor kunci kesejahteraan manusia.

 

Pada akhir pertemuan Pak Bas (panggilan akrab beliau) bertanya “apakah ada yang ingin ditanyakan”? Petugas dari RCTI tersebut mengatakan ”tidak, keterangan Bapak lebih dari cukup katanya”. Dua orang dari RCTI tersebut ternyata lebih banyak mendengarkan dari pada mewancarainya. Belum bertanya tetapi sudah memperoleh jawaban yang diinginkan dari maksud dan tujuannya menemui beliau. Hebat bukan? Memang pertemuan tersebut berlangsung cukup lama serta dalam suasana yang sangat bersahabat. Suasana pertemuan tersebut lebih mirip khotbah dan dongeng yang indah dari seorang guru. Tampak bahwa kekaguman yang terpancarkan pada ekspresi wajah mereka. Jika hanya berdasarkan suasana dan substansi yang disampaikannya, mungkin tak ada orang yang menyangka bahwa beliau adalah seorang Jenderal (Purn). Biasanya seorang personil militer tetap mempunyai ciri-ciri pada sikap dan kondisi fisiknya. Tetapi Pak Bas tidak menampakkan identitas itu. Karena badannya yang termasuk kerempeng, selalu memakai kopiah dan sangat ramah sehingga identitas militernya tertutup oleh identitas santri dan gaya kesenimanannya. Dalam banyak pengarahan yang sifatnya terbatas, dalil-dalil religius pasti disematkan. Inilah sebabnya maka predikat ustadz saya tempatkan paling awal.

 

Pada banyak kesempatan tampil di depan umum, dan beliau diminta untuk menyanyi, beliau sering menyatakan “Profesi saya adalah penyanyi. Gubernur itu hobi”. Model komunikasi seperti ini kemudian sering diduplikasi oleh pejabat lain. Tentu saja ini hanya candaan belaka. Tetapi sebenarnya beliau memang unik sebab keempat status itu telah menyatu dalam kepribadiaannya. Jiwa seninya mencuat ketika lagu “Tidak Semua Laki-laki” banyak dinyanyikan orang. Baik oleh para penyanyi amatir maupun professional. Lagu ini beriramakan dangdut yang di Indonesia merupakan irama musik yang merakyat. Hampir tidak ada pesta rakyat yang tak diiringi musik dangdut. Barangkali kondisi inilah yang menginspirasi beliau untuk menciptakan lagu yang bergenre dangdut. Menciptakan lagu dan kemudian menyanyikannya sendiri merupakan ciri bahwa beliau adalah seorang seniman  yang berkelas. Sebab ada pencipta lagu tetapi tidak dapat menyanyikannya, atau sebaliknya dapat menyanyi tetapi tidak dapat menciptakan lagu.

 

Dalam rangka pembangunan desa dan menyetop laju perpindahan penduduk dari desa ke kota, beliau, Pak Bas mengembangkan sebuah program yang disebut dengan Gerakan Kembali ke Desa (GKD). Program ini sebenarnya sangat bagus. Inti kebijakannya adalah “sebuah desa harus mempunyai sebuah produk unggulan” (Bahasa kerennya One Village one Product). Untuk mendukung gerakan ini di desa dikerahkan juga para penyuluh pertanian dan industri.  Mereka melaksanakan kegiatan-kegiatan ini sebagai bagian dari TUPOKSI. Sebagai tempat untuk pamer hasil pertanian, kerajinan, atau pun industri kecil (Show Room) disediakan kios-kios di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya. Ukuran kios mungkin sekitar 5×5 m atau 25 M2. Jika tidak salah setiap kabupaten/kota mempunyai satu kios. Di kios-kios ini dapat dilakukan transaksi bisnis. Jadi THR waktu itu cukup ramai dikunjungi orang dari berbagai daerah kabupaten/kota.

 

Kebijakan pendukung lainnya yaitu rapat atau bentuk pertemuan-pertemuan lain yang diselenggarakan oleh pemerintah provinsi, kabupaten/kota untuk konsumsinya diharuskan berupa hasil bumi. Antara lain kentang, jagung, kacang, singkong, pisang dll yang direbus atau olahannya dari bahan dasar tersebut. Ketika di Lumajang dilakukan Pelantikan Pengurus Gerakan Nasional Orang Tua Asuh Kabupten Lumajang (disingkat GNOTA) Pak Bas hadir bersama Ibu. Penulis yang pada waktu itu juga merupakan salah satu anggota pengurus GNOTA agak terkejut dengan konsumsi yang disajikan oleh penyelenggara pertemuan. Semua konsumsi yang tersajikan berupa hasil bumi seperti disebut di atas. Ternyata itu merupakan kebijakan pemerintah propinsi.

 

Secara teoritik GKD dengan format seperti digambarkan di atas merupakan bentuk pemberdayaan sosial masyarakat yang terbilang sangat sistemik dan komprehensif. Sayang, program ini tidak dilanjutkan. Namun gema dari satu desa satu produk unggulan telah meng-Indonesia. Banyak terdengar di sana-sini di Indonesia. Ada banyak desa yang punya produk unggulan. Demikian pula tentang konsumsi resmi pada acara-acara pemeritahan yang berupa pangan hasil bumi atau olahannya masih sering kita jumpai.

 

Oleh :  Drs. Sutopo Wahyu Utomo, SH. MM

Penulis adalah Pekerja Sosial/Relawan, Dewan Kehormatan BKKKS Provinsi Jawa Timur

Beri rating artikel ini!
Tag:

Tinggalkan Balasan