BK3S || BK3S JATIM || BKKKS || BKKKS JATIM || SOSIAL
Berita Sorotan

MEREKA YANG KELEWAT CERDAS

Kecerdasan pada tulisan sedikit menyimpang dari arti kamus atau akademis. Pada tulisan ini kecerdasan dimaksudkan sebagai suatu kondisi kapasitas mental, fisik dan rasa seseorang yang terbentuk oleh proses belajar non formal. Artinya secara filosofis, yuridis formal dan kebijakan resmi pemerintah, proses belajar tersebut berada diluar cetak biru maupun pendidikan formal. Tetapi sikap mental, fisik dan rasa itu ternyata memang ada. Jadi tekanan proses belajar informal itu lebih kuat dari tekanan formalnya. Contoh konkrit adalah kejahatan yang tidak ada proses pendidikan formalnya, tetapi bentuk dan teknik kejahatan itu ternyata juga berkembang mengikuti perkembangan zaman. KKN sebagai bentuk kejahatan tak pernah ada dalam kurikulum pendidikan formal. Tetapi KKN ini telah menjadi suatu prestasi besar bagi para pelakunya karena kita telah masuk peringkat 10 besar dunia. Demikian besar dan berlanjut KKN di negara kita sehingga jauh-jauh dulu sudah ada yang menyebut sebagai suatu budaya. Kita sejak kecil diajarkan untuk berbuat yang moralis. baik itu moral agama, sosial budaya, serta norma-norma lainnya. Kerinduan terhadap pelajaran budi pekerti pun muncul. Para pendukungnya beranggapan bahwa pembelajaran budi pekerti kembali, merupakan kunci untuk keluar dari krisis moral. Kenyataannya sikap-sikap normatif dalam kehidupan bangsa ini lenyap tersapu dengan budaya korupsi. Teman-teman di birokrasi malah ada yang mengatakan bahwa tanpa korupsi proses birokrasi itu malah tidak akan berjalan. KKN berkelanjutan dan aman merupakan suatu fenomena perbuatan yang kelewat cerdas. Teknik yang benar-benar sempurna. Fakta KKN itu ada, tetapi tak pernah dapat dibuktikan siapa pelakunya. Kehebatan dalam hal ini benar-benar setara dengan kasus matinya Marsinah,dan Munir. Fakta menunjukkan bahwa mereka meninggal karena dibunuh, tetapi tak ada pembunuhnya. Dalam teori ekonomi klasik ada invisible hand, dalam sepak bola ada tangan tuhan, disini ada The invisible killer.

Bung Karno pendidikan formalnya adalah teknik sipil. Tetapi beliau juga sangat menguasi ilmu politik. Demikian hebatnya penguasaan ilmu politiknya, maka beliau sampai menerima puluhan gelar doktor honoris causa. Soal politik ini dipelajariya di luar pendidikan formal.Kalau saja beliau dulu hanya fokus pada teknik sipil saja maka beliau mungkin tak akan pernah menjadi proklamator dan presiden pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI.

Demikian pula Bung Hata. Bung Hata pendidikan formalnya adalah Ilmu Ekonomi. Namun beliau juga mempelajari ilmu politik baik tori maupun praktis.Maka jadilah beliau orang nomor dua di NKRI. Bersama Bung Karno mereka itulah yang disebut dwi tunggal.

Kedua putra bangsa tersebut dalam tulisan ini tergolong sebagai orang-orang yang kelewat cerdas. Bapak-bapak (termasuk ibu) yang lain juga banyak yang tegolong kelewat cerdas dalam arti positif. Yang kelewat cerdas pada arah yang berlawanan juga banyak.

Pak Harto yang jenderal itu juga termasuk golongan yang kelewat cerdas. Beliau dikagumi banyak orang karena benar-benar ahli strategi, negarawan dan yang terakhir ini ketika beliau sudah turun, masih ada juga perilakunya yang menjadi panutan, yaitu ?The Sickness Looking? yang melengkapi The Smilling General-nya. Dengan kelewat cerdasnya itu beliau dapat menjadi pemimpin bangsa selama lebih dari 30 tahun. Jika dihitung dari praktek-praktek yang masih tetap diikuti para pendukungnya dapat disebut hingga kini pun beliau masih tetap sebagai pemimpin. Guru yang sejati adalah guru yang tetap diikuti ajarannya ketika sudah tidak mengajarkannya lagi.

Kini setelah 61 tahun merdeka tampak bahwa pemerintah masih kedodoran dalam usahanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejak proklamasi kemerdekaan dan sehari sesudahnya yaitu tanggal 18 Agustus 1945, disahkannya UUD 45, hingga kini belum tampak jelas arah dan warna usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemerintah mungkin mengatakan sudah jelas, karena sudah ada undang-undang tentang sistem pendidikan nasional. Tetapi undang-undang ini, lebih-lebih peraturan pelaksanaannya masih sering diperdebatkan. Sehingga sampai hari ini perdebaan pendapat tentang pendidikan di negara kita masih terus muncul. Barangkali para pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini paham betul bahwa bangsa yang akan dibangunnya adalah bangsa yang terdiri atas kumpulan individu yang suka berdebat. Oleh karena itu mereka meletakkan musyawarah untuk mufakat menjadi salah satu dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Tepatnya adalah sila keempat Pancasila ?kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan?. Sekarang tampaknya musyawarah untuk mufakat itu telah kehilangan rohnya, karena kerasukan roh demokrasi liberal yang asasnya adalah suara terbanyak atau hukum rimba, siapa yang kuat itulah yang menang. Maka pertempuran untuk mendapatkan suara terbanyak itu kini semakin seru, hebat, dan Machiavelis. Satu lagi keindahan sosial yang bernama musyawarah itu kini telah pudar. Aneh. Asas demokrasi liberal itu padahal tak pernah diajarkan, tetapi malah menjiwai para elit pengambil keputusan. Dalam hal ini mungkin dapat disebut bahwa kita ini bangsa yang kelewat cerdas, tetapi kelewat bodoh dalam memahami dan mengamalkan Pancasila. Padahal dulu ada penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Pepatah yang cocok untuk hal ini adalah penggalan syair lagunya Inul, Cucak Rowo, yaitu : ?kucoba-coba melempar manggis, manggis kulempar mangga kudapat? kucoba belajar jadi Pancasilais, jadinya kok malah liberalis.

Ruang untuk musyawarah mufakat yang bernama MPR itu kini telah pudar. MPR hanya mempunyai kewenangan yang sangat terbatas. Sebatas hanya melantik presiden dan wakil presiden dan mengubah/membuat UUD. Ini jika diperlukan. MPR kini menjadi majelis penonton (ulah) rakyat. Kita tidak tahu persis landasan filosofi mana yang dipakai oleh para pengamandemen UUD 45. Mungkin inilah jadinya jika kita beranggapan bahwa barang-barang impor itu termasuk teori, filosofi, dan sistem selalu lebih baik daripada produksi dalam negeri. Kini sistem pemerintahan telah berubah karena UUD berubah. Apa kata wapres tentang hal ini? Pemerintah tidak efektif karena konstitusi (Kompas, 18 Oktober 2006). Eksekutif kali ini kalah sama legislatif. Setelah 30 tahun lebih jadi tim Paduan Suara kata Iwan Fals, Lembaga Legislatif kini menjadi raksasa cerdas. Siapa yang kelewat cerdas? MPR sudah kalah. Eksekutif sudah kalah. Kini giliran legislatif yang kuat. Mahkamah Agung sudah abu-abu tua. Masih ada satu lagi lembaga yang ditakutkan kekuatannya, yaitu Mahkamah Konstitusi. Demikian cerdas situasinya saat itu, sehingga pelantikan Ketua Mahkamah Konstitusi oleh dirinya sendiri dan presiden tak berkutik cuma jadi penonton. Siapa yang kelewat cerdas dalam kejadian ini ? Mari kita tunggu jawabannya dari wapres republik mimpi. Bagaimana MPR? Apa tidak ingin mengamandemen UUD 45 lagi? Biar punya kerjaan nyata dan imbang dengan anggaran yang dikeluarkan untuk memilih dan mengusung mereka ke Senayan. Tetapi jangan sampai menghasilkan suatu sistem pemerintahan yang membingungkan lagi.

Jadi antara pendidikan formal dan informal dapat saja terjadi suatu korelasi yang tidak selalu positif. Persoalannya adalah bagaimana mensinerjikan kedua proses dan hasil pendidikan tersebut. Diperlukan suatu rekonstruksi mental dan lingkungan. Suatu hal yang perlu dibentuk adalah ? bangsa yang suka belajar dan menerapkan hasil belajarnya?. Tidak ada lagi kata-kata yang penting praktek atau … ah teori. Ingatlah keunggulan manusia itu terletak pada ilmunya. Hal ini sudah dibuktikan ketika awal penciptaan manusia. Ketika Adam diberi ilmu, sedangkan malaikat dan setan tidak, maka menyerahlah malaikat dan menyembah manusia. Setan yang putus asa kemudian minta kepada Allah untuk memantapkan diri sebagai makhluk yang berstatus sebagai penyesat. Siapakah yang menjadi penyesat NKRI ini ? mereka – mereka yang terlewat cerdas.

Sumber Foto : samanui.wordpress.com

Related posts

BKKKS Prov. Jatim dan Tulip Cipta Kreasi Gelar Olimpiade IPS-IPA-BAHASA

admin01

BKKKS Provinsi Jawa Timur memperjuangkan adanya SIM D bagi insan disabilitas tuna rungu

admin01

KESEHATAN JIWA KURANG DI PERHATIKAN ?

bk3s