PEMIMPIN KHAYALAN, KHAYALAN PEMIMPIN, DAN KHAYALAN RAKYAT

Ketika Indonesia belum merdeka muncul sederetan panjang pemimpin yang berkhayal untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Bahkan pemimpin seperti ini berestafet lintas generasi. Risiko yang mereka hadapi tentu luar biasa besarnya dan tak ada harta atau imbalan materiil sedikit pun yang mereka peroleh.

PEMIMPIN KHAYALAN, KHAYALAN PEMIMPIN, DAN KHAYALAN RAKYAT

Oleh : Sutopo Wahyu Utomo

Siapakah pemimpin itu ?

Dari sudut pandang keimanan, tiap-tiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, dan bagi keluarganya kalau dia sudah berkeluarga. Tugas pokok pemimpin dalam konteks ini adalah menyelamatkan diri dan keluarganya dari siksa api neraka. Dalil ini menggambarkan dengan jelas bahwa kearah manakah posisi sesorangkalau dia berhasil atau gagal menjadi pemimpin. Alangkah indahnya hidup ini, jika banyak orang yang sukses menjadi pemimpin. Sayang perjuangan untuk menegakkan dalil ini sering terlambat. Atau orang sengaja melambatkan diri, karena menunggu kalau masa tua sudah datang.

Dalam kehidupan sosial pemimpin adalah seseorang yang dipercaya dan diberi mandat oleh sekelompok orang sebagai pengelola segenap sumber-sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan bersama. Ada kontrak sosial antara pemimpin dan yang dipimpinnya yang didasarkan pada kebersamaan, saling kenal dan saling percaya baik karena prestasi maupun karakter termasuk didalamnya integritas pribadi sang pemimpin.Pemimpin seperti ini tidak pernah meminta untuk dijadikan sebagai pemimpin. Apalagi minta imbalan dan penghargaan, maka ketika ia memimpin tidak menjadi lebih kaya dari kondisi sebelum menjadi pemimpin. Dia tidak akan menempatkan diri sebagai orang yang paling enak, paling didahulukan dari aspek pembagian rezeki, paling kenyang, dll sebagaimana terjadi pada kepemimpinan feodalisme. Dia sadar betul kalau sampai ada orang yang dipimpinnya kelaparan, sedangkan dia tidur nyenyak karena kenyang, tinggal tunggu saja jatuhnya pengadilan Allah. Jadi seorang pemimpin mempunyai tanggung jawab spiritual yang sangat berat. Tidak heran jika Allah memberikan penghargaan surga bagi pemimpin yang adil.

Unsur paling penting dalam bekerja sama untuk menjapai tujuan bersama adalah adanya penghayatan yang mendalam dan komitmen atas tujuan, sikap dan nilai-nilai serta norma operasional, sehingga tercipta satu kesatuan visi, persepsi, dan aksi yang kemudian menjadi dasar kontrak sosial antara pemimpin dan yang dipimpin dalam rangka mencapai visi tersebut. Inilah figur dari pemimpin yang sebenarnya atau sejati. Pemimpin sejati berangkat dari kondisi informal, pengakuan dan penghargaan informal pula. Keadilan dan kebersihan pribadi serta ridho Allah adalah titiannya. Oleh karena itu takperlu ada fit and proper test, kampanye, debat publik, pengawas,pemasangan foto-foto di tepi-tepi jalan, serta panitia pemilihan. Juga tidak ada coblosan atau contrengan, sehingga juga tidak ada serangan fajar dan tim sukses. Mungkin pemimpin seperti ini hanya ada dalam dongeng atau masyarakat kuno, dan pada ruang lingkup kecil. Wujud riil dengan demensi yang berbeda adalah para rasul dan yang terakhir adalah para sahabat pada jaman Nabi Muhammad SAW yang konsep dan ketauladanan kepemimpinannya berlaku sepanjang massa. Sesudah itu tinggal menjadi dongeng belaka. Sekarang tipologi pemimpin demikian ini dianggap khayal, namun selalu dikhayalkan oleh rakyat disertai harapan akan lahir ke dunia suatu saat nanti. Di Jawa ada khayalan tentang ratu adil, satrio piningit, dan lain-lain yang sebenarnya adalah bentuk khayalan wong cilik tentang gambaran dan datangnya pemimpin ideal.

Ketika Indonesia belum merdeka muncul sederetan panjang pemimpin yang berkhayal untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Bahkan pemimpin seperti ini berestafet lintas generasi. Risiko yang mereka hadapi tentu luar biasa besarnya dan tak ada harta atau imbalan materiil sedikit pun yang mereka peroleh. Bahkan mereka mengorbankan jiwa, raga dan hartanya. Oleh karena itu sebagian dari nama-nama mereka yang tercatat, kemudian dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Menjelang Indonesia merdeka lahir sebuah pernyataan hasil khayalan para pemimpin sejati bangsa ini, sebuah dokumen yang diberi nama ?Piagam Jakarta?. Ketika Indonesia merdeka ternyata piagam ini ditempatkan sebagai pembukaan Undang-undang Dasar 1945 dengan sedikit perubahan.

Cara Memilih Pemimpin

Reformasi menghasilkan amandemen terhadap UUD 45 yang dulu dianggap sakral. Pada waktu itu amandemen ini dianggap prestasi yang paling tinggi dan paling mendasar terhadap kehidupan bernegara dan berbangsa. Tetapi tetap ada kelompok yang kecewa dengan amandemen tersebut. Banyak perubahan yang diwujudkan akibat dari amandemen tersebut. Reformasi, demokrasi, hak asasi, dan anti korupsi menjadi kata-kata yang lebih populer dari pada Pancasila yang salah satunya ada norma musyarawah. Perubahan yang paling signifikan adalah dalam tata cara pemilihan pemimpin bangsa baik pada tingkat nasional mau pun daerah. Dari sistem pemilihan perwakilan menjadi langsung dan suara terbanyak. Padahal dalam ajaran Islam mengikuti kebanyakan orang adalah dilarang. Jika ada kelompok yang berisi banyak orang kemudian ada yang mau mengikuti kelompok itu, alasannyaharus bukan karena banyaknya orang yang sudah bergabung, tetapi karena kelompok itu adalah kelompok yang diridhoi Allah. Jika bukan karena alasan ini maka sistem suara terbanyak itu adalah sistemnya Iblis. Banyak orang yang tidak sadar bahwa dengan sistem suara terbanyak, kita telah memberi izin terjadinya penindasan oleh kelompok mayoritas terhadap minoritas. Penindasan yang disahkan oleh undang-undang. Padahal para pendiri republik ini jauh-jauh sudah meletakan musyawarah sebagai cara untuk menentukan calon pemimpin.

Dalam kehidupan moderen baik karena alasan kuantitatif maupun kualitatif proses untuk mendapatkan pemimpin seperti di atas dalam skala wilayah yang luas tak dapat digunakan lagi secara penuh. Oleh karena itu dikembangkanlah teknik-teknik pemilihan pemimpin yang diformalkan. Foto, kampanye, booklet, leaftlet, spanduk, selebaran, tanggalan, sovenir, dan lain-lainnya menjadi alat perkenalan diri mereka yang ingin mencalonkan diri sebagai pemimpin. Ibarat promosi isinya tentu yang baik-baik saja. Sebagaimana biasanyadalam informasi pemasaran bisnis, tidak pernah lengkap dan ditil; informasi pemasaran politik demikian juga. Jika cara ini masih belum mencukupi atau diyakini untuk dapat mencapai suara terbanyak maka ditambahkan upaya-upaya lain seperti politik uang, penyuapan, mengatur blanko pungutan suara, memanipulasi penghitunggan suara, dan yang terakhir adalah ?serangan fajar?.

Dapatkah Kebaikan Diperoleh dengan Cara yang Berolok-olokan ?

Persaingan atau kompetisi diyakini sebagai cara yang terbaik untuk mencari orang yang terbaik. Asumsinya jika kompetisi itu dijalankan sesuai dengan aturan main. Persaingan di dunia politik beda dengan persaingan di dunia olah raga. Tak ada seorang pun yang berani menantang juara dunia bela diri apa pun jika dia bukan seorang pebeladiri sekalipun dia punya banyak uang dan banyak pengikut. Atau anda jangan coba-coba mengikuti balap motor bersaing dengan the Doctor, Lorenzo, Stoner, Pedrosa dll, jika tidak punya ketrampilan di bidang ini. Di bidang olah raga orang dapat langsung tahu diri bahwa dirinya tak memiliki kualitas yang proporsional. Demikian pula di bidang seni. Tetapi lain halnyadengan persaingan sosial termasuk didalamnya politik. Persaingan di bidang sosial banyak orang yang tahu diri, karena tidak dapat mengukur potensi dirinya. Ada bentuk keputusasaan yang kurang disadari, yaitu berkembangnya ungkapan memilih yang terbaik dari yang terburuk. Inilah khayalan masyarakat terhadap orang-orang yang mencalonkan diri sebagai pemimpin. Orang-orang ?tidak tahu diri? itu menaikkan harga tawarnya dengan cara ?black campaign?. Pola kampanye politik adalah membaik-baikkan diri sendiri dan kelompoknya, di sisi lain menganggap lawan politik kurang baik.Atau secara tersamar ingin menyampaikan bahwa ?sayalah yang terbaik?. Frasa serupa ini pernah digunakan oleh Muhammad Ali si petinju legendaris. Tetapi kemudian disadarinya bahwa yang terbesar adalah Allah SWT. Ada perbedaan lagi yang kini berkembang di Indonesia, yaitu menebarkan kekurangan, kelemahan, dan keburukan lawan politik sehingga rasanya tak ada hari tanpa olok mengolok di media massa. Dengan model interaksi politik seperti ini, sangatlah sulit diharapkan adanya kebersamaan bahwa kita adalah satu nusa, satu bangsa serta satu tujuan bersama. Kita tak mungkin mendapatkan kebaikan dari orang lain dengan cara mengolok-oloknya.

Diatas adalah sistem pemilihan suara. Ada fenomena yang menarikyang muncul sejak reformasi, yaitu banyaknya ?pemimpin? yang terjerat kasus korupsi. Ada calon pemimpin yang kalah dalam pemilihan dengan akibat rusaknya rumah tangga, rusaknya ekonomi keluarga, bahkan ada juga yang sampai harus menjadi pasien psikiater. Pertanyaannya adakah hubungan antara sistem pemilihan pemimpin seperti yang digambarkan di atas dengan nasib para pemimpin yang terpilih yang akhirnya menjadi penghuni hotel prodeo?Jika ada hubungan, makamasih menyisakan sebuah pertanyaan lain yaitu dapatkah rahmat Allah itu turun melalui pemimpin yang lahir dari jalur rahim iblis? Rasanya sulit, karena jalan menuju rahmat Allah tidak sejalur dengan jalur iblis. Artinya cita-cita kemerdekaan bangsa yang tertulis dalam pembukaan UUD 45 itu semakin jauh untuk digapai dengan sistem pemilihan yang dikembangkan sekarang ini. Tidak heran jika ada kelompok-kelompok yang ingin kembali ke UUD 45 yang asli, atausebelum diamandemen. Keinginan ini sah-sah saja dalam negara demokrasi, sebab hal ini merupakan salah satu khayalan rakyat.

Cuci Otak

Sebagai solusi dari perilaku di atas adalah cuci otak. Kalau NII melakukan pencician otak terhadap calon warga negara agar lupa dengan NKRI, cuci otak di sini adalah kembali kepada kepribadian bangsa, kepada nilai-nilai luhur budaya bangsa yang terkristalisasikan dalam Pancasila. Atau jikadisederhanakan lagi, menjadi khalifah di muka bumi yang misinya adalah ?memayu hayuning bawana? (baca : menjaga kelestarian bumi yang indah ini tetap indah) dengan landasan iman dan taqwa kepada allah SWT.

Lagu kebangsaan ?Indonesia Raya? tampaknya juga tidak diinternalisasikan dengan mendalam sehingga isinya tidak menjadi darah daging bangsa. Soal penghayatan lagu kebangsaan ini tampaknya kalah dengan lagu-lagu pop dll. Lihat saja misalnya duetnya Anang dengan Syahrini. Ini juga menjadi bagian dari pencucian otak.

Kita tidak akan jaya jika kita masih-masih mengelu-elukan keunggulan budaya bangsa lain baik dari Timur maupun Barat. Kita meyakini bahwa bangsa Indonesia sesungguhnya adalah bangsa yang dikaruniai kehebatan oleh Allah SWT, tetapi sayang sekali kita menjadi pembunuh sendiri kehebatan itu dengan cara ingin menerapkan budaya bangsa lain tanpa seleksi dan koreksi. Yang satu ini juga jangan ditinggalkan. Cuci otak anda dulu baru calonkan diri menjadi pemimpin. Stop politik sesat, dan korupsi berjamaah, jangan bawa Bangsa Indonesia ini ke neraka berjamaah pula.

Penulis adalah Pekerja Sosial, Sekum BK3S Jatim.

Tag:

Tinggalkan Balasan