TERNYATA KARTINI MEMANG IBU KITA

Tanggal 21 April, hari lahir Ibu Kartini, seorang perempuan berotak berlian dari Jepara Jawa Tengah. Pemikiran-pemikiran cemerlangnya mampu meloncati pagar sosial budaya, geografis serta tembok besar penjara rasa keterkungkungan karena kebodohan dan kemiskinan. Pemikiran-pemikiran berliannya tsb kemudian menjadi salah satu sumber informasi bagi perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dari jepitan dinding-dinding penjara yang tidak tampak oleh mata telanjang itu lahirlah pemikiran-pemikiran yang menembus ruang dan waktu. Oleh karena itu Bangsa Indonesia patut bersyukur ke hadirat Allah SWT karena telah menurunkan seorang perempuan ke bumi pertiwi tercinta yang membawa missi pencerahan bagi kita bangsa Indonesia. Jadi perjuangannya tidak khusus bagi kaum wanita. Terlepas dari kontroversi penulisan sejarah dan sudut pandang para penulisnya, marilah kita samakan nilai sebagai pijakan dulu, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yg dapat menghargai jasa para pahlawannya. Jangan sampai kita berubah menjadi pengikut paradigma yang disampaikan wapres Republik BBM, yaitu “bangsa yg besar adalah bangsa yang dapat menertawakan dirinya sendiri”. Sebuah hiburan yang sesungguhnya menyakitkan. Secara kontemporer mungkin paradigma ini ada benarnya juga. Bagaimana tidak tertawa, puluhan tahun kita diperintah oleh sebuah kekuasaan yang awalnya dibentuk dari fotokopi sebuah surat. Ini baru fotokopinya, belum aslinya. Kalau ada yang mempermasalahkan otentiksitas surat-surat Kartini maka wajar-wajar saja, lantaran aslinya tidak ditemukan. Tetapi jauh lebih baik menghargai daripada menertawakan.

Banyak hal yang dapat dipelajari dari riwayat RA Kartini.

Pertama adalah semangat untuk keluar dari masalah-masalah diskriminasi, kebodohan dan masalah derivatifnya.

Dari kondisi ini Kartini bagaikan seorang begawan yang dengan kesaktian dan kebijakannya mengeluarkan wejangan-wejangan. Kartini adalah figur pemberontakan intelektual, sosial budaya dan karakter bangsa. Pemberontakannya bukan dengan senjata, tetapi dengan mengedapankan pembentukan kecerdasan dan akhlak mulia. Mari kita bayangkan apa yang kurang pada kondisi kita saat ini. Kita kekurangan orang bijak. Andaikan, setidaknya ada satu orang saja yang mampu berpikir dan berperasaan dan kemudian

mengekspresikannya kedalam tindakan seperti RA Kartini di setiap Kabupaten/Kota di Indonesia, tentu kondisi krisis dan peralihan yang kita alami tidak berlarut-larut hingga kini. Apalagi yang kurang dari Bangsa Indonesia saat ini? Para cerdik pandai negeri ini belum mampu menjadi peloporpengembangan modal intelektual dan penerapannya yang dilandasi kepedulian sosial.

Kedua adalah belajar strategi.

Jauh-jauh Kartini telah menunjukkan langkah yang strategis. Yaitu memilih strategi surat menyurat. Karena dengan surat menyurat yang kemudian dipublikasikan oleh teman-teman korespondensinya yang Bangsa Belanda, relatif tidak terkena sensor penjajah. Kartini mengiklankan keinginannya untuk berkoresponden yang kemudian ditangkap antara lain oleh Stella Zeehandelaar, dan Ny. Abendanon. Kartini ternyata mampu melihat jalan lain. Dia tidak putus asa atas penolakan redaktur koran pada saat itu atas tulisan-tulisannya. Dengan cara ini pula maka terdapat arsip surat-suratnya yang kemudian menjadi bahan-bahan penulisan tentang Kartini.

Ketiga adalah gemar membaca.

Dari surat-surat Kartini kepada para korespondennya dapat dilihat bahwa Kartini adalah seorang yang gemar membaca. Tentu saja yang dibaca bukan buku yang berbahasa Jawa atau Indonesia. Melainkan buku yang berbahasa Belanda. Artinya menguasai bahasa asing dengan kata yang lebih tegas adalah wajib. Membaca adalah pintu kemajuan. Adalah Prof. Soedjatmoko (aim) yang mengatakan bahwa “bangsa maju adalah

bangsa pembaca. Budaya membaca dan menulis lebih baik daripada budaya menonton. Karena dalam membaca dan menulis terdapat internalisasi nilai yang sedang menjadi perhatiannya. Internaslisasi itulah proses belajar. Dan belajar itulah proses untuk keluar dari kemiskinan”.

Kalau saja bangsa kita ini mewarisi sifat gemar membaca dari Kartini mungkin kita sudah melesatcukupjauh dari kondisi sekarang.

Keempat adalah Ibu yang pendidik.

Ibu adalah pendidik yang pertama. Konsep ini sesuai dengan konsep-konsep Psikologi perkembangan anak. Untuk memperkuat topik keempat ini, dibawah ini cuplikan dari surat Kartini kepada Prof. G.K. Anton dan Nyonya tahun 1902

“Perempuanlah, kaum ibu, yang pertama-tama meletakkan bibit kebaikan dan kejahatan dalam hati sanubari manusia yang biasanya tetap terkenang sepanjang hidupnya. Bukan tanpa alasan orang berkata baik laki-laki maupun perempuan telah menelannya bersama-sama air susu ibu”.

Cuplikan kedua adalah surat kepada Menteri Jajahan AWF Idenburg. “Pendidikan yang bukan semata-mata didasarkan pada kecerdasan otak, melainkan yang sungguh-sungguh memperhatikan pembentukan akhlak, karena kecerdasan otak dengan sendirinya perasaan akan menjadi beradab. Begitu banyak contoh yang tak terhitung membuktikan bahwa kecerdasan pikiran yang tinggi masih belum merupakan jaminan yang mutlak untuk keluhuran budi. Sebagai ibu dialah pendidik pertama umat manusia. Di pangkuannya anak pertama-tama belajar merasa, berpikir, berbicara (Dri Arbaningsih, 2005 hal 154-155).

Dari kutipan-kutipan diatas tampak bahwa Kartini mengembangkan konsep ibu cerdas bukan hanya cerdas intelektual tetapi juga emosional dan spiritual. Jauh-jauh konsep pengembangan intelektual, emosionil, dan spiritual,telah digagasnya, mendahului konsep yang dikembangkan Daniel Goldman, danAry Ginanjar. Bukankah tepat jika beliau kita anggap ternyata dia benar-benar seorang ibu bangsa yang mempunyai cita-cita memajukan anak- anak bangsa.

Beri rating artikel ini!
Tag:

Satu Respon

  1. author

    Dri Arbaningsih11 tahun ago