Semiloka Batik “Dari Ibu Untuk Negeri”

Sebagai warisan budaya serta tradisi Nusantara yang mendapat pengakuan tradisional, keberadaan Batik menjadi tanggung jawab bersama untuk menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga serta melestarikannya. Batik adalah identitas budaya indonesia, pengakuan batik sebagai warisan dunia ini berlaku sejak Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan atau UNESCO, menetapkan batik sebagai warisan Kemanusiaan untuk Budaya lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity) pada 2 oktober 2009. Namun bukan hanya identitas yang dimiliki secara nasional, secara kedaerahan batik juga menjadi identitas, karena dari sabang sampai Merauke punya ciri batik masing-masing, oleh karena itu, adalah kewajiban warga Indonesia untuk menjaga kelestarian batik. Sebagai warisan budaya tak benda, batik dianggap memiliki nilai-nilai dan pengetahuan yang melekat di dalamnya, termasuk sejarah, persebaran di seluruh nusantara, dan beragam motif yang menjadikannya sebagai kain peradaban. Kedalaman rasa, makna, jiwa, cinta, dan harmoni yang ‘tertulis’ dalam batik tulis dianggap sebuah karya seni yang orisinal. Nilai-nilai batik ini yang dianggap sakral dan menjadi akar budaya indonesia.

 

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Provinsi Jawa timur bekerjasama dengan IWATA Untag Surabaya, Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur, Himpunan Ratna Busana, Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) Surabaya, Asosiasi Antroplogi Indonesia Pengda Jawa Timur dan Pegadaian Syariah menyelenggarakan acara Semiloka Batik dengan tema “Dari ibu Untuk Negeri’. Kegiatan tersebut dilaksanakan di ruang Meeting Room, Graha Wiyata lantai 1 Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, Jl. Semolowaru No. 45 pada hari Kamis tanggal 05 April 2018 mulai pukul 08.00 – 11.30 wib.

 

Peserta dalam kegiatan tersebut sebanyak  150 an orang dari peserta insan disabilitas dan non disabilitas. Kegiatan tersebut menghadirkan Narsumber Bapak Dr. Ir. Lintu Sulistyantoro M. Ds (Fakultas Seni dan Desain UK PETRA), Nuniek Silalahi, M. Pd. (Himpunan Ratna Busana Jawa Timur), Ir. Firman Asyhari (Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur) dan dipandu oleh Moderator Ibu DR. Pinky Saptandari, W. MA.

 

DR H. Tjuk Kasturi Sukiadi, SE (Ketua Umum BKKKS Provinsi Jawa Timur) dalam sambutannya menyampaikan bahwa  “menyambut dengan bangga kerjasama antara BKKKS Provinsi Jawa Timur dengan IWATA Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, perlu diketahui BKKKS Provinsi Jawa Timur sejak awal memang sangat peduli kepada batik, mulai kurang lebih 30 tahun yang lalu bila membuat seragam maka selalu menggunakan batik, baik batik Tuban, batik Madura atau batik yang lainnya. Pada perkembangan saat ini batik memang harus dilestarikan, dikagumi dan dibanggakan. Indonesia saat ini sangat tertinggal dalam teknologi dan teknik, maka bila harus bersaing dengan bangsa lain dalam hal teknologi dan teknik maka akan sangat berat karena sudah jauh tertinggal, harapanya saat ini adalah ada pada sektor pariwisata dan batik ada didalam pariwisata karena merupakan warisan budaya bangsa.  Indonesia  kedepan bisa dalam masalah besar karena ada bonus demografi, karena bonus demografi bisa bermanfaat bila Pemerintah mampu menyediakan lapangan kerja, namun apabila tidak bisa membuat lapangan pekerjaan maka bonus demografi bisa menjadi masalah bagi bangsa Indonesia, maka kita harus bekerjasama mencoba bersama sama menyelesaikan permasalahan bangsa salah satunya melestarikan warisan budaya bangsa lewat kecintaan terhadap batik”.

 

Rektor untag Bapak Dr. Mulyanto Nugroho, MM.,CMA.,CPA saat membuka acara tersebut menyampaikan bahwa “Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya adalah warisan Bung Karno, maka oleh sebab itu kedepan harus selalu dijaga dan semakin  maju, pada saat ini Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya ada di rangking 64 besar di Indonesia dan ditargetkan di tahun 2020 sudah masuk 50 besar. Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya adalah miniatur Bhineka Tunggal Ika, karena para pengelola dan mahasiswa tersebar dari seluruh Indonesia. Pada saat ini Indonesia memiliki 5000 an motif batik dan untag sendiri telah menyumbangkan 4 motif/jenis batik dan akan segera dipatenkan. Dalam perjalanannya Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya akan selalu mengawal Pancasila karena Pancasila menjadi pemersatu 1300 an suku di indonesia  supaya bisa tetap bersatu. Selanjutnya sebagai Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya hari ini merasa bangga karena ada seminar yang mengangkat topik warisan budaya bangsa bisa diselenggarakan di Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya”.

 

Beri rating artikel ini!
Tag:

Tinggalkan Balasan