Seandainya Kartini Bukan Pahlawan

pemberontakan diatas kertasStatus R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional hingga kini masih ada yang mempersoalkan. Intinya tidaklah pantas beliau menyandang gelar status tersebut dengan mengemukakan sejumlah argumen yang tentu saja bersifat negatif. Yang jelas Kartini tidak pernah minta gelar tersebut. Oleh karenanya tidak seyogyanya kita kemudian mengungkap sejumlah identitas pribadi dan perilakunya yang bersifat negatif, karena beliau sudah meninggal. Disamping hal itu agama juga melarang untuk mengungkap segi negatif orang yang sudah meninggal.

Ketika masih sekolah dulu seorang guru memberikan pesan : “jika membaca buku, bacalah Preface-nya, daftar isi, pilih bab yang relevan dengan tujuan saudara membacanya, kemudian cermati di bagian mana penulis buku itu memberikan bumbu-bumbu untuk menguatkan pembenarannya serta menutupi kekurangan-kekurangannya”. Sehubungan dengan hal ini teringat keberhati-hatian para perawi hadist. Informasi tebtabg hadist benar-benar disaring otentisitas, ketersambungnya dengan rasulallah, serta karakter dan identitas pribadi penuturnya. Jika penutur itu ternyata pernah melakukan kebohongan, kualitas hadist langsung diragukan. Para perawi itu ternyata benar-benar telah mengembangkan cara berpikir yang saat ini disebut ilmiah. Mari kita tetap berhati-hati untuk melihat sebuah tulisan. Karena yang mendukung dan meragukan tentang kepahlawan RA Kartini, dua-duanya tentu mempunyai tujuan, baik samar maupun jelas.

Opini tentang Kartini cukup banyak. Ada yang mengakui kepahlawanannya dan ada yang menolak. Ini adalah hal wajar dalam ranah opini publik. Ada yang pro dan ada yang kontra. Keduanya pasti berjuang untuk menguatkan statemennya masing-masing. Jika hipotesis mereka yang menyatakan Kartini bukan pahlawan diterima, maka dikemukakan sebuah pernyataan, tidak adakah sesuatu dari Kartini yang dapat diteladani ? Dari tulisan-tulisan pada berbagai situs, ada beberapa fakta yang digunakan oleh kedua belah pihak, yaitu :

Kartini adalah seorang komunikator

Ada banyak bentuk komunikasi. Salah satu diantaranya adalah komunikasi tertulis. Hal ini tampak dari surat-surat yang ditulisnya. Di Jaman modern ini mempunyai keterampilan berkomunikasi baik lisan maupun tulisan, dapat digunakan sebagai sarana promosi diri. “Diam adalah emas” hanyalah cocok ketika tidak mengetahui hal yang lebih baik. Pengamatan saya, orang Indonesia sebenarnya mempunyai bakat untuk menjadi komunikator. Terbukti dari hobi ngerumpi yang secara informal ada di mana-mana. Kini ruang ngerumpi bertambah dengan adanya media maya.

Menurut Gardner ada 7-8 macam kecerdasan yang dimiliki manusia. Salah satu diantaranya adalah kecerdasan linguistik. Mengenai kecerdasan ini dapat diterangkan sebagai berikut :

“Kecerdasan linguistik terkait dengan kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif, baik untuk mempengaruhi maupun memanipulasi. Pada kehidupan sehari-hari, kecerdasan linguistik bermanfaat untuk berbicara, mendengarkan,membaca, dan menulis. Pekerjaan yang mengutamakan kecerdasan ini antara lain: jurnalis, guru, orator, bintang film, presenter TV,pengacara, penulis, dsb” (Mizan.com).

Keterampilan berbicara termasuk salah satu bentuk pengembangan dan aplikasi kecerdasn linguistik. Sayang di Indonesia saat ini tidak banyak orang seperti Abendanon pada era Kartini yang menjadi fasilitator. Jika ada tentu akan banyak muncul orang-orang seperti Kartini. Tetapi jangan kecil hati jika anda mempunyai bakat curhat seperti Kartini. Sekarang kan banyak ruang untuk curhat. Hanya buatlah curhat yang bernutu. Siapa tahu ada yang mengumpulkan, dan membukanya suatu saat nanti, serta diterbitkan menjadi sebuah buku mirip “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Membaca

 Beberapa sumber di internet menyebutkan bahwa Kartini mempunyai hobi membaca. Apabila dihubungkan dengan kemampuan menulisnya hal ini merupakan suatu hal yang logis. Biasanya orang yang pandai menulis diikuti dengan kebiasaan membaca. Dapat dikatakan minat baca Bangsa Indonesia rata-rata rendah. Disamping harga buku yang tidak murah perpustakaan umum juga tidak banyak. Orang yang banyak membaca tentu akan banyak pula ilmunya. Banyak yang lupa bahwa Allah akan mengangkat satu derajad lebih tinggi orang-orang yang berilmu.

Pemahaman Diri

Kecerdasan lain yang dimiliki oleh Kartini adalah kecerdasan intrapersonal. Kartini tampaknya sangat paham siapa dirinya, di lingkungan seperti apa dia berada, dan nilai-nilai sosial budaya seperti apa yang berlaku. Kondisi ini dipersepsi dengan baik oleh Kartini. Sehingga dia paham dengan cara seperti apa dia harus melangkah. Dia mempunyai kemampuan untuk menulis, maka media korespondensi digunakan untuk mengekspresikan diri. Pada akhirnya dari surat-surat yang ditulisnya orang paham siapa dirinya, apa yang dipikirkannya, dan apa yang dicita-citakannya.

Kritis Terhadap Kondisi Lingkungan

Sebagai anak seorang yang tergolong pejabat, dan ningrat tentunya Kartini secara materiil tak kekurangan apa pun. Tetapi dia merasa tidak bisa bahagia sendiri di tengah-tengah kaum perempuan Indonesia yang sangat terbatas pengetahuannya, karena tidak dapat menikmati pendidikan yang lebih baik. Dulu orang pribumi secara keseluruhan sebenarnya tidak hanya perempuan, jadi semuanya hanya dapat menikmati pendidikan yang di Jawa disebut dengan “ongko loro” (hanya sebatas pada kelas dua sekolah rakyat). Beda dengan laki-laki dari golongan ningrat yang dapat melaju sampai ke tingkat universitas. Keprihatinan ini memberi inspirasi terhadap cita-citanya sebagaiman tertulis di bawah ini.

Cita-cita

 Tentang cita-cita Kartini dapat dibaca pada kutipan di bawah ini :

 “Raden Ajeng Kartini yang telah meningkat dewasa pada waktu itu, tidak dapat melihat kenyataan ini meskipun beliau dilahirkan didalam lingkungan ditengah-tengah kebangsawanan atau keningratan yang pada waktu itu mempunyai taraf kehidupan sosial yang sangat berbeda dengan masyarakat banyak yang hidup didalam lingkungan kehidupan adat yang sangat mengekang kebebasan tetapi beliau tidak segan-segan turun kebawah bergaul dengan masyarakat biasa, untuk mengembangkan ide dan cita-citanya yang hendak merombak status sosial kaum wanita, dan cara-cara kehidupan dalam masyarakat dengan semboyan : “Kita harus membuat sejarah, kita mesti menentukan masa depan kita yang sesuai dengan keperluan serta kebutuhan kita sebagai kaum wanita dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti halnya kaum laki-laki”. (APRIL 2, 2012 by PUGUH ALAKADARNYA in ARTIKEL, MOTIVASI & INSPIRASI)

Kutipan di atas menggambarkan bahwa Kartini punya cita-cita untuk merombak status perempuan dengan cara mengupayakan terwujudnya persamaan kesempatan dalam bidang pendidikan. Artinya perempuan itu harus berilmu, sama seperti halnya laki-laki. Ilmu adalah rakhmat Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, serta melakukan upaya untuk mendapatkannya. Laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan ilmu.

Dilihat dari umurnya yang masih sangat belia, kondisi keterjajahan, dan langkanya sumber-sumber pelayanan, dan itu dinyatakan oleh seseorang yang hanya lulusan sekolah rakyat/drop out sekolah menengah pertama, cita-cita diatas sangatlah luar biasa. Kealpaan orang tua di Indonesia rata-rata adalah tidak membangun dan memfasilitasi cita-cita anak-anaknya. Ayo kita bangun cita-cita anak-anak kita generasi penerus bangsa, dengan meminjam istilah dari Bung Karno “kita bina mereka untuk mengguncang dunia” atau raihlah bintang-bintang di langit.

Kepatuhan Pada Orang Tua

Ada dua hal yang mengedepan tentang kepatuhan pada orang tua. Pertama adalah larangan untuk melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Kedua harus mengikuti kehendak orang tuanya untuk menikah. Kepatuhan ini mempunyai dampak historis yang sangat indah. Mungkin Kartini tidak akan mewariskan cerita yang sampai pada kita saat ini, jika dia tetap berontak melawan kehendak orang tuanya. Ternyata hikmahnya ada. Tertutupnya satu jalan ternyata membuka pintu pengembangan pribadi yang lain.

Sederhana

Dari berbagai foto dan lukisan tampak sosok Kartini adalah sosok yang tampil sederhana. Tampilan tersebut sangat berbeda dengan tampilan perempuan saat ini yang jauh lebih glamor. Jaman sudah berubah perempuan saat ini tampil lebih modis. Sehingga ada yang mengatakan bahwa peringatan hari Kartini merupakan ajang persaingan model kebaya dan garapan salon kecantikan. Salahkah ini? Tergantung dari sudut mana memandangnya. Apa makna kesederhanaan? Mungkin hanya sebuah pernyataan terkait dengan pemborosan.

Meskipun Kartini banyak berteman dengan orang Belanda, namun beliau tetap tampil sebagaimana orang Jawa yang berbudaya Jawa saat itu. Ini pun berbeda dengan orang jaman sekarang yang lebih tampil dan bangga mirip orang barat.

Itulah tujuh karakter Kartini yang dianalisis dan dikutip dari berbagai sumber di internet. Tanpa memandang gelar pahlawan yang diberikan oleh pemerintah kepadanya, karakter-karakter yang tertulis di atas semoga dapat menjadi inspirasi bagi pribadi-pribadi yang sedang mengalami hambatan berat untuk mengembangkan diri. Tidak ada orang besar di dunia yang besar dengan hambatan kecil. Ada satu hal lagi yang tak tertuliskan di atas adalah semangat yang tak gampang menyerah.

 OLEH : SUTOPO WAHYU UTOMO

* Penulis adalah Pekerja Sosial

Pada Yayasan BK3S Jawa Timur.

 

Beri rating artikel ini!

Tinggalkan Balasan